Zetta Sonic

Zetta Sonic
Swarm


__ADS_3

Seungguhnya Alex tak tahu kemana arahnya berjalan. Dia hanya terus melangkah. Segala sesuatunya gelap. Dia hanya bisa melihat ujung dedaunan dari pantulan sinar bulan temaram. Suhunya semakin turun dan dinginnya menusuk. Sebaliknya, badannya terasa panas. Langkah-langkah kecilnya diiring oleh napas tersengal. Alex berhenti untuk beristirahat meski hanya sebentar.


Di atasnya, awan bergerak menutupi bulan. Mereka menggantikan kabut yang tadi sempat turun, menghalau pandangan jernih. Alex mencoba tak berpikir terlalu banyak. Dia tahu kalau itu tidak akan membantunya justru membuatnya makin terpuruk. Jadi, Alex berjalan lagi.


Sesekali Alex tersandung oleh akar yang tak bisa dia lihat. Berkali-kali wajahnya kena tampar rerumputan tinggi. Kondisinya saat ini sama seperti kondisi di balik celah tebing tadi. Tanahnya lembab dan berulang kali membuatnya hampir terpeleset. Ini membuat Alex berjalan lebih pelan lagi. Dia sempat berpikir apakah tanpa sengaja telah kembali pada tebing. Namun, Alex menepis pikirannya. Dia tidak akan tahu jawabannya dalam kegelapan. Dia akan tahu bila fajar datang. Itu pun kalau dia bertahan.


Dalam situasi seperti itu, Alex membiarkan tangannya memandu. Tangannya bergiliran membuka rerumputan yang bagai tirai. Kadang dia membiarkan matanya terpejam karena tahu matanya tidak begitu berguna dalam kondisi seperti ini. Telinganya lebih membantu. Dia mendengar beragam suara.


Tidak ada suara yang kencang, hanya suara rendah yang saling menutupi satu sama lain. Pikirannya berusaha menebak-nebak. Ada suara jangkrik dan serangga lain, juga gesekan dedaunan yang diterpa angin, lalu gerakan dalam semak-semak. Dia hanya berharap tak dikejutkan oleh hewan lain di dalam sana. Dia sudah terlalu lelah untuk melawan hewan apa pun.


Termasuk lebah.


Ralat. Terutama lebah.


Alex berhenti lagi. Dia mendengarnya. Suara pelan dengung lebah. Alex menyipitkan mata sembari mengadahkan wajah. Dia berusaha melihat bila ada sarang lebah di atas sana. Dan, memang ada. Bukan satu sarang, melainkan dua sarang berdekatan.

__ADS_1


Angin menerbangkan awan, membiarkan sinar bulan membantu Alex melihat. Alex bisa melihat gundukan tidak wajar dari dahan pohon. Gundukan tersebut sesekali bergetar. Lebar pekerja yang agaknya sulit tidur, kadang terbang untuk berpindah posisi. Sarang itu berada beberapa tepat di atasnya. Sementara sarang satunya lagi berada cukup jauh di depan sana. Alex tak suka situasi ini. Sangat tidak suka.


Dia mengedarkan pandangan, berusaha mencari jalan lain. Namun dalam kondisi seperti itu, sulit menentukan arah mana yang lebih baik. Alex mengedarkan pandangan dan pandangan. Barulah dia menyadari kesalahannya. Dia tidak hanya melihat dua sarang, melainkan lebih banyak sarang lagi di berbagai tempat berbeda. Bahkan ada sarang lebah yang telah dia lewati di belakangnya.


Alex menelan ludah. Besar sarang itu beragam. Beberapa bahkan lebih besar dari bantalnya. Dia tak tahu jenis lebah apa yang ada di sana dan apakah mereka agresif. Namun, dalam kondisi seperti ini, Alex hanya ingin keluar dari sana.


Setelah menarik napas dalam-dalam, dia pun membulatkan tekad. Alex melangkah lagi, kali ini begitu pelan. Dia bahkan tak menggunakan tangannya untuk menyibakkan rerumputan karena takut para lebah akan terbangun. Alex hanya menapakkan kaki di depan kaki lainnya. Satu langkah demi satu langkah. Rasa cemasnya datang bersama rasa takut. Sebenarnya dia ingin lari, kabur dari semua ini. Namun, logikanya tahu kalau itu langkah yang bodoh.


