
Alex dan Cody mulai melangkah turun. Tepat saat itu, Jason berkelip merah. Dia memberikan sinyal bahaya pada Alex. Pada layar seragamnya, Alex bisa melihat satu robot gorila berlari ke ujung tangga turunnya. Cody yang ada di belakangnya terkesiap. Dia juga tidak mungkin melewatkan kedatangan makhluk berat tersebut. Setiap langkahnya menimbulkan suara derap yang bising.
“Tunggu di sini!” seru Alex.
Cody tak menjawab, dia bergeming di sana.
Alex tak lagi repot-repot menuruni tangga. Dia langsung saja melompat turun. Mereka telah ketahuan. Sudah kepalang tanggung untuk mundur dari ini semua. Alex tidak mendarat pada lantai. Dia mendarat tepat di atas kepala lawannya.
Si robot gorila oleng dibuatnya, meski tidak sampai jatuh. Alex menggunakan kepala si robot sebagai tumpuan untuk melompat ke tanah. Tanpa menunggu si robot itu bergerak lagi, Alex mulai menyerang. Dia menendang perut lawannya yang dirasa lebih empuk dibandingkan bagian yang lain. Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar.
Dengan bantuan sistem, Alex mengetahui kalau seluruh tubuh si robot dilapisi oleh bahan campuran yang keras. Serangan Alex tidak memberikan kerusakan berarti padanya. Sama seperti robot sebelumnya yang dilawan Alex, robot itu memukul dadanya sambil berteriak. Suaranya seperti erangan hewan buas. Kencangnya jelas bisa memanggil rekan-rekan robot lainnya.
Alex teringat ucapan Jayden soal orang-orang yang ada di dalam robot tersebut. Robot itu menggunakan orang sebagai sumber energi. Kalau Alex menggunakan energi Dragon Blood untuk mengalahkan musuhnya, dia bisa membunuh orang di dalamnya juga. Kalau dia hanya sekadar ingin mengalahkan mereka, bisa jadi si robot menguras energi orang di dalamnya yang juga mengakibatkan kematian. Kalau Alex tidak menyerang sama sekali, dia sendiri yang bisa terbunuh. Pilihan manapun tidak memberikan solusi baginya.
Sejauh ini, dia juga belum tahu apakah kematian Marcel murni karena serangan darinya atau energi yang diserap si robot, atau kombinasi keduanya. Memikirkan itu, Alex merasa lebih bingung lagi.
Tanpa sadar, Alex mengepalkan tangan. Meski begitu, Alex tetap berlari maju. Dia tak membiarkan lawan maju lebih dulu. Alex memberikan pukulan dan serangan. Dia memastikan serangannya tidak benar-benar mengenai titik vital. Belajar dari video para agen ICPA menyelesaikan misi, Alex belajar banyak. Termasuk bagaimana menyerang titik lemah lawan.
Pemikiran itu mengantarnya pada kesadaran lain. Si robot bergerak bukan berdasarkan keinginan manusia di dalamnya. Itu artinya, Alex bergerak melawan robot sesungguhnya. Sebuah kecerdasan buatan. Masalahnya sekarang adalah kecerdasan buatan tersebut dibuat dari apa. Kalau kecerdasannya dibuat berdasarkan para agen ICPA, maka masalahnya lebih besar lagi.
Setelah memberikan pukulan telak pada kepala lawan dan membuatnya jatuh terjerembab, Alex buru-buru mundur.
__ADS_1
“Bug, aku butuh ide!” Alex tak ingin menyebut nama temannya di sana. “Dan, kamu butuh nama lebih baik dari itu.”
“Apa yang kamu butuhkan?”
“Aku butuh menghentikan robot ini tanpa merusaknya. Aku ingin membuatnya konslet agar berhenti.”
“Itu bisa membunuh orang di dalamnya!”
“Kecuali aku bisa menemukan titik mana yang aman. Bantu aku menganalisa.”
“Apa maksudmu?“ Cody berhenti. “Kamu ingin aku mencari panel kontrol atau tombol Stop?”
Cody masih terperangah di tempatnya. Dia melihat Alex dalam seragam serba hitam itu berlari menuju lawan. Dia menyerang si robot dan si robot menyerangnya balik.
