
Di belahan dunia yang lain, dokter Vanessa akhirnya memasukkan kembali ponselnya dalam saku blazer. Alex sudah berulang kali menolak panggilannya. Dia mengacuhkan perintah Nadira, pergi dari markas Special Force, dan tak mau membuat kontak dengan anggota Special Force. Dokter Vanessa berharap ada orang lain dalam Special Force yang mau bersikap sedikit lebih lembut dan mencari Alex.
Sisi keibuannya tergelitik. Dia cemas kalau anak itu akan melakukan hal bodoh. Alex memang pintar. Mungkin, terlalu pintar. Justru karena itulah, Alex bisa terlibat dengan mereka semua. Anak itu berhasil menemukan di mana markas Special Force, menghalangi penjahat yang hendak mengambil Dragon Blood, dan malah menjadi Zetta Sonic sendiri. Pintar dan berani. Dokter Vanessa lebih khawatir kalau anak itu melukai dirinya sendiri daripada melukai orang lain.
Sembari mendesah pelan, sang dokter melemparkan tatapannya ke langit senja di balik deretan dinding kaca. Pemandangan dari lantai atas gedung pencakar langit tak pernah gagal memukau dirinya. Ditambah lagi, mereka berada di kota Sirthalia yang disebut-sebut kota terindah di dunia.
Menara putih yang merupakan salah satu ikon Sirtahlia terlihat jelas dari posisi Vanessa saat ini. Di bawah langit senja, warnanya jadi sedikit keemasan. Taman di dekatnya kelihatan begitu kecil namun tetap cantik. Begitu pula dengan kolam air mancur di dekatnya. Sayangnya, mereka tak membantu meringankan beban pikirannya.
Dokter Vanessa mendengar derap suara kaki ringan di belakangnya. Suara langkah sepatu pria disertai aroma parfum maskulin. Tanpa perlu berbalik, dia tahu siapa yang tengah mendekat.
Seorang laki-laki tinggi berwajah kotak menyeberangi lantai marmer menuju Vanessa. Dia mengenakan setelan jas hitam. Warnanya masih kalah hitam bila dibandingkan dengan rambutnya. Rambut ikalnya bukan cuma hitam legam tapi juga mengilap di bawah sinar lampu putih. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana sembari dia berjalan.
Dokter Vanessa berpaling, memberi senyum palsu, menyebut nama pengunjungnya dengan tepat. “Dokter English.”
“Aku lebih suka dipanggil profesor. Tapi, aku lebih suka kalau kamu memanggilku Dominic saja,” ujar pria itu. Matanya menatap lekat lawan bicara. Dengan senyum tipis dan tatapan lembut, dia melanjutkan. “Tetap cantik seperti biasa, Vanessa. Matahari senja akan malu dengan indahnya gelombang rambut emasmu.”
Dokter Vanessa bertahan untuk tidak melangkah mundur. Dokter Dominic English bukan pria pertama yang berusaha merayunya di acara Konferensi Golden Brain. Vanessa memang masih memukau di usianya. Tidak heran kalau banyak peneliti berusaha mendekatinya. Tak seorang pun repot-repot mencari tahu status pernikahannya saat berusaha merayu.
Untungnya Dominic berhenti dalam jarak batas yang bisa diterima Vanessa. Pria itu berdiri cukup jauh untuk bisa melihat wajah menawan Vanessa di depan langit Sirthalia yang kian gelap. Posisinya juga cukup dekat untuk mendengar semua ucapan lawan bicaranya.
Dominic membasahi bibirnya sebelum melanjutkan bicara. “Kamu kelihatan gusar. Ada sesuatu yang dihadapi Zetta Sonic?”
__ADS_1
Vanessa mengerjap. Dominic bicara tanpa menyebut ‘Special Force’ seolah dia begitu dekat dengan mereka. “Hanya kasus kecil,” jawabnya.
Dominic menggeleng. “Wajahmu menunjukkan lain.”
Vanessa menarik napas dalam-dalam. Dia tahu benar siapa lawan bicaranya. Dominic merupakan salah satu peneliti terpercaya dari Regis. Otaknya encer. Dia membuat banyak sekali temuan yang membuat Regis berhasil memukul mundur para kriminal. Terus melajang, tidak pernah berhasil mempertahankan seorang wanita lebih dari tiga bulan. Dilihat sepintas, Dominic lebih cocok jadi penjudi daripada peneliti. Di bawah setelan jas mahalnya, ada kemeja bunga-bunga yang dibuka sampai ke dada.
