Zetta Sonic

Zetta Sonic
Transit


__ADS_3

Sebuah pesawat lain tengah mengudara tepat di samping mereka. Pintu pesawat tersebut juga tengah terbuka. Ada jembatan pendek terbentang di antara mereka. Entah sejak kapan, salah satu penjaganya telah mengikatkan tali padanya. Tali tersebut terhubung pada pesawat yang baru. Entah bagaimana juga, namun kepergiannya ke pesawat baru itu juga berlangsung dengan lancar. Ini cara yang dia dan anggota Special Force lain gunakan ketika menolong kekasih Gavin. Dia tak percaya akan menjalaninya juga.


Camellia bilang kalau penerbangan itu selama yang diperlukan. Tentu saja. Jayden juga paham. Sepertinya Roban akan memindahkannya dari satu pesawat ke pesawat lain hingga mendapatkan apa yang dia inginkan. Masalahnya, tidak ada yang tahu apa keinginan Roban.


Jayden berpaling ke belakang sekali lagi sebelum pintu tertutup. Dia tidak melihat seorang pun. Tidak penjaganya sebelumnya, tidak juga Camellia. Tak seorang pun mengantarnya berpindah tempat. Untuk sesaat, dia mengira mungkin Camellia juga dilarang menemuinya atau Roban tak ingin mereka juga mengetahui terlalu banyak.


“Jalan!” Pria di sampingnya membentak sembari mendorong punggungnya dengan senapan laras panjang.


Jayden mengambil langkah dengan enggan, terlebih ketika dia melihat seorang pria berdiri di depannya. Rambut ikalnya punya jambul cukup tinggi, warna keemasan membuat Jayden membayangkan burung. Wajah tirus itu mengingatkannya kalau dia pernah melihat pria itu meski tak ingat di mana. Bibirnya mengilap seakan memakai lip gloss. Tipe lelaki pesolek dengan badan berotot. Besarnya memang tidak sampai sebesar kedua penjaga di belakangnya, tapi jelas lebih besar darinya. Dari jarak sejauh itu, Jayden mencium bau parfum yang kuat serta memuakkan.


“Tenang, anak-anak, biar kuambil alih dari sini,” kata si pria muda.


“Kenapa aku enggak terkejut melihatmu di sini.” Jayden bicara, tak jadi melangkah. Sulit dijelaskan, tapi Jayden tahu kalau pria itu bisa dikategorikan bodoh. Dia mengambil kesempatan untuk mengorek informasi lebih dalam. Jayden yakin pria itu bisa membocorkan berbagai hal padanya.


“Oh! Kamu berpikir kalau aku tidak akan membalas ICPA yang memecatku?” Pria itu lantas tertawa.


Dan, Jayden benar. Dia pun menghela napas panjang, menyadari kalau bertemu dua orang mantan anggota ICPA di kubu penjahat. Pertama, Camellia, lalu orang ini.


Mendengar informasi tersebut, Jayden langsung ingat. Dia salah seorang operator seperti dirinya. Operator yang buruk. Dia membuat agen yang dia bimbing nyaris tewas. Nyaris tewas di sini berarti agen tersebut masih hidup meski harus kehilangan satu kaki dan sebelah penglihatannya. Agen tersebut dipastikan tak bisa kembali ke lapangan, sementara operatornya dipecat secara tak terhormat. Dia begitu teledor dalam memeriksa informasi, terlambat memberi peringatan, serta memberi kepanikan tak perlu.


“Jadi, kamu yang menyusun rencana untuk menculikku, Marcel?” Jayden menyebut nama pria di depannya itu dengan tepat. Dalam hati, Jayden tahu jelas kalau Marcel bukan dalangnya. Sekali lagi, ini hanya akal-akalan Jayden.

__ADS_1


“Tentu saja bukan. Aku punya rencana lebih baik, sayangnya Mr. X menolak.” Marcel mencibir. Sebelah tangannya menyibakkan jambul yang hampir turun ke mata.


“Kupikir Roban pasti yang memberi rencana lebih baik pada Mr. X.”


“Sayangnya begitu. Kuharap bukan Camellia juga yang memberi usulan itu. Seharusnya aku dapat kenaikan pangkat lebih dulu darinya. Aku yang repot-repot memesan banyak penerbangan untuk mencegahmu mendarat.”


Jayden makin yakin kalau Roban memang hanya boneka bagi Mr. X. Sayangnya, bahkan untuk orang seperti Camellia dan Marcel, mereka juga tak tahu siapa Mr. X sesungguhnya.


“Benar,” kata Jayden, “kamu pasti lebih baik dari kebanyakan orang yang ada di sini.”