Ketika Alex hendak kembali menendang perut lawannya, si robot gorila sudah bergerak lebih dulu. Dia menyatukan kedua tangannya dalam kepalan besar. Kepalan tersebut menghantam ke lantai. Lantainya langsung retak, serpihannya berterbangan di udara bercampur dengan debu. Kalau Alex tidak menggunakan helm, serpihannya mungkin sudah masuk ke matanya.
Serangan si robot gantian membuat Alex oleng. Saat itu, lawannya membuka dada. Di sana, muncul moncong senapan mesin. Pelurunya berdesingan di udara menuju Alex.
Spontan, Alex mengangkat tangannya ke udara. Zet-Arm memunculkan sebuah perisai tebal transparan kehijauan. Perisai tebal itu jelas menguras energinya. Alex bisa memantau penggunaan energi Dragon Blood dari tubuhnya pada layar di depan helmnya.
“Lihat itu!” Cody tiba-tiba berseru. “Ada kotak kecil di antara senapan mesinnya!”
__ADS_1
Alex memicing di tengah serpihan peluru yang pecah mengenai perisainya. Cody benar. Dia bisa melihat adanya kotak kecil di antara senapan mesin kembar tersebut. Kotak itu punya sedikit celah pada bagian bawah, menunjukkan kalau bagian itu bisa dibuka.
Alex tersenyum simpul. Dengan perisai tetap menyala, dirinya mulai melangkah maju. Si robot terus menembak tanpa peduli. Sepertinya dia diprogram untuk tetap menembak selama lawan belum jatuh. Sekarang tinggal mana yang terjadi lebih dulu, Alex mencapai si robot atau peluru si robot habis.
Ternyata keduanya. Alex tiba di depan robot itu tepat ketika pelurunya habis. Moncong senapan mesin itu tak lagi berputar. Ada suara klik ganjil di sana. Si robot bergeming. Sistemnya dibuat bingung ketika menghadapi masalah semacam ini.
Tanpa menunggu lama, Alex mencabut kotak tersebut. Dia melakukannya sedikit terburu-buru sampai ada bagian lain yang robek karenanya. Pelapis pada bagian dalam robot itu jelas tidak sekeras bagian luarnya. Di balik pintu itu, Alex menemukan penutup lagi dengan empat baut pada setiap sisinya.
Alex tidak repot-repot membukanya dengan obeng. Begitu mengetahui kalau bisa mengoyak bagian dalam si robot, Alex memegang bagian yang mencuat akibat tarikannya tadi. Berikutnya, dia menarik sekuat tenaga bagian tersebut.
Kekuatan Dragon Blood membuatnya hampir merusak seluruh panel pada bagian dada. Kabel-kabel tipis terpotong. Percikan mungilnya menghiasi ketika Alex mencabut sebagian besar panelnya. Di balik panel itu, Alex melihat orang. Dia melihat wajah pucat yang terlelap namun masih hidup. Pemandangan itu membuatnya bergeming sesaat. Perlahan, si robot gorila pun tumbang di atas lantai dengan suara berdebum.
Baik Alex, baik Cody, keduanya juga diam. Mereka menunggu sejenak. Berikutnya, Alex berjalan pelan untuk melihat lebih dekat. Dia takut melihat sosok yang tewas dengan penuh luka seperti Marcel. Wajah itu terlelap. Sistem dalam seragamnya mengenali kalau orang tersebut masih hidup.
Alex pun menghela napas lega. Dia berpaling pada Cody. “Ternyata kita tim yang lumayan juga.”
Cody terkekeh. Dia juga hendak membalas ketika melihat bayangan di belakang Alex.
Alex sendiri tersadar olehnya. Dirinya mendadak ditutupi oleh bayangan besar dan gelap. Baru berpaling, dia melihat kepalan besar. Kepalan itu menghantam hancur tangki terdekat sekaligus rangkaian besi rumit yang terhubung padanya. Kepalan itu tidak berhenti begitu saja namun berlanjut mengenai dirinya juga.
Cody terkesiap lagi. Sosok yang baru saja membuat temannya terpental itu mulai melangkah mendekat. Di bawah sinar lampu remang, Cody melihatnya punya rupa robot gorila. Dia memilih dua perbedaan besar dibandingkan robot sebelumnya. Robot ini berwarna merah sepenuhnya dan ukurannya nyaris tiga kali lipat manusia normal. Lebih buruk lagi, si robot raksasa itu kini menoleh padanya.
__ADS_1