Zetta Sonic

Zetta Sonic
S13 - (Spring) White Box


__ADS_3

Perahu mereka berhenti pada sebuah jembatan kayu kecil. Si pemandu turun lebih dulu disusul profesor, Mark dan putranya. Dua orang pria mengenakan kaus dan celana pendek telah menunggu di sana. Keduanya juga mengenakan kalung dengan satu liontin gigi besar serta membawa tombak panjang dengan rumbai merah.


Si pemandu bicara dengan mereka dalam bahasa yang tidak bisa dipahami. Bahasa asli suku Klostar tidak pernah diajarkan pada orang luar. Meski begitu, Mark tahu jelas tatapan keduanya. Jelas bukan tanda keramahan. Mereka tidak suka kedatangannya. Ada kesan tak menyenangkan terpancar di sana. Beruntung bagi mereka, Mark juga tidak suka di sana. Semakin cepat mereka menyelesaikan urusan ini, akan baik bagi keduanya.


Selagi ketiga orang itu berbincang, Mark mengedarkan pandangannya berkeliling. Rumah-rumah berdinding kayu dan beratap jerami berdiri acak. Ada beberapa yang berdiri di atas sungai, bagian fondasi kayunya terendam air dan berlumut. Setiap rumah memiliki patung batu kecil dekat pintu masuk mereka. Tingginya sama dengan anak kecil.


“Mereka ketakutan.”


Mark membiarkan kalimatnya meluncur lirih. Dia bisa melihat bagaimana setiap orang menatap mereka dengan tajam. Para ibu yang berdiri di dekat perapian bergeming sambil menatap mereka. Anak-anak yang tadinya sedang bermain dekat sungai langsung bersembunyi di balik rumah ketika mereka menepi.


Profesor membalas. “Sekalipun warna kulit dan rambut mirip, mereka mengenali kita sebagai orang asing. Baunya berbeda, bahasanya asing. Kalau dirangkum dalam satu kata—”


“Berbahaya.” Mark tahu.


“Lihat sisi baiknya, mereka sudah berpakaian. ICPA memberikan edukasi dengan benar.”


Hal ganjil yang cukup menarik perhatian. Orang-orang yang tinggal di tempat terpencil itu sudah berpakaian dengan benar. ICPA memang mendukung suku tersebut dengan berbagai hal. Mulai dari berbagai pengajaran hingga pasokan makanan. Awalnya suku Klostar hanyalah suku pedalaman biasa dengan budaya unik dan kepala suku yang tak ramah. Meski demikian, mereka tidak menentang perkembangan zaman.


Alex berdiri dekat ayahnya. Dia tidak protes atau menangis, hanya diam. Mata lebarnya memperhatikan sekitar berusaha mencerna di mana mereka berada. Rumah kecil seperti gazebo taman, aroma lembab tak menyenangkan, suara gesekan dedaunan serta hewan asing. Semuanya baru buat anak itu.


“Kupikir dia akan merengek minta pulang begitu kita tiba di sini.” Si wanita pemandu telah berpaling pada rombongannya. Wanita itu punya sorot mata tajam dan dagu runcing. Ada senyum terkembang di sana. “Sepertinya dia tak kalah menarik seperti dirimu, agen Hill.”

__ADS_1


“Panggil aku Mark.”


“Kalau begitu, kamu boleh memanggilku Tesiana. Itu nama asliku di suku ini, bukan Tasya.” Dia berpaling pada si profesor. “Dan, profesor, kepala suku telah menyiapkan sambutan untukmu di tendanya. Kedua orang ini akan mengantarmu ke sana.”


Si profesor spontan mundur selangkah. “Wow, wow, wow. Hanya aku? Aku tidak bisa bahasa mereka. Lagipula, Mark di sini untuk menemaniku—”


“Menemanimu ke sumber air bukan ke tenda kepala suku,” sahut Tesiana. “Lagipula, kepala suku bisa bahasa kita. Tidak perlu khawatir.”


“Apa itu alasan kenapa dia mengizinkanmu ke kota?” Profesor melemparkan pertanyaan santai dan mendapat tatapan tajam wanita itu. “Baik, lupakan. Beri tahu aku hal-hal penting. Misalnya bagaimana supaya mereka tidak menombakku atau memakanku. Suku Kloster bukan suku kanibal, benar ‘kan?”


Tesiana mendengus geli. Dia menikmati bagaimana profesor terlihat gusar. “Pastikan kamu tidak berkomentar soal rambut atau dekorasi di tenda itu maka kamu akan aman.”


