Zetta Sonic

Zetta Sonic
Search


__ADS_3

Pabrik pengalengan ikan itu lebih besar daripada yang ada di gambar. Pabriknya sendiri mayoritas berada di darat, sebagian lagi berada di atas air. Bagian bawahnya memiliki rangka konstruksi lebar dan besar, memastikan kuat menopang bagian atasnya.


Tiger menyupir mobil 4WD yang melaju konstan di atas jalanan bersalju. Mereka masing-masing telah mengenakan mantel di atas seragam. Kondisi di sana jelas di bawah nol derajat. Alex menggigil ketika tiba di sana. Kondisi ibu kota mereka jauh lebih hangat dibandingkan tempat ini.


“Kita punya waktu dua jam,” ujar Jayden. Dia duduk di samping Tiger. “Lebih dari itu, Nadira bilang akan membunuh kita.” Setiap kali dirinya bicara, uap tipis muncul. “Kita akan berpencar sesuai koordinat yang sudah kubagikan pada kalian.


“Selagi kami berpencar di dalam pabrik, kamu akan bersantai di mobil dengan penghangat.” Tiger mencibir. “Seandainya aku bisa menggunakan komputer.”


“Aku tidak bersantai. Tidak akan bisa dalam kondisi seperti ini.”


Di bawah mantel, ketiga orang lainnya mengenakan seragam pabrik bukan seragam ICPA sendiri. Seragam overall kelabu dilengkapi topi earflap senada. Alex tak repot-repot bertanya bila ada pegawai yang meragukannya. Dia seharusnya tidak bertemu mereka. Tak seorang pun dari mereka boleh terlihat.


Itu juga mengapa mereka akan masuk dari pintu belakang, lewat jalur pembuangan sampah. Jalur itu minim penjagaan. Karenanya, mereka selalu lewat belakang. Seperti yang dilakukan Tiger saat mereka hendak menangkap Nikola.


Ketiga orang lainnya turun setelah Jayden meretas sistem keamanan pabrik. Setelahnya, dia memindahkan mobil ke posisi yang tidak terlihat. Pabrik itu cukup terpencil. Tidak banyak tempat untuk bersembunyi. Jadi, Jayden memarkir mobil mereka di tempat parkir paling ujung asrama pegawai. Kaca mobil yang gelap cukup menyamarkan dirinya dari pandangan orang lewat.


Jayden membuka kembali laptopnya. Dia bisa melihat di mana ketiga rekannya berada. Tiger masuk ke ruang mesin, setidaknya ada empat titik pengirim sinyal SOS di sana. Caitlin ada di ruang makan besar untuk para pegawai. Alex sendiri masuk dari sisi gudang. Dia menyelinap di balik kontainer besar, berusaha mencari jalan untuk masuk ke bagian kantor.


“Alex, ada dua pegawai sedang menuju ke arahmu. Cobalah berputar dan ambil lorong sebelah kiri. Tempat itu lebih kosong. Kamu bisa ambil tangga di sana untuk naik ke lantai dua. Itu lebih dekat dengan sinyal SOS.”


[Oke.]


Banyak hal yang bisa dilihat Jayden dari satu layap laptop. Dia memastikan ketiga temannya masuk dengan aman dan, nantinya, keluar dengan aman pula. Dari CCTV di lantai empat, dia bisa melihat ayah Alex dengan ngobrol bersama beberapa rekan. Mereka baru saja menyelesaikan makan siang.


Kalau sesuai rencana, sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat bersama di lantai lima. Tempat itu ada di puncak pabrik. Dari sana, mereka bisa melihat pemandangan gunung es dan kapal-kapal besar datang membawa ikan. Pabrik itu memang berada di tepi laut. Laut es. Udaranya dingin dan tak bersahabat.


Jayden membayangkan ruangan komputernya di waduk. Tempat itu jauh lebih hangat. Semakin cepat mereka menemukan sinyal tersebut, semakin cepat pula mereka bisa kembali. Jayden akan membantu mereka.


Dari jok belakang, dia mengambil koper kecil. Di dalamnya tadi ada drone mungil andalannya. Alex pasti tidak tahu kalau drone tersebut punya trik lain. Ukurannya memang tidak lebih dari sejengkal orang dewasa. Dia bisa terbang tinggi, bisa menembak. Selain itu, dia juga bisa berjalan di lantai dan menyelam.


Saat ini drone tersebut telah berkeliaran di sekitar pabrik. Dia merangkak seperti laba-laba, berjalan di atas keenam kaki mungilnya yang terbuat dari karbon. PC tablet di tangan Jayden menunjukkan bagaimana drone memasuki celah-celah berdebu langsung menuju ke pusat sinyal SOS yang ada di gudang perlengkapan.


[Jayden.]

__ADS_1


“Ya, Tiger. Dapat sesuatu?”


[Kotak kosong.]


