
Mobil itu tidak pernah Alex naiki sebelumnya. Meski begitu, bukan masalah baginya untuk mengendarainya. Dia percaya kalau barang baru selalu lebih mengasyikkan daripada yang lama apalagi kalau bicara soal teknologi di ICPA.
Dari luar, mobil itu hanya nampak seperti SUV pada umumnya dengan grill chrome hitam di bagian depan dan belakang. Tidak ada yang istimewa. Interiornya dibuat halus dengan bahan tebal dan aksen lampu garis tipis warna hijau, jok kulit imitasi, panel layar besar di tengah, juga beberapa tombol asing yang cukup asing. Dia mengenali layar yang berkedip di bagian tengah. Itu mengingatkannya pada sistem milik Gavin. Alex ingat namanya Parana.
[Halo. Zetta Sonic.]
Sistem itu muncul menyapanya setelah mereka mulai meninggalkan markas. Sebuah garis muncul di tengah. Ketika bicara, garisnya mengikuti bentuk spektrum suara tersebut.
“Kamu tahu siapa aku?”
[Kamu adalah Alexander Hill. Zetta Sonic.]
Alex tak percaya sistem itu bisa menyebutkan namanya dengan tepat. Apakah artinya kalau Nadira sudah mulai membuka identitasnya bagi para agen ICPA yang lain atau ada maksud lain? “Bagaimana kamu bisa tahu siapa aku?” tanya Alex lagi.
[Karena aku dibuat untukmu.] Seolah bisa membaca kekhawatiran Alex, sistem itu melanjutkan lagi. [Aku dibuat oleh Jayden Garnet, operator khusus Special Force Zetta Sonic. Aku hanya menerima perintah dari anggota Special Force dan Nadira.]
Alex tak bisa menahan diri tersenyum ketika mendengar pernyataan tersebut. Sebuah mobil yang dibuat untuknya.
“Siapa kamu?” Alex bertanya. Belakangan ini, Alex mulai terbiasa berkomunikasi dengan sistem kecerdasan buatan. Mulai dari Jason, robot ICPA yang belum bernama, hingga sistem baru mobil tersebut. “Apa kamu Parana?”
Suara sistem yang mirip suara laki-laki itu menjawab lagi. [Parana adalah kecerdasan buatan milik ICPA Regis. Aku berbeda darinya. Aku bisa memberikan informasi lebih banyak. Tahukah kamu kalau benua Sinde adalah benua paling besar di dunia dan negara kita berada ini adalah negara terkuat di dunia?]
Alex terkekeh mendengarnya. “Lebih besar bukan berarti lebih baik. Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu?”
[Aku berbeda dari Parana. Kamu bisa memanggil apa pun yang kamu suka. Kalau kamu tidak suka dengan suaraku, kamu juga bisa mengubahnya. Aku punya lebih dari sepuluh pilihan suara.]
“Suara apa pun tidak masalah buatku. Aku akan memanggilmu dengan White.”
[Aku cukup yakin kalau kamu sadar warna mobilku hitam bukan putih. Tolong konfirmasi. Apakah kamu masih ingin memanggilku dengan nama White?]
“Ya.” Alex tak ingin berdebat. Itu adalah nama yang pertama kali terlintas dalam benaknya. Kini garis pada panel layar di tengah memunculkan tulisan ‘White’ di atas gambar spektrum suara.
[Baik, sekarang kamu bisa memanggilku dengan nama White.]
“Apa yang kamu bisa lakukan untukku, White?” Alex bertanya. Dia sudah melaju di jalan tol saat ini. “Bisakah kamu memutus jaringan pelacak dari ICPA ke mobil ini?”
[Maaf. Itu di luar regulasi.]
__ADS_1
Alex tak menjawab. Dia tahu akan membuat White banyak melanggar regulasi bersamanya. Alex mengganti pertanyaan. “Bisakah kamu membuat panggilan ke luar?”
[Tentu. Aku punya daftar kontak agen ICPA dan nomor darurat.]
“Apa kamu bisa menelepon ke penjara?”
[Maaf. Itu di luar regulasi.]
Jawaban yang sama lagi. Tapi, Alex tahu bagaimana membuat sistem itu bingung. “Salah satu temanku dipenjara ICPA karena sedikit kesalahpahaman. Aku sudah mendapat izin untuk melakukan kontak dengannya. Kamu bisa cek pada sejarah panggilan.”
Ada jeda pendek sebelum White bicara lagi. [Aku melihat kamu sudah melakukan panggilan dua kali ke penjara ICPA. Kamu menghubungi seorang tahanan bernama Cody Kane alias Bug.]
“Benar. Kamu bisa sambungkan aku dengannya?”
