Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Gun


__ADS_3

‘Kamu seharusnya melihat wajah mereka.’


Alex siap menelepon Willy dan mengatakan hal tersebut. Willy akan tertawa bersamanya bila melihat gerombolan berpakaian serba hitam lari tunggang langgang di taman tengah. Alex akan menceritakan detailnya. Dia tentu akan melompati bagian kalau gerombolan itu membawa pistol. Willy akan ngeri seketika dibuatnya. Kenyataan itu menyadarkannya. Imajinasinya pun terhenti.


Alex terpaku. Ponsel sudah ada dalam genggamannya. Dirinya juga sudah berada di teras ke arah taman tengah untuk melihat lebih jelas. Rover ada di sampingnya, menggonggong tak ramah, sembari menunggu perintah Alex.


Segala kegelian yang tadi sempat menghampiri telah berubah jadi perasaan menusuk. Melihat gerombolan perampok bersenjata menembaki kuda berlapis besi tak menghiburnya. Begitu pula dengan ekspresi kebingungan petugas keamanan yang telah bergabung. Semuanya tak lagi membuatnya tertarik.


Itu bukan keributan pertama yang pernah dialami Alex. Itu juga jelas bukan pertama kalinya ada perampok masuk ke mansion tempat dia tinggal. Tapi, itu jelas pertama kalinya merasa tak bisa menceritakan kejadian tersebut pada temannya.


Robot kuda tersebut memang berasal dari ayahnya. Fungsinya tak berbeda jauh dari kuda asli. Itu hanya mainan. Sebuah robot berbentuk kuda yang dilengkapi baterai dan bisa ditumpangi layaknya kuda sungguhan. Alex memodifikasinya dengan bantuan Emil. Membantu Emil menyelinap ke rumahnya sendiri jelas bukan hal sulit. Kini, si robot bukan hanya bisa mendeteksi wajah asing melainkan juga menyerang mereka. Dia berfungsi dengan baik. Sangat baik.


Alex akan menceritakannya pada Emil nanti. Tapi, Willy? Alex tak tahu bagaimana dia bisa menjelaskan teknologi robot itu pada temannya. Dia merasa semakin jauh dengan temannya, dengan sekolahnya, dengan gadis favoritnya, dengan dunianya. Entah sejak kapan ICPA menggeser itu semua.


Rumahnya terasa sedikit lebih asing dibandingkan markas Special Force. Kalau dipikir ulang, dia bahkan merasa asing dengan dirinya sendiri. Gelang yang terpasang di tangannya telah mengubah segala sesuatu. Jemarinya menyusuri gelang putih tersebut. Dingin. Begitu bertolak belakang dengan Dragon Aura yang panas dan melelehkan apa pun.


Sebagai Zetta Sonic, dia memiliki kekuatan yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Kekuatan untuk menguasai dunia? Alex tergelak begitu pikiran tersebut melintas di benaknya.

__ADS_1


Selagi terlena oleh pemikirannya, salah seorang dari gerombolan berlari padanya. Dia menyadari kalau tembakan mereka tak membuahkan hasil. Dia juga menyadari kalau mendapat sandera dalam posisi seperti itu akan memberi mereka akses kabur. Pemikiran itu tidak salah, lawannya yang salah.


Mata Alex berkilat hijau. Alex menyadari kedatangan orang berpakaian hitam itu. Alex mengenali siluet belati yang lawannya pegang di satu tangan dan moncong dari pistol di tangan lainnya. Alex mengetahui Rover telah bersiap menerjang lawan. Namun, dia tak menyadari kapan Dragon Blood dalam dirinya telah aktif.


Tanpa diperintah, tubuh Alex bergerak. Lawan yang hendak menangkapnya gagal. Rover juga kalah cepat oleh majikannya. Tangan Alex telah menangkap tangan kanan lawan yang menggenggam pistol. Dipuntirnya tangan itu. Kekuatannya memaksa lawan menjatuhkan senjata. Orang itu berteriak antara kesakitan dan memaki.


