
Untuk datang ke pameran perhiasan, Alex harus mengenakan pakaian yang pantas. Pantas itu setidaknya tuxedo buatan desainer ternama. Ada lusinan tuxedo semacam itu di rumah, seandainya saja dia bisa mengambilnya. Kali ini, dia menelan egonya dan membiarkan ICPA membantunya.
Dalam benak Alex, dia membayangkan satu atau dua setelah tuxedo murah terbungkus plastik. Biasanya seseorang membawakan pakaiannya lengkap di ruangan atau di mobil. Jadi ketika dia melihat ruangan penyimpanan itu, Alex tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Itu salah satu ruangan baru di markas Special Force yang tidak pernah dia masuki sebelumnya. Setiap sisi dinding ruangan itu ditutupi oleh lemari dengan panel geser berwarna kelabu. Sebuah kaca besar berdiri di tengah tepat di samping semacam podium pendek.
Alex membuka salah satu pintu lemari. Rak gantungnya dipenuhi setelan kemeja dan setiap lacinya dipenuhi sabuk beraneka merek serta warna.
“Hei! Tuxedo ada di sini.” Tiger menunjuk ke arah lemari yang berbeda.
Alex berpaling, sekali lagi menyadari kalau ruangan itu cukup luas untuk punya dua tingkat lemari. Ada sepasang tangga di dekat pintu yang saling membelakangi. Keduanya tersambung lewat jalanan balkon di lantai dua.
Emil sendiri telah berada di samping Tiger. Dia mengambil satu setelan tuxedo yang terbungkus rapi dalam tas hitam. Setelah membaca labelnya, dia membuka penutup, lalu menunjukkannya pada Alex. “Kupikir ini cocok.”
“Kita butuh yang lebih berani.” Alex menggeleng. Dia menengok ke dalam lemari, membaca setiap label dengan saksama sebelum akhirnya mengambil satu. Di dalamnya ada tuxedo merah dengan aksen hitam. “Ini.”
Emil dan Tiger saling pandang sebentar. Tiger mulai paham. “Kamu ingin tampil mencolok.”
Alex hanya tersenyum simpul. “Kalau dia kesal pada Willy, dia pasti kesal juga padaku. Aku enggak mau dia melewatkan kesempatan mengerjaiku malam ini. Untungnya, dia tidak tahu siapa yang ada di balik Zetta Sonic.”
Emil dan Tiger kembali bertukar pandang. Emil hanya bergumam pelan. “Kamu mengundang nasib buruk.”
Setelah Alex bersiap, seperti biasa, Tiger mengantarnya ke balai kota. Anak itu telah membawa lencana Zetta Sonic. Dia bisa mengenakan seragam tempurnya kapan pun bila diperlukan. Menurut perkiraan Jayden, paling lama ketenangan hanya akan terjaga setengah jam, tidak lebih.
Balai kota itu masih seperti dalam ingatan Alex. Gedung megah putih, taman luas, jalan lebar, lampu sorot, penjagaan ketat dan persis berada di samping sungai besar. Tiger, yang mengenakan seragam supir, menyetir mobil sedan hitam dengan tenang menuju pintu masuk. Setidaknya ada selusin penjaga di sana bersiap memeriksa. Giliran mereka akan datang setelah dua mobil lagi.
“Undangan?” tanya Tiger.
“Barcode. Ada di ponselku,” balas Alex sembari mengeluarkan ponselnya.
Seolah ingin menggoda Alex, Tiger menepuk bahunya sebelum keluar dari mobil. “Jangan buat keributan sebelum Bug muncul. Dan, yang paling penting, jangan—”
__ADS_1
“Tenggelam,” sahut Alex. “Kamu orang ketiga yang bicara begitu padaku.”
Tiger pun tertawa terbahak-bahak dibuatnya. “Oke. Kamu sudah tahu aturan mainnya. Tangkap kriminal itu sebelum dia mencuri apa pun dari dalam.”
Mobil mereka kini tepat berada di depan pintu masuk. Seorang petugas keamanan membukakan pintu buat Alex. Dia menaiki tangga lebar dan pendek dan menjumpai seorang petugas pemeriksa undangan. Setelahnya, dia masih harus melewati detektor logam sebelum bergabung ke dalam ruangan.
“Hai!”
Alex tersentak. Dia tak menyangka akan bertemu secepat itu. Cody berjalan mendekat dengan santai. Anak itu terlihat sedikit berbeda. Dia memang kelihatan penuh percaya diri. Balutan tuxedo biru tua dan rambut yang ditata membuatnya tampak seperti model anak muda.
