Zetta Sonic

Zetta Sonic
Plain Face


__ADS_3

Tidak ada panel apa pun di sana.


Cody terbelalak. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Tidak ada kotak panel kecil seperti yang ada pada robot gorila sebelumnya. Bagian dalam dada robot besar itu hanya terisi oleh moncong-moncong senapan mesin. Hanya itu.


“Alex, lari!” Cody berteriak.


Tanpa disuruh, Alex sebenarnya telah berlari. Begitu si robot gorila besar membuka dadanya, Alex berlari di antara tangki-tangki, mencari keamanan. Tembakan dari dada robot itu menghancurkan para serangga Cody lalu tangki kembar tadi. Melihat kalau sasarannya tidak ada di sana, si robot gorila bergeser. Tembakannya pun mengikuti Alex. 


Serangan si robot membuat pabrik itu hancur. Beberapa tembakan mengenai pipa, beberapa lagi mengenai tutup tangki. Tekanan dari pipa bocor menyemburkan udara berikut juga air. Isi tangki berhamburan keluar. Ada yang berupa cairan hitam, ada yang hanya sekadar air. 


Pemandangan Alex tertutup oleh uap. Pendengarannya dipenuhi oleh raungan alarm. Kehancuran itu pasti memancing sistem keamanannya bekerja.


Alex melambat dalam kekacauan itu. Dia membiarkan sistem dalam seragam tempur memandunya. Untuk sejenak, Alex merasa seperti orang rabun. Hampir semua penglihatannya tertutup oleh asap dan juga garis-garis merah peringatan. Dia masih bisa mendengar suara tembakan pula di bagian belakang. Semua tercampur dalam kebisingan.


Di sisi layar yang lain, Alex bisa memantau kondisi melalui Jason  si drone. Pemandangan di sana sedikit lebih baik darinya. Mata di udara Jason menunjukkan deretan tangki yang tertutup oleh kabut uap. Jembatan yang tadi dia masuki juga sebagian tertutup. Ada pergerakan di atas jembatan. Alex cukup yakin itu Cody.


Samar-samar, Alex mendengar Cody berteriak. Dia tak bisa mendengar dengan jelas. Alex pun ikut berteriak, menyuruh Cody berlari. Namun, dia sendiri kesulitan mendengar suaranya. Suaranya seolah tidak pernah keluar dari balik seragam tempur.


Tak memperhatikan jalan, Alex hampir menabrak dinding. Dia berhenti mendadak. Alex menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Dia tak bisa melihat apa yang benar-benar terjadi. Dia juga tak benar-benar bisa mendengar suara apa saja itu.

__ADS_1


Alex membayangkan si robot gorila besar telah berhenti menembak. Sebagai gantinya, si robot membuat porak poranda segala sesuatu yang ada di depannya untuk mencari penyusup, yaitu dirinya.


Nampaknya si pembuat robot tidak memikirkan baik-baik apa yang harus dilakukan saat kondisi seperti demikian. Robot itu menghancurkan lebih banyak daripada yang Alex lakukan. Dia membuat isi tangki berhamburan. 


Bicara soal isi tangki, Alex menyadari kalau seragam tempur memberinya bukan hanya satu peringatan. Ada banyak peringatan di depan matanya saat ini. Soal jalan buntu di depannya, soal tingkat oksigen yang menurun, tingkat gas berbahaya yang meningkat, juga soal cairan yang menempel pada seragam.


Alex mengangkat tangannya. Dia bisa melihat kalau seragamnya dilumuri suatu benda asing. Dia tak menyadari sebelumnya karena warnanya sama-sama hitam. Kini Alex baru menyadari kalau cairan itu mengikis lapisan terluar dari seragam tempurnya. Ini berbahaya baginya apalagi bagi Cody.


ICPA memberikan Cody masker canggih tetapi bukan seragam tempur melainkan baju serba hitam. Anak itu bisa terluka akibat cairannya. Seingat Alex, dia juga belum bercerita apa pun soal isi tangki itu pada Cody.


Belum sempat berpikir lagi, Alex mendengar suara ledakan. Suhu di dalam ruangan meningkat tajam. Api berkobar pada salah satu sisi ruangan. Asap hitam bercampur dalam kabut uap. 


