Zetta Sonic

Zetta Sonic
Other Man


__ADS_3

[Apa itu Damon yang sama dengan kemarin?] Tiger akhirnya bertanya. Dia sendiri tak percaya semua yang dia lihat. Damon bukan saja lebih seram, dia lebih kuat.


Tanpa membuang kesempatannya, Damon berlari maju. Alex punya beberapa pilihan. Di antara semua pilihannya untuk kabur, dia justru berlari maju. Badannya terasa agak ringan. Bukan pertanda bagus. Dia sedikit lelah. Tentu saja, melihat dari indikator Zet-Arm, tenaganya berkurang banyak. Belum habis, tapi berkurang sepertiga.


[Alex. Menghindar!]


Alex tak perlu diberitahu. Dia sadar benar kalau gerakan Damon pun menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Serangan itu datang mengincar kepalanya. Alex berhasil menunduk di saat yang tepat. Dia pun membalas. Tinjunya mengenai perut lawan. Seolah tak merasakannya, Damon malah tersenyum.


Jarak mereka terlalu dekat. Alex tak bisa meloloskan diri. Keduanya pun terlibat pertarungan jarak pendek. Mereka saling pukul, saling menghindar, saling membalas. Tiger harus bangga. Dalam kondisi seperti itu, apa yang dilakukan Alex tergolong baik. Dia berhasil melindungi dirinya sendiri dari hampir semua serangan Damon.


Ketika Damon berusaha menendang, Alex melompat, cukup untuk menghindari serangan tersebut. Alex berputar, memberikan serangan balik. Namun, serangannya tak pernah mencapai target. Damon berhasil melindungi dirinya dengan tangan.


Sebaliknya, Damon justru berhasil menangkap tangannya. Tak ingin kembali terlempar, Alex mempertahankan posisi. Dia juga memegangi tangan lawannya. Dia menarik Damon ke udara dan menghempaskannya menjauh. Damon pun terjerembab ke tanah. Pria itu buru-buru mundur. Sebuah balas dendam yang manis. Alex menjaga jarak. Bibirnya tersenyum, tangan kanannya terulur ke depan, jemarinya mengundang Damon.


“Kamu salah kalau berpikir bisa menang dariku.” Damon menggeram.


“Sepertinya, aku memang sudah menang.”


Damon mengulurkan tangan ke depan. Di tangannya ada benda yang tak pernah disangka Alex. Sebuah senapan laser. Milik ICPA. Alex terkejut. Secara reflek, dia memeriksa miliknya. Pistol itu masih di sana. Begitu pula pedangnya. Damon bukan merebut senjata tersebut darinya. Dia mendapatkannya dari yang lain.


Tembakan pun dilepaskan. Alex tak sempat menghindar. Dia hanya sempat bergeser. Serangan itu mengenai bagian bahu kirinya.

__ADS_1


Alex menjerit. Bahunya panas. Rasa perihnya begitu tajam. Matanya langsung berair. Serangan itu menembus seragamnya. Mereka luruh bagai kertas yang terkena air. Apa pun yang dia lakukan sama sekali tidak membuat rasa sakitnya pergi, justru memburuk. Semakin lama, semakin panas dan perih. Dia menggeliat ke belakang, berusaha menjaga jarak bila lawannya kembali menembak.


[Aku akan ke sana!]


Alex tahu kalau Tiger melompat dari mobil. Dia mengenali suara ketika pintunya ditutup. Di luar dugaannya sendiri, Alex malah berseru. “Ja-- Jangan. Tetap di sana.”


[Apa yang kamu bicarakan? Kamu butuh bantuan.]


Alex sendiri tahu hal tersebut. Namun, dia tidak bisa membayangkan kalau Tiger sungguhan datang ke sana. Damon bisa menewaskannya dan Alex tidak mau melihat siapa pun tewas. Mereka sudah kehilangan Jayden, mereka tidak boleh sampai kehilangan tiger juga. “Jangan,” katanya lagi. “Tetap di sana.” Alex mengulang kembali ucapannya, kali ini separuh memohon.


Damon tidak memahami kepada siapa ucapan tersebut ditujukan. Dia justru menyiapkan kembali pistolnya sambil tertawa melihat lawannya terhuyung-huyung. “ICPA memang memiliki teknologi terbaik. Kalian seharusnya menjualnya pada orang yang tepat. Hahaha… Roban pasti mau membeli ini dengan harga mahal.”