“Kotak?” Jayden memperbesar tempat Tiger berada.


Pria besar itu berada di ruang mesin, membelakangi CCTV. Seolah memahami kalau Jayden tak bisa melihat jelas dirinya, Tiger pun berputar. Dia sedikit mengangkat kotak kubus kecil di tangannya. Jayden memperbesar lagi gambarnya. Dia melihat kelip merah pada langit-langit dalam kotak tersebut.


[Jadi … ini hanya iseng?] Tiger bertanya, tak percaya dengan kalimatnya sendiri. [Ada yang datang, aku pergi dulu.]


Tidak ada orang iseng yang mengirimkan sinyal SOS ke markas Zetta Sonic. Hingga detik itu, Jayden sudah mendapatkan dua puluh lebih titik pengirim sinyal SOS ke markas mereka. Seseorang sedang berusaha mengerjai mereka, tapi ini bukan perbuatan iseng.


“Caitlin. Di mana posisimu?”


[Di belakang panci besar berisi sup ikan. Baunya memuakkan.]


“Kamu sudah dapat memeriksa titiknya?”


“Jangan katakan!” sahut Jayden. “Pertahankan posisimu. Aku akan coba mencari Alex.”


Jayden memperkecil gambar Caitlin yang sedang meringkuk di sudut dapur dengan gambar Alex yang tengah berada di lift seorang diri. Anak itu bersandar santai dengan topi agak ditarik ke bawah. Dia sama sekali tidak khawatir bila ada yang akan masuk ke lift bersamanya.


“Alex. Posisi.” Jayden bertanya, menguji.


[Kamu tahu aku ada di mana.]


“Ada dua orang pegawai di depan pintu lift. Jauhi kontak mata mereka.”


[Aku tahu.]


Jayden masih mengawasi dari layar. Dia bisa melihat kedua pegawai itu masuk tanpa bicara dengan Alex. Beruntung bagi mereka, tempat itu punya banyak pegawai. Jadi keberadaan tambahan tiga orang tidak mencolok. Alex berusaha tidak menarik perhatian, berjalan seperti biasa, sedikit menunduk bila diperlukan.


Anak itu berjalan lurus di lorong kelabu. Sesekali dia berpapasan dengan pegawai lain. Kadang beberapa melempar senyum padanya. Alex membalas kikuk.

__ADS_1


Jayden kembali memberi arahan. “Ambil kiri di perempatan depan, buka pintu pertama di kanan. Seharusnya sumber titik sinyal berasal di sana. Di balik pintu darurat.”


[Tetaplah bicara.]


Jayden bergumam sebentar. Alex dan yang lain mengenakan earphone. Di balik topi dengan earflap, tak seorang pun akan menyadari keberadaan alat mungil tersebut. Bahkan jika dia bicara terus, suaranya tak akan terdengar dari luar.


“Ada yang salah?” tanya Jayden. “Tegang atau bosan dan butuh hiburan.”


[Dua-duanya. Tetaplah bicara.] Alex menghela napas panjang.


“Tunggu sebentar.” Jayden membuat komunikasinya di jalur privat dengan Alex agar tak terdengar Caitlin maupun Tiger. “Baik. Sebenarnya, aku memang ingin menceritakanmu sesuatu. Awalnya, kupikir ini bukan sesuatu yang penting tapi kamu perlu tahu. Soal Dragon Blood. Cairan yang ada dalam dirimu itu seharusnya diperuntukkan untuk tiga atau empat orang. Kamu bisa menyebut dirimu beruntung tetap hidup.”


[Lalu?] Alex yakin ada lanjutan dari ucapan Jayden.


“Aku memeriksa diam-diam berkas Dragon Blood. Berkas terbarunya punya beberapa perubahan signifikan. Kupikir itu alasanmu bertahan. Ya, apa pun itu, kamu masih hidup sekarang, jadi mungkin bukan hal besar. Bagaimana pun, itu kewenangan profesor.”


[Kamu sebenarnya ingin tahu, tapi kamu diam saja?]


“Perubahan formula Dragon Blood itu resmi. Bukan sabotase.”


[Senang mendengarnya.]


“Kamu enggak kedengaran senang.”


Alex terdiam. Dia telah berada di depan besar kelabu. Didorongnya pintu tersebut dengan mudah meski dengan sedikit erangan atau keluhan. Jayden menyipitkan mata seraya memperbesar gambar.


“Kamu enggak apa-apa, Alex?”


[Untuk saat ini, iya.] Alex membiarkan pintu di belakangnya menutup. Dia berjongkok dan menemukan kotak perkakas di lantai. Setelah membuka penguncinya, Alex memeriksa bagian dalamnya dan langsung terperanjat. [Astaga.]


“Apa itu, Alex?”


[Tabung panjang dengan timer. Ini bom!]

__ADS_1


__ADS_2