
Tentu. Tidak semua video membosankan. Beberapa justru membuat Alex begitu menikmati. Sebut saja seperti video di daerah gurun pasir. Sekelompok orang bersenjata naik mobil jeep terbuka. Para anggota ICPA mengejar mereka. Setidaknya ada dua orang agen lapangan ICPA, sisanya para polisi setempat. Kedua belah pihak saling menembak.
Video itu diambil dari sudut pandang mobil yang ditumpangi agen ICPA. Gambarnya sungguh bergoyang-goyang. Di awal, Alex cukup pusing melihatnya.
Kejar-kejaran itu berakhir ketika salah seorang polisi berhasil menembak ban mobil jeep. Mobil itu pun terperosok di pasir. Para penumpangnya berusaha berlari. Namun, para polisi mencegah dengan kembali menembaki. Ada yang tertembak di kaki, ada pula seorang yang tertembak di dada. Hanya ada seorang saja yang tidak mereka bidik.
Orang itu, sama seperti rekan-rekannya, mengenakan kemeja longgar dan kain yang menutupi kepalanya. Meski juga menyandang senjata, orang ini tidak menggunakannya. Salah seorang anggota ICPA melompat keluar dari kendaraan. Sementara Alex bisa melihat kalau videonya masih bergetar, artinya kendaraan tersebut masih bergerak meski pelan.
Agen itu berlari cepat. Dia mengenakan sepatu khusus buatan ICPA. Sepatu itu membantunya berlari di atas tanah berpasir. Pada kondisi semacam ini, teknologi memegang peranan penting pada keberhasilan suatu misi. Alex ingat judul video tersebut adalah penangkapan pertama pada Axmetoff.
Video berlanjut dengan adegan si agen memukul jatuh buruannya. Dibanding buruannya yang kurus, postur si agen memang jauh lebih baik. Dengan cekatan, agen ini membelenggu tangannya dengan borgol khusus. Itu pertama kalinya Alex melihat borgol semacam itu.
Alih-alih borgol yang biasa dipakai polisi, borgol ini lebih mirip gelang kulit tebal dengan lampu dan magnet. Gelang ini memaksa kedua tangan saling menempel. Lampunya berkelip, memberi kejut bila si buruan berusaha berontak. Agen pun menarik buruannya berdiri, menodongnya dengan pistol, memaksanya bergerak ke arah kamera.
Kendaraan pun berhenti. Suara percakapan dalam bahasa asing terdengar jelas. Ada pula desis radio dan protes sinyal. Hembusan angin kencang menerpa ketika mereka cukup dekat, menyingkap kain yang menutupi wajah buruannya.
“Jayden?” Alex merasa mengenali wajah itu.
Tak percaya dengan matanya sendiri, Alex mengakses tablet, memeriksa ulang laporan. Semua video punya detail misi. Mulai dari siapa agen lapangan yang bertugas, operator, objektif misi, berikut titik koordinat kejadian. Sebelum memutar video itu, dia sangat yakin tidak membaca nama Jayden di sana. Alex memeriksa ulang untuk memastikan kecurigaannya. Di sana memang tidak ada nama Jayden melainkan Jason Garnet.
Melanjutkan penelitiannya, Alex memeriksa laporan misi terbaru. Dia mencari nama operator yang bertugas pada misi di pabrik pengalengan ikan. Misi pertama Zetta Sonic. Tentu saja misi itu juga tercantum meski tidak ada video atau gambar. Semuanya isi detail data misinya dikunci untuk orang tertentu. Setidaknya, mereka menyisakan judul laporan berikut para agen bertugas.
Nama operatornya tertulis Jayden Garnet.
Alex benar. Ini misi penangkapan pada adik Jayden, Jason, yang kini namanya dipakai untuk drone kesayangannya. Alex tidak terkejut kalau Jayden pernah terlibat dengan penjahat, tapi adiknya? Alex bergeming. Jayden tidak pernah cerita apa pun soal keluarganya. Dia tidak seharusnya terkejut juga kalau Jason terlibat dengan para penjahat.
__ADS_1
“Lagipula, hal buruk apa yang bisa mereka lakukan?” Alex membiarkan pikirannya menjelma jadi kata-kata. Dia pun menekan tombol, melanjutkan video tersebut.
Penasaran, Alex melanjutkan. Bukan hanya itu, dia mempercepat beberapa bagian video. Dia mengganti opsi pencarian dengan nama Jason Garnet. Cukup mengejutkan bagi Alex, ada banyak video dan laporan misi terkait Jason. Semuanya menjadikan Jason sebagai objektif misi. Artinya, menemukan dan menangkap Jason hidup-hidup.