Damon kembali membidik. Alex berusaha mengulurkan tangannya untuk mengeluarkan kekuatan lasernya dari Dragon Blood. Namun, kekuatan itu tak mampu bereaksi dengan benar. Apa yang dia rasakan hanya rasa sakit. Berapa kali pun dia berusaha melupakan rasa sakitnya, luka itu tetap ada, malah makin menjadi. Sekarang dia menyadari kalau ada darah merah merembes keluar membasahi seragamnya.


Emil berseru dalam helm pelindungnya. [Awas!]


Alex berusaha menghindar. Dia melihat apa yang terjadi dan berhasil meloloskan diri dari serangan Damon selanjutnya. Bidikan itu lolos. Alex berteriak. Dia memaksakan dirinya untuk maju. Tubuhnya menerjang lawan. Pistol laser Damon pun jatuh di atas tanah berdebu. Sebelum Damon berhasil mengambilnya, Alex mengayunkan pukulannya. Damon melindungi kepalanya dengan tangan.


“Di mana dia!?” Alex berseru. “Di mana Roban?”


“Aku tidak perlu memberitahumu bahkan kalau aku tahu!”

__ADS_1


Dengan tubuh yang terluka, Alex tak bisa mempertahankan dirinya sendiri. Serangan balik Damon mengenai badannya. Gantian dirinya yang terjatuh. Damon pun tak memberinya kesempatan. Saat itu, Damon malah membuang senjatanya. Dengan seringai lebar, dia memukuli Alex yang bahkan tak mampu berdiri sekarang.


Alex berusaha membalas. Namun, rasa sakit pada tangan kirinya makin menjadi. Bukannya berhasil membalas, Alex bahkan kini kesulitan melindungi kepalanya sendiri. Serangan Damon datang bertubi-tubi pada helm dan seragam pelindungnya. Rasa sakitnya memang berhasil diredam oleh pelindung, tapi Alex tak yakin berapa lama mereka akan bertahan. Sepertinya hanya masalah waktu sampai seragam itu menyerah.


“Aku menang! Aku lebih baik darimu!” Damon meneriakkan kalimat tersebut berulang kali.


Alex muak padanya juga pada dirinya sendiri. Dia bersusah payah mengulurkan tangan dan berkonsentrasi. Namun, dia hanya mampu menempatkan tangannya di antara dirinya dan Damon. Itu cukup. Alex mengerahkan sisa-sisa energinya. Asap hijau itu merembes keluar sekali lagi ditemani panas yang menyakitkan. Dalam waktu singkat, serangannya berubah jadi laser mematikan.


Serangan itu mengenai Damon. Alex yakin. Damon berseru kesakitan. Namun, apa yang nampak di balik itu jelas tidak seperti harapan Alex. Damon hanya memegangi wajahnya yang terkena serangan sebentar. Bagian itu memerah bahkan sedikit menghitam. Tidak lebih dari itu.


Dragon Aura, nama serangan yang diberikan Jayden, nyatanya gagal.


Alex mendapatkan kesempatan kabur tapi tak bisa menggunakannya dengan baik. Dirinya ingin sekali kabur. Kakinya lemas oleh rasa takut dan ngeri. Sementara tangannya terasa sakit dan panas. Badannya menolak bergerak jauh. Dia hanya bisa berdiri. Belum sampai jauh, Damon menangkap tangannya. Pukulan kembali datang. Kali ini ke perutnya. Alex terjatuh, terbatuk. Ini pertama kalinya Alex merasa dihajar dalam arti sesungguhnya.


Di seberang sana, suara panik Tiger beradu dengan Emil. Mereka ingin melakukan sesuatu. Dan, mereka memang akan melakukan sesuatu. Tiger melompat keluar dari mobil, berlari sekencang yang dia bisa sambil membopong senapan laser lain. Dia tidak sendirian. Ada bayangan orang berbeda di sisi lain. Tiger mengira kalau itu adalah bala bantuan dari Fergus.


Hingga dia mendengar pertanyaan Emil. [Sedang apa dia di sana?]


Tiger baru menyadari sosok itu bukanlah rekan ICPA utusan Fergus untuk membantu Alex. Dia bahkan bukan agen lapangan. Tubuhnya kurus, membawa tongkat, serta berjalan tertatih-tatih pada Damon yang sedang beraksi. Sosok itu adalah profesor mereka sendiri.


Profesor Otto.

__ADS_1


__ADS_2