Zetta Sonic

Zetta Sonic
Counter Attack


__ADS_3

Alex membiarkan sistem dan operatornya bekerja dengan baik. Perpaduan keduanya berhasil menemukan rahasia Cody. Ada kumpulan serangga-serangga kecil yang membantunya melakukan semua aksi itu.


Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan bintik mungil tengah di sekeliling Cody. Lebih tepatnya, mereka berkeliling di sekitar kaki dan tangannya. Ukurannya sama seperti nyamuk tetapi warnanya yang transparan sulit dilihat mata telanjang. Dengan bantuan teknologi ICPA, Alex bisa melihat rahasia Bug.


[Itu bukan serangga sungguhan. Sejenis teknologi yang harus kuakui cukup cerdas. Mereka melawan gaya gravitasi dan dibuat dari serat yang hampir tak memantulkan cahaya. Mereka bisa lolos dari kamera pengawas tapi tidak dari ICPA.]


“Apa yang bisa mereka lakukan?” bisik Alex pada Jayden. Sementara pada Cody, dia berkata, “Aku bukan pahlawan. Hanya karena aku berada di pihak ICPA bukan berarti aku pembela kebenaran.”


Ucapan Alex membuat Cody tercengang sesaat.


Jayden melanjutkan pengamatannya. [Daripada nyamuk, mereka lebih mirip seperti kepik. Enam tangan mungil seperti jarum. Satu mata berfungsi sebagai radar. Rabun tapi bisa bergerak tanpa menabrak satu sama lain. Sepasang sayap tipis tak bertulang. Kalau bergerak sendirian, mereka enggak ada bedanya dengan kepik biasa. Tapi, dalam jumlah banyak seperti itu, mereka lumayan merepotkan.]


Cody akhirnya tertawa. “Wow! Itu seharusnya kurekam. Aku enggak menyangka akan mendengar itu dari Zetta Sonic. Apa pemikiran ICPA saat mendengarnya? Ah, tunggu! Aku lebih penasaran apa pemikiran para penjahat yang kamu kamu tangkap? Menurutmu, mereka akan kesal atau malah senang setelah sadar kalau Zetta Sonic bergerak hanya karena upah?”


Sesungguhnya ICPA memang mendengarnya. Kali ini Tiger yang menyahut. [Dia seperti dirimu, Alex, tapi berkali lipat lebih menjengkelkan.]


Alex sendiri sudah tak sabar ingin menangkap Cody. Separuh dirinya ingin sekali membuka helm seragam tempur itu dan membiarkan Cody melihat wajahnya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Cody. Alex tidak bergerak berdasarkan upah, dia bahkan tidak mendapat upah selama beraksi sebagai Zetta Sonic — setidaknya, sejauh ini.


“Bagaimana denganmu?” Alex balas bertanya. “Apa pendapatmu setelah bertemu denganku? Kamu pikir lebih baik dariku?”


“Tentu saja!” Cody menjawab begitu cepat sampai Alex nyaris belum menyelesaikan kalimatnya.


[Sudah ingin menonjoknya?] Suara Jayden kembali terdengar.


“Enggak perlu tanya!” balas Alex nyaris tak bersuara.


[Berita bagus, aku menemukan alat pengontrolnya. Berita buruknya, kita enggak bisa melepasnya karena itu ada di matanya. Alat itu sama seperti para serangganya. Nyaris tidak terlihat. Alat itu adalah lensa kontak di mata kirinya.]

__ADS_1


“Mari kita lihat!” Alex tersenyum simpul. Dia hanya perlu mendengar separuh kalimat Jayden, itu yang ingin dia ketahui. Tanpa bicara lagi, Alex sudah melompat begitu jauh ke depan Cody.


Dia tahu apa yang akan selanjutnya terjadi. Para serangga itu bergerak serentak. Mereka berkumpul di sekeliling Cody, membuat anak itu mengambang di udara, membuatnya lolos dari tangkapan Alex.


 Dengan bantuan sistem, Alex kini bisa menentukan gerakan selanjutnya. Cody tidak sadar kalau para serangga itu bukannya berhasil membuatnya kabur, justru sebaliknya. Kalau mereka kasat mata, itu akan efektif. Namun, selama sistem ICPA bisa mengenali dan mengunci fokus mereka, para serangga justru tidak menguntungkan buatnya. Mereka memberi tahu persis bagaimana Cody bisa bergerak, mereka bahkan memberi tahu ke mana arah pergerakan berikutnya. Alex tinggal melihat di mana para serangga itu berkumpul.


