
Setelah Alex mengetahui fakta kalau Zetta Sonic berada dalam daftar paling diincar di situs pembunuh, dia paham tak bisa berbuat banyak. Itu bukan hal yang bisa dihindari. Meski sudah mengantisipasi hal semacam ini, Alex jujur kalau tetap terkejut akan kenyataannya. Nama Zetta Sonic bersanding dengan nama pemimpin dunia jadi salah satu orang paling diinginkan kematiannya. Meski itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan, Alex sadar kalau sepak terjangnya berdampak besar.
Sebut saja seperti kakak beradik Nikola dan Filip. Meski keduanya dilindungi oleh robot pembunuh berteknologi tinggi, nyatanya Alex tetap berhasil meringkus mereka. Ralat. Bukan benar-benar meringkus. Dia mampu menghancurkan para robot itu. Kalau soal ini, Alex tak perlu bohong. Dia sangat bangga pada pencapaiannya.
Dia harus lebih berhati-hati sekarang. Bukan tidak mungkin kalau ada pembunuh di dekatnya. Bahkan, tidak mungkin bila ada orang yang saat ini sudah tahu rahasia di balik Zetta Sonic. Dengan tingginya nilai yang diberikan atas kepalanya, sangat wajar bila para pembunuh bayaran menyembunyikan fakta ini satu dengan yang lain. Hanya satu orang yang akan mendapatkan semua imbalan itu. Maksudnya, orang yang berhasil membunuhnya.
Alex bergidik ngeri. Tak heran kalau belakangan, dia sendiri merasa lebih paranoid. Terutama dengan adanya guru baru di sekolah mereka. Melodiza. Setidaknya Alex punya beberapa alasan untuk menaruh curiga.
Kedatangan Melodiza menggantikan guru sejarah lama mereka tidak pernah terungkap dengan jelas. Murid lain tidak repot-repot mencari faktanya. Begitu pula dirinya. Ya, sampai dia melihat nama lainnya terpampang di situs pembunuh bayaran. Tidak ada salahnya jadi sedikit lebih waspada.
Pemikiran itu pula yang membuat Alex saat ini menyelinap ke tempat yang tidak seharusnya. Dirinya mengendap-endap di saluran bawah tanah lagi. Kalau ada jalan lain, Alex tidak menolak. Sayangnya, saat ini hanya itu rute yang dia tahu terhubung ke penjara. Penjara yang dituju Alex bukanlah penjara biasa. Mereka tidak meletakkan penjahat berbahaya bersama penjahat lain dan hanya diawasi polisi biasa. Penjara yang sedang dituju Alex berada di bawah tanah. Apa yang bisa membuatnya lebih buruk dari penjara di bawah sanatorium.
Penjara itu penjara khusus yang dibuat oleh ICPA. Mereka memenjarakan orang-orang tertentu di sana. Nikola dan Filip, masuk hitungan pengusaha. Keduanya tidak akan ditempatkan di sini. Mereka tidak bersinggungan lama dengan ICPA. Lagipula, bukan kakak beradik Shah itu yang hendak ditemui Alex.
Sejauh ini, setahu Alex, hanya satu orang yang mengetahui rahasianya. Satu-satunya penjahat yang tahu identitas asli di balik Zetta Sonic. Orang yang dari semula menginginkan Dragon Blood lebih dari dirinya. Si pembuat masalah yang justru jadi pemicu masalah ini. Damon.
__ADS_1
Dibantu dengan teknologi ICPA sendiri dan sedikit kemampuan Killer Bee, Alex berhasil menemukan jalannya. Dia sukses menjadikan cerita yang tadinya dia sekadar dengar jadi kenyataan. Kalau Tiger tahu, dia pasti menyesal setengah mati pernah menyebut keberadaan penjara ini di depannya. Tapi, kalau Jayden tahu, Alex cukup yakin si pemuda akan memujinya. Terlepas dari kenyataan apa tujuannya berada di sana.
Alex berhenti di sebuah dinding bata. Sepintas, bentuknya tak jauh berbeda dengan dinding lain. Mereka merupakan deretan bata kelabu yang sudah meninggalkan masa-masa indahnya. Kini, mereka nampak usang dan sebagian besar tertutupi lumut. Sama seperti teknologi yang dipakai ICPA untuk menyembunyikan pintu masuk ke markas Special Force, dinding tersebut tak lebih daripada ilusi semata.
