
Gavin bergerak lebih dulu. Lawan telah siap mengantisipasinya. Pukulan Gavin melayang di udara sementara Naray telah menghindar. Membalas, Naray ikut menggayunkan pukulan. Gavin menarik kepalanya ke belakang. Sebagai ganti, dia mengayunkan lututnya untuk menyerang. Bukannya kena, lawan malah berhasil menghindarinya dengan mudah. Naray, yang lebih tinggi dari Gavin, menggunakan telapak kaki jenjangnya pada paha Gavin. Gerakan itu sukses membatalkan serangan juga memaksa Gavin mundur.
Tiger bersiap dengan senapannya. Mereka kalah jumlah. Kalau para Kloster ingin main keroyok, mereka akan habis. Namun, di luar dugaan Tiger, para Kloster sepertinya menikmati pertarungan tersebut.
Setiap orang dari suku itu malah bersorak-sorak dalam bahasa asli mereka. Mereka memberikan semangat pada Naray sambil meninju ke udara. Tak satu pun dari orang-orang itu yang berusaha menyela pertarungan apalagi membantu Naray. Si pimpinan itu bergerak seirama dengan lawan seolah mereka berputar pada pola lingkaran.
“Minta pasukanmu mundur. Aku akan mengurus Zetta Sonic,” ujar Gavin. Dia masih berharap kalau pertemuan mereka tidak menjatuhkan korban di pihak mana pun.
“Kalian tidak tahu makhluk apa yang sedang kalian hadapi.”
Gavin ingin sekali bilang kalau dia tahu. Dia tahu identitas Zetta Sonic, dia tahu siapa keluarganya, dia bahkan tahu lebih banyak dari yang dia ucapkan. “Kami akan mengatasinya. Zetta Sonic tidak akan menyakiti siapa pun. Dia agen ICPA. Jadi, biarkan ICPA yang mengurusnya.”
Naray berhenti lalu tertawa di tempatnya. Tawa itu menular pada pasukan yang ada di belakangnya. Orang-orang itu ikut tertawa. Segera saja tawa mereka menggema di dermaga.
Tiger kesal dibuatnya. Dia tidak suka ditertawakan. Lebih lagi bila ditertawakan dalam kondisi terdesak semacam itu. Jarinya sudah ada di pelatuk. Dia siap menembak siapa pun bila diperlukan. Termasuk Naray. Termasuk Gavin. Sembari menanti, Tiger berusaha mengetuk earphone di telinganya. Jayden seharusnya bergerak cepat.
Setelah puas tertawa, Naray menyeringai. Tanpa aba-aba, dia merangsek maju dengan belati hitam di tangan. Gavin terkesiap. Naray sudah menghunuskan senjata. Satu tangan menggenggam belati, satu lagi memegangi bahu Gavin.
Naray berbisik di telinga lawannya. “Kamu tahu hal apa yang paling kami benci dari ICPA? Kalian pikir kalian bisa mengatasi semuanya padahal tidak. Kalian membuat dunia ini lebih buruk.”
__ADS_1
“Benarkah?” Gavin membalas.
Naray melirik belatinya. Dia berpikir berhasil menusuk perut Gavin, ternyata tidak. Tangan Gavin memegang mata belatinya. Tidak ada darah mengucur di sana. Penyebabnya jelas. Gavin telah memakai semacam sarung tangan pelindung hitam legam dengan sentuhan garis hijau di bagian pergelangan tangannya.
“Kamu tahu apa yang kubenci dari kalian?” Gavin melanjutkan. “Kalian sombong!”
Gavin mengayunkan tinju. Kali ini pukulannya kena. Dia berhasil meninju Naray telak di pipinya. Naray pun terhuyung. Belatinya terjatuh selagi dia menjaga jarak. Sorak sorai orang-orangnya berganti cemooh dalam bahasa asing. Gavin mengambil belati tersebut. Dia tidak berhenti di sana. Selagi Naray memulihkan diri, Gavin menyerang. Pertarungan dilanjut.
“Bangun, bocah!” Tiger mengguncang pelan bahu Alex. “Kamu harusnya menonton ini!”
Tiger terjebak dalam perasaan kagum dan kesal. Melihat pertarungan Naray dan Gavin, dia ingin ikut bergabung. Keduanya petarung yang baik. Selain itu, dia juga kesal karena harus menjaga Alex yang masih bergeming di posisinya.
