
Jayden merasa hidupnya makin tak tertebak dan hidungnya gatal. Beberapa waktu yang lalu, dia sedang berjalan di universitas bersama Alex untuk menikmati pameran. Kemudian dia berpindah-pindah dari satu pesawat ke pesawat lain dan menjadi tawanan sosok bernama Roban. Sekarang, pesawatnya berguncang hebat oleh ledakan di udara.
Marcel mengumpat. Dia berlari ke jendela untuk melongok ke luar. Para petugas bersenjata di dekatnya ikut melihat keluar. Ada pesawat tempur yang tertembak.
“Bagaimana mereka gagal menembaknya?” Marcel mengumpat lagi. “Kita menang jumlah.”
Jayden mendengus geli di kursinya. “Ayolah, jangan bilang kalau kamu lupa pada teknologi ICPA. Kita selalu yang terbaik. Maksudku, kami. Kami selalu yang terbaik. Kamu enggak penasaran bagaimana mereka bisa menemukan kita?”
Marcel berjalan cepat, kembali pada Jayden. Dia menarik kerah lawan bicaranya dan membentak. “Jangan sombong! Kamu masih tahanan kami! Teman-temanmu berani menembak sedekat itu karena enggak peduli padamu.”
Jayden tak suka bermain logika bersama Marcel. “Kalau begitu, kenapa mereka ada di sini?”
“Itu—” Marcel tak bisa menjawab.
“Coba hubungi mereka. Kalau menyerah baik-baik, kupikir aku bisa membujuk Nadira untuk mengurangi hukumanmu.”
“Jangan bercanda!”
“Lihat sekelilingmu. Kamu terpojok.”
__ADS_1
Tembakan berikutnya terjadi lagi di udara. Pesawat yang lain telah tertembak. Sementara pesawat ICPA memelesat maju. Sebelum mencapai mereka, ada tiga pesawat tempur lain datang dari arah berlawanan datang untuk menghadang. Adu tembak pun terjadi lagi. Pesawat ICPA dipaksa mundur kembali.
Marcel tertawa, membalas Jayden. “Benar. Coba lihat sekelilingmu, Jayden. Tidak ada yang akan menolong—”
Marcel bahkan belum bicara ketika ledakan lain terjadi. Kali ini, imbasnya mengenai pesawat yang tengah mereka tumpangi. Guncangan membuat pesawatnya miring. Salah seorang penjaga oleng, menabrak penjaga satunya. Sementara Marcel telah melepaskan cengkraman pada Jayden, sibuk mencari pegangan agar tak terjatuh. Jayden merasa perutnya seperti dikocok. Dalam kondisi seperti itulah, dia menemukan kesempatannya.
Tanpa pikir panjang, Jayden berlari. Dia mengabaikan semua teriakan Marcel. Jayden telah tiba di samping pintu darurat ketika ada tembakan. Marcel berusaha menembak dirinya. Jayden menunduk. Tangannya merogoh kompartemen di bawah bangku penumpang. Dia tahu apa yang dicarinya di sana.
Kebanyakan pesawat komersial atau pesawat barang tidak dilengkapi dengan parasut. Namun, untuk pesawat barang yang digunakan untuk mengangkut seorang sandera dengan kemungkinan terlibat pertempuran, hadirnya parasut jadi hal krusial. Keberadaan kompartemen sejak awal itu telah membuat Jayden sadar. Dia tahu apa isinya dan saat tepat menggunakannya.
“Kembali ke sini!” Marcel berteriak.
Sementara itu, kedua penjaga telah mendapat keseimbangan mereka kembali. Keduanya berjalan cepat di atas pesawat miring. Jayden tak memiliki senjata. Saat kedua penjaga itu berpikir bisa mendapatkan Jayden, mereka malah mendapat sambutan dari alat pemadam kebakaran. Busa putih memenuhi tubuh keduanya. Memanfaatkan kepanikan dua lawannya, Jayden menyerang.