Keputusannya berniat menangkap Alex benar-benar berbuah kemalangan. Dalam keadaan terkunci itu, Rover menggigit kakinya. Meski begitu, perampok ini tak lantas menyerah.


Tangan lainnya menghunuskan belati. Bilahnya membelah udara persis di depan dada Alex. Dari jarak sedekat itu, Alex bisa melihat bagaimana lawannya terbelalak. Gerakan menghindarnya terlalu cepat. Secepat itu pula, Alex bisa membalas. Dia menyarangkan tinju ke perut lawan. Serangan itu menjatuhkan lawannya dengan cepat. Orang itu meringkuk di lantai, mengerang kesakitan, memegangi perutnya.


“Kamu baik-baik saja, Alex?” Preston datang terengah-engah. Dia berhasil menendang pistol menjauh dari penjahat yang baru saja berniat menyerang majikannya. Dahinya berkerut cemas dengan mata terpaku pada Alex.


Alex telah membuka mulut untuk menjawab. Ternyata jawaban itu keluar sedikit berbeda dari bayangannya. “Ya,” katanya singkat. Cuma itu. Komentar tambahan yang sudah dia rancang dalam pikirannya telah lenyap. Mungkin dia sedikit terkejut karena kehadiran Preston atau pada senapan yang dia bawa.


Menyadari kalau Alex sempat melirik senapannya, Preston tertawa gugup. “Selama ini aku tidak tahu kenapa tuan menyuruhku menyimpan ini di samping ranjang. Sekarang aku tahu. Tidak ada salahnya berjaga-jaga.”


Alex memalsukan senyumnya. “Tentu saja. Mansion. Perampok. Hal biasa.”

__ADS_1


Preston mengangguk.


Ada kecanggungan di antara Alex dan Preston. Menghindari kecanggungan yang lebih buruk, Alex buru-buru melangkah. “Aku harus tidur. Sekolah.”


“Kuharap tidurmu nyenyak, Alex.”


Pembicaraan mereka berakhir di sana. Preston yang biasa mungkin akan bicara lebih banyak. Begitu pula Alex. Malam ini, mereka sama-sama telah melihat hal yang berbeda. Alex tidak seharusnya pandai bela diri seperti itu. Refleksnya terlalu cepat seolah sudah terbiasa mendapat ancaman. Preston membenci senjata, setahu Alex.


Tidak ada satu pun dari keduanya membahas soal kuda. Preston hanya tahu kalau mereka memanggil tukang service untuk instalasi listrik mereka. Salah seorang dari mereka tertarik dengan kuda itu dan bicara banyak dengan Alex. Baik Preston, maupun Alex, menyadari mereka menyembunyikan sesuatu dari satu sama lain.


Alex kembali ke kamarnya, duduk di ranjang, terdiam. Rover juga berdiam di samping kakinya. Melihat itu, Alex mengelus kepala si rottweiler sampai anjing itu memutuskan berbaring. Gelisah, Alex pun menghampiri jendela.


Bagian keamanan sedang sibuk. Mereka menodongkan senjata laras panjang pada para perampok, memaksa mereka melempar senjata mereka, lalu berlutut di tanah selagi menunggu para polisi datang. Preston juga di sana. Dia menenangkan si robot kuda lalu membawanya pergi sebelum keributan tambahan muncul.


Alex memicingkan mata. Dia tak melihat di mana senapan Preston tadi. Senapan itu telah disembunyikan dengan baik dan cepat. Meski dicat hitam legam, Alex mengenali senjata yang dibawa oleh kepala pelayannya. Alex tak pernah menyangka akan melihat senapan laser ICPA di rumahnya sendiri.


Ayahnya terlibat? Kenapa tidak? Preston jelas tahu lebih banyak dari yang dikira Alex dan mungkin, sangat mungkin, ayahnya juga.

__ADS_1


__ADS_2