Kali ini Cody memang telah melayang ke udara. Namun, itu tidak akan lama. Alex mengeluarkan pistolnya, bersiap membidik.


Cody pun tertawa. “Kamu pikir bisa menembakku?”


Alex tersenyum simpul. Dia tahu Cody tak bisa melihat ekspresinya. Dia juga tahu Cody tidak tahu ke mana arah Alex hendak menembak. Lawannya melayang di udara dengan santai dan malah melipat tangan seolah menantang Alex. Para serangga transparan berada di bawah kakinya, menjadi tumpuan dan penahannya agar tak jatuh.


“Akan kuberi kesempatan,” kata Alex. “Kalau menyerah sekarang, mungkin ICPA akan mempertimbangkan keringanan hukuman untukmu.


Cody pun tertawa terbahak-bahak.


“Baik,” kata Alex lagi, “lupakan.”


“Sudah kuduga para serangga itu hanya akan bergerak sesuai perintahmu. Kamu tidak bisa memberi perintah yang benar kalau tidak tahu ke mana aku akan menembak,” kata Alex.


“Kamu… Ka— Kalian bisa melihatnya?”


“Masih berpikir kalau kamu lebih baik?”


Cody mengerjap lalu malah terkekeh. “Aku enggak menyangka ICPA akhirnya mengungkap trik itu. Tapi, kenapa aku perlu takut? Kamu enggak akan menembak,” ujar Cody. “Zetta Sonic tidak diciptakan untuk membunuh. ICPA tidak pernah memerintahkanmu membunuh kriminal.”


“Benar. Jangan memaksa mereka menyuruhku. Menyerah saja. Lepaskan alat itu dari matamu. ICPA sudah mengepungmu.”

__ADS_1


“Kalau aku tidak mau?”


“Aku akan memaksamu.”


Cody tertawa lagi. “Kamu enggak akan menembak.”


“Memang tidak.”


Alex mengulurkan tangan. Cody pun spontan mundur. Sayangnya, karena sebagian besar serangganya telah tertembak, dia tak bisa berbuat banyak. Gerakan yang dia pikirkan tetap berada dalam pikirannya. Para serangga tak mampu menarik Cody lepas dari cengkraman Alex. Seberapa kuat Cody meronta, hasilnya nihil. Alex membawa anak itu melayang di atas sungai besar. Posisi mereka cukup tinggi, lebih tinggi dari papan loncat tertinggi kolam renang.


Protes justru datang dari Jayden. [Alex. Apa yang kamu lakukan? Bawa di ke darat. Ada tim yang sudah siap menangkapnya.]


Sebaliknya, Tiger justru mendukung. [Ini akan jadi tontonan menarik!]


“Lepaskan aku!” pinta Cody. Para serangga mengerubungi kakinya, berusaha membebaskannya. Akibatnya sepatunya justru terlepas dan jatuh ke dalam sungai. Melihat bagaimana sepatunya lenyap dalam air gelap, Cody pun terdiam sesaat. “Kamu enggak akan melakukannya,” kata Cody lagi.


“Sungguh? Kamu menantangku?”


“Ya! Jatuhkan saja, aku akan lolos dan balik menyerangmu.”


Alex tak suka ditantang. Lebih lagi ditantang oleh anak seperti Cody yang membuatnya kesal oleh kesombongan. Alex pun melepaskan pegangannya.


Cody terlepas. Anak itu berusaha menyeimbangkan diri namun tak berhasil. Para serangga tak sanggup membawanya terbang. Cody pun memeluk tubuhnya sendiri, memejamkan mata erat-erat, lalu jatuh dalam air dingin dan gelap.


Di tepi sungai, bukan hanya tim ICPA yang telah siap. Naray juga ada di sana, di sisi yang lain dengan senapan bermoncong panjang.


Peringatan Jayden datang terlambat. [Alex! Pergi dari sana!]

__ADS_1


Senapan telah ditembakkan.


Alex merasakan nyeri luar biasa. Hidungnya mencium bau darah. Matanya berkilat hijau meski pandangannya sendiri berubah jadi kabur. Kepalanya menoleh, mencari si pelaku. Di antara semua sensasi itu, ada satu yang paling menonjol. Kemarahan. Dan, dia tahu siapa yang harus menerimanya.


__ADS_2