[Meminta persetujuan dari sistem pusat.]
“Kamu harus meminta persetujuan juga?” Alex tahu akan sulit mendapatkan izin dari Jayden apalagi bila dia sedang bersama Nadira. Alex pun hendak melanjutkan protesnya lagi ketika White sudah bicara duluan.
[Persetujuan didapatkan. Menghubungi Cody Kane.]
Berikutnya, Alex mendengar nada sambung telepon memenuhi seisi mobil. Tanpa sadar, Alex mencengkram kemudinya. Kecepatannya stabil di atas jalan tol. Laut membentang pada salah satu sisinya sementara ada tebing di sisi lain. Bulan menyembul malu dari balik awan tipis. Malam yang tenang itu justru mengusik Alex.
“Cody!” Alex mengenali suara di seberang sana.
[Alex? Apa itu kamu? Mau apa lagi sekarang? Memberi janji manis dan harapan kosong?]
“Kamu sudah dengar berita?” Alex tak mendengarkan kekesalan yang dilemparkan Cody.
[Aku di dalam penjara. Penjara bawah tanah! Aku tidak bisa menghubungi siapapun! Aku bahkan enggak tahu apa ayah dan ibu sadar kalau aku masih hidup! Sekarang, satu-satunya orang yang menghubungiku malah bertanya soal berita? Kamu mau menghinaku juga seperti Willy? Dasar para pembully.]
“Sekolah kita lenyap, Cody.” Alex berusaha keras agar suara tidak bergetar.
[Apa maksudmu?]
“Seseorang menanam bom dan meledakkan Wood Peak. Sekolah itu hancur. Korbannya puluhan dan terus bertambah.” Alex merasakan bibirnya pahit. Tenggorokannya sakit. Seberapa kuat pun dia bertahan, dia tak mampu menahan air mulai merembes dari matanya. Alex bersyukur sambungannya ke Cody tidak memakai video.
[Apa? Kamu serius soal itu?] Suara Cody berubah dari kemarahan jadi kebingungan dan sekarang melembut lagi.
__ADS_1
Alex tak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati, memastikan suaranya tetap terdengar seperti biasa. Jangan sampai Cody menyadari kalau dia sedang menangis. “Ya. Aku serius. Aku juga di sana saat ledakan itu terjadi.”
[Itu gila! Siapa yang melakukannya? Seberapa buruk keadaannya? Apa ada yang tewas?]
“Ya, tapi belum tahu berapa banyak. Informasi yang masuk cukup banyak dan simpang siur.” Alex menjawab pertanyaan terakhir Cody lebih dulu. Dia tidak mau menjabarkan semuanya pada Cody. Tidak perlu. “ICPA sedang dalam penyelidikan. KAmi benar-benar bisa menggunakan bantuan tambahan darimu saat ini.”
[Ya. Tentu saja.] Cody tak lagi ribut soal permohonannya dibebaskan. [Apa yang bisa kulakukan? Aku masih ada di dalam penjara.]
“Aku butuh nama. Sekali bersentuhan dengan kegelapan, kamu tidak akan bisa lari lagi. Kamu telah masuk dunia yang terlalu gelap, Cody. Apa kamu pernah dengar nama Baron?”
[Tidak.]
“Roban?”
[Kalau itu, ya. Dia pernah mengontak untuk membeli permata dariku.]
“Jadi, dia tahu identitasmu. Apa dia yang membantumu menciptakan bug, maksudku, serangga-serangga kecil yang kamu pakai itu?”
[Tidak. Aku menciptakannya dengan bantuan para pegawai perusahaan game ayahku. Aku menyuruh orang yang berbeda-beda untuk tugas berbeda. Jadi mereka enggak sadar apa yang sebenarnya mereka kerjakan.]
“Apa yang kamu tahu soal Roban?”
[Hampir enggak ada. Aku cuma dengar kalau dia punya pengaruh besar di pasar gelap. Banyak safe house dan anak buah juga. Kalau kamu mau tanya apa aku tahu nama orang-orang di sekelilingnya, maaf. Aku sama sekali enggak tahu Alex. Dia terlalu… misterius.]
Alex menggeleng, kecewa akan jawaban itu. “Dia memang licin.”
[Tunggu, apa dia pelaku pengeboman di Wood Peak?]
“Dia tersangka utamanya.”
[Kalau begitu, aku bisa membantumu dengan cara lain.]
“Kamu punya ide?”
[Pergilal ke customer service Nile App dan cari keranjang bayi.]
Alex spontan protes. “Mencari apa?”
__ADS_1
[Itu akan membantu.]
“Kalau ini cuma lelucon, aku akan ke sana dan memukulmu!”