
“Tunggu! Ada apa ini?” profesor menyela sebelum ada yang menyerang siapa pun.
“Seseorang menjual informasi suku Kloster pada dunia luar. Seseorang yang dibutakan uang dan terpaksa mempelajari bahasa mereka. Kamu orangnya, ‘kan?” Mark melempar pertanyaan pada pria di depannya.
Pria itu tak langsung mengaku. Dia bicara dalam bahasa suku pada rekannya. Rekannya nampak kebingungan. Tombaknya sudah tergenggam erat tapi jelas tidak tahu harus ditujukan pada siapa. Pandangan matanya berulang kali beralih pada ketiga orang lainnya.
Mark melanjutkan. Dia mengambil keping kayu dari sakunya tanpa sedikit pun melepaskan pandangan dari sasaran. “Ini adalah salah satu bukti yang didapat ketika penjaga berusaha mengejarmu di hutan. Kamu punya janji temu dengan komplotanmu. Si pendayung kapal, bukan? Dia sepertinya paham bahasa kami juga.”
Pria itu menggeleng cepat.
“Menurut Tesiana,” kata Mark, “keping kayu ini merupakan hiasan tambahan untuk kalung. Kamu mungkin sudah membuang kalungnya, jadi kepala suku perlu memastikan dengan cara lain. Ide ini cukup bagus, ‘kan?”
Pria itu masih berusaha mendebat sambil terus menggeleng. Dari reaksi tersebut, rekannya pun tersadar. Mereka seharusnya tidak memahami bahasa orang asing. Namun jelas sekali terlihat kalau dia mengerti betul kenapa Mark menodongnya. Itu membuatnya mengangkat tombak pada rekannya sendiri.
Spontan, pria itu mundur. Melihat dirinya terdesak, pria itu tak lantas menyerah. Dia masih bicara dalam bahasa suku Kloster. Tombaknya yang tadi mengarah ke profesor Dominic kini harus bergantian dari Mark, Dominic, lalu ke rekannya.
“Aku enggak begitu paham apa yang terjadi. Tapi, kamu kalah jumlah, bung,” kata Dominic. “Tiga lawan satu. Kalau memang kamu melakukan sesuatu yang salah, akui saja. Mark cepat. Dia bisa menembakmu bahkan sebelum kamu menusuk siapa-siapa.”
Pria itu akhirnya mengatupkan bibir. Dia menjatuhkan tombaknya ke lantai. Untuk pertama kalinya, dia bicara dalam bahasa yang bisa dipahami orang luar. “Memalukan. Kalian pemeras. Tidak peduli kami. Hanya uang. Penelitian.”
“Hei, kamu tahu apa tujuan penelitian? Aku ini seorang dokter. Aku melakukan penelitian untuk menolong orang banyak. Jangan samakan denganmu yang hanya peduli uang sampai menjual rahasia sukumu sendiri,” balas Dominic cepat.
Mark melempar tali pada rekan penjaga. “Ikat dia.”
Meski tak mengerti benar bahasanya, penjaga yang tersisa ini paham. Dia mengikat tangan rekannya sendiri. Setelahnya, Dominic mendekat. Dia berniat mengambil tube miliknya diam-diam. Sebelum tangannya sempat menyentuh tube, penjaga mengetahuinya. Dia mengarahkan tombaknya pada Dominic.
“Oke, oke,” sahut Dominic. “Itu milik kalian.”
__ADS_1
Si penjaga membawa tube tersebut ke tepi mata air. Dia membuka sumbatnya dan menuang seluruh airnya ke dalam. Melihat pemandangan itu, Dominic mendesah panjang.
Mark berdehem di samping. “Setidaknya kamu berkesempatan menelitinya, prof.”
“Dan, kamu berkesempatan menyelesaikan misi rahasiamu.” Dominic menatap agen pelindungnya lekat-lekat. “Katakan padaku. Siapa memanfaatkan siapa? Kepala suku menyadari ada musuh dalam selimut. Dia menghubungi pimpinan ICPA. Pimpinan menyuruhmu ke sini untuk meringkus mata-mata sekaligus menemaniku meneliti. Itu sebabnya mereka mengizinkanku ke sini. Agar tak ada kecurigaan, kamu membawa putramu. Itu mengecoh semua orang. Semua orang! Kupikir kalian menganggapku istimewa. Dokter yang pintar.”
“Kepala suku menghubungi pimpinan ICPA. Aku menawarkan diri untuk menemanimu.”
