Zetta Sonic

Zetta Sonic
Warmer


__ADS_3

Emil tak paham apa maksud Jayden berkata demikian. Dia hanya tahu kalau mendapat seorang rekan untuk menjalankan ide gilanya. Emil membawa Jayden masuk ke dalam ruang komando. Sekali lagi, dia menghiraukan peraturan lain di ICPA. Tak seorang pun diizinkan masuk ke dalam ruang komando selain mereka yang bertugas atau petinggi. Jayden tidak bertugas dalam misi ini dan jelas bukan petinggi. Tak heran ketika dirinya masuk, semua tatapan mata langsung menusuk Emil dan dirinya.


Ruangan tersebut merupakan ruangan komando sungguhan, bukan ruangan yang sempat dia pakai di waduk. Di waduk, ruangan komputernya berfungsi ganda sebagai ruang komando. Ruang komando seharusnya lebih besar dengan beberapa komputer, bukan hanya satu. Idealnya, ketika seorang agen bertugas, dia didampingi oleh setidaknya oleh empat operator dan satu penanggung jawab.


Setidaknya, mereka sama-sama remang. Ketika layar sedang menyala, maka sumber cahaya utama hanya berasal dari layar. Sisanya berasal dari lampu garis yang ditanam pada dinding atau lampu di langit-langit tapi dengan intensitas cahaya berbeda.


Saat bicara soal Zetta Sonic, peraturannya akan sedikit berbeda.


Penanggung jawab dalam ruangan tersebut merupakan agen lapangan senior. Dia tak lagi bertugas sejak dua tahun lalu. Sekarang, dia membimbing juniornya menyelesaikan misi di lapangan. Dia jadi orang pertama yang menghalangi ketika Jayden mengikuti Emil menuju kursinya.


“Kamu lebih baik punya alasan yang sangat baik hingga berada di sini, Jayden.”


“Aku menawarkanmu sebuah solusi.” Jayden membuat senyum sembari menarik kedua tangannya ke belakang punggung. Dia tahu temperamen orang di depannya. Bukan seseorang yang mudah memukul. Justru tipe orang yang bisa menahan emosinya. Ingat, dia bahkan bisa menghadapi keanehan Emil. “Aku bisa membantu kalian menyingkirkan para manusia salju itu.”


Emil menyahut dari kursinya. “Seperti memanaskan kaleng. Dalam panci berisi air mendidih. Saat berkemah, komandan.”


Sang pimpinan misi jelas sekali tak memahami apa maksud ucapan tersebut. Dahinya berkerut, alisnya bertautan. Sembari menarik dirinya menjauh dari Jayden, dia berkata, “Tampaknya kamu juga bisa penerjemah antara Emil dan kami.”


“Semoga,” bisik Jayden sungguh-sungguh.


Ruangan ini memang lebih luas. Ada dua deret meja komputer di sana. Empat komputer di setiap deretnya. Mereka hanya terisi separuh. Para petugasnya duduk berdekatan di deret depan, lebih dekat ke layar. ICPA selalu menggunakan dinding sebagai layar. Gambarnya tersorot dengan jelas ke layar. Di sana, nampak si gadis kecil duduk terikat di kursi. Sesuatu berwarna putih melilit badannya ke kursi. Wajahnya pucat. Giginya bergemeretak.


“Dia pasti akan kena radang hawa dingin,” ujar Jayden.


“Tidak, agen Jayden. Dia sedang menderita radang hawa dingin.”

__ADS_1


Benar, Jayden juga tahu. Dia hanya tidak mau membuatnya seperti diperjelas saja. Jayden sekarang tertarik pada para penjaganya. “Apa mereka penjaga yang kamu maksud? Mereka lebih mirip boneka salju ala halloween. Apa mereka bergerak?”


“Sejauh ini, mereka hanya bisa memutar kepala mereka.”


Sementara si gadis gemetaran, berdiri empat sosok kerdil di sekelilingnya. Keempatnya memang sangat mirip dengan boneka salju. Mereka dibuat dari tiga bulatan bola salju beda ukuran, bermata kancing, dengan mulut cemberut dari butiran arang, bertangan ranting. Bergeming di tempat.


“Jadi, kita tidak tahu apakah mereka sungguhan berbahaya atau tidak?” tanya Jayden lagi. Tanpa menunggu jawaban, dia memberi jawab atas pertanyaannya. “Tentu, lawan kita Mr. North Pole. Lebih baik, kita anggap mereka berbahaya.”


