
Alex melintasi langit seorang diri. Sejak diizinkan membawa pulang roketnya, Alex diam-diam berlatih menggunakannya. Dia juga tak lupa menggunakan stealth mode selama melakukannya. Mode ini menjaganya tetap tak terlihat selama beberapa menit. Belakangan, Alex menyadari kalau dia bisa menggunakannya lebih dari dua menit.
Kali ini, dia juga kembali mencobanya. Hari belum gelap. Dia berencana membuat kejutan untuk Jayden dengan muncul tiba-tiba di markas. Alex pernah memperhitungkan kecepatan terbangnya, durasi stealth mode, panduan serta tata kota, dan beberapa informasi tambahan lain. Dia cukup yakin bisa terbang di tengah kota tanpa terekam kamera apa pun.
Alex pun melakukan aksinya. Tidak perlu waktu lama, Alex berhasil mencapai markasnya tanpa hambatan. Setibanya dia di sana, Alex menunggu di tengah landasan. Dia menanti bila ada orang yang akan keluar karena menyadari kehadirannya. Kenyataannya tidak ada seorang pun yang muncul.
Jadi, setelah lima menit membosankan berlalu, Alex masuk ke lift dan mencari Jayden. Dia tidak menemukan Jayden di ruang komando, di kamar, di ruang makan, di ruang medis, di ruang generator, bahkan di ruangan Zetta Sonic. Alex akhirnya menjatuhkan dirinya di kursi putar. Kursi itu biasanya dipakai Jayden karena berada tepat di depan komputer rumit.
Separuh penasaran, separuh cemas, Alex memeriksa Zet-Arm. Dia baru menyadari ada pesan yang ditujukan padanya beberapa jam lalu.
Alex, kami pergi melakukan misi penyelamatan pesawat ICPA yang jatuh. Bukan misi rumit, tidak ada penjahat. Nadira setuju memberikanmu libur hari ini. Selamat menikmati!
Mereka pergi tanpa mengajaknya!
Dia mengenali perasaan yang pertama kali muncul adalah kesal. Tim mereka bernama Special Force Zetta Sonic, padahal kenyataannya, rekan-rekannya saat ini pergi tanpa dirinya sang Zetta Sonic. Selain kesal, dia juga harus jujur kalau merasa senang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut. Mereka hanya melakukan pekerjaan sederhana. Dia juga setuju kalau berhak mendapatkan libur.
__ADS_1
Tapi, perasaannya justru terasa aneh sekarang.
Menepis perasaan itu, Alex berputar ke arah komputer. Dia yakin awalnya hanya ada dua atau tiga layar di sana. Saat ini, ada enam layar berukuran sama yang disusun dalam dua baris. Semuanya dalam kondisi mati. Di mejanya sendiri tidak ada apa pun. Sepertinya Jayden sedang mengganti semua peralatannya tanpa perangkat keras. Alex mengharapkan keyboard hologram atau semacamnya. Mungkin sesuatu yang lebih baik.
Pandangannya mengitari setiap sudut ruangan. Ini pertama kalinya bagi Alex berada di sana seorang diri dalam kondisi sehat. Dia tak pernah punya waktu untuk mengamati ranjang berbentuk kapsulnya. Ranjang itu tidak begitu menakutkan dari posisi duduknya.
Meja tinggi di sudut ruangan terasa mengundang. Alex berpindah ke sana. Dia tahu ada kulkas kecil tersimpan rapi di bagian bawahnya sekarang. Isinya kebanyakan air mineral dan soda, ada pula bir dan jus tapi bisa dihitung jari. Mungkin Tiger yang mengisinya di sana. Seingat Alex, Jayden bukan penggemar alkohol.
Sambil meletakkan kepalanya bertumpu pada kedua tangan, Alex mendesah.
Suasananya sepi. Dia tidak suka berada di sana sambil mendengarkan deru mesin atau suara indikator. Sekarang dia menyadari kalau dia juga tidak suka suasana tersebut. Terlalu sepi, lebih mirip kuburan daripada markas.
Dalam kondisi nganggur seperti itu, keisengan pun muncul disertai beberapa ide. Dia bisa memeriksa kamar Jayden. Dia tidak pernah masuk ke dalam sebelumnya. Dia hanya tahu pintu yang mana kamarnya. Ada papan nama di depannya karena semua pintu nampak sama. Ketika dia mengetuknya tadi, Alex tak mendapat jawaban. Pintu itu terkunci. Kalau berhasil membukanya, dia yakin akan mendapatkan hal menarik di sana.