Hingga akhirnya, Alex menemukan laporan terakhir. Tidak ada video, tidak ada foto. Hanya ada rangkaian laporan misi panjang. Semakin dalam Alex mempelajarinya, dia mendapati dahinya berkerut dan kekhawatiran bercampur rasa penasaran melompat memenuhi benaknya. Laporan tersebut ditutup dengan kalimat yang tak bisa dilupakan Alex.
“Alex?”
Alex berjingkat saat namanya dipanggil. Dokter Vanessa berdiri di sampingnya dengan tatapan lembut. Di tangannya ada dua kaleng jus. Untuk sejenak, keheningan berada di antara keduanya.
Dokter Vanessa memulas senyum lembut, “Kupikir itu studi kasus yang baik untukmu. Aku menyarankanmu agen Oscar Robin atau Greg Arson. Mereka akan memberimu sisi berbeda soal dunia misi ICPA. Dan, sebenarnya, kupikir ini saatnya istirahat.”
“Ya. Aku setuju.”
Alex menutup halaman yang tengah dia buka. Tablet PC pun menggelap. Apa pun yang terpampang di layar besar ikut mati. Bersamaan dengan itu, lampu seluruh ruangan menyala. Sebuah pertanda kalau jam menonton telah usai. Alex menerima kaleng jusnya sementara sang dokter berdiri di dekatnya tanpa niat duduk.
Alex tersenyum pada dirinya sendiri. “Aku baik-baik saja.”
“Karena itu, aku bertanya cukup spesifik.”
Alex menatap balik dokter Vanessa yang masih menanti jawaban dengan senyum di wajahnya. “Aku,” lanjut Alex, “tidak tahu.” Kali ini, sebuah jawaban jujur keluar dari mulutnya. “Aku merasa menemukan bagian diriku yang belum pernah kutemui. Kadang, kupikir aku tidak mengenali diriku sendiri. Sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.”
“Apa kamu takut?”
Alex tak lantas menjawab pertanyaan tersebut. Dia terdiam sejenak. Sulit harus mengakui kalau dia memang sedikit takut pada semuanya. Pada hilangnya Jayden, pada misi yang akan muncul cepat atau lambat, juga perubahan dirinya sendiri. “Mungkin,” jawab Alex dengan jawaban ambigu.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu memaksanya.”
“Aku mencoba tidak memaksa diriku sendiri.”
“Bukan, Alex. Jangan memaksa dirimu untuk berani mengatasi semuanya. Kadang rasa takut diperlukan. Bagi seorang dokter sepertiku, misalnya. Aku butuh rasa takut saat mengobati pasien, kalau tidak aku akan bersikap sembarangan. Itu bisa berakhir dengan sangat buruk. Ada kalanya kamu perlu mengakui dirimu takut untuk melangkah hati-hati.”
“Aku tahu.”
“Kalau ada hal yang ingin kamu bicarakan, kamu selalu bisa bicara padaku. Oke?”
“Apa pun?”
“Apa pun.” Dokter Vanessa mengulangi ucapannya.
“Sebenarnya, memang ada hal yang menggelisahkanku. Ini soal Jayden. Pernahkah kamu berpikir seandainya dia… tidak pernah kembali?” Alex merasa harus menghadapi rasa takutnya sendiri. Langkah pertama jelas membuat perasaan itu menjelma jadi pertanyaan konkrit. Ini membuat rasa pahit di mulutnya.
Gantian dokter Vanessa terdiam. Dia menghela napas panjang. Bukan jawaban yang keluar pada akhirnya melainkan harapan. “Kita semua ingin dia kembali.”
“Bagaimana kalau tidak?”
“Maksudmu, kalau dia mati?” Tiger baru saja masuk ruangan, memotong pembicaraan mereka, dengan wajah cemberut. Dia memang bertugas mengawasi Alex dalam masa hukuman, termasuk memastikan dia pulang tepat waktu agar menghindari kecurigaan yang tak diperlukan. “Mungkin itu lebih baik”
“Apa maksudmu?” balas Alex cepat.
“Pikirkan ini bocah. Mana yang lebih mudah bagimu? Menemukan Jayden tewas atau melihat dia bertindak melawan kita?”
__ADS_1
“Jayden tidak akan mengkhianati ICPA.”
“Mungkin tidak. Tapi, selalu ada kemungkinan. Kamu harus bersiap untuk kemungkinan apa pun, Alex. Zetta Sonic dibuat untuk dunia, bukan Jayden.”