Zetta Sonic

Zetta Sonic
On the Top


__ADS_3

“Halo, Jayden!” Alex tersenyum di balik helm. Sebagian dirinya terkejut ketika mendengar suaranya sendiri. Suara yang keluar barusan bukan hanya jernih tapi juga berbeda. Bukan suaranya sendiri. “Oke, apa lagi yang bisa kurharapkan di sini?”


“Keseruan,” sahut Tiger. “Itu mereka!”


Alex bisa melihat mobil sedan hitam di depan bangunan besar dihiasi aneka lampu neon. Ada gambar pinguin besar di depannya dengan bendera warna warni. Seseorang baru turun dari mobil. Dia tahu siapa itu. Sasaran mereka, Nikola.


[Saatnya beraksi, Sonic!]


Alex berpaling pada Tiger. “Apa rencananya?”


“Berhentilah bertanya apa rencananya dan langsung berarksi saja!”


Ucapan Tiger jelas bukan rencana. Alex tahu apa maksudnya. Mobil mereka melewati casino lalu berbelok tajam di persimpangan. Tiger berhenti mendadak di pintu masuk pasar malam. Penjaga pos keamanan melongo padanya, begitu pula Alex. Tiger tak bicara. Dia mengganti persneling dan mundur tajam ke arah gang di sisi kiri menjauhi keramaian.


“Jalan pintas?” tebak Alex.


Mobilnya kini benar-benar berhenti. Alex dan Tiger turun, mendapati kalau ada pagar jeruji tinggi yang menghalangi mereka masuk lebih jauh.


“Ini pasti pengaman agar tak ada yang bisa kabur dari casino.” Tiger menamati deretan belakang gedung di balik pagar. Casino De Penguin ada di tengah gang tersebut. Bagian pintu belakangnya tak kalah meriah dengan bagian depannya.


Empat orang yang berjaga di pintu belakang menyadari keberadaan mereka. Salah seorang menyuruh dua orang lainnya untuk memeriksa mereka. Adanya mobil SUV putih di gang seperti itu agaknya membuat mereka gusar. Wajar saja, pekerjaan seperti itu tak akan pernah memberikan mereka kedamaian.


Alex mengangguk pada Tiger. “Cari jalan lain! Akan kutangani ini.”


“Dengar Sonic, aku menurutimu hanya karena tak ada pilihan lain.”


“Terserah.” Alex tersenyum sekalipun tahu Tiger tak melihatnya. Alex menengadah ke atas, ke arah pagar tinggi tersebut. “Jayden, apa menurutmu aku bisa melompati pagar ini?”


[Tanyakan pada Sonic, jangan tanya aku!]

__ADS_1


Rasanya lucu mendengar Jayden seolah memisahkan Alex dengan Zetta Sonic. Alex melihat kedua penjaganya sudah persis di balik pagar. Salah seorang menggertaknya, salah seorang lagi mengeluarkan pistol sebagai ancaman.


Saat itu, Alex mendapati kalau layar pada helmnya berubah. Ada layar kecil tambahan di sisi kiri. Layar itu memperbesar tangan si penjaga pembawa pistol. Dalam sekejap, muncul keterangan mengenai pistol tersebut. Pistol sungguhan, sig sauer 9mm. Alex tak berharap ditembak. Dia belum tahu apakah pakaiannya sekarang anti peluru. Yang dia tahu adalah dia bisa melompat tinggi.


Jantungnya berdegup kencang ketika Alex sedikit menunduk. Selanjutnya, semua terjadi begitu mudah. Kakinya menghentak ke tanah. Tubuhnya terlontar ke udara, tidak cukup tinggi untuk melintasi pagar. Jemarinya pun meraih pagar seiring kakinya membuat hentakan lain di sana. Badannya kembali terlontar ke udara. Berikutnya, dia sudah berada di balik pagar. Lebih tepatnya, di balik kedua penjaga.


Salah seorang dari mereka mengumpat. Satunya lagi hendak menembak, tapi tangan Alex lebih cepat. Dia memutar tangan itu, membuat pemiliknya meringkuk di tanah.


“Astaga! Apa aku baru mematahkan tulangnya!?” Suara Alex keluar terlalu keras sampai penjaga satunya ikut melongo.


[Memangnya itu masalah?] Jayden membalas langsung di dalam helm.


Alex mendengar derap langkah. Dua penjaga lainnya menghampiri. Dia pun merobohkan penjaga yang ada di dekatnya sekarang. Satu tinjuan di perut cukup untuk menjatuhkannya ke lantai. Alex kini berbalik pada dua orang lainnya. Seorang telah melepaskan tembakan. Alex tahu. Dia bisa melihatnya seperti rekaman yang diperlambat. Alex menghindarinya dengan mudah.


