
Gavin menghadap ke arah yang sama dengan Alex. Satu tangannya menggenggam belati, satu lagi memegang pistol, masih dengan kuda-kuda yang sama. Alex pun bersiap menghadapi kejutan apa pun yang akan datang. Seiring langkah di depannya mendekat, sosoknya makin nampak. Ada tiga robot serupa robot pertama yang dihadapi Alex sebelumnya.
Tiga. Bukan satu.
Ketiganya punya kepala telur, mata yang menyala merah, serta tangan dan kaki layaknya manusia. Hanya satu yang jadi pembeda di antara ketiganya. Kalau robot yang dilawan Alex pertama kali berwarna kelabu, robot-robot ini sudah dilapisi plastik tebal dan dicat warna khusus seolah menunjukkan potensi berbeda pula. Satu robot warna merah, satu robot warna kuning, satu robot lagi warna biru.
“Serius? Ada lagi?” Alex mengerjap, sempat mengira kalau itu hanya halusinasi.
Gavin tak banyak bicara, dia maju lebih dulu. Para robot pun menembak dengan satu tangan. Setidaknya ada lima belas peluru melayang padanya. Gavin menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia memberikan tembakan laser sambil berlindung dekat tubuh pegawai pabrik.
Alex hendak protes. Tindakannya bisa membuat para robot menembak ke bawah. Para pegawai pabrik yang tak sadarkan diri itu bisa tewas karena aksinya. Sayangnya, Alex tak punya banyak waktu. Dia sendiri harus menghindari serangan peluru tersebut.
Serangan Gavin hampir mengenai robot biru. Hampir. Entah bagaimana serangan tersebut memeleset. Gavin sendiri terkejut. Dia yakin yakin kalau bidikannya tepat. Kalau pun ada kesalahan di sana, itu hanya karena moncong pistolnya sedikit bergeser ketika menekan pelatuk. Namun, Alex tahu itu bukan kesalahan.
Layar pada helm Alex mendeteksi perubahan tekanan udara. Perubahan tersebut seperti tangan yang membuat Gavin gagal menembak dengan tepat. Alex mencurigai robot itu melakukannya sendiri. Alex pun memilih maju untuk memastikan sendiri.
Si robot merah mengangkat tangannya ke depan. Alex sudah bersiap dengan pedang di tangannya. Dia mengira kalau robot itu akan mengeluarkan pedang pula, ternyata tidak. Alex terkesiap melihat gerigi-gerigi mungil terlempar keluar dari pergelangan tangan si robot. Ini memaksa Alex menangkis dengan pedang.
Sekali lagi, Alex masih amatir. Bukannya berhasil menangkis, dia malah membuat gerakan patah-patah dan kaku. Semua gerigi mengenai dirinya. Tangan, bahu, kaki, semua. Serangan itu membuat goresan-goresan baru pada seragamnya.
Tidak berhenti di sana, dia melihat robot kuning ikut mengulurkan tangannya ke depan. Telapak tangannya punya bulatan menonjol dengan percik kuning. Alex bisa menebak apa itu. Begitu semua serangan gerigi menghilang, Alex merangsek maju. Dia menabrakkan tubuhnya pada si robot, menggagalkan serangan listrik dari kedua telapak tangannya.
Menyadari kalau tubuhnya dipeluk oleh beda asing, manuver pertahanan pun dilakukan. Suara disertai tekanan kencang menghembus keluar dari punggungnya. Si robot terdorong bersama Alex menuju ke dermaga kapal selam. Robot ini dilengkapi roket pada bagian punggung mereka. Sesuatu yang membuat Alex iri setengah mati. Tapi, itu jelas bukan waktunya membandingkan dirinya dengan robot.
__ADS_1
Dermaga kapal selam itu kini berubah seperti landasan helikopter. Tidak ada air di sana. Lubang yang seharusnya menghubungkan mereka langsung ke laut malah tertutup deretan pintu kokoh besi anti karat.
Di atasnya, tubuh robot itu mulai mengeluarkan percik kuning. Alex mendapatkan peringatannya. Ada lompatan listrik besar. Dia harus segera melepaskan diri kalau tidak mau tersengat. Dalam sepersekian detik, Alex melepaskan diri. Supaya dirinya tidak jatuh lagi, Alex langsung melontarkan tali pengait. Dirinya berayun cepat, mendarat di tepi dermaga.