Emil kemudian menunjukkan beberapa kondisi detail dari ruang pendingin tersebut dan lokasi agen yang mereka kirim. Setiap sisi dinding pada ruangan itu mengalirkan literan cairan pendingin. Mereka memang tidak lagi menggunakan ventilasi pada bagian atas ruangan. Teorinya, kalau mereka bisa mengubah cairan pendingin tersebut dengan cairan pemanas, masalahnya selesai.


Jayden ingin memastikan sesuatu. “Sebelum kita mulai, apakah mereka tahu kalau ICPA terlibat?”


Emil menggeleng. “Dia pasti tahu. Tapi, aku cukup yakin dia belum melihat agen kita.”


“Sempurna. Kalau begitu, mulailah memanaskan air.”


Singkat cerita, semua berakhir baik. Kecuali bagi Mr. North Pole, tentunya.


ICPA memang tidak berhasil menangkap si dalang penculikan, tapi mereka berhasil menyelamatkan putri menteri. Hal yang tak berakhir baik selain Mr. North Pole dialami juga oleh Jayden. Sudah rahasia umum kalau lebih banyak agen tak suka padanya daripada yang menganggapnya teman.


“Terima kasih.” Emil membuka percakapan ketika semua orang telah meninggalkan ruangan. Dia yang terakhir karena harus membereskan hal ini dan itu. Emil sendiri bukan tak disukai. Kebanyakan agen hanya menganggapnya aneh. Meski begitu, mereka menganggapnya teman.


“Sebenarnya, aku enggak benar-benar membantu. Itu idemu,” jawab Jayden. Awalnya, dia ikut tinggal di sana, memperhatikan bagaimana Emil mematikan komputer dan menyimpan peralatan. Sekarang, dia pun ikut membantu. “


“Bukan itu,” ujar Emil. “Maksudku, sekarang.”

__ADS_1


Jayden menyadari kalau Emil mengucapkan terima kasih padanya perihal membantu beres-beres. “Oh. Sama-sama. Aku hanya enggak suka melihat barang tercecer. Kalau mereka disimpan di tempatnya, kita enggak perlu susah-susah mencarinya.”


Emil mengangguk. Dia berhenti sejenak di tengah ruangan yang sudah terang benderang. Lampu garis itu membanjiri setiap sudut dengan cahaya putih. “Apa yang biasa dilakukan orang saat di bar?”


Meski bingung dengan pertanyaan spontan tersebut, Jayden tetap menjawab. “Minum bir. Ngobrol. Kenapa?”


“Itu … membuang waktu.”


“Tergantung bagaimana kamu melihatnya.” Jayden bisa menebak dengan tepat. “Kamu menolak ajakan rekan-rekanmu ke bar. Apa yang kamu lakukan kalau begitu? Berselancar di dunia maya? Melakukan eksperimen?”


“Apa itu aneh?”


“Tidak. Tapi, kamu juga perlu bersenang-senang. Teman yang tepat itu menyenangkan. Bahkan, bisa membawamu lebih maju dari posisimu sekarang.” Jayden menjabarkan hal yang dia tahu bukan hal yang dia alami.


“Sangat menyenangkan. Kalau itu memang benar terjadi. Perkumpulan orang aneh.”


“Di bagian dunia mana pun selalu ada tempat bagi orang aneh.”


Emil tersenyum. “Apa itu ada dalam data?”


“Entahlah. Tapi, setiap orang aneh dalam cara mereka masing-masing. Setidaknya, kamu sedang lihat satu di depanmu saat ini.” Jayden tak pernah menganggap dirinya aneh. Tapi, berada dalam satu ruangan berdua dengan anak yang lebih muda itu membuatnya sadar. Emil tidak seaneh kata orang. “Setidaknya, ICPA menerima mereka.”


“Jadi, bagaimana penyelidikanmu soal robot pembunuh, agen Jayden?”


Tidak menjawab, Jayden malah melempar pertanyaan balik. “Mau membantuku? Ada ribuan data yang harus kuperiksa.”

__ADS_1


“Apa aku harus minum bir dan ngobrol denganmu?”


“Kamu bercanda? Aku akan menghajarmu kalau mengganggu konsentrasiku.”


__ADS_2