Alex menerobosnya seperti menerobos angin hampa. Ini pertama kali buatnya. Biasanya, dia menerobos dinding ilusi semacam itu dengan kendaraan, bukan badannya sendiri.
Lorong di belakang tempat itu sedikit berbeda dari dugaan Alex. Dia membayangkan akan melihat koridor suram dengan bau selokan. Ternyata, begitu masuk, Alex mendapati lorong putih benderang. Tidak ada sedikit pun bekas dari jalur selokan. Seolah bau tak sedap pun enggan masuk ke sana.
Dalam balutan seragam hitam kelam, Alex berjalan masuk. Dia berhasil mengelabuhi semua kamera dengan mudah. Seragam itu bekerja dengan baik. Stealth mode yang dia gunakan membantu menyamarkan dirinya dengan sempurna. Alex berlari-lari kecil lalu berbelok kiri di pertigaan depan.
Alex punya waktu satu setengah menit untuk melewati semuanya dan tiba di tempat Damon, kalau mau aman. Dia berhasil melakukannya dalam waktu delapan puluh enam detik. Tidak lebih. Wajar saja. Dibantu dengan teknologi ICPA sendiri, penjara itu seperti kotak kaca buatnya. Dia tahu harus berbelok ke mana, tahu kapan penjaga akan patroli juga rute mereka, dan kapan dia bisa menyelinap ketika pintu terbuka ketika penjaga lewat.
Ruangan tempat Damon berada — lagi-lagi — membuat Alex terkesima. Bentuknya berbeda dengan yang dia bayangkan. Ruangan itu cukup luas. Semuanya berwarna kelabu. Pencahayaan datang dari lampu-lampu yang menempel di langit-langit. Mereka membentuk garis mengelilingi ruangan berbentuk persegi tersebut. Ada satu sekat kaca dengan rusuk baja yang membagi ruangan jadi dua sama besar.
“Siapa di sana!?” Damon bertanya. Suaranya terdengar serak dan kasar. Sosoknya tak setegap ingatan Alex. Sosok itu duduk di atas kasur, kepalanya menunduk, meski matanya menyorot ke depan. Dia merasakan kehadiran Alex.
__ADS_1
“Aku ingin jawaban.” Alex bicara sambil merendahkan suaranya.
Damon mengangkat kepala. Wajahnya yang garang dipenuhi bekas memar juga luka yang tak Alex ketahui dari mana asalnya. Ada pula noda merah seperti luka bakar. Sosok itu tak semenakutkan dulu. Damon memicing. “Siapa kamu?”
Alex membiarkan modenya lenyap. Mata Damon terbelalak melihat sosok berpakaian serba hitam di depannya. Meski begitu, tak ada sedikit pun tanda-tanda identitas Zetta Sonic. Hal itu cukup dia syukuri saat ini. “Kamu tidak perlu tahu siapa aku.”
Damon terdiam sebentar sebelum akhirnya membentuk seringai. “Oh, aku tahu siapa kamu. Aku cukup ingat siapa dirimu. Kamu bocah itu. Bocah hijau yang berani menggagalkan rencana brilian dan mencuri darah naga dariku. Kamu kelihatan berbeda. Bagaimana rasanya? Haus kekuatan atau haus darah?”
“Kupikir aku bisa mengatakan hal sama padamu. Kamu juga kelihatan berbeda.”
Damon berlari. Mengabaikan keberadaan kaca itu, Damon meninju. Tangannya membuat suara kencang ketika bertemu dengan kaca tebal. “Ini semua gara-gara kamu, Alex!” Damon berteriak kencang.
Sesuai dugaan Alex, Damon sudah tahu siapa identitas di balik Zetta Sonic. Itu bukan berita baik. Alex menelan ludah. Dia bersyukur ekspresi wajahnya tersembunyi di balik helm seragam tempur. Meski demikian, Alex sama sekali tak bisa menahan diri untuk bertanya. “Dari mana kamu tahu?”
Damon tertawa. “Hei, bocah! Setiap dinding bertelinga. Bahkan dinding ICPA pun tidak terkecuali. Jangan kira tempat kalian aman. Kalian salah besar!”
__ADS_1
Saat itu, Alex tahu kesalahan pertama dari Special Force.