
Bahkan di dalam mobil yang kedap, mereka masih bisa merasakan panasnya dari kobaran api. Kondisi di belakang mereka seperti neraka. Terornya terasa. Tiger mencengkram serat setirnya sembari mengamati kondisi lewat pantulan kaca spion.
Emil menoleh ke belakang lalu mendesah. “Orang itu tidak bercanda. Ranselnya berbahaya. Aneka zat kimia. Ledakan. Dia membawa neraka di punggungnya.”
“Dari mana dia menembak?” tanya Alex kepada dirinya sendiri. “Semuanya kini tertutup api.”
“Tertembak?” ulang Tiger. “Kamu berpikir ada yang menembak ransel Bompeii dan membiarkannya meledak?”
“Kalau bukan itu, apa lagi?”
“Apa alasannya, Alex?”
“Kalian ingat kalau dia pernah bicara soal profesor Otto? Kupikir dia tahu lebih dari itu. Mungkin dia pernah melakukan penelitian bersama para peneliti lainnya lalu ada yang tidak ingin dia membocorkan…” Alex berhenti. “Kloster.”
[Lebih baik kita tidak langsung lompat pada kesimpulan. Tapi, kupikir aku melihat sesuatu yang mencurigakan.]
“Aku juga.” Alex menyadarinya.
Di tengah laut, dia melihat gelombang yang tak wajar. Itu bukan sekadar gelombang melainkan riak air akibat sesuatu telah masuk di bawah permukaan air. Sama seperti Jayden, dia bisa menebak apa itu. Robot pembunuh.
“Itu bukan robotmu, ‘kan?” tebak Alex.
[Tidak. Robot kita berada di sini karena belum dilengkapi anti panas.]
Alex buru-buru membuka pintu. “Aku akan mengejarnya.”
“Hei!” Tiger spontan berseru, membuat Alex langsung menoleh. Tiger menggeleng, “Kamu melupakan pistolmu.” Tiger melemparkan pistol laser pada Alex. “Satu lagi. Jangan mati! Aku serius.”
__ADS_1
“Aku membuatmu rindu, eh?”
“Tidak ada apa-apanya dibandingkan para penjahat itu.” Tiger langsung melipat tangannya di depan dada selesai memberikan pistol. “Jangan besar kepala.”
Emil ikut menengok dari bangku belakang. “Alex. Tidak ada Jason. Kami tidak bisa memantau kondisi dalam air. Kamu akan sendirian. Begitu berada di dalam air.”
“Aku membuatmu rindu juga?”
“Ya. Tentu.” Berbeda dengan Tiger, Emil menjawab dengan santai. “Tanpamu. Kita tidak punya misi.”
Alex tercengang sesaat lalu buru-buru menambahkan. “Aku enggak sendirian. Jayden bersamaku.”
Alex tak melanjutkan percakapan. Dia berlari keluar dari mobil ke arah laut. Begitu berada cukup dekat, Alex menceburkan dirinya sendiri. Sistem di dalam seragamnya pun berganti. Pendorong pada pelindung dadanya mulai berputar, membantunya menyelam dalam air. Sensornya menyala, mendeteksi berbagai hal dalam kegelapan. Oh, betapa sukanya dia dengan seragam baru itu.
Jauh di depannya, Alex telah mendeteksi si robot. Layar dalam helm menunjukkan radar dengan titik merah targetnya. Dengan bantuan Dragon Blood sebagai sumber tenaga, Alex bisa berenang lebih cepat. Jauh lebih cepat dari bayangannya dan batas fasilitasnya, jadi dia harus berhati-hati agar tidak berlebihan.
Alex mengarahkan tangannya ke depan. Sistem pelindungnya aktif. Roket-roket kecil itu meledak tanpa memberikan dampak berarti padanya. Selagi ledakan terjadi, si robot berenang lebih cepat. Alex tak melepaskannya. Dia sedang menimbang haruskan menghancurkannya langsung atau membiarkan si robot menuntunnya pada si pelaku.
Robot itu berpaling lagi. Dia kembali menembakkan roket-roket kecil. Kali ini, Alex menghindar dengan mudah.