“Tentu saja! Aku pimpinan di sini. Aku yang paling berkuasa. Jadi, lebih baik kamu juga menurut padaku, tuan sandera. Kalau tidak, aku bisa merusak wajah tampanmu yang sering membuat para agen wanita ICPA gila. Sebenarnya, aku lebih memilih melemparmu keluar dari sini, kalau saja bisa. Cih! Sekarang ikut aku!”


Jayden menyipit. Senyum tipis terkembang di wajahnya. Puas terhadap semua obrolan singkat mereka yang ternyata mengandung informasi jauh lebih banyak dari dugaannya semula. Dia sekarang menduga kalau Marcel bukan hanya ingin balas dendam pada ICPA tapi juga dirinya. Bukan tidak mungkin kalau dia merebut hati gadis pujaan hatinya. Sekarang, dia lebih memahami kalau wajahnya mungkin lebih dibenci daripada disukai. Ini berbanding lurus dengan jumlah agen laki-laki di ICPA.


Lorong itu berakhir pada sebuah pintu. Ada jendela persegi cukup besar pada badannya. Marcel membukanya menggunakan kartu magnetik. Di balik pintu, dirinya disambut deretan kursi penumpang tanpa penumpang seorang pun.


“Duduk di situ dan jangan banyak tanya!” pinta Marcel. Dia melambai pada satu deret kursi di bagian depan.


“Bagaimana kalau aku harus ke toilet?”


“Katakan pada mereka, bukan padaku” kata Marcel sambil melirik dua penjaga yang terus membuntuti Jayden.

__ADS_1


Jayden menurut. Dia duduk di baris yang ditunjuk oleh Marcel. Satu penjaga duduk di baris yang lain, satu lagi duduk di sampingnya. Sementara Marcel duduk di kursi yang berseberangan dengan Jayden, satu-satunya kursi yang menghadap ke sisi berbeda.


Sesuai permintaan Marcel, Jayden tak bicara lagi.


Pikirannya melayang kembali pada ICPA. Dia memikirkan langkah-langkah apa saja yang bisa diambil oleh Special Force. Dia juga teringat pada alat khusus yang dia selalu selipkan di sepatunya. Alat itu seharusnya berfungsi sebagai pelacak. Sebagai anggota agen rahasia yang rawan diculik dan dibunuh, alat semacam itu seharusnya bisa memberitahukan lokasinya pada markas. Sayang sekali, ketika diculik, sepatunya dilempar keluar dari ambulans. Kalau memikirkan itu lagi, artinya ada penyusup yang begitu dekat dengan mereka.


Untungnya Jayden punya langkah lain. Dia memasang sebuah sistem pada Jason yang akan aktif saat dirinya hilang. Sistem itu sebentar lagi akan aktif. Jason akan membantu Special Force. Kalau tidak berjalan lancar, sistem itu akan menemukan lokasinya langsung. Kalau tidak, setidaknya sistem itu akan membantu Special Force menemukan hal-hal lain. Hal-hal rahasia yang sudah dia timbun cukup lama.


“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Pertanyaan Marcel terdengar seperti bentakan. “Apa kamu gila?”


Jayden hanya mengangkat kedua alisnya, tak berniat bicara.


“Hei, jawab aku!” Marcel menuntut.


Jayden masih diam. Dia membiarkan Marcel meralat kembali perintahnya.


“Baiklah, aku mengizinkanmu bicara sekarang,” lanjut Marcel.


Jayden tahu itu akan terjadi. “Aku hanya memikirkan beberapa kejadian lucu.”


“Kamu pikir aku bodoh? Kamu pasti sedang memikirkan bagaimana cara lolos dariku. Mungkin kamu mengingat beberapa kasus penculikan di pesawat yang pernah dipecahkan Caitlin. Percayalah, itu tidak akan terjadi! Aku memesan tipe pesawat berbeda, nama berbeda, di lokasi berbeda. Tidak ada kru kapal sungguhan. Jadi, jangan berharap terlalu banyak!”

__ADS_1


Saat itu, Jayden tahu kalau salah satu dugaannya yang sempat terlintas kini terbukti. Caitlin memang terlibat. Dan, Marcel, mengingatnya jelas. Penculikan dengan sandera yang tidak pernah mendarat, pernah terjadi pada agen mereka. Caitlin menyelesaikannya  dengan gemilang. Sekarang, tinggal berharap kalau Alex akan melakukannya dengan baik.


Walaupun begitu, Jayden tidak yakin kalau Catilin adalah dalangnya. Dia lebih yakin ada orang lain di baliknya. Kalau nama yang dia pikirkan benar, maka dia dan seluruh anggota Special Force berada dalam bahaya besar.


__ADS_2