“Anaknya.” Tesiana meralat. “Kami akan bertemu nanti. Sekarang, kepala suku meminta kehadiranmu saja. Lebih baik tidak membuatnya menunggu. Kalau suasana hatinya jelek, dia bisa memulangkan kita semua.”


“Ke kota atau ke akhirat?” Lagi-lagi profesor mendapat tatapan tajam disertai desahan. Dia pun buru-buru melangkah. “Benar, lebih baik tidak membuatnya menunggu. Mark, kalau aku tidak kembali dalam waktu satu jam, tolong siapkan whiskey. Aku yakin pasti akan membutuhkannya nanti.”


Profesor pun pergi bersama dua orang anggota suku bertombak. Tesiana dan Mark bertukar pandang. Mereka tak bicara setelahnya, hanya membereskan barang bawaan masing-masing lalu berjalan pula ke arah desa. Tesiana mengantar Mark ke pondok mereka lalu berpamitan.


Pondok itu seprimitif kelihatannya. Tidak ada listrik, tidak ada kamar mandi, tidak ada perabotan. Hanya pondok berbentuk persegi dengan dinding kayu dan atap anyaman. Di bagian tengah, ada semacam perapian kecil. Bekas abu masih menempel di sana meski anggota suku pasti telah berusaha membersihkannya sebelum mereka datang.


Mark meletakkan barang-barang mereka pada satu sudut. Sentuhan modern itu tampak sama sekali tidak cocok dengan sekitarnya. Mereka membawa baterai tersendiri agar bisa menyalakan teknologi. Sayangnya, tidak ada cukup tenaga untuk menyalakan listrik atau yang lain. Mereka punya kantung tidur, persediaan makanan, juga alat komunikasi. Itu cukup bagi Mark dan Dominic. Tapi, mungkin tidak Alex.

__ADS_1


“Kamu takut?” Mark bertanya pada putranya yang menatapnya lekat selagi membereskan barang. Dia pun berhenti agar bisa melihat wajah Alex lebih baik. “Kita akan di sini selama dua hari. Tiga hari paling lama. Ini akan jadi pengalaman unik buat kita semua.”


“Apa aku boleh bermain dengan anak lain?”


“Apa ada yang membuatmu tertarik?”


“Mereka menumpuk batu dan menembak dengan ketapel. Aku mau coba.”


Mark tersenyum. Dia menepuk bahu putranya. “Kalau begitu, mari ayah antar ke sana. Jangan lupa dengan hadiahmu untuk mereka.”


Mark mengeluarkan beberapa batang cokelat kecil lalu menyerahkannya pada Alex. Sebelum tiba di sana, Tesiana sudah memberitahu kalau anak-anak di suku tersebut mencintai produk cokelat. Ya, lagipula kebanyakan anak kecil memang suka cokelat. Itu hal mudah. Mereka berharap bisa membawa Alex berbaur lewat camilan tersebut.


Ketika keluar dari pondok, mereka melihat beberapa anak kecil berlari dari arah pintu. Tampaknya anak-anak itu juga penasaran pada kedatangan dua tamu asing mereka. Kumpulan itu terdiri dari berbagai usia, beberapa diantaranya seusia dengan Alex. Mark pun menepuk bahu kecil putranya yang tengah memegang kantong berisi cokelat.


“Selamat bersenang-senang, nak.”


Alex tersenyum pada ayah lalu melangkah pergi. Mark memperhatikan Alex mendekati anak-anak itu. Dia kelihatan tegang dan canggung. Namun, berkat kantung cokelat tersebut, suasananya jadi lebih cair. Beberapa anak yang lebih besar berusaha berkomunikasi dengan gaya. Itu nampak kacau tapi Alex terlihat senang. Tak lama kemudian, Alex telah mengikuti kumpulan tersebut untuk bermain dengan batu.


Mark terdiam di ambang pintu pondok lalu mendengus geli pada dirinya sendiri. Setelah memastikan kalau Alex aman, dia pun menutup pintu pondok, dan kembali pada tumpukan barangnya sendiri.


Dari dalam tas ransel hitam, dia meraih kotak putih dengan palang merah. Dia akan kena masalah kalau orang suku melihatnya, begitu pula sebaliknya. Siapa pun yang melihat Mark Hill merakit pistol dari dalam kotak yang disamarkan sebagai kotak obat tidak akan berakhir baik.

__ADS_1


__ADS_2