[Mata hijau! Tenaga super? Cek! Gerak cepat? Cek! Profesor akan sangat senang dengan semua data hari ini] Jayden ikut bersemangat. Dari kamar hotel, dia bisa melihat kondisi sekitar dari drone dan juga reaksi Alex di balik helm. [Habisi mereka!]


“Enggak!” Alex spontan berteriak.


“Mereka manusia!” balas Alex.


[Oke, oke. Terserah padamu. Setidaknya ingat ini, kalau Nikola mendapatkan formulanya, kita tidak tahu berapa orang yang akan dia habisi.]


“Mengerti.”


Peluru lain telah dilepaskan. Alex bertolak. Meski begitu, pelurunya menyerempet lengannya. Alex melihat bagaimana pakainnya sempat berkilat ketika peluru mengenainya. Tak ada gores atau cacat di sana. Setidaknya, sekarang dia tahu kalau bajunya anti peluru. Alex maju, menjatuhkan kedua penjaga ini tanpa waktu lama, dan tiba di pintu belakang.


[Mereka ada di atas.]


“Lantai berapa?” Alex memicingkan mata, mengamati ketinggian gedung itu. Dia membutuhkan tangga darurat kali ini. Tangga itu menempel di sepanjang dinding belakang casino. Itu akan mempercepat jalannya.

__ADS_1


[Paling atas. Helipad.]


Tentu saja. Gedung tinggi itu dilengkapi helipad. Para pengunjungnya mayoritas berkantong tebal. Nikola membangunnya untuk tamu penting. Dia juga bisa menggunakannya untuk jalur pelarian. Benar-benar pemikiran menarik.


Alex mendengar keributan dari balik pintu belakang. Para penjaga lain pasti telah menyadari hal tidak beres di sana. Alex melompat. Tangannya berhasil meraih selusur tangga terdekat. Dirinya berayun sebentar lalu melompat naik ke tangga selanjutnya. Beberapa kali, Alex bisa melompati dua lantai sekaligus. Dalam waktu singkat, dia berhasil mencapai lantai teratas. Helipad.


Tempatnya tak berbeda jauh dari helipad di atas gedung tinggi lainnya. Sebuah landasan rata disertai deretan lampu berkelip. Angin kencang dingin tak bersahabat. Juga sebuah bangungan kecil yang terhubung dengan lantai bawahnya. Tak ada helikopter di sana. Saat Alex menduga kalau panduan Jayden salah, dia melihat ada dua penjaga tengah berlari keluar dari bangungan itu. Keduanya merupakan penjaga yang tadi juga berada di resort.


Nikola muncul di belakang mereka dengan terengah-engah. Matanya terbelalak ketika melihat sosok Alex. Dia pasti terkejut dengan adanya sosok asing mengenakan pakaian yang tak kalah asing. Di bawah sorot lampu helipad, Alex menduga penampilannya mirip campuran pengendara motor dan alien.


Kedua penjaga tak butuh waktu untuk mengagumi. Mereka buru-buru melepaskan tembakan. Nikola berbalik, kembali menuruni tangga.


[Hentikan dia!]


Alex menyeberangi landasan tanpa kesulitan. Dia juga tak kesulitan untuk menjatuhkan kedua penjaga. Mereka jelas bukan tandingannya. Alex tahu. Begitu pula Nikola. Saat hendak masuk ke bangunan, Alex melihat kelip biru dan dengung mesin yang dia kenali. Gilirannya mundur sekarang. Robot pembunuh menghalangi dirinya mencapai Nikola.


Alex menjaga jarak antara dirinya sendiri dan si robot pembunuh, menunggu serangan pertama atau kesempatan menyerang. Robot itu meluncur mulus keluar sementara Nikola menyeringai di belakangnya tanpa berani meninggalkan bangunan.


“Kukira robotnya cuma satu!” protes Alex pada Jayden.


[Kita memang cuma dapat laporan soal satu robot pembunuh.]


“Suruh mereka memperbarui datanya.”


[Itu tergantung.]


“Tergantung apa, maksudmu?”


[Tergantung apakah kamu akan menghancurkan robot ini juga atau tidak.]

__ADS_1


“Kalau aku bisa menghancurkannya, datanya juga tetap harus diperbarui, ‘kan? Populasi robot pembunuh. Nihil.”


__ADS_2