
Pembicaraan keduanya berakhir di sana. Tepat ketika pintu kamar terbuka dan dokter Vanessa masuk. Dia kelihatan senang karena Alex telah sadar. Jayden mundur, memberikan kesempatan dokter tersebut memeriksa kembali kondisi Alex. Kondisi naik turunnya membuat semua orang cemas. Khususnya dokter Vanessa.
“Apa kamu merasa pusing atau sakit?” tanya dokter Vanessa.
Alex menggeleng. “Hanya sedikit lelah.”
“Aku harus mengakui kalau belum pernah mendapat pasien seperti. Tapi, saat ini, kamu menunjukkan perkembangan yang baik, Alex. Kondisimu jauh lebih cepat pulih dibandingkan pertama kali keluar dari ruang generator. Tapi, kamu masih butuh banyak istirahat.”
“Aku harus ke sekolah.”
“Aku bisa menuliskan surat izin untukmu.”
Alex menggeleng. Surat izin dari dokter lain sepertinya akan membawa kecurigaan di rumahnya. “Tidak ada kegiatan berat di sekolah. Aku akan baik-baik saja. Jadi, aku masih boleh beraktivitas seperti biasa, ‘kan?”
Dokter Vanessa terdiam sebentar, berpikir. “Aku seharusnya juga bisa memantau kondisimu dari gelang itu ‘kan? Akan kubicarakan dengan Nadira.”
“Zet-Arm.” Alex melirik gelang putih yang masih berada di tangannya.
“Maaf. Apa?”
“Nama yang kuberikan untuknya.”
Dokter Vanessa tersenyum. “Seperti kata Jayden. Kamu menyesuaikan diri dengan baik. Sepertinya aku tidak perlu khawatir,” katanya, sekalipun menyadari kalau itu adalah dua hal berbeda.
Di sudut ruangan, Alex bisa melihat Jayden mengakses Flipad. Dia melihat layar depannya dan bergeming. Reaksinya seperti dirinya saat melihat update terbaru dari game Drake and His Land. Penasaran dan cemas di saat yang sama. Berikutnya, Jayden membuka Flipad agar bisa mengakses semua fitur. Reaksi Jayden kini seperti ketika dia mendapati ada virus bebek di komputernya.
Belum sempat bertanya, Jayden sudah menghambur ke luar ruangan.
Tiger ada di lorong. Dia mengenakan setelan hitam yang biasa dipakai untuk tugas lapangan. “Kamu dapat pesannya?”
“Apa ini!?”
“Nadira bilang kamu seharusnya lebih paham.”
“Aku paham. Ini titik koordinat. Letaknya di laut es. Persisnya di pabrik pengalengan ikan. Kenapa kita menerima sinyal SOS di sini?”
__ADS_1
“Justru itu. Nadira bilang kamu seharusnya lebih paham.”
“Oke. Aku kembali ke ruangan.”
Jayden menyusuri lorong yang serupa lalu naik ke lantai di mana ruangannya berada. Ruang komputer. Dia duduk di komputer dan mulai melakukan penyusuran dimulai dari titik koordinatnya sendiri, nama pabrik dan denah, hingga pemiliknya.
[Jayden!]
Jayden tersentak saat wajah Nadira muncul di tengah layar besarnya. “Kamu bisa membuatku sakit jantung!”
[Kamu seharusnya di sini, bukan di ruangan Alex.]
“Aku sedang memeriksa keadaannya. Kamu bilang kalau kami harus jadi rekan yang kompak.” Jayden mendesah. Tangannya mengetik sesuatu dan gambar Nadira bergeser ke pinggir layar. Jayden mulai menjabarkan apa yang dia dapat sebelum Nadira mengomel. “Baik. Jadi, kita mendapat sinyal SOS dari pabrik pengalengan ikan, Harmui, kira-kira sepuluh menit yang lalu. Tidak ada anggota kita di sana. Sinyal ini ditujukan langsung ke kita.”
[Sinyal itu ditujukan langsung ke markas Zetta Sonic.]
“Rasanya tidak mungkin kalau ini sinyal kesasar.”
[Kalau itu sinyal kesasar, akan kuberi kamu pelajaran!] Nadira mencibirkan bibirnya. [Bagaimana mungkin ada yang mengirim sinyal SOS ke tempat kalian? Markas itu seharusnya rahasia. Kecuali, ada yang meretas sistem.]
Jayden menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak mendeteksi apa pun.”
“Hmmm …” Jayden melakukan penyusuran lagi. “Pabrik ini tidak ada di Sinde. Pabrik itu di wilayah Regis.” Jayden langsung terdiam. Dia teringat pembicaraannya bersama Alex mengenai ayahnya yang bekerja sebagai pimpinan ICPA benua Regis.