Dia tidak pernah berlatih dengan tangan terikat sebelumnya. Ini sesuatu yang baru buatnya. Dia butuh improvisasi. Untungnya, itu hal yang sering ditekankan Tiger ketika melatihnya. Gunakan kelemahan lawan. Buat kesempatanmu sendiri.
Orang pertama mengulurkan tangan, berusaha meraihnya dalam kebutaan. Jayden merebut senjatanya. Dia memukulkan senjata itu ke pemilik sebelumnya. Lawan berteriak dengan tangan berusaha menggapainya. Orang kedua terjebak kebingungan. Badannya tertutupi busa putih, begitu pula kepalanya. Sekalipun berhasil mengusap sebagian besar di wajah, matanya terasa perih. Penglihatannya kabur. Bayang-bayang abstrak bergerak tak menentu. Bentuknya tak karuan bercampur warna pucat.
“Tembak dia! Aku memeganginya!” Jayden berteriak, berpura-pura menjadi rekan orang kedua. Entah bagaimana Jayden tahu itu akan berhasil.
__ADS_1
Orang kedua pun melepaskan tembakan. Serangannya sukses mengenai rekannya sendiri. Sebuah tembakan tepat di dada. Tidak ada teriakan terdengar lagi, hanya darah memancar, membasahi serta menodai busa putih. Sadar kalau ada yang tidak beres, orang kedua berusaha membersihkan wajah dan mengucek mata. Keputusannya terlambat. Jayden menembak pahanya. Orang kedua berteriak. Kini kedua lawannya tumbang di lantai pesawat.
Pesawat berguncang sekali lagi. Dua orang penjaga itu terseret menabrak deretan kursi. Jayden melirik ke luar jendela agar bisa melihat penyebabnya. Kali ini, asap hitam mengepul dari sisi pesawat ICPA. Tidak jelas separah apa kerusakannya, tapi sepertinya belum cukup untuk membuatnya jatuh. Pesawat tersebut masih mampu menukik untuk menghindari serangan dari belakang.
Jayden lupa pada Marcel sampai pria itu melepaskan tembakan. Tembakan itu seharusnya mengenai dirinya kalau pesawatnya tidak sedang miring. Marcel harus puas karena tembakannya hanya menyerempet bahu saja.
Jayden buru-buru menunduk. Dia menahan rasa sakitnya sambil berusaha menghibur diri. Ini bukan pertama kalinya dia ditembak. Tembakan ini tidak ada apa-apanya. Jayden merayap ke balik kompartemen. Tembakan masih berdesingan di dekat telinganya. Tangannya meraih alat pemadam kebakaran yang tadi dia pakai. Pikirannya punya ide. Dia bisa melemparkannya, membuat Marcel menembaknya, membuat kekacauan pada lawan. Sayangnya, rasa perih di bahu menghalanginya. Akhirnya, dia menyingkirkan tabung tersebut.
Pesawat mereka mulai stabil kembali. Dari pergerakan awan di luar sana, Jayden sadar kalau mereka menambah kecepatan. Tidak ada pilot pesawat barang ingin terlibat dalam pertempuran dengan pesawat tempur.
Jayden telah kembali di depan kompartemen. Dia menemukan apa yang dia cari. Tepat saat itu pula, Marcel juga telah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Marcel menodongkan moncong pistolnya ke belakang kepala Jayden. “Berhenti! Jangan paksa aku menembak kepalamu.”
“Benarkah?” Jayden ragu. “Kupikir Roban akan membunuhmu setelah membunuhku.”
“Diam, bodoh!” Marcel tak sabar lagi. Dia memukulkan pistolnya ke kepala Jayden. Kemudian, dia buru-buru menodongkan senjatanya ke kepala itu. “Jangan main-main lagi! Berbalik padaku.”
“Marcel, itu perintah yang sangat bodoh.” Jayden mencengkram benda yang ada di tangannya saat ini. Badannya menghalangi Marcel sehingga tidak melihatnya. Kalau lawannya tahu, dia tidak akan memerintah seperti itu.
__ADS_1