Mengetahui kalau serangannya tidak ada yang berhasil, si robot pun menghampiri Alex. Pertarungan di dalam air tidak terelakkan lagi. Si robot dibuat dari karbon yang ringan sehingga bisa bergerak dengan mudah dalam air. Itu tidak membuat Alex kesulitan. Dia menghindari serangan pertama robot lalu memegang salah satu lengan si robot. Dipatahkannya lengan tersebut seperti ranting.
Mata merah si robot berkedip. Menyadari kalau ada bagian tubuhnya yang rusak, si robot pun menjaga jarak. Dia berusaha kabur. Tugasnya sudah usai dan prioritasnya saat ini adalah kembali, bukan bertarung. Masih dengan kecepatan yang sama, si robot berusaha berenang menjauh.
Alex, sebaliknya, dia mengerahkan kekuatannya lebih banyak. Dia lebih cepat. Tangannya sudah hampir meraih si robot tepat ketika si robot mulai menukik. Robot itu berusaha keluar dari air. Alex pun mengejar.
Si robot memecah permukaan air. Badannya telentang di tas permukaan. Kakinya kataknya menyatu jadi satu dan mulai berputar bak baling-baling. Kecepatannya meningkat berkali lipat. Dia meninggalkan Alex yang baru keluar dari permukaan.
__ADS_1
“J! Bantu aku memantaunya.”
[Arah jam sebelas. Kamu belum terlalu jauh darinya.]
Sistem di dalam seragam Alex kembali melakukan penyesuaian. Kalau tadi di dalam air, seragamnya harus mengaktifkan mode selam dengan radar, sekarang dia menunggu perintah Alex. Terbang sepertinya cukup efektif. Alex menyalakan roketnya. Pendorong yang tadinya berfungsi di dalam air kini mendorongnya keluar dari air dan mengudara.
Situasinya gelap. Alex tak mengenali di mana posisinya berada. Dia melihat hamparan laut luas. Kota terlihat jauh dan begitu kecil di belakangnya.
Alex terbang rendah berusaha mengikuti ke mana si robot pergi. Si robot berenang lurus menuju kegelapan. Alex tak bisa mendeteksi apa pun di luar sana, kecuali — tentu saja — ada sesuatu di dalam laut. Alex menyadari kesalahannya ketika si robot mendadak lenyap dari atas permukaan laut.
“Sial! J! Aku kehilangannya!”
Alex berhenti mengudara. Dia mematikan roketnya. Dengan dua tangan yang saling memegangi lengan, Alex menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Sistemnya masih sedang menyesuaikan kondisi ketika Alex terkesiap. Sesuatu benda besar melintasinya. Seekor ikan besar. Bukan sembarang ikan, melainkan hiu. Hiu putih.
[Alex! Lari dari sana!]
“Sedikit terlambat!”
Hiu yang melintas di depannya langsung berbalik kembali pada Alex. Hewan itu menyadari kehadirannya. Alex sendiri tidak mau bertarung. Dia tidak boleh kehilangan si robot. Hanya dia yang bisa mengikuti ke arah mana robot itu pergi. Dia sendirian.
Alex melakukan manuvernya sebaik mungkin. Dia lebih kecil dari si hiu. Secepat apa pun hiu itu bergerak, dia masih harus berputar balik bila ingin mendapatkan mangsanya. Alex mengaktifkan mode kamuflasenya lagi untuk mengecoh dan Jayden langsung berkomentar.
[Kupikir hiu itu tidak memakai matanya untuk menemukanmu.]
“Benar juga.” Alex mematikan mode kamuflase sambil melirik tampilan di depannya. Dia bisa melihat kondisi Dragon Blood di dalam tubuhnya sendiri. Energinya sudah berkurang separuh. Salahkan seragam itu yang menguras energi tanpa dia sadari. “Saran?”
[Kamu tanya padaku? Sungguh? Aku sudah bilang padamu. Lari dari sana alias berenang saja. Dia tidak akan bisa mengejar Zetta Sonic versi dua.] Jayden tersenyum ketika mengatakannya.
__ADS_1
Alex menyeringai. Seperti kata Jayden, Alex memelesat dalam air meninggalkan si hiu. Bukan satu, melainkan beberapa. Alex menyadari adanya hiu-hiu lain di dalam sana. Dia bahkan melihat bangkai kapal ketika menyelam lebih dalam. Juga ada palung menganga seperti lubang hitam. Namun, dia tak lagi melihat di mana si robot sasarannya.