Itu bukan pertarungan yang seimbang. Naray lebih lihai dengan belatinya. Di satu kesempatan, dia berhasil melukai lengan Gavin. Untungnya itu hanya merobek baju dan memberikan goresan tipis pada kulitnya. Gavin tak berharap sepenuhnya menang. Dia sedang mengulur waktu sampai ICPA di kota itu memberikan bantuan.
Bantuan yang tak kunjung datang dan senyum penuh percaya diri Naray membuatnya mulai gusar. Mungkin Kloster bisa mengacau sinyal lebih baik dari dugaannya. Kalau pertarungan terus berlanjut, Gavin tak yakin bisa berakhir baik buatnya. Sekarang dia tak punya pilihan selain untuk percaya.
Tanpa diketahui siapa pun, jaringan di dalam seragam Zetta Sonic terus tersambung. Jaringan itu tidak bisa dikacaukan semudah itu oleh teknologi Kloster. Masalahnya adalah Alex sendiri. Anak itu belum benar-benar tersadar.
Jayden berulang kali berusaha membangunkannya sambil terus memperbaiki jaringan mereka. [Alex! Alex, bangun! Mereka membutuhkanmu! Ayolah!]
__ADS_1
Suara itu terus menerus mengusik. Alex mulai mengerjap. Pandangannya kabur. Sistem di dalam seragamnya telah mati. Dia terbangun dalam kegelapan. Satu-satunya koneksinya pada dunia luar hanyalah suara Jayden. Badannya sakit, tenggorokannya kering. Alex tak tahu harus bereaksi apa. Tak lama setelahnya, dunianya mulai dipenuhi warna.
Sistem di dalam seragam Zetta Sonic kembali aktif seiring kesadarannya kembali. Dia perlu mengerjap beberapa kali sampai pandangannya kembali jelas. Helm itu menampilkan gambar yang begitu jelas sekarang. Suara juga dihantarkan dengan baik. Sorak sorai dalam bahasa asing, Tiger bersimpuh di dekatnya sambil memegang senapan, kobaran api yang melahap tumpukan kontainer, juga dua orang yang sedang bertarung.
Alex berbisik nyaris tanpa suara. “Apa yang—”
[Kamu sudah sadar? Bagus! Kloster menemukan kita. Gavin berusaha bicara dan sekarang malah terlibat dengan salah satu pimpinan mereka.] Jayden memotong kebingungan Alex dan memberi informasi singkat.
Alex memicing. Seolah memahami maksudnya, sistem dalam seragamnya menampilkan layar baru. Layar itu menunjukkan pertarungan Gavin melawan Naray lebih dekat.
[Itu Naray. Dia berbahaya. Mereka semua berbahaya. Kloster berhasil memotong jaringan ICPA. Emil dan aku sedang berusaha memulihkannya. Cukup sulit. Benar-benar menyebalkan! Sistemnya akan pulih beberapa menit lagi. Begitu sistemnya pulih, kapal selam akan datang menjumpai kalian. Estimasi dua menit. Beritahu Tiger untuk bersiap.]
“Kamu ingin kita kabur?” Alex berusaha bergerak.
[Itu pilihan terbaik. Saat ini.]
Tiger tak menyadari sosok hitam di sampingnya bangun. Pandangannya masih terpaku pada pertarungan yang entah sejak kapan telah berubah buruk. Situasinya memburuk bagi Gavin. Agen itu telah kehilangan belatinya dan kena pukul lebih banyak daripada memberikan pukulan pada lawan. Dalam satu kesempatan, Naray membenturkan kepalanya pada kepala Gavin. Benturan keras itu membuat Gavin terjatuh. Naray terkekeh. Sebelum Gavin bergerak, dia menginjak dada lawan, mengunci tubuh itu agar tetap di lantai.
Para Kloster bersorak kemenangan. Tiger panas dingin dibuatnya. Dia bisa menembak tapi tak berani menembak. Ada kalanya kemenangan bisa diraih tanpa membunuh. Namun, ketika Naray mengambil pistol tangan yang dia sembunyikan di sabuknya, ada yang harus bergerak.
__ADS_1
“Hentikan!” Alex telah bangkit.