
Truk putih itu masuk dengan cara yang sama dan tiba di landasan yang sama pula seperti biasanya. Emil berdiri di tengah ruangan, Caitlin bersamanya.
Tiger melompat turun, separuh membanting pintunya, berjalan cepat pada si gadis. Tiger tetap menjaga jarak. Itu sebagai pengaman kalau agar dia sendiri tidak lepas kendali. “Kalau ini ulah pacarmu, dia keterlaluan! Kamu tahu berapa banyak orang yang tewas?”
Emil membantu menjawab. “Masih dalam evakuasi. Kita tidak tahu berapa—“
“Diam!”
Emil langsung diam. Badannya berjingkat. Perlahan, Emil mundur. Dia tak mau sampai terlibat kemarahan Tiger pada Caitlin. Emil memilih mengamati bagaimana Alex dan Jayden baru turun dari bagian belakang mobil, sementara dokter Vanessa terperangah melihat perdebatan panas yang akan dimulai.
Lebih parah lagi, Caitlin sendiri sama galaknya dalam kondisi seperti itu. “Pacar siapa maksudmu? Kamu sama sekali enggak punya bukti.”
“Bukti? Semalam, ada orang yang mau membunuh Alex dengan makanan penutup. Kamu menyelamatkannya dan kabur dari pacarmu sendiri. Lalu, pagi ini, ada bom di sekolah Alex. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Baron, hah!”
“Jangan sembarangan menuduh! Tidak ada bukti, Tiger.”
“Bukti apa lagi yang perlu? Alex dan Jayden bertemu dengan Baron. Dia sendiri yang mengakui semuanya.”
“Dan, sudah kubilang kalau itu adalah saudara kembarnya—“ Nada suara Caitlin mulai meninggi.
“Itu palsu! Saudara kembarnya sudah tewas, Cait!”
Dokter Vanessa pun bergegas mendekat. “Kalian, tenang dulu. Kita bicarakan ini ruang komando.” Sayangnya, baik Tiger maupun Caitlin sama sekali tidak mendengarkannya dan melanjutkan pertengkaran mereka.”
“Tidak, Tiger. Kembarannya… Roaban… Di— dia masih hidup. Baron pernah menunjukkan fotonya. A— Aku sudah memberikannya pada Emil untuk diperiksa. Kamu bisa tanya padanya. La— Lagipula, Baron… Dia selalu bersamaku setiap waktu. Bahkan—“
“Berhentilah menutupi kejahatannya. Saat ini saja, kamu sedang tidak bersamanya. Buka matamu! Kamu termakan mentah-mentah oleh kebohongannya!”
“Tidak!” Caitlin berteriak. “Dengarkan aku dulu! Ada penjelasan di balik semua ini. Bukan dia pelakunya. A— Aku bisa meneleponnya sekarang kalau kamu mau.”
“Tidak ada gunanya menelepon! Dia sudah menyiapkan semuanya!”
“Kalau begitu, bagaimana aku bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah? Kalian sama sekali tidak mau mendengarkan ucapanku! Semalam aku sempat bicara dengannya. Dia sedang berada di luar negeri. Sungguh! Kamera pengawas di bandara—“
__ADS_1
“Tunggu! Kamu sempat bicara dengannya semalam? Bagaimana bisa?” Tiger berhenti sejenak. Dia berbalik ke belakang, melotot pada Jayden. “Kamu… Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?“
“Aku bertanggung jawab penuh soal telepon itu,” ujar Jayden. “Tapi, aku enggak melakukannya tanpa alasan. Aku memeriksa keberadaannya dan jaringan komunikasinya.”
“Lalu, apa itu bisa jadi bukti kalau dia tidak bersalah? Tidak, ‘kan?” sergah Tiger.
“Sama sekali tidak.” Jayden menoleh pada Caitlin.
Gadis itu sudah di ambang air mata. Dia bukan hanya sedih tapi juga kesal. “Bagaimana membuat kalian bisa percaya?”
“Bantu kami menangkapnya!” sahut Tiger.
“Tapi, dia tidak bersalah.”
“Kamu sama sekali tidak punya bukti kalau dia tidak bersalah—“
“Sama denganmu!” Caitlin berteriak.
“Kalau begitu, beri tahu kami. Apa kamu terlibat dalam tragedi barusan?” Tiger ikut berteriak. Caitlin di depannya bergetar, tak mampu memberi jawaban. Itu malah membuat Tiger berteriak lagi. “Jawab, Caitlin!”
