Zetta Sonic

Zetta Sonic
Hidden Eyes


__ADS_3

Tentu saja, Alex kalah. Jayden telah meningkatkan simulasi di dalam ruang training. Ketika tembakan jaring keluar, Alex gagal menghindar, membuatnya terjembab ke tanah sampai Jayden mematikan semua simulasi latihan. Dua kegagalan dalam sehari bukan sesuatu yang menyenangkan. Walau demikian, dia menepati janjinya dan mengundang Jayden pergi bersamanya ke universitas ternama di ibukota. Universitas Greynia.


Universitas ini punya ribuan mahasiswa, puluhan gedung tinggi dalam satu kompleks, juga pengajar pakar di setiap bidang. Salah satu jurusan paling diminati adalah robotika. Tak heran kalau jebolan universitas ini selalu jadi incaran perusahaan ternama.


Alex datang ke sana diam-diam. Maksudnya, dia menyembunyikan kedatangannya dari sang ayah juga Preston. Seperti biasa, dia menggunakan alasan bermain bersama teman. Entah mengapa, alasan tersebut selalu bekerja seperti sihir.


Jayden menjemput Alex di pusat perbelanjaan. Menumpangi sebuah hatchback putih, keduanya pun masuk ke jalan tol.


“Aku enggak tahu kalau ICPA punya mobil low profile seperti ini,” ujar Alex. Dia menoleh ke belakang, mengamati kalau mobil tersebut menyimpan kejutan. Di baris kedua, Alex hanya mendapati jok kulit seperti yang sedang dia duduki dan Emil yang sedang terlelap sambil memakai headset.


“Maaf mengecewakan.” Jayden melempar senyum, seolah bisa menebak pikiran anak itu. “ICPA punya banyak fasilitas. Mobil ini salah satunya. Awalnya, Special Force tidak punya akses ke sana sampai Nadira memutuskan mengungkap keberadaannya ke ICPA yang lain. Sekarang, kita punya akses ke semuanya. Sebut saja seperti mobil, pesawat, laboratorium, bunker, gudang senjata, bahkan rumah sakit.”


“Uh-huh. Mobil hasil sitaan?” tebak Alex.


Jayden mendesah pendek, tak suka saat Alex bisa menebak dengan tepat.


“Jadi,” lanjut Alex, “kenapa kamu tertarik dengan pameran semacam ini kalau sudah punya akses ke seluruh penelitian ICPA?”


“Pertanyaan bagus! Para mahasiswa biasanya punya ide mentah. Kami biasanya bisa dapat inspirasi dari mereka.”


“Kalian mencuri ide mereka.”


“Bersama orangnya. Tapi, tentu saja itu tergantung sehebat apa ide mereka.”

__ADS_1


“Tunggu! Kalian merekrut mereka jadi bagian ICPA?”


“Kurang lebih.”


Mereka tiba di depan universitas sebelum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Acara tersebut diselenggarakan di gedung expo. Langit-langit gedung tersebut begitu tinggi. Luasnya tak perlu digambarkan. Sejauh mata memandang, mereka bisa melihat bendera-bendera tergantung dengan simbol universitas lengkap dengan slogan beserta nama acara.


Ketiganya berbaur dengan mudah. Jayden mengenakan blazer hitam, membuatnya nampak seperti model betulan. Beberapa gadis gagal menahan diri untuk menoleh padanya. Emil, sebaliknya, nampak seperti kutu buku yang entah baru keluar dari ruang bawah tanah mana. Dia mengenakan jaket panjang dengan tudung senantiasa menutupi kepala. Alex sendiri mengenakan kemeja bawah jaket biru gelap. Ukurannya normal, tidak sepanjang milik Emil yang selutut.


Alex bisa mendengar sekelompok anak muda terkesiap melihat proyek-proyek robot yang tengah dipamerkan. Sementara dia dan rekan-rekannya biasa saja. Kalau belum pernah melihat robot pembunuh berkeliaran, mungkin Alex akan sama.


Tak jauh dari posisi mereka berdiri saat ini, ada sebuah robot berwarna putih. Kepalanya bulat, tangannya dibentuk persis seperti manusia, kakinya berupa roda tunggal, badannya sendiri hanya berupa pasak tunggal. Tidak ada yang istimewa darinya. Si robot bergerak maju mundur sambil sesekali mengedarkan pandangan.