Kemudian, dia menemukannya. Selusur tangga. Tanpa pikir panjang, Alex berlari menaikinya. Sambil berlari, Alex berteriak memanggil temannya. 


“Cody! Keluar dari sini!” Alex berteriak berulang kali. Dia tak yakin apakah Cody mendengarnya. Dia merasa suaranya sama sekali tidak keluar dari seragam tempur itu. Alex menyalahkan cairannya. “Keluar dari sini! Cepat!”


Alex berlari meninggalkan kobaran api itu ada di belakang. Saat berpikir kalau dia telah meninggalkan bahaya, Alex justru mendapati ledakan lain. Ledakan kedua ini terjadi tepat di sampingnya. Jembatan yang dia naiki pun hancur. Alex hanya mampu berteriak ketika dirinya jatuh ke bawah. Reruntuhan jembatan menimpanya. Kalau bukan karena seragam itu, mungkin dia sudah tewas.


Dengan bersusah payah, Alex menyingkirkan barang-barang yang menimpa dirinya. Alex mengerjap. Asap belum menembus seragamnya, namun sebenarnya itu hanya masalah waktu. Sistem seragamnya tidak akan mampu terus menerus memurnikan udara.

__ADS_1


Alex berlari dalam kebutaan. Dia mengandalkan orientasinya saja. Berlari dan terus berlari ke arah menuju pintu yang tadi dia masuki bersama Cody.


Ledakan pun terjadi lagi. Kali ini dari sisi lain ruangan. Lalu, ledakan berikutnya dan berikutnya lagi. 


Alex sempat berpikir kalau seseorang mengawasi mereka. Dia sengaja meledakkan bom ketika Alex melintas. Setelah kondisinya makin kacau, orang itu kehilangan penglihatannya pada Alex dan memutuskan meledakkan semua yang ada di dalam ruangan itu. 


Tunggu! Bom?


Mereka benar-benar telah masuk dalam jebakan Baron. Baron pasti tahu kalau dirinya berada di sana. Dia rela menghancurkan pabriknya sendiri asalkan itu membunuh Zetta Sonic. Seharusnya mereka tahu.


Alex terkena ledakan lagi. Hempasannya mengantar dia hingga menabrak dinding. Alex berdiri lalu meraba-raba dinding. Tangannya menggapai sebuah gagang pintu. Gagangnya melunak ketika terkena tangan yang telah berlumuran cairan hitam. Pintu itu terkunci, tentu saja. Dengan sedikit hentakan, Alex menghancurkan pintunya.


Lorong di balik pintu itu tidak lebih melegakan. Asap hitam telah masuk di dalamnya. Setidaknya tempatnya sekarang tidak dipenuhi tangki berisi cairan hitam tersebut. Lorong itu memiliki banyak pintu dan jendela seperti kantor atau sejenisnya. Tidak ada seorang pun di sana. Dia sendirian.


Alex terus berlari. Dia tak tahu di mana keberadannya selain kalau dirinya berada di bawah tanah. Dia perlu menemukan tangga untuk keluar. Alex berbelok pada perempatan pertama ke arah kiri. Ujungnya buntu. Dia terpaksa berbalik lagi dan mengambil belokan ke kanan dari perempatan yang tadi.


Di ujung lorong tersebut, Alex menemukan lift. Tentu saja sistemnya telah mati. Tidak ada gunanya menekan tombol lift. Alex membuka paksa pintunya. Kini di depannya terhampar dinding kosong persegi dengan beberapa untaian kabel besar di bagian ujung. Alex menoleh ke bawah namun tidak menemukan kabin lift. Kabin tersebut berada di atas.


Alex bisa melihat kalau energinya masih tersisa. Dia memacu seragamnya untuk mengaktifkan roket. Dorongannya membawa Alex naik ke atas dengan cepat. Alex mengulurkan kedua tangannya ke atas. Tangan itu telah menyentuh bagian bawah kabin lift. Kekuatan Dragon Blood mulai melelehkan bagian dasarnya. Sementara itu, di bawah Alex, kobaran api mulai terlihat. Alex mengerahkan kekuatannya lagi. Pancaran sinar dari Dragon Blood pun melelehkan bagian dasar, lalu atapnya, dan mungkin juga lantai dasar gedung terbengkalai.

__ADS_1


Setidaknya, dia bisa keluar.


__ADS_2