
“Tidak. Tidak mungkin mereka menemukan kita.” Gavin bicara seolah bisa membaca pikiran Alex. “Mereka mengawasi Special Force tapi seharusnya tidak mengawasi ICPA dari benua lain.”
Di saat tak tahu jawabannya, Alex menghubungi mobil di belakang mereka. “Emil? Kamu dengar?”
[Sangat jelas.] Balasan dari Emil pun terdengar. Alex mengaktifkan pengeras suara agar Gavin bisa ikut mendengar. [Dia datang untuk yang lain. Emas. Dia mencari emas. Sepertinya juga popularitas. Stasiun berita berlomba mengirim helikopter untuk meliput.]
Selain suara Emil, terdengar juga protes dari Tiger. [Kenapa belakangan ini banyak sekali penjahat yang ingin memamerkan aksi mereka?]
“Teror,” sahut Gavin. “Kalau masyarakat ketakutan, polisi juga tak bisa bertindak bendar, membuat kekacauan akan sangat mudah. Buntutnya, pergantian kekuasaan. Mereka ingin pemimpin yang bisa diatur.”
Alex melayangkan protes berbeda. “ICPA seharusnya bertindak mencegah tindak kejahatan. Apa pun yang terjadi di sana sudah terlanjur terjadi. Ini bukan pencegahan.”
[Tepat. Karena itu, mereka mengirim polisi.]
Setelah Emil bicara, Zet-Arm bergetar pelan. Alex mengangkat tangannya ke depan wajah. Sinar hijau temaram terpancar dari gelangnya, membentuk layar yang melayang di udara, menunjukkan kekacauan yang sedang mereka tuju.
Gambarnya buram dan terus bergerak. Sepertinya gambar itu diambil dari salah satu kamera polisi. Di sana tampak seorang berbalut pakaian aneh seperti astronot, hanya saja warnanya cokelat perunggu. Latar belakangnya adalah tumpukan kontainer terbakar serta asap membumbung tinggi. Para polisi berusaha menembak tapi tak berani mendekat. Orang berpakaian astronot itu menyemburkan api dari telapak tangannya.
Pakaian aneh dan penyembur api. Itu kelihatan tidak masuk akal. Tentu saja Alex akan berpikir demikian kalau dia belum pernah berhadapan dengan robot pembunuh. Ada pula pemadam kebakaran di sana. Mereka juga tak bisa berbuat banyak. Semua semprotan air tak mampu memadamkan api serta sumbernya — orang itu.
“Mereka menyedihkan,” komentar Gavin. “Dengan dana terbatas, mereka tidak akan mampu mengembangkan cara menangani penjahat-penjahat macam itu. Karena itu, masyarakat butuh ICPA.”
[Ralat. Mereka butuh Zetta Sonic.]
Alex tersentak kaget. Gavin sendiri langsung terdiam begitu mendengar suara wanita. Layar semu di depan Alex tak lagi menunjukkan situasi di pelabuhan melainkan gambar wanita tua yang dikenal Alex dengan baik. Nadira.
“Kamu mau aku ke sana?” tanya Alex.
[Tidak. Aku mau kamu menghentikan tuan penyembur api itu sebelum dia menghancurkan pelabuhan kita.] Belum sempat Alex merespon, Nadira langsung melanjutkan. [Dan, kamu, tuan Gavin River. Jangan berpikir kamu bisa menyelinap tanpa ketahuan. Aku tahu jelas aktivitasmu di sini.]
“Tunggu!” sahut Gavin cepat-cepat. “Kalau Zetta Sonic muncul, mereka akan langsung menyerbu ke sini juga. Kamu hanya akan menambah musuh bagi Alex.”
[Sudah kuduga.]
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
[Kamu sudah tahu alasan sesungguhnya kenapa suku pedalaman itu muncul di sini. Mereka bukan mengincar Mark Hill tapi Alex. Sepertinya kamu berhutang banyak sekali penjelasan pada kami.]
Gavin tak berani bicara lagi.
Alex sebaliknya. “Suku pedalaman? Kupikir mereka sekelompok pembunuh.”
[Ada suku pedalaman di Regis yang dipelihara oleh ICPA. Nama suku itu Kloster. Apa aku salah, River?] Nadira bertanya namun Gavin tak menjawab. [Suku ini sepertinya mulai memberontak. Mereka mengembangkan teknologi sendiri. Beberapa anggotanya malah bergabung dengan sindikat kejahatan. Mereka terkenal oleh kelincahan dan keahlian mereka dalam membunuh.]
Alex memicingkan matanya pada Gavin. Dia mulai bisa menebak apa yang terjadi. “Kamu dikirim ke sini untuk menghentikan mereka tapi gagal. Jadi, kamu berusaha menyelamatkan targetnya. Aku?”