Alex juga terpikir satu ide lagi. Kisah yang membawanya berada di sana adalah ayahnya. Saat ini, tak seorang pun berada di markas ICPA. Jayden dan komputernya bisa meretas berbagai sistem di dunia bahkan ICPA benua lain. Bukan tidak mungkin kalau Alex juga bisa menemukan petunjuk mengenai ayahnya lewat komputer tersebut.
Di antara ketiga ide tersebut, ide terakhir benar-benar menggelitiknya. Alex pun bangkit. Dia buru-buru pergi ke ruang komando. Seperti ruangan lain, ruangan tersebut juga sama sepinya. Bahkan, ruangan ini sedikit membuatnya merinding. Suhunya terasa lebih dingin. Lampu putih remang yang menyambutnya masuk juga tak memberi kesan ramah sama sekali. Alex menempati kursi Jayden di sisi kiri ruangan.
Baru hendak menyalakan komputer, mata Alex mendapati benda merah di bagian ujung. Itu adalah sebuah kecil berwarna merah dengan pita hijau menempel pada tutupnya. Dari bentuknya dan kalender, Alex tahu itu sebuah hadiah natal. Dari label nama yang tergantung pada pitanya, Alex melihat namanya sendiri ditulis dalam huruf kapital ditulis. Alex tak perlu minta izin dari siapa pun, dia pun membukanya.
Di dalam kotak, Alex menemukan kertas kecil dengan catatan singkat.
__ADS_1
Dia akan membawamu kepada bintang.
Di bawahnya, Alex mendapati satu benda mungil di atas bantalan hitam. Sebuah cincin putih. Ada garis hijau berkilau mengelilingi cincin tersebut dan bintang senada di bagian tengah. Alex bukan penggemar cincin. Tapi, dia sadar benar. Jayden tidak akan memberinya cincin biasa. Sekali lagi, tanpa perlu minta izin, Alex mengenakannya. Dia tahu akan menamainya Zet-Ring.
Tidak ada yang terjadi sampai Alex mengaktifkan seragam tempurnya.
Layar helmnya menunjukkan siluet pesawat tempur bermoncong runcing. Alex mengedip tak percaya. Berkas-berkas informasi silih berganti memenuhi layarnya. Dia tahu kalau pesawat tempur tersebut merupakan prototipe yang dibuat khusus untuknya. Menurut data, pesawat tersebut bisa mencapai kecepatan Mach 7 atau lebih dari 8.500 kilometer per jam. Itu saja sudah membuat Alex bersiul senang. Terlebih lagi ketika dia mendapati kalau tak seorang pun saat ini bisa melarangnya melakukan uji coba.
Alex turun ke landasan. Dia tahu di mana pesawatnya berada. Dia juga sudah melihat bentuknya di layar. Dia tahu bagaimana kokpitnya. Meski begitu, ketika pintu hanggar mulai terbuka, Alex mendapati napasnya tertahan. Dia baru bernapas lagi setelah seluruh pintu terbuka sempurna.
Sebuah pesawat putih berkepala runcing diam di dalamnya. Sorot lampu membuatnya berkilau. Ukurannya dua kali lebih panjang dari mobil sport yang ada di rumahnya. Tinggi dan gagah. Kokpitnya harus dicapai dengan tangga kecuali kamu punya roket di punggung. Alex terbang ke atas kokpit. Tak ada panel pembuka di sana. Tapi, begitu dirinya mendekat, cincin di jarinya berkilau dan kaca tebal penutup kokpit pun terbuka. Sama seperti Zet-Arm, Zet-Ring muncul di atas seragam tempur.
Alex mematikan roket, mendarat mulus di atas kursinya.
Dia pernah menerbangkan berbagai pesawat di simulator. Ini pertama kalinya berada di dalam kokpit pesawat sungguhan. Berbeda dengan simulator yang biasa dia coba, kontrol pesawat itu terasa rapi karena hampir semuanya berupa layar sentuh. Dibantu panduan dari helm, Alex hanya butuh waktu beberapa menit untuk mengenali pesawat barunya.
Dia butuh satu menit untuk mencari keberadaan rekan-rekannya. Lalu, satu menit lagi untuk mengeluarkan pesawat itu dari dalam markas. Alex akan mengejutkan Jayden. Dia tidak berpikir sebaliknya.
__ADS_1