Zetta Sonic

Zetta Sonic
Driver


__ADS_3

Berada di pihak yang menang selalu menyenangkan. Maksudnya, ICPA. Bukan Alex. Alex tak menyangkal kalau dirinya senang karena Dragon Blood tidak berulah kali ini. Meski begitu, misinya diwarnai perdebatan dan lolosnya Gavin River. Jayden memilih mengabaikan soal agen laki-laki handal dari ICPA cabang Regis tersebut. Dia tidak benar-benar menghalangi misi mereka. Meski begitu, Jayden tetap melaporkan semuanya pada Nadira.


Alex bisa bersantai di rumah selesai misi itu. Mungkin dia akan tertidur di kelas esok harinya. Sayangnya, bagi Jayden dan Tiger, mereka masih harus melanjutkan tugas mereka bahkan setelah memulangkan Alex ke rumahnya.


Keduanya berada di mobil ketika mereka sedang berbincang dengan Nadira. Wajah si pemimpin perempuan ICPA Sinde muncul pada layar yang terdapat di mobil SUV tersebut. Rautnya selalu tak ramah. Dia bahkan tak menanyakan kenapa Jayden memangku barang putih yang kadang mengeluarkan percikan listrik.


Dengan bantuan dari rekan ICPA lain, Jayden berhasil mendapatkan kembali drone miliknya. Dia ingin sekali segera kembali ke markas. Sayangnya, karena Tiger masih harus mengembalikan Alex ke rumah, dia akhirnya berputar-putar dulu sebelum bisa menggunakan gudang ICPA pusat yang memang memiliki peralatan lengkap.


Pada akhirnya, mereka juga menghancurkan pabrik robot pembunuh tersebut. Ledakannya teredam karena memang berada di bawah tanah. Tentu saja, pabrik di bagian atasnya terkena dampak. Sejauh ini, pabrik tersebut menghiasi berita dengan judul konsleting listrik. ICPA berhasil menyembunyikan alasan sesungguhnya. Seperti biasa.


Nadira sendiri menganggap misi mereka lumayan. [Aku sudah berulang kali mendapat laporan semacam ini. Misi utama berhasil diselesaikan. Muncul rahasia yang lain. Ini memicu misi lain lagi. Biasanya, justru lebih berbahaya dibandingkan misi pertama.]


“Intel tidak memberitahu kita soal robot baru,” balas Jayden.


[Benar. Kita datang tepat waktu. Aku harus memuji Jayden kali ini. Kamu berhasil menyalin data mereka, bahkan mengunggahnya ke server milik ICPA lewat jalur khusus. Aku akan menyuruh para peneliti memeriksanya.]


Tiger memilih tak menjawab. Dia melirik Jayden di sampingnya.


Jayden pun balas meliriknya. “Apa? Aku melakukan kerja bagus, katanya.”


“Iya. Kerja bagus.” Tiger mengulang ucapan Nadira. Dia sama sekali tidak berniat membahas soal itu. Dia lebih tertarik pada drone di pangkuan Jayden. Drone itu bisa jadi lebih menjanjikan sebagai robot pembunuh daripada robot milik Filip Shah. Ukurannya lebih kecil, bisa menyelinap tanpa ketahuan, dan bisa dibawa ke mana-mana.


[Aku ingin kalian melanjutkan latihan Zetta Sonic. Lanjutkan latihan tahap kedua, Tiger. Anak itu ada di bawahmu. Pastikan dia unggul dalam pertarungan jarak dekat. Aku melihat videonya. Gerakannya menyedihkan. Benar-benar memalukan.]


“Akan kucoba semampuku. Tapi, pedang bukan keahlianku.”

__ADS_1


[Akan kupikirkan soal itu. Kita punya beberapa agen lain yang cukup menjanjikan ketika berhadapan dengan senjata. Aku suka sekali ide profesor Otto memberikan pedang pada Alex. Mungkin lain kali dia bisa memberikan perisai padanya.]


“Itu Jayden. Ide Jayden.” Tiger meralat.


[Ngomong-ngomong, bagaimana soal pengganti Caitlin?]


Jaydean memainkan bola matanya seraya mendesah. “Masih tahap pengamatan.”


Jawaban Jayden membuat Nadira langsung melotot. Nada suaranya pun meninggi. [Bilang saja kalau kamu belum melakukan apa pun soal itu! Dasar pemalas! Apa susahnya mencari orang secerdas dia di ICPA? Kita punya banyak agen seperti itu. Tiger, pukul dia! Beri dia pelajaran.]


