
Alex jelas tak bisa beristirahat dengan kondisi demikian. Alih-alih kembali ke ranjang, dia justru bergegas ke markasnya sendiri. Kali ini dengan sedikit improvisasi. Dia tak memiliki seragam tempur. Tidak ada roket apalagi pesawat. Dia harus menyetir sendiri. Dia akan kena masalah kalau sampai ketahuan. Alex membuang kecemasannya. Dia tahu jelas prioritasnya.
Setibanya di markas, Alex mengira akan melihat banyak penyusup seperti ketika pertama kali dia tiba di sana. Saat itu, dia bertemu Damon dan pasukannya. Kali ini pun, Alex mengira akan menemukan hal yang sama. Ternyata tidak. Semua kelihatan normal. Tidak ada kerusakan, tidak ada pembobolan.
Dia hanya menemukan satu keanehan di lorong panjang dekat ruang komando. Ini soal Jason.
“Apa aku salah lihat atau Jason memang sedang membuat kaligrafi?” tanya Alex.
“Kupikir ini disebut mural,” jawab Tiger. “Nadira enggak akan suka ini. Kita enggak bisa menutupinya dengan cat.”
“Tentu saja tidak.”
Alex ikut berdiri di samping Emil dan Tiger. Ketiganya memandangi Jason si drone tengah menembaki dinding dengan senjata lasernya. Dengan ketepatan serta kecepatan yang benar, hasil tembakannya terbaca seperti ketikan komputer. Sangat presisi.
“Tulisan apa ini?” Alex berpaling pada Emil. Dia tak mengerti, begitu pula Tiger. Namun, Emil terpaku nyaris tanpa berkedip. Tulisan Jason dihiasi oleh garis dan lengkung, membuatnya seperti sebuah cetak biru.
“Kupikir. Dia sedang menuliskan ide Jayden.” Emil bicara lirih dalam kekaguman.
“Ide?” Alex masih tak mengerti. “Maksudmu, senjata baru.”
“Tidak. Kupikir… Jayden ingin membuatkanmu peliharaan.”
“Maaf. Membuatkan apa?” Alex yakin dia salah dengar.
__ADS_1
Emil pun mengulangi ucapannya tanpa berpaling dari dinding yang kini berubah seperti papan tulis. “Peliharaan. Mungkin sebuah burung. Aku melihat bagian aerodinamika di sini. Lalu. Bentuk ini seperti paruh.”
“Kenapa Jayden ingin membuatkanku peliharaan?” tanya Alex.
“Hanya Jayden yang tahu.” Tiger mengangkat bahunya. “Aku lebih penasaran kenapa dia harus menggambarnya di sini? Kalau ini sejenis sistem yang aktif ketika dirinya lenyap, seharusnya Jayden cukup menyimpannya ke komputer. Kenapa harus menyimpannya di Jason?”
“Karena tidak akan ada yang mengira Jason menyimpan data seperti ini. Komputer selalu yang pertama dicurigai. Tapi, drone? Lagipula, Jason punya senjata laser, ingat? Dia bank data yang sempurna asalkan tidak hancur dalam pertempuran.”
“Jadi, apa yang begitu istimewa dari robot peliharaan ini? Memangnya dia bisa menemukan lokasi Jayden langsung?”
“Aku sedikit sangsi soal itu. Mungkin ada hal lain. Daripada itu, bagaimana kita bisa membuatnya? Ini… rumit.” Alex tak mau mengakui kalau dia tak memahami hal yang tertulis pada dinding besar tersebut. Jason sendiri sepertinya belum selesai. Entah berapa panjang dinding yang akan dipenuhi catatan si drone.
Mata Emil mengikuti pergerakan Jason. “Kita pikirkan itu nanti. Langkah pertama. Lebih baik menyiapkan komponennya.”
Tiger pun tertawa. “Hah! Benar sekali! Drone ini enggak mungkin bisa mengakses gudang komponen, ya?”
Tiger tak sempat mencerna apa maksud Emil, namun dia berhasil melakukannya dengan cepat. Alex sudah merosot. Sebelum anak itu terjatuh ke tanah, Tiger berhasil menangkapnya.
