Zetta Sonic

Zetta Sonic
Stealth


__ADS_3

Perjalanan itu tidak senyaman naik kapal pesiar. Bagi Alex yang pertama kali menaiki kapal selam, perjalanan itu punya keseruan tersendiri. Air yang membelenggu mereka serupa langit malam dengan gelembung kecil dan aneka ikan. Penerangan yang ada hanyalah lampu dari kapal selam itu sendiri. Mereka lebih mengandalkan radar daripada lampu yang ada.


Ketika mereka tiba di tujuan, kapal itu naik ke permukaan. Jayden sudah memeriksa sisi yang aman dari pengawasan kamera keamanan. Dari sana, Alex bisa keluar dari kapal tanpa takut ketahuan.


“Siap beraksi?” tanya Jayden.


“Tentu saja!” Alex melempar senyum. Tanpa perlu menekan tombol atau bicara apa pun, kepingan segienam hitam merambati wajahnya. Kepalanya tertutup helm sempurna dengan bentuk sama seperti persis seperti sebelumnya. Bagian matanya serupa kacamata agak runcing, bagian telinganya tertutup kepingan oval agak menonjol. Perintah dalam otaknya diterjemahkan dengan akurat oleh seragam tersebut. “Aku suka seragam baru ini.”


“Dan, aku suka dengan drone baruku. Kenalkan, Jason!” Drone milik Jayden berkilat hijau. Badannya perlahan terangkat ke udara. Bagian depannya berkilat sekali lagi, menyusuri wajah Alex. Setelah bunyi ‘pip’ pelan, Jason melayang ke sisi Alex. “Dia akan jadi asistenku di luar sana.”


“Kamu mau aku menjaganya supaya enggak rusak?” Alex berdiri, mendapati Jason berputar padanya seolah mereka sedang bertukar pandang.


“Jangan bercanda. Jason yang akan melindungimu.”


Alex mendengus geli. Bersama Jason, dia keluar dari pintu yang sama ketika masuk. Keduanya merapat pada sisi dinding. Dalam helm, Alex mendapat pemandangan lebih jernih dan bersih dari sebelumnya. Dia juga dapat peringatan khusus mengenai daerah-daerah yang disorot oleh kamera pengawas.


Mereka menyelinap perlahan di balik bayangan gedung menuju pintu belakang. Pintu tersebut merupakan rolling door besar yang senantiasa dibuka. Terlihat beberapa petugas pabrik sedang mengoper barang lalu memuatnya ke dalam truk kontainer. Alex mengaktifkan stealth mode. Dia menyelinap di antara para pekerja tanpa ketahuan.


Satu-satunya alasan kenapa Alex tidak langsung menggunakan stealth mode adalah mengenai waktu. Sistem tersebut belum disempurnakan hingga saat ini. Sekalipun Alex merasa dirinya lebih bisa membaur dengan kondisi sekitar, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Itu soal waktu. Di buku manualnya, Alex hanya mendapat waktu efektif dua menit jika digunakan terus menerus. Setelah itu, dia harus menunggu setidaknya sepuluh menit untuk menggunakannya lagi. Mengabaikan peringatan itu ditakutkan mode ini akan gagal bekerja dengan baik. Sebisa mungkin, Alex menghematnya.


Mengkhawatirkan Jason, dia melirik ke drone yang seharusnya ada di belakangnya. Nihil. Dia tak menemukan apa pun. Saat itu, pemandangan helmnya menampilkan siluet garis-garis di udara serupa drone.

__ADS_1


“Jason juga bisa stealth mode?” tebak Alex.


[Manis ‘kan?]


“Di tangan yang salah, drone ini bisa jadi alat pembunuh.”


[Sembarangan!]


Alex mengikuti skema gedung yang terpampang di layarnya. Dia menyusuri gudang ke arah kiri. Di sana, dia mendapati sebuah lorong buntu dengan dua pintu di sisi kanan dan kiri. Pintu rahasianya justru ada di dinding buntu polos tersebut.


[Dekatkan Zet-Arm ke sisi kiri.]


Sesuai perintah Jayden, dia mendekatkan lengan kirinya ke sana. Alex melihat ada cahaya samar berupa garis-garis yang dipancarkan Zet-Arm. Mereka menyapu dinding. Tak lama, Alex melihat panel di sana. Panelnya ditutupi gambar hologram, membuatnya serupa dinding biasa.