[Kalau memang tidak ada apa pun, mungkin aku harus memberikan informasi ini ke Mark. Cih! Aku malas mengontaknya.]
“Kurasa itu tidak perlu.” Jayden menarik dirinya dan bersandar ke kursi. “Nadira, kukira sinyal SOS ini adalah surat tantangan bagi Alex, si Zetta Sonic.”
[Apa yang kamu dapatkan, Jayden?]
Tiger di belakang Jayden, maju selangkah agar bisa melihat lebih jelas. Jayden baru saja memperbesar gambar lorong-lorong pengalengan ikan. Di sana, ada sekumpulan orang mengenakan jas. Mereka berjalan lambat di belakang seorang petugas mengenakan seragam overall kelabu. Salah seorang dari mereka memiliki rambut tebal yang mulai memutih. Perawakannya tinggi dan tegap dengan kumis rapi. Tiger memicingkan mata.
Nadira ikut melongo ketika Jayden mengirim gambar tersebut padanya. [Mark?]
“Mark Hill ada di pabrik itu, Nadira. Aku memeriksa jadwal acara Harmui. Sepertinya mereka sedang mengadakan kunjungan dua hari semalam untuk para pemegang saham. Marcus Anthony Hill, namanya adalah salah satu pemegang saham resmi.”
__ADS_1
Nadira menekuk bibirnya. Sebagai organisasi rahasia, anggota ICPA memang disarankan memiliki identitas lain sebagai kedok. Para petinggi biasanya mengambil peran sebagai pengusaha atau pemegang saham suatu perusahaan. Ayah Alex juga salah satunya. Namun, keuntungan saham jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pendapatannya di ICPA.
Tiger ikut bicara. “Kita harus memberi tahu ICPA di sana.”
[Tidak!] Nadira cepat-cepat melarang. [Akan rumit kalau mereka sampai menanyakan bagaimana kita bisa mendapatkan sinyal SOS di sana.]
Jayden bergumam pelan sambil merengut. Dia tahu bagaimana Nadira berusaha mati-matian menyembunyikan Zetta Sonic. Berdasarkan pemikiran itu, dia cukup yakin kalau situasi itu akhirnya akan membuat Alex terjebak seorang diri.
[Jayden, ini bukan tantangan bagi Zetta Sonic. Ini jelas-jelas perangkap.]
Jayden mengangguk. Perangkap terdengar lebih tepat daripada tantangan.
[Tapi, selama Alex tidak tahu soal ini, seharusnya tidak ada masalah. Lagipula, anak itu belum tahu soal identitas ayahnya, ‘kan?]
Jayden bergumam lagi sambil menghindari tatapan Nadira.
Tiger ikut bertanya. “Jadi, kita tidak akan mengirim orang untuk memeriksa? Sepertinya aku terlalu cepat ganti baju. Apa rencanamu, Nadira?”
Layar di depan Jayden memunculkan jendela lain. Wajah Alex muncul di sana. Sebelum seorang pun bertanya apa dan bagaimana Alex bisa masuk ke sana, dia telah bicara duluan. [Aku akan pergi. Aku harus memastikan ayahku baik-baik saja.]
Nadira melotot. [Tidak! Kamu tidak akan pergi ke mana pun tanpa izinku, Alex! Jayden?]
Jayden tak paham apa arti Nadira membentak dirinya. Apakah karena Nadira minta penjelasan bagaimana Alex bisa mengetahui soal ayahnya atau karena Alex mendadak masuk ke jalur komunikasi mereka. Manapun yang benar bukan hal baik untuknya.
[Kamu tidak mau memberi tahu ICPA Regis soal ini tapi kamu juga tidak mau mengirimku ke sana? Kita tidak tahu siapa yang butuh bantuan di sana!] Alex terdengar sedikit kesal. Matanya tak kalah garang dari Nadira.
Tiger menyenggol bahu Jayden yang masih duduk di kursi putar. “Lakukan sesuatu.”
Jayden menepuk dahinya. “Menyuruh mereka diam? Bisa-bisa mereka menonjokku!”
“Tidak secara virtual.”
Nadira masih terdiam.
Alex menarik napas perlahan, menurunkan nada suaranya. [Kirim aku ke sana. Aku akan memeriksanya dan kembali secepat mungkin.]
__ADS_1
[Kamu kedengaran sangat yakin untuk seseorang yang baru kehabisan energi semalam. Beruntung bagimu, tim operasi Zetta Sonic selalu bisa diandalkan. Sekarang tinggal apakah aku juga bisa mengandalkanmu sama seperti mereka?]
Alex tahu ke arah mana pembicaraan mereka. [Kamu akan mengirimku ke sana dengan perjanjian dan kondisi tertentu, ‘kan? Sebutkan saja!]