Zetta Sonic

Zetta Sonic
Awake


__ADS_3

Jayden duduk di kursi tinggi sambil menghadap ke arah ranjang Alex. Anak laki-laki itu nampak menyedihkan. Bukan karena alat-alat yang terpasang di badan atau pakaian ala pasien rumah sakit. Jayden membayangkan kalau ada di posisi Alex. Sendirian. Tak mengerti apa-apa. Terbaring tanpa tahu apakah akan bangun lagi atau tidak.


Jayden melepaskan desahan pendek sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Kini dia mulai meragukan beberapa hal yang dia temukan terkait Dragon Blood. Cairan eksperimen itu bukan bagian dari pekerjaannya. Dia sama butanya dengan dokter Vanessa. Meski begitu, ketika ada informasi terlintas, tidak mungkin dia menutup mata terhadapnya.


Telinganya menangkap erangan pelan.


Penasaran, Jayden beranjak dari kursinya ke samping ranjang. Dia bisa melihat Alex perlahan membuka matanya. “Hei!” Jayden menyapa. “Kamu masih hidup.”


Alex menatapnya tanpa bicara.


“Kamu aman di sini.” Entah kenapa kalimat itu keluar lagi dari Jayden tanpa diperintah.


Alex mengerjap. Tangannya bergerak untuk melepas alat bantu pernapasan. Alat itu memang tak banyak membantunya. Jayden pun tak melarang. Alex menarik napas dalam-dalam. Dia ingat aroma beraroma mint di balik helm Sonic. Dia juga ingat aroma ruangan aneh tersebut. Dia tahu telah berpindah ke markas.


Jayden bertanya. “Apa ada yang sakit? Aku bisa memanggilkan dokter Vanessa.”


Lucu rasanya ketika mendengar Jayden bertanya demikian. Alex merasakan seluruh tubuhnya lemas. Tidak ada rasa sakit, hanya lemas. Awalnya dia bahkan tak yakin bisa melepas alat pernapasannya sendiri. Sekarang dia sadar kalau setidaknya bisa bicara. “Aku lapar, Jayden,” ujarnya lirih.


Jayden pun tertawa mendengarnya. “Baiklah, aku tidak yakin akan dapat izin dari dokter Vanessa. Tapi, biar kucoba nanti. Kamu mau sarapan apa? Roti  kismis?”


Alex hanya melempar senyum tipis. “Hei, apa aku akan mati? Apa aku akan sering pingsan? Apa itu normal? Karena itu … sama sekali enggak keren.”


Jayden mengedikkan bahu. “Aku enggak tahu soal itu. Kita semua masih meraba-raba soal kekuatanmu, Alex. Zetta Sonic seperti anak yang sulit dikendalikan.”


Itu kedengaran tepat di telinga Alex. “Aku enggak memahami diriku sendiri,” katanya lagi. “Semua aksi di helipad itu terasa seperti mimpi. Sekarang, aku merasa lemah seperti kakek-kakek.” Alex berusaha membuat suaranya kedengaran lebih bersemangat, tapi dia bahkan tidak mampu membuat suaranya lebih keras.


Alex merasakan wajahnya memanas. Dia memalingkan wajahnya dari Jayden tepat ketika butir-butir air mata mulai merembes keluar. Dia menarik tangannya untuk menutupi mata. Bagi Alex, selain sering pingsan, menangis juga sama sekali tidak keren. Apalagi di depan orang asing termasuk Jayden.

__ADS_1


“Hei, tidak apa-apa. Pelan-pelan saja.” Jayden meletakkan tangannya di bahu Alex. “Semua yang di sini akan membantumu. Kita akan belajar sama-sama memahami Dragon Blood. Kamu tidak sendirian, Alex.”


Alex tak mampu menjawab. Sekalipun dia mampu, dia tak ingin menjawab karena sadar benar suaranya akan bergetar. Alex membiarkan dirinya terisak. Jayden mundur, memberikan kesempatan pada Alex. Dia pun duduk kembali di posisinya. Tangannya mengambil flipad, memeriksa indikator Zetta Sonic. Indikatornya menunjukkan penuh. Pulihnya Alex seharusnya hanya masalah waktu.


Setelah beberapa saat, Alex berhenti terisak. Dia bisa melihat Jayden dari ujung matanya. “Sejak aku sebelas tahun,” katanya, menjawab pertanyaan yang pernah dilontarkan Jayden saat pertama kali mereka bertemu. Ketika Jayden menatapnya, Alex menambahkan. “Aku belajar banyak hal saat usiaku sebelas tahun.”