Kali ini, Alex tak memejamkan mata sama sekali. Alex menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati serta pikirannya. Satu langkah demi satu langkah. Alex mengulang-ulang itu dalam hatinya. Dia perlu tenang. Anehnya, kegelapan itu bisa dibilang membantu. Dia tak perlu melihat secara jelas kumpulan lebah tersebut. Napasnya memburu setiap kali dia memikirkan apa yang bisa terjadi.


Perjalanan itu terasa begitu lama. Alex merasa jauh lebih menderita dibanding sebelumnya. Dia kembali menengadah, memeriksa seberapa jauh dia telah melangkah. Semakin banyak sarang lebah telah dia tinggalkan. Meski begitu, dia tidak tahu ada berapa banyak lagi menantinya di depan. Tak punya pilihan, Alex berjalan lagi.


Suara dengung di sekitarnya mulai mengencang. Dia mengusik apa yang paling dia takuti.


Alex berlari. Dia tak peduli ke mana dia berlari. Dia hanya tahu satu hal. Lari, lari, dan lari. Kalau diingat-ingat, dia pernah mengalami hal yang mirip. Kepalanya terasa ditusuk-tusuk ketika kenangan itu datang kembali.

__ADS_1


Dalam ingatannya, Alex ingat pernah bermain bersama anak-anak kecil. Dia tak mengenal mereka juga tak memahami bahasa mereka. Teman-teman barunya mengajak dia ke sebuah pohon besar. Ada sarang lebah di atasnya. Mereka bergiliran melempar batu ke atas sana, melihat siapa yang bisa melempar lebih tinggi.


Dia ingat siapa pemenangnya. Pemenang yang berakhir jadi korban. Alex beruntung hanya mendapat satu sengatan karena mereka berlari tepat ke arah yang benar. Mereka berhasil masuk ke dalam desa lewat gerbang dengan dua pilar besar di hadapannya. Pilar batu dengan hiasan ukiran garis dan huruf yang tak pernah dia pahami. Pilar itu berpendar hijau ketika dia lewat sebagai tanda kalau dia juga diizinkan masuk ke dalam desa. Dia juga ingat kalau saat itu mengenakan kalung berbandul bulat. Kalung yang sama yang menyengatnya kemarin.


Kenangan itu membuat Alex terkesiap.


Pilar dalam ingatannya sama persis seperti pilar yang tadi dia jumpai. Alex tak ingat siapa teman-teman barunya tetapi sangat yakin kalau lokasinya adalah desa Kloster. Dia pernah ke sini. Namun, dia tidak pernah mengingatnya dengan jelas. Semua yang tersisa ketakutan, kengerian, sulitnya bernapas, panas dan gatal, juga kenangan buruk terbangun di rumah sakit, lalu ayah dan ibu bertengkar karenanya.


Dia pernah ke sana bersama ayahnya!


Alex merasakan matanya basah. Itu adalah hal paling pedih yang dia rasakan dalam beberapa bulan terakhir ini. Dia rindu. Rindu pada keluarganya, rindu pada teman-temannya, rindu pada rumahnya. Dia merasa semakin menjauh dari mereka setelah bergabung dengan ICPA karena insiden. Sekarang, dia kehilangan dirinya.


Apakah hidup yang seperti itu layak diperjuangkan?


Alex berhenti. Dia tak lagi dikelilingi oleh rerumputan tinggi. Di depannya terhampar lembah panjang dengan desa Kloster pada bagian ujungnya. Dia berhasil menemukan jalan menuju desa. Seharusnya dia segera berlari ke sana bukan hanya berdiri di sini. Kenyataannya, Alex terpaku di tempatnya. Dia malah berbalik menghadapi kumpulan lebah mengamuk.

__ADS_1


“Menyingkir dari sana, Alex!”


Alex mengenali suara ayahnya bahkan sebelum dunianya kembali ditelan kegelapan.


__ADS_2