Alex sudah tahu kalau dinding di depannya juga tak lebih dari hologram, tapi membayangkan dirinya menerobos dinding terasa sedikit janggal. Alex menarik napas dalam-dalam sebelum membenturkan dirinya ke depan. Dia menembus dindingnya tanpa masalah. Seperti hantu.


Di depannya, terhampar lorong kelabu lain. Pencahayaannya lebih baik. Sangat terang kalau tidak mau pakai kata menyilaukan. Suara-suara dengung dan percikan terdengar dari jauh. Semakin dalam dia berjalan, semakin kuat bau plastik dan besi. Di ujung lorong, ada sebuah dinding kaca dengan pemandangan sempurna ke bagian bawah.


Alex terbelalak. Dia melihat mekanisme rumit pabrikasi. Rel panjang meliuk-liuk melewati satu bagian besar ke bagian lain. Potongan-potongan robot dibuat dengan cepat tanpa cela. Dua petugas kebosanan di samping panel mesin. Satu lagi mengenakan jas lab putih berdiri di ujung, memeriksa potongan robot.


“Ini gila! Aku tidak menyangka mereka bisa membuatnya seperti ini. Bayangkan kalau pabrik ini buka dua puluh empat jam. Berapa banyak robot pembunuh sudah dikirim ke luar sana?” Alex terperangah di sana.

__ADS_1


[Hei, tidak semudah itu. Membuat bagian luarnya memang bisa dilakukan dengan mesin tapi memasukan program ke dalamnya itu cerita lain. Harus dilakukan secara manual. Salah sedikit, robot itu akan menghancurkan si pemrogram. Aku yakin kamu akan menemukan ruangan khusus untuk produk gagal di sana.]


Alex berpindah. Dia menyusuri dinding kaca dan menuruni tangga ke bawah di sisi kanan. Sejauh ini, dia belum melihat orang lain selain kedua orang tadi. Filip Shah sepertinya meminimalisir pekerja yang ada di sana. Semakin banyak bekerja membuat produksi lebih gampang ketahuan.


Di bawah, ada banyak ruangan lain. Semuanya punya dinding besi dan kaca besar. Ini mengingatkan Alex pada bengkel mobil atau ruang rumah sakit besar. Ada ruangan yang kosong dan gelap, ada ruangan lain di mana seorang peneliti sedang memprogram robotnya. Setidaknya, ada empat ruangan seperti itu.


Satu pemrogram membanting obengnya ke lantai. Dia bergerak ke arah meja, mengambil gunting lalu kembali ke robot yang berdiri tanpa nyawa di tengah. Diguntingnya beberapa kabel yang menjulur ke luar. Dia mencabutnya, mengganti beberapa bagian. Jayden benar soal pemrograman yang sulit.


[Alex, waktumu!]


Alex bergerak cepat. Dia melemparkan tabung kecil ke dalam bak kosong yang ada di sudut ruangan. Kakinya menyeberangi ruangan, lalu melempar tabung ke belakang tong sampah. Begini idenya, membuat asap palsu dan menyalakan alarm kebakaran. Setelah orang di sama keluar, Alex akan memasang peledak yang asli.


Ini akan meminimalisir korban.


Alex beranjak ke lorong lain. Dia menyembunyikan tabung tersebut di dalam tong sampah lagi. Kemudian, Alex terdiam di sebuah ruangan berdinding kaca. Di dalamnya, ada tiga orang peneliti mengenakan jas lab dan kacamata pelindung. Tepat di tengah, dia melihat robot pembunuh seperti milik Nikola.


Robot tersebut punya tangan besar lengkap dengan lima jari. Bagian kakinya serupa  kaki manusia bukan roda. Tubuhnya tertutup bahan plastik kelabu. Kabel-kabel menjuntai dari bagian punggung dan kepalanya. Alex bersumpah kalau dua bulatan baru saja bersinar dari kepala model telur terbalik itu.


Bersamaan dengan itu, ada suara dengung samar. Badan si robot yang tadinya bergeming kini bergetar pelan. Tangannya terangkat ke atas. Kakinya melangkah keluar dari podium tempatnya berdiri. Gerakan ini membuat kabel-kabel terlepas. Percikan listrik kecil bermunculan disusul kepanikan para robot.


Robot itu melihatnya!

__ADS_1


[Lari, Alex!]


Robot itu melihat Zetta Sonic dalam stealth mode?


__ADS_2