Alex mengerjap. Dia sendiri tak benar-benar apa yang terjadi. Untuk sesaat tadi, pandangannya menggelap. Ketika pandangannya kembali, dia melihat segala sesuatunya sedikit hijau, seperti sedang memakai kacamata dengan lensa warna hijau. Ini merupakan hal yang umum terjadi bila dia sedang menggunakan kekuatan Dragon Blood. Masalahnya, saat ini dia jelas tidak sedang memakai kekuatannya.
Alex mengerjap lagi dan lagi hingga pemandangannya kembali normal. Napasnya memburu. Peluh dingin membasahi dahinya. Telapak tangannya terasa panas. Untung saja semua segera berlalu. Perlahan, pandangannya kembali normal. Alex memejamkan mata sesaat lalu membukanya perlahan. Kali ini dia cukup yakin kalau sekarang seluruh pemandangan telah kembali pada warna aslinya. Tubuhnya juga terasa lebih normal.
Emil berdiri di depan Alex. Sekalipun bermata sayu, ada kecemasan terbersit di wajah Emil. Sementara Alex tak bisa memahami apa Tiger sedang khawatir atau marah padanya. Pria besar itu sedang memelototinya yang sedang duduk bersandar pada dinding.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” Alex bertanya. Suaranya normal, tidak bergetar.
“Seharusnya kami yang tanya,” balas Tiger. Pria besar itu mendesah pelan lalu menepuk bahunya. “Kamu butuh istirahat. Serius. Zetta Sonic harus selalu siap. Damon atau yang lain bisa datang kapan pun. Biar kuantar pulang.”
Alex menepis tangan Tiger. “Aku bisa pulang sendiri,” katanya seraya berdiri. Alex berdiam sesaat, memastikan kalau dirinya memang baik-baik saja. “Emil, beri tahu aku kalau ada kabar soal koordinat itu atau soal cetak biru ini,” lanjutnya sambil menoleh ke dinding di belakangnya. Tak jauh dari posisinya, Jason masih terus menggambar.
Pikirannya berkecamuk. Dia tahu kalau Emil benar. Fergus dan ICPA bisa membantu menemukan Jayden. Dia juga tahu kalau Tiger benar. Dia lelah dan sangat butuh istirahat. Tapi, entah kenapa ucapan Zetta Sonic harus selalu siap malah membuatnya lebih lelah. Dia tidak ingin jadi pahlawan yang tidak bisa melindungi teman sendiri.
Tiger melirik Zet-Arm di tangan Alex. Indikator energi Zetta Sonic masih penuh. “Alex, jangan gegabah.”
“Aku enggak melakukan apa pun,” sahut Alex.
“Belum,” sambung Tiger cepat sambil membuat senyum simpul. “Koordinat ponselnya ada di daerah pegunungan. Koordinat kedua ada di kota sebelah. Jangan menyetir ke sana. Kamu tidak punya seragam pelindung apa pun. Serahkan pada Fergus dan timnya.”
“Enggak perlu mengulanginya. Aku bukan anak kecil—” Alex berhenti.
Dia menatap bagaimana Tiger membuat senyum simpul. Tiger menyadarkannya akan hal lain. Tentu saja. Dia tidak perlu hadir di sana secara fisik. Namun, dia bisa hadir di sana secara virtual. Alex bisa meretas kamera pengawas di dekat koordinat tersebut dan memastikan kalau agen pilihan Fergus menjalankan tugasnya dengan benar.
“Aku tidak begitu memahami dunia kalian. Kalian berbagi dunia yang sama yang tidak kupahami,” ujar Tiger sambil menoleh ke arah Emil sebentar. Lalu, dia kembali pada Alex lagi. “Sebenarnya, aku ingin Emil yang melakukannya, tapi sepertinya kami akan sibuk di sini.”
“Kamu masih percaya ada penyusup lain di dalam ICPA.”
“Tentu saja. Aku percaya Caitlin tak terlibat.”
__ADS_1
Kali ini Alex membalas dengan senyum simpul. “Mau bertaruh?”
Alex bergegas meninggalkan markas Special Force. Kali ini, dia akan mencoba berada di posisi Jayden. Posisi operator atau pengawas atau penonton. Entah sebutan apa yang cocok. Tentu saja dengan sentuhan berbeda karena dia tidak akan setenang Jayden. Lagipula, siapa yang bilang kalau dia tidak punya seragam pelindung apa pun?