Zetta Sonic

Zetta Sonic
Broad Daylight


__ADS_3

Alex yakin seseorang mengikuti mereka dari tadi. Sejak berada di dalam gedung aula universitas hingga ketika mereka memilih tempat untuk makan siang. Tempatnya masih berada di dalam area kampus. Mereka memiliki deretan kedai nyaman lengkap dengan tempat makan outdoor dan indoor.


Jayden memilih duduk di luar. Dia tak suka berdesak-desakan dengan orang asing dalam ruangan sempit. Lagipula, dengan berada di luar, mereka bisa memilih makanan dari berbagai kedai yang ada. Variannya cukup lengkap. Namun, ketika melihat Alex hanya pesan burger, Jayden dan Emil saling lempar pandang. Mereka memikirkan hal sama.


“Apa?” Alex protes saat mendapati dirinya jadi pusat perhatian. Jayden mendengus geli, Emil malah mengalihkan tatapan. “Kenapa? Burger itu makanan paling aman saat kamu bingung makan apa.”


Jayden mengangguk sekali. “Setuju.


Meski bicara begitu, ada dua piring makanan di hadapannya. Satu merupakan salad dengan kacang-kacangan dan satu lagi mi tebal dengan bumbu kare. Emil memilih roti kentang tumbuk dan ikan. Alex punya banyak pengalaman mencicipi makanan dari berbagai daerah. Baginya, saat berada di sebuah tempat tak dikenal serta kualitas makanan meragukan, Alex memilih menu paling aman. Bahkan, buatnya lebih baik beli makanan di supermarket.


Alex mengambil kentang yang ada di piring lebih dulu sebelum beralih pada burgernya. Dia mengambilnya sambil mengedarkan pandangan berputar. Cukup sekali, itu pun seluas yang dia bisa. Kalau mereka sungguhan diikuti, Alex tak ingin orang itu sampai mengetahuinya. Dia juga tak ingin membuat rasa cemasnya yang belum terbukti menular pada Jayden dan Emil sampai menganggu makan siang mereka.


“Ingatkan aku lagi kenapa Tiger tidak mau ikut,” kata Alex.


“Acara membosankan,” jawab Jayden. “Lagipula, dia terlalu mencolok.”


Emil mengangguk. “Terlalu besar.”


“Ya, itu dan juga wajahnya. Luka besar di wajahnya itu salah satu ciri khas ketika dia masih jadi petarung bebas. Sebisa mungkin dia menghindari orang-orang. Jaga-jaga saja kalau ada yang masih mengenalinya,” imbuh Jayden. Kenyataannya, Tiger sudah mundur dari dunia tersebut cukup lama. Hampir sepuluh tahun.


Percakapan tersebut tak berlanjut lagi. Alex berusaha menikmati makan siangnya. Pikirannya memaksakan untuk berpikir positif. Kentang itu renyah. Burgernya punya aroma panggang lezat. Bumbunya meresap sempurna. Belum bisa dibandingkan dengan masakan pelayan di rumahnya, namun itu tetap saja masuk kategori lezat. Soda jeruk pesanannya juga cukup dingin, bisa mengusir kegerahan di siang bolong tersebut.

__ADS_1


Sayangnya, selagi pikirannya mulai mendapatkan hal-hal baik, suara teriakan terdengar. Bukan hanya itu, mereka mendengar suara keras berulang kali seperti suara dari senapan laras panjang.


“Penembakan!” sahut Jayden.


Orang-orang di sekeliling mereka mulai panik. Beberapa langsung berdiri sambil mendongakkan kepala, mencari tahu sumber suara. Beberapa lagi langsung berlari tanpa pikir panjang.


“Kontak ICPA!” pinta Jayden pada Emil. “Alex, ayo kita periksa!”


“Tunggu! Kamu mau kita memeriksanya?” Alex menyadari suaranya meninggi dengan cepat. Dia sudah berulang kali berhadapan dengan penjahat. Namun, ini pertama kalinya dia harus dihadapkan pada situasi genting tanpa perlengkapan. Tanpa senjata dan seragam tempur, juga back up.


Jayden mengernyit pada Alex seolah mempertanyakan balik pertanyaannya. Sementara Emil sudah berada di telepon dengan jaringan rahasia. Alex mendesah. Dia melihat Jayden menengok ke sisi gedung di mana orang-orang berhamburan ke luar.


“Ayo!” seru Jayden.