“Benar.” Vanessa akhirnya bicara lagi. “Mungkin aku hanya sedikit khawatir pada mereka. Ini pertama kalinya aku meninggalkan mereka dalam waktu lama.”
“Aura keibuan membuatmu jauh lebih menawan.”
Vanessa mengangguk sekali. Kakinya sudah mengambil langkah untuk menjauh. Namun, Dominic lebih cepat. Pria itu berhasil berada di depan Vanessa, membuatnya berhenti mendadak. Vanessa mengedarkan pandangan. Mereka berada di luar ruang pertemuan yang sedang terbuka. Istirahat akan segera berakhir. Di belakang Dominic, banyak para pakar sedang bercengkrama dengan teh atau kopi di tangan mereka. Pria ini tidak akan berani macam-macam.
“Tentu saja.”
“Kuharap itu bukan soal makan malam atau semacamnya.”
“Tentu saja bukan. Aku harus mengantre kalau mau makan malam dengan primadona sepertimu. Aku tahu beberapa orang berusaha mengajakmu bicara berdua. Membahas pekerjaan dan hal-hal pribadi. Aku cukup yakin banyak orang lebih tertarik pada yang terakhir.”
“Bagaimana denganmu?”
Dominic terkekeh. Dia suka ketika wanita di depannya melemparkan pertanyaan berani seperti itu. “Percayalah. Aku bukan salah satu dari mereka. Ada banyak hal jauh lebih menarik dari hal pribadi.”
__ADS_1
“Sungguh?”
“Anggap saja aku lebih tertarik dengan hal yang lebih kental dari darah. Bukan warna merah, warna hijau sepertinya jauh lebih menantang.”
“Dengar, kalau kamu mau membahas soal Dragon Blood, kamu harus lakukan itu dengan profesor Otto. Aku sama sekali tidak tahu soal eksperimen yang dia lakukan. Dan, seperti dugaan orang-orang di sini, profesor tidak datang untuk menjaga kerahasiaannya. Jadi, maaf tidak bisa memberikan jawaban yang kamu inginkan.”
“Aku bahkan belum memberikan pertanyaan, Vanessa manis.”
Vanessa melempar senyum lagi lalu melangkah. Dominic membiarkan Vanessa berjalan melaluinya. Meski begitu, dia tetap bicara karena yakin kalau lawan bicaranya akan berbalik padanya segera.
“Apa kamu tahu apa kunci bagi Zetta Sonic bertahan hidup?” Dominic bertanya lirih, seakan berbisik.
Vanessa mendapati dirinya bergeming. Pertanyaan Dominic memang menggelitik rasa ingin tahunya. Kunci bagi Zetta Sonic bertahan hidup. Topik tersebut bukan sesuatu yang diketahui Vanessa. Hingga saat itu, dia tidak mengerti apa pun mengenai Alex. Tidak seorang pun juga bisa menjelaskan kenapa Alex bertahan sementara yang lain tidak. Kondisi Alex yang sering tidak stabil juga membuatnya bertanya-tanya.
Dominic berpaling. Dia bicara meski lawan bicaranya memunggunginya. Dia tidak keberatan bicara pada rambut emas dokter Vanessa. “Masih banyak potensi yang belum kalian gali. Sonic bahkan belum memahami sepuluh persen dari kemampuannya sendiri. Hal yang sangat-sangat disayangkan.”
Vanessa hendak berbalik dan bertanya. Saat itulah, mereka mendengar suara pengumuman bergema. Konferensi akan segera dimulai. Satu per satu peneliti pun memasuki ruangan. Gantian Dominic yang kini berjalan meninggalkannya. Vanessa masih bergeming, berusaha menenangkan dirinya. Kalau profesor saja yang membuat Dragon Blood tidak bisa menjelaskan soal Zetta Sonic, seharusnya Dominic juga tidak.
Vanessa berjalan lagi.
Seolah tahu kalau wanita itu ada di belakangnya, Dominic melempar senyum padanya lalu mengatakan hal yang membuat wanita itu mengernyit. “Apa kamu suka hawa panas, Vanessa? Kupikir sebentar lagi kamu bisa mengharapkan Sonic melelehkan sesuatu entah di mana. Semoga saja, itu bukan gedung. Dan, bukan di sini.”
__ADS_1