“Apa yang terjadi?” Jayden kembali beranjak ke sampingnya.


“Aku belajar kalau tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginanku. Kedua orang tuaku akan tetap sibuk. Aku tetap akan ditinggal di rumah. Mereka bisa menahan tubuhku, tapi mereka tidak akan bisa memenjarakan pikirkanku.” Alex memejamkan mata, menarik napas dalam. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ingatannya menampilkan potongan-potongan gambar seperti film. “Aku belajar banyak,” katanya lagi.


“Hacking. Bela diri. Menembak.”


“Ya dan beberapa hal lain.”


“Seperti? Menyetir mobil lewat simulator?”


Jayden tersenyum. “Dan masih banyak lagi?” tebaknya.


Alex tersenyum. “Masih banyak lagi.”


“Kenapa? Kamu tidak menggunakan kemampuan hacking untuk memeras orang. Tujuan utamamu jelas bukan uang.”


“Kupikir, aku hanya ingin mencoba banyak hal. Penasaran. Banyak hal bisa kudapatkan di dunia maya. Kebebasan tak terbatas. Begitu menyenangkan dan mengerikan di saat yang sama. Aku beruntung. Sangat beruntung.”


“Kamu beruntung karena memiliki rumah besar dan harta melimpah. Itu memberikanmu akses pada berbagai hal.”


“Tidak. Banyak kehidupan orang dirusak oleh harta. Mereka menyalahgunakan kesempatan yang ada. Itu bukan keberuntungan, menurutku itu lebih seperti kutukan. Mereka tidak tahu mana yang bisa membangun, mana yang bisa merusak.”

__ADS_1


“Kamu bicara soal filosofi, sekarang?”


Alex mendengus geli. “Sebenarnya aku juga menyadarinya. Aku beruntung karena memiliki orang-orang yang bisa menuntunku. Sejak kecil, Preston mengajarkan banyak hal. Jauh lebih banyak daripada yang bisa diharapkan dari seorang kepala pelayan. Aku beruntung punya Preston dan Rover. Juga Mrs Bellsey.” Alex mengerjap, mengusir air mata yang hendak merembes lagi. “Aku penasaran apa mereka mencariku saat ini.”


“Tentu saja. Mereka sangat khawatir padamu.”


Alex mengernyit. “Seingatku, kamu bilang semua sudah diatur agar tidak ada yang mencariku. Operasi ini harus dirahasiakan, bukan?”


“Ya, tentu saja. Nadira memang sudah mengatur semuanya itu. Tapi, aku tahu bagaimana kepala pelayanmu berulang kali melihat ponsel, berharap mendapat kabar darimu.”


“Apa kamu … meretas sistem keamanan rumahku?”


“Kupikir ada banyak cara untuk tahu.” Jayden tersenyum. “Intinya, ada orang-orang yang menantikan kepulanganmu, Alex. Bertahanlah hidup. Semua yang terjadi di sini memang di luar rencana. Tapi, aku tidak percaya pada hal bernama kebetulan. Kamu di sini karena suatu alasan. Aku dan semua yang ada di sini, kita akan melewati ini bersama-sama. Dunia membutuhkan Zetta Sonic lebih dari yang kamu tahu.”


Alex terdiam lagi, kalimat itu lebih seperti beban daripada kehormatan buatnya.


Jayden buru-buru menambahkan, “Ngomong-ngomong, semua pembicaraan kita tidak akan sampai ke telinga Nadira. Kadang rekaman suara dan gambar di sini sedikit buram.” Jayden mengedipkan sebelah mata.


“Ada penyadap di sini?”


“Hanya kamera pengawas dengan microphone. Apa yang kamu harapkan dari nenek paranoid seperti itu?”


Alex tersenyum geli. Dalam hati, dia sendiri setuju dengan adanya kamera pengawas di dalam ruang tersebut. Kalau ada di posisi Nadira, Alex akan melakukan hal serupa. Hanya saja, dia yang akan mengendalikan semuanya bukan menyerahkan pada anak buah.


Ada jeda sejenak sebelum Alex bicara lagi. “Jayden, kamu tahu banyak hal dariku lewat data. Kamu pasti tahu siapa Marcus Anthony Hill atau Mark Hill.”


Jayden mengangguk pelan. “Kamu ingat, aku pernah berkata begini. Kalau kamu cerita soal dirimu, aku akan memberimu informasi berharga yang disembunyikan Nadira darimu. Informasi itu soal ayahmu, Mark Hill.”

__ADS_1


__ADS_2