Sebelum si robot kuning melakukan serangan lagi, Alex membidik hanya untuk mendapati lawannya tak lagi sendirian. Ketiga robot itu ada di sana. Merah, kuning, biru. Ketiganya melayang menggunakan roket pada punggung mereka. Saat Alex bersiap menghadapi yang terburuk seperti serangan gabung, ketiga robot itu justru mengulurkan tangan ke bawah.
“Apa yang mereka lakukan? Mereka mau kabur!?” seru Alex.
[Hentikan mereka!] Suara Jayden terdengar seiring mendekatnya Jason ke sana.
Alex melepaskan tembakan yang selalu gagal mengenai sasaran. Begitu pula serangan Jason. Si robot biru menatapnya seolah menunjukkan kalau itu ulahnya. Ada pula satu sengatan listrik mengenai Jason, membuat si drone mendarat darurat dengan suara denting kencang.
[Sial!] Seolah bisa merasakan keanehan yang terjadi, Jayden memberikan peringatan seperti seragam tempur Zetta Sonic. [Aku mendapati anomali aneh pada ketiganya.]
[Mungkin lebih buruk. Bersiaplah!]
Ketiganya serentak memberikan serangan pada deretan pintu kokoh di bawahnya. Jemari mereka melepaskan tembakan, ditambah sengatan listrik, gerigi, dan entah apa lagi. Berikutnya, ledakan disertai asap hitam membumbung tinggi. Kemudian, mereka bertiga menjatuhkan diri bersamaan ke dalam laut, menyelam pergi.
Alex perlu waktu beberapa saat untuk mencerna apa yang terjadi. Dia masih terbatuk-batuk dan matanya mengerjap mengusir rasa pedas. Di hadapannya, dermaga telah terbuka. Dia bisa melihat jalan menuju laut kini telah terbuka lebar. Bersamaan dengan itu, asap perlahan penghilang.
[Alex, kamu enggak apa-apa?]
“Kamu seharusnya bilang dari awal!”
__ADS_1
[Aku sudah memperingatkanmu.]
“Kamu enggak bilang kalau ada tiga robot lagi seperti robot yang pertama atau kalau mereka bisa membuat ledakan seperti itu.” Alex merasakan suaranya serak dan sedikit bergetar. Entah karena kesal sebab robotnya kabur atau karena adrenalinnya masih terpicu.
[Hei, aku enggak tahu sama sekali soal itu. Aku juga berhak kesal. Jason tertembak jatuh.] Jayden menjabarkan poinnya. [Dan, Gavin hilang.]
“Apa? Kenapa kamu biarkan dia kabur?”
[Aku membiarkan dia kabur? Hei, dengarkan baik-baik. Satu, dia bukan tahanan sekalipun aku juga penasaran kenapa dia ada di sini. Dua, kamu yang pergi duluan ke sini. Tiga, kamu sedang diserang tiga robot.]
“Aku bukan pergi atas kemauanku. Dan, aku bisa mengatasi mereka!”
[Oh, ya? Yang kulihat, kamu jadi sasaran empuk si robot merah.]
Alex ingin sekali melanjutkan perdebatan mereka. Namun, ada pendatang baru. Alex melihat kapal-kapal selam kecil bermunculan di dermaga. Mereka dicat hitam dengan sedikit bagian dicat putih bergaris hijau, milik ICPA. Bantuan telah datang. Para petugas mengungsikan para pegawai pabrik ke tempat yang aman.
Salah seorang petugas menghampiri Alex, mengulurkan tangan. “Kerja bagus, Zetta Sonic! Kami akan ambil alih dari sini.”
“Terima kasih.” Alex menjabat tangan pria besar tersebut. “Kita akan melanjutkan menghancurkan tempat ini?”
“Kudengar Nadira sedang bernegosiasi bila dia bisa mendapatkan tempat ini. Tapi, karena itu berarti dia harus mendapatkan pabrik atasnya juga, kupikir pada akhirnya dia akan memilih menghancurkan tempat ini. Para petinggi tidak mau pihak manapun menguasai robot pembunuh.”
“Para petinggi negara atau para petinggi ICPA?”
__ADS_1
Lawan bicaranya tersenyum lalu berbisik dekat helmnya. “Kita tahu kalau semua orang menginginkan kendali atas robot pembunuh. Kita juga tahu siapa yang akan selalu mendapatkannya di akhir pertempuran. Kita, ICPA.”