[Kita sudah tahu kalau Zetta Sonic jadi incaran para pembunuh bayaran. Hebat juga suku pedalaman itu bisa tahu identitas Alex. Aku harus memikirkan cara lain untuk mengelabuhi mereka.]
Gavin mendesah panjang. “Aku lebih baik tidak komentar soal itu.”
“Kamu baru saja berkomentar,” sahut Alex. “Bagaimana kamu bisa membiarkan kelompok pembunuh ahli seperti itu lolos ke benua lain?”
“Kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu berbohong.”
“Kupikir kamu pembohong yang lebih baik dariku. Akui saja. Kita semua menyembunyikan sesuatu. Kamu bahkan menyembunyikan Zetta Sonic dari ayahmu sendiri.” Nada suara Gavin meninggi.
“Itu bukan keinginanku!”
“Oh? Memang kalau itu keinginanmu, kamu akan bicara padanya?”
Alex terdiam. Dia tak keberatan disebut pembohong tetapi dia jelas tak bisa mengakui kalau ucapan Gavin benar. Seandainya dia jadi relawan Zetta Sonic, dia jelas tidak akan bicara pada ayahnya.
[Baiklah. Cukup!] Nadira membentak di tengah keheningan. [Dengarkan aku. Kalau Zetta Sonic muncul di sana, suku itu akan meninggalkan rumah Alex. Mereka mengincar Zetta Sonic. Jadi, kalau kita kirim Alex palsu ke rumah, mereka akan kebingungan. Itu akan membuat identitas Alex aman.]
“Untuk sementara waktu,” ujar Gavin lirih.
Nadira setuju. [Untuk sementara waktu.]
__ADS_1
“Apa tadi kamu bilang ‘Alex palsu’?” Alex yang asli mengulang ucapan Nadira sebelumnya. “Kamu akan mengirim aktor ke rumah dan berpura-pura kalau itu… aku?”
[Mereka tidak akan tahu bedanya.]
“Tapi Preston—”
[Preston tidak akan melihat ini. Kita sudah berulang kali menutupi kedokmu selagi menjalankan misi. Jangan bertanya lagi!]
Alex mendengus kesal. Lebih baik berharap kalau Nadira benar. “Kalau memang itu bisa mengusir orang-orang itu dari sekeliling rumahku, kupikir ini layak dicoba.”
“Melawan si penyembur api itu satu hal, Kloster hal lain,” ujar Gavin. “Mereka terlatih.”
“Seberapa terlatih dibandingkan Rando?” Alex melempar pertanyaan, berharap kalau Gavin akan mengenali nama pembunuh bayaran tersebut.
“Rando si tangan besi? Oh, aku harus memujimu soal itu. Kamu berhasil menangkap penjahat internasional seperti itu. Dibandingkan Rando, Kloster mungkin hanya separuhnya.”
“Tapi?” Alex melanjutkan, seolah bisa menebak kalau Gavin akan melanjutkan kalimatnya dengan ‘tapi’.
“Mereka berkelompok, ingat?” Gavin melirik spion, melihat deretan mobil polisi lagi baru saja menyalip mereka.
[Jangan khawatirkan mereka. Akan kupastikan para reporter dan polisi mundur saat ICPA beraksi.]
Gavin tak menanggapi Nadira, dia melanjutkan ucapannya yang terpotong tadi. “Rando bergerak sendirian. Kloster bergerak berkelompok. Kalau semua sesuai dengan rumor yang beredar, Kloster punya satu pimpinan lapangan yang lumayan merepotkan. Naray. Aku cukup yakin dia juga ada di sini. Dia memimpin dengan baik dan kelompoknya patuh padanya.”
Nadira pun tertawa. [Kalau begitu, selesaikan misi ini sebelum kelompok itu muncul. Tapi, kalau pun Kloster sempat menyusul, hari ini Alex tidak sendirian.]
Gavin mengerjap. “Tunggu. Apa maksudmu?”
Hubungan terputus. Wajah Nadira beserta layar semu di depan Alex pun lenyap. Gavin menggelengkan kepala tak percaya. Alex malah tersenyum simpul.
“Jangan senyum-senyum! Ini bukan permainan!” sergah Gavin. “Kamu enggak tahu siapa yang akan kamu hadapi.”
Alex malah terkekeh mendengar Gavin menggerutu. Sambil menoleh pada Gavin, dia pun bicara. “Setidaknya Nadira benar. Zetta Sonic enggak sendirian malam ini. Sepertinya kita terjebak dalam misi yang sama lagi.”
__ADS_1