“Aku sedang menyetir,” jawab Tiger singkat.


Jayden tak mau membuang energinya untuk berdebat. Pernyataan Nadira benar pada satu hal dan salah pada hal lainnya. ICPA memang punya banyak agen secerdas Caitlin juga ketertarikan pada eksperimen. Masalah utama memang bukan terletak pada kemampuan. Masalah utama justru ada pada si profesor sendiri. Kadang ide gilanya membuat orang terheran-heran. Termasuk dirinya sendiri.


[Aku mau laporan tertulis mengenai misi ini selesai sebelum jam makan siang. Paham?]


“Dimengerti,” jawab Jayden. Pertanyaan itu memang ditujukan padanya. Dia selalu bertugas membuat laporan tertulis bagi Zetta Sonic. Awalnya, dia mengira bisa membagi tugas ini dengan Caitlin, sayangnya kondisi tidak memungkinkan.


Nadira memutus sambungan komunikasi, pembicaraan berakhir di sana.


“Kamu serius soal pengganti Caitlin?” Tiger tak membiarkan mobilnya sunyi.


“Nadira dan Otto sama-sama serius soal itu.”


“Bukan itu maksudku. Aku melihat salah satu namanya. Aku yakin kamu tahu siapa yang kumaksud. Si anak aneh.”

__ADS_1


“Emil? Dia favoritku.”


“Dia akan membuat profesor Otto lebih cepat mati.”


Sementara Tiger serius dengan peringatannya, Jayden malah tertawa terbahak-bahak. “Ayolah, dia tidak akan seburuk itu. Dia akan cocok dengan Alex.”


“Terlebih denganmu. Jangan kira aku enggak tahu kalau kamu juga berusaha mencari asisten pribadi dalam situasi ini, J. Kamu mencari kawan untuk berada di perahu yang sama.” Tiger mendesah. “Ini bukan peringatan atau nasihat. Aku hanya ingin kamu menyadari keanehannya. Anak itu mungkin cerdas, tapi dia tetap aneh.”


“Aku tahu. Itu yang akan membuatnya cocok dengan profesor Otto. Lagipula, aku hanya perlu menyerahkan beberapa nama pada professor. Siapa pun yang akan jadi asisten nanti akan dipilih langsung olehnya. Keputusan di tangan profesor bukan tanganku.”


Tiger mengangguk. “Benar. Kalau begitu, nama-nama lainnya seharusnya juga ada di pihakmu. Kamu mencari orang dengan kriteria profesor dan menurut seleramu. Cerdas. Nadira seharusnya sudah memperkirakan ini.”


“Bukankah itu poinnya? Nadira ingin seorang yang memahami eksperimen Zetta Sonic dan teknologi. Seseorang yang bisa menjadi jembatan antara aku dan profesor Otto. Seseorang yang mungkin bisa membantuku membuat senjata baru untuk menghadapi para robot pembunuh yang lolos itu.”


“Akhirnya kamu bicara soal itu. Nadira bilang akan menyuruh ICPA mengawasi bila ada pergerakan aneh apa pun di ibu kota. Besar kemungkinannya mereka ada di sini. Menurutmu, kenapa mereka membuat itu? Prototype?”


Jayden menggeleng. “Aku takut lebih dari itu.” Keempat robot yang dilihat Jayden di pabrik bukanlah sesuatu yang bisa dibuat seenak hati lalu diserahkan pada orang lain. “Menurutku, ada dua kemungkinan. Satu, Filip menciptakannya agar dia punya kartu AS. Robot pembunuh yang paling unggul di antara robot pembunuh lainnya. Bukan untuk dijual. Barang koleksi.”


“Kemungkinan kedua?”


“Sederhana saja. Dia membuatnya untuk membunuh seseorang. Kamu ingat bagaimana ketiga robot lainnya kabur? Begini tebakanku. Mereka dirancang dengan tiga prioritas. Prioritas pertama, menuruti perintah si tuan. Prioritas kedua, membunuh target. Prioritas ketiga, menjaga diri mereka sendiri supaya tidak tertangkap.”


“Apa itu berita buruk?”


“Kuberitahu apa berita buruknya. Ada tiga robot di luar sana. Artinya ada tiga target yang sedang diincar."

__ADS_1


__ADS_2