“Aku melihatmu tadi. Sendirian? Di mana orang tuamu?” Cody bertanya.
Alex mengernyit. Sepanjang di sekolah, Alex tak pernah melihat Cody berani berinteraksi dengannya seperti itu. Mungkin karena mereka tidak berada di sekolah atau karena memang ada hal berbeda terjadi di kepala anak itu. Alex cepat-cepat memulihkan diri dari keterkejutannya. Dia mengangkat bahu. “Mereka sibuk. Bagaimana denganmu?”
“Aku datang dengan ibu. Kupikir dia sedang ngobrol dengan beberapa temannya di sana.”
Alex merasakan alisnya berkedut. Entah mana yang lebih mengusiknya, Cody kelihatan begitu riang atau Cody datang bersama ibunya. Di tempat itu, Alex sendiri pernah memergoki ibunya datang berdua dengan pria lain. “Bagaimana denganmu?” Alex balik bertanya. “Kamu suka permata? Perhiasan? Opal hitam?”
“Ya, itu akan jadi tragedi memilukan,” ujar Alex, “buat pihak asuransi.” Alex sadar kalau dia semakin tak menyukai anak di depannya. Kesombongan Cody mengusik kesombongan dirinya sendiri. Cody seakan tahu siapa Alex atau ingin Alex tahu siapa dirinya. Yang mana pun, Alex tak suka.
Cody terkikik mendengarnya. Ketika seorang pelayan membawa nampan dekat mereka, Cody mengambil jus raspberry. “Minum?”
Alex sendiri mengambil jus jeruk. Dia waspada kalau-kalau lawan bicaranya akan dengan sengaja menumpahkan minuman padanya. Lihat sisi baiknya, kalau itu sungguh terjadi, setidaknya tuxedo Alex sudah berwarna merah.
[Kamu gelisah.] Suara Jayden terdengar langsung di telinga Alex. Untuk menyamarkan alat komunikasi, ICPA telah membuat alat komunikasi berbentuk anting magnet. Bentuknya seperti anting tusuk seperti umumnya. Bermata hitam legam yang dipotong wajik.
Alex menggaruk telinga kirinya, tempat di mana anting palsu itu di pakai, sebagai tanda agar Jayden diam. Meski begitu, Alex memang melemaskan bahunya mengusir ketegangan. “Aku dengar soal kecelakaan ski.”
“Oh, ya!” Cody menegak habis minumannya. “Ayahku menuntut resort ski karena tidak menyediakan tanda pengaman di jalur berbahaya.”
__ADS_1
“Kuharap kecelakaan itu tidak membuatmu… berubah.” Alex kesulitan memilih kata akhirnya.
“Tidak, tidak. Sebaliknya, kecelakaan itu membuatku sadar siapa aku sebenarnya dan apa yang kuinginkan. Kita tidak tahu kapan akan mati, bukan? Jadi, lebih baik nikmati saja setiap momen hidup ini.” Cody tertawa kecil. “Maaf, aku terdengar sedikit melankolis. Hanya itu yang kupikirkan saat berada di ambulans.”
“Kamu pulih dengan cepat. Itu hal baik.”
“Ya, tentu saja.”
Alex hendak bicara lagi ketika melihat sosok yang dia kenal. Pria tinggi dengan rambut cepak bak tentara warna merah. Seberapa kerasnya dia berbaur di dalam kerumunan, jas itu tak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang kekar bak tentara. Pria itu memelesat di dalam kerumunan setelah melempar senyum tipisnya pada Alex.
Jayden juga melihatnya. [Naray? Di sini?]
“Ada apa?” Cody bertanya lalu berputar ke arah yang dilihat Alex.
Alex memanfaatkan kesempatan itu. Dia menyelipkan sebuah benda sekecil kancing ke dalam kantong tuxedo Cody. Kemudian, dia baru menjawab ketika Cody berpaling padanya. “Aku melihat kenalanku di sana. Aku akan menyapanya. Sampai nanti, Cody.”
“Sampai nanti, Alex.”
Alex mengangguk dan segera berjalan pergi.
“Jangan buat keributan, ya.” Cody terkekeh.
Alex menyempatkan diri berbalik. Dia tak yakin mendengar Cody bicara barusan. Anak itu telah berjalan pergi juga dari tempatnya. Alex menggelengkan kepala, memulihkan dirinya. “Ini jadi semakin aneh.”
[Cody atau Naray?]
“Dua-duanya. Aku memasukkan pemancar di baju Cody. Awasi dia.”
[Kamu mau ke mana?]
__ADS_1
“Memeriksa Naray.”