“ICPA punya yang lebih baik dari itu,” bisik Emil.


Mereka pun mulai berjalan menyusuri gang yang terbentuk di antara deretan stan pameran. Setiap mahasiswa punya ukuran stan yang sama. Setiap stan menggunakan tape sebagai pembatas yang dilekatkan di lantai. Dinding-dinding putih tipis sementara memberikan kesan ruangan bagi setiap stan.


Sejauh ini, Alex hanya mendapati satu benda menarik di antara banyaknya barang yang ada di sana. Barang tersebut merupakan sebuah piringan hitam lebar serupa piring. Fungsinya menihilkan gravitasi. Artinya benda apa pun yang berada di atas piringan tersebut akan kehilangan daya gravitasi. Ini membuatnya bisa melayang-layak bak astronot di bulan.


Ketika mereka berpindah ke stan berikutnya, Alex merasakan dirinya terusik. Sesuatu atau seseorang tengah mengawasi mereka. Setiap kali dirinya mengedarkan pandangan, dia tak mendapati orang mencurigakan sama sekali. Mungkin itu hanya perasaannya. Anehnya, saat mereka melanjutkan perjalanan, Alex masih merasakannya.


“J, cuma perasaanku atau ada yang mengikuti kita?” bisik Alex sembari menyamakan langkahnya dengan Jayden. Dia menahan diri untuk tidak menoleh ketika bicara. “Kalau itu salah seorang gadis yang jadi fans dadakanmu, ini sangat enggak lucu.”


“Fans apa?” Jayden melirik anak di sampingnya tanpa menggerakkan kepala.

__ADS_1


Alex mendesah. Tiger benar. Kadang Jayden tidak menyadari kalau dia punya daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Alex berusaha mengabaikannya. Sayangnya, bukannya merasa kalau perasaan itu lenyap, Alex justru merasakan kalau perasaan tersebut makin menjadi. Dia bahkan mulai menghafalkan orang-orang di sekelilingnya. Kalau pengintai itu memakai baju biasa, Alex akan menyadarinya. Namun, dia tak menemukan apa pun.


“Emil, kamu juga enggak merasakannya?” tanya Alex yang hanya dijawab dengan gerakan angkat bahu. Pertanyaan salah pada orang salah.


“Tenang, Alex.” Jayden menepuk bahu Alex. “Mungkin kamu terlalu sering berada di lapangan belakangan ini. Tidak ada yang tahu siapa kamu, ingat? Kalau memang kamu melihat ada yang mencurigakan, bilang saja. Jason ada di sini.”


“Jason?” Alex berpikir dia salah dengar.


“Di bagasi mobil. Aku bisa memanggilnya kapan pun.”


“Setelah merusak paksa bagasi?” tebak Alex, merasa geli


“Mereka tidak akan keberatan ada lubang di bagasi asalkan semuanya aman.”


Alex tahu teorinya. Sejauh ini tidak ada seorang pun selain anggota Special Force tahu siapa dirinya. Di sisi lain, dia tahu kalau agen rahasia seperti dirinya bisa jadi incaran para penjahat. Jayden sendiri pernah bilang agar dirinya selalu waspada. Sayangnya, teori dan keadaan lapangan sering berbeda.


Mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri setiap lorong, mengamati benda-benda menarik. Jayden minta izin untuk mengambil gambar pada benda-benda yang menarik buatnya. Emil memilih untuk mencatat di ponsel pintarnya. Alex harus jujur tak bisa menikmati kunjungannya. Salahkan instingnya.


Alex tetap merasa gusar bahkan ketika mereka sudah berada di akhir. Sekali lagi, matanya menyapu ruangan. Tidak ada yang mencurigakan. Semua orang di sekeliling mereka senantiasa berubah. Tidak terlihat orang sama yang sedari tadi dekat. Posisi kamera pengawas berada tinggi di atas, sudah sewajarnya ada orang yang mengawasi mereka dari sana. Jadi, kamera itu jelas tidak masuk hitungan.


Jayden memimpin rekan-rekannya keluar dari aula.


Alex menyempatkan diri berbalik sekali lagi. “Mungkin aku memang terlalu banyak di lapangan dan kalian terlalu lama di belakang meja,” bisiknya nyaris tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2