“Ya, ya, ya. Terserah.” Dominic melangkah dan mulai mengambil barang-barangnya.
“Jangan sedih begitu. Setidaknya kamu dapat satu botol air.”
Dominic lantas berhenti. Dia menyadari Mark tidak bicara soal air biasa, dia bicara soal air yang lain. Ada botol minuman keras yang tampak pada tumpukan teratas tas ranselnya. Itu bukan miliknya. “Bagaimana kamu—”
“Aku cepat. Ingat?”
Mereka kembali ke desa ketika langit masih gelap. Sudah lewat tengah malam atau hampir subuh, Mark tidak bisa membedakannya. Dia juga tidak repot-repot melihat jam tangannya. Udaranya dingin tapi lembab, kulitnya terasa lengket. Dia ingin sekali mandi dengan air segar. Barang bawaan, perjalanan dalam gelap, serta mendengar pembicaraan dalam bahasa asli sepanjang jalan membuatnya lelah. Si pemandu mereka tidak memahami kejadian lengkapnya, agaknya si penjaga berusaha menjelaskannya dengan detail.
Desa itu terlihat lebih cantik di malam hari. Lampu gantung memancarkan cahaya kuning temaram seperti kunang-kunang. Suara serangga samar-samar bercampur denting lonceng angin. Bayang-bayang yang ditimbulkan pepohonan memberi kesan eksotis alih-alih menyeramkan. Mark melihat desa itu dalam pandangan yang baru.
Dari kejauhan, dia melihat beberapa orang berjalan pada mereka. Orang-orang itu membawa lentera mereka. Pria yang berjalan paling depan mengenakan ikat kepala dari manik dan kalung dari gigi hewan. Mark menebak kalau dialah kepala suku. Pria itu memberikan istruksi. Para penjaga membawa pergi tahanan mereka. Setelahnya, dia melihat Mark dan Dominic bergantian lalu mengulurkan tangan ke arah desa bagian dalam.
Dominic langsung berbisik, “Menurutmu dia ingin kita ikut ke mana?”
__ADS_1
“Rumah kepala suku,” tebak Mark.
“Untuk apa? Kupikir kita butuh istirahat saat ini. Aku lelah dan ngantuk.” Dominic bicara berhati-hati. Dia tidak mau kalau sampai keceplosan bicara soal air dalam botol sementara si kepala suku paham bahasa mereka.
“Interogasi. Pasti ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada kita.”
“Tepat. Kita sudah menangkap pengkhianat yang dia inginkan. Tidak bisakah dia memberi kita waktu sejenak untuk istirahat?”
Tidak ada yang menghiraukan protes Dominic. Kepala suku hanya bergeming. Dua penjaga yang tersisa beranjak dari belakang kepala suku. Mereka kini berdiri di belakang Mark dan Dominic seolah siap mengawal mereka.
Mark hanya mengangkat bahu. “Sepertinya dia bahkan tidak akan memberi kita waktu untuk menaruh barang-barang. Ini akan jadi malam yang panjang.”
“Oh, yang benar saja!”
Kepala suku pun berbalik dan mulai melangkah. Kelima orang ini berjalan melewati jalan desa yang suram. Mark memperhatikan sekelilingnya. Awan-awan tipis bergerak pelan melewati bulan. Angin lembut membuat dedaunan bergemerisik. Di antaranya, ada gemerisik lain. Ada yang datang ke arah mereka.
Tesiana muncul separuh berlari dari tepi jalan yang lain. Alisnya berkerut. Dahinya berpeluh. Dia kelihatan cemas dan mungkin juga takut.
“Kamu bisa tenang sekarang. Kami berhasil menangkap pengkhianat dari sukumu. Sepertinya menempatkan dia untuk mengantar kami ke mata air itu strategi yang benar. Seperti dugaanmu, dia mengerti bahasa orang luar,” ujar Mark.
Tesiana buru-buru menggeleng. “Kita punya masalah. Kamu harus ikut denganku. Sekarang.”
Kepala suku mengernyit pada Tesiana. Gadis itu buru-buru bicara dalam bahasa suku Kloster. Kepala suku mengerjap dan mengangguk. Dia mengulurkan tangan, mempersilahkan Mark dan Dominic pergi bersama Tesiana.
“Kepala suku mengizinkan kalian bicara dengannya nanti,” kata Tesiana sembari berbalik. “Cepat ikuti aku. Ada masalah lain yang lebih mendesak.”
“Apa yang terjadi?” Dominic ikut bertanya.
__ADS_1
“Ini soal Alex.”