Berbeda dengan perdebatan kedua orang tadi. Teriakan Alex disertai hempasan angin yang tak bisa dijabarkan. Ketegangannya memuncak, tak satu pun berani bicara. Hanya Emil yang berani mengedarkan pandangannya pada setiap anggota Special Force.
“Cukup!” Alex berkata lagi, kali ini lebih pelan. Matanya merah, menahan air mata bercampur kemarahan. “Cukup. Kalau Baron memang terlibat dan kamu membantunya, aku yang harusnya bertanggung jawab. Aku pernah bertemu Baron secara langsung dan aku juga yang membawamu ke sini. Aku yang akan bertanggung jawab penuh.”
Semua mata menatap Alex.
Alex melangkah maju mendekati Caitlin. Gadis itu bergeming, memelototinya balik. Dia tak ingin bersikap lemah. Namun, Alex terlalu mengintimidasi. Caitlin tak bisa menahan tangannya yang gemetaran.
“Kalau kalian terbukti bersalah,” lanjut Alex, “aku enggak akan ragu untuk menghabisi kalian.”
Alex berbalik menuju markas. Jayden mengikutinya. Emil dan dokter Vanessa hanya bisa terdiam. Alex tak pernah membuat anggota Special Force ketakutan seperti itu. Bahkan Tiger bisa merasakan keseriusan dalam ancaman Alex.
Air mata Caitlin jatuh. Gadis itu buru-buru menyekanya. Dia berlari-lari kecil untuk mengikuti masuk ke markas. Tiger bergeming, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dokter Vanessa menghampirinya, menepuk punggungnya.
__ADS_1
Tiger menghela napas panjang. “Aku tahu apa yang akan kamu bilang, dok. Kamu akan bilang kalau tadi itu tidak baik untuk jantungku. Ya, mungkin juga tidak baik untuk jantung kita kita semua. Tapi, aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana otak Caitlin bisa dicuci sampai seperti itu.”
“Tidak, Tiger,” ujar dokter Vanessa lirih. “Kali ini, aku di pihakmu. Aku cukup yakin Baron ada di balik semua ini. Juga ada sesuatu yang salah dengan Caitlin.”
Tiger mengangguk. “Aku tidak percaya pernah berada dalam satu tim dengannya. Dia bahkan hampir jadi Zetta Sonic. Kalau dilihat sekarang, Caitlin benar-benar berbeda. Mungkin cinta sudah membutakannya.”
“Sampai kita belum menemukan kebenarannya, lebih baik kita awasi dia terus.”
“Tentu saja, dok. Kita akan mengawasinya.”
Mereka mendengar suara dengung dari ujung landasan. Tak lama setelah, muncul robot buatan ICPA. Robot itu mendarat dekat Emil lalu melambai padanya. Setelahnya, dia berpaling pada Tiger dan dokter Vanessa lalu melambai pula.”
Dokter Vanessa terkekeh. “Kadang aku merasa pemrograman Jayden terlalu ramah untuknya.”
“Entahlah. Jayden tidak ramah padaku.”
“Baiklah, saatnya ke ruang komando. Kalau robot itu sudah kembali, berarti tugasnya sudah selesai. Sebentar lagi ICPA pasti akan mendapatkan semua data lengkap soal ledakan tadi.”
Dokter Vanessa pun berjalan menuju pintu markas. Tiger baru mengambil satu langkah ketika dia menyadari kalau Emil masih tertinggal.
“Hei.” Tiger melambai pada Emil. “Jangan melihat tablet PC terus! Nadira pasti sudah menunggu di ruang komando.”
“Sebenarnya… Soal data lengkap ledakan… Kita sudah punya datanya.” Emil berhenti.
“Terus apa, bocah nomor dua?”
Emil tak bicara. Matanya masih menatap tablet PC. Kemudian, dia mengangkat wajah. Dia bisa melihat Tiger yang mengernyit, masih pada tempatnya. Sementara dokter Vanessa kini malah berbalik kembali untuk menghampirinya.
“Ada yang salah, Emil?” Dokter Vanessa tak suka pertengkaran tadi tetapi dia lebih tidak suka saat Emil tak berani menjawab. “Apa yang kamu lihat? Data korban?” tebak dokter Vanessa lagi.
Emil mengangguk.
“Siapa?”
__ADS_1
“Leta.”