Alex jelas tidak akan suka itu. Mereka berdua berlari meninggalkan deretan kedai lalu menyeberangi taman yang ada di tengah. Tak seorang pun memedulikan larangan ‘Jangan Menginjak Rumput’ termasuk Alex dan Jayden. Mereka berlari lewat mana pun yang kosong alih-alih berlari di atas jalanan batu yang membentang di tengah taman. Alex menyadari kalau hanya Jayden dan dirinya yang berlari melawan arus. Orang-orang berlari meninggalkan gedung tinggi, salah satu gedung terdepan dalam area kampus.


“Menunduk!” Alex berteriak mengatasi kegaduhan.


Matanya bekerja tanpa diperintah. Entah bagaimana, dia bisa melihat jauh ke belakang kerumunan orang-orang yang tengah berlari. Dia melihat beberapa sosok mengenakan pakaian hitam, membawa senapan mesin, rompi anti peluru, juga helm hitam. Sosok itu mengingatkan Alex pada seragam lapangan ICPA.


Jayden mengindahkan seruan Alex. Dia berlari ke dekat pot tanaman besar dari beton dan langsung menunduk. Sambil melempar pandangannya ke belakang, Jayden memeriksa kondisi Alex. Anak itu mengambil langkah yang sama dengannya. Dia juga bersembunyi di balik deretan pot beton persegi panjang sementara orang-orang berlarian di antara mereka. Ada pula beberapa orang lagi yang mengambil langkah sama seperti mereka.

__ADS_1


Alex memeriksa Zet-Arm. Energinya penuh. Dia bisa melawan mereka bila diperlukan. Masalahnya, tanpa seragam tempur, dirinya hanya akan jadi sasaran empuk. Jayden sendiri sudah bersiap. Tangannya mengeluarkan flipad. Alex yakin sebentar lagi akan muncul lubang besar di bagasi mobil hatchback putih mereka.


Rentetan tembakan terdengar lagi. Alex mencuri kesempatan untuk melihat. Pemandangan itu tidak akan pernah dia lupakan. Dadanya berdegup kencang, peluh menuruni dahinya, seiring kecemasan merangkak naik. Matanya melihat orang-orang bergelimpangan di atas tanah. Darah merah membasahi taman. Keindahan taman telah tergantikan oleh kengerian.


Empat orang bersenjata terus bergerak maju sambil menembak. Alex mendapati kalau mereka membawa peluru yang dikalungkan di badan mereka. Semuanya persis seperti berita yang pernah dia baca. Bedanya, sekarang dia berada di tengah berita tersebut.


“Alex!” Panggilan Jayden berubah jadi bentakan ketika Alex terlalu fokus pada ketakutannya.


Setelah Jayden mendapat perhatian, dia menunjuk ke belakangnya Alex. Ketika Alex menoleh, dia melihat seorang ibu sedang memeluk anak perempuan kecil. Badan si ibu basah oleh darah, entah darahnya sendiri atau darah si anak. Alex tak berani menebak apa mau Jayden, tapi dia bisa membaca gerakan bibir temannya.


“Bawa dia pergi!” Kali ini Jayden bicara tanpa suara.


Kondisi di sekeliling mereka berubah jadi hening dalam sekejap. Orang-orang itu tak lagi menembak. Ada suara derak, pergantian peluru. Keheningan itu tak lebih dari keheningan sebelum badai. Tembakan akan kembali datang.


“Aku bukan pahlawan!” balas Alex. Dia juga tidak bersuara. Alex penasaran ke mana semua keberaniannya pergi. Seandainya saja dia mengenakan seragam tempur, orang-orang itu akan jadi bubur. Sekarang, Alex tak merasa ada perbedaan antara dirinya dan Jayden.


Jayden menggelengkan kepala, tak percaya dengan balasan Alex. Dia pun meraih pistol kecil yang sedari tadi diselipkan di pinggang. Alex memelototinya. Sekarang, Jayden yakin dia yang tidak akan suka ide ini. Seseorang harus bertindak. Saat ini, hanya dia yang bisa. Jayden menoleh, melihat adanya pot lain. Dia tahu rencananya, dia harus membuat tembakan sambil berlari ke sana.


Ada kemungkinan besar kalau tembakan itu akan meleset. Jayden tahu. Ada juga kemungkinan kalau dia akan tertembak balik setelah lawannya selesai mengisi peluru. Jayden juga tahu. Namun, dia telah membuat keputusan. Jayden berguling di atas taman, melepas tembakan sebisanya, sambil berlari ke arah pot lain.


“Jayden!” Alex memekik ngeri, sebelum berlari pada si ibu dan anak.

__ADS_1


Entah bagaimana tapi Jayden berhasil. Sebaliknya, Alex berada di posisi lebih sulit. Si ibu tertembak di bagian kaki, dia tidak mungkin membawa mereka lari. Tapi, dia bisa membawa si penembak menjauh dari mereka.


__ADS_2