Zetta Sonic

Zetta Sonic
Dark Reflection


__ADS_3

Alex biasanya bisa menduga siapa yang akan dilihatnya setelah dia pingsan. Mulai saja dari beberapa nama seperti dokter Vanessa atau Emil. Akan sedikit mengejutkan kalau dia terbangun lalu melihat ayahnya di sampingnya. Namun, dia tak pernah menduga kalau akan terbangun disambut oleh dirinya sendiri. Itu terjadi.


Itu mimpi buruk.


Seharusnya itu mustahil terjadi. Alex seolah sedang menatap dirinya sendiri di depan cermin. Itu salah. Dia tidak sedang melakukannya. Alex ingat latihannya melawan robot pembunuh. Dia tahu ketika dunianya menggelap berarti dia telah pingsan. Ketika melihat hal menyeramkan saat tidak sadar, Alex hanya bisa menyebutnya dengan satu istilah. Mimpi buruk.


Itu memang benar-benar mimpi buruk.


Dalam kondisi itu, Alex tak bisa bicara. Sosok di depannya, dialah yang bicara sepanjang mimpi buruk itu terjadi.


Anak itu, dirinya yang lain, berdiri di depannya. Dia membuat seringai licik. Matanya menyipit seolah menunjukkan kesombongan dan memberi ancaman. Semua ditujukan untuk Alex juga orang-orang lain yang ada di belakang sosok itu.


“Ini akan terjadi,” katanya, “segera.”


Alex tak paham apa artinya hingga anak itu berpaling. Dia menghampiri orang-orang yang ada di belakang. Alex mengenali semuanya. Anggota Special Force, teman-temannya, para pekerja di rumah, orang tuanya, juga kriminal yang pernah dia hadapi. Anehnya, bahkan ada Damon di sana.


Sosok itu kini perlahan berubah. Semua terjadi seperti yang ditakutkan Alex. Dia melihat sosok serupa dirinya itu mulai menjadi monster. Kulit menggelap, mata merah menyala, gigi taring, cakar besar, dan aura hijau yang bisa menjadi laser dalam sekejap. Sesuatu menyadarkan Alex. Anak itu tidak mengeluarkan kekuatan Dragon Blood.Dia menggunakannya untuk dirinya sendiri. Bisa juga sebaliknya. Dragon Blood menggunakan tubuh manusia untuk menjelma.


Satu per satu korban berjatuhan. Alex berusaha berteriak tetapi suaranya tidak keluar. Ketika dia mencoba berlari menghampiri, dia hanya bergeming di tempatnya. Kehancuran itu akhirnya membangunkannya.


Alex mengerjap. Tangannya gemetar. Dahi serta matanya terasa basah. Meski begitu, tubuhnya bergeming. Ada sesuatu mengikat badannya. Dia berada di dalam peti kaca yang dia kenal ketika mendapat kekuatan Dragon Blood pertama kalinya. Hal yang cukup menenangkannya adalah dokter Vanessa.


Dokter itu menghampiri dirinya, membuka peti, menatapnya dengan alis berkerut. “Kamu tahu siapa aku?”


“Ya,” jawab Alex, suaranya bergetar. “Di mana yang lain? Me— Mereka baik-baik saja?” Alex bertanya. Ketakutan membayang di benaknya. Dia tak bisa membedakan apakah yang dia lihat tadi sekadar mimpi atau memang Dragon Blood telah mengambil alih tubuhnya dan melakukan semua hal tersebut.


“Tidak semua.” Suara Tiger terdengar dari sisi lain ruangan. Pria itu berjalan hingga Alex bisa melihatnya. “Kamu menghancurkan robot temuan terbaru ICPA dan Nadira sama sekali tidak terkesan dengannya. Aku? Aku terkesan melihat Nadira histeris seperti itu.” Tiger mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Alex tak tahu harus bereaksi seperti apa. Tiger sepertinya berusaha membuat lelucon. Kalau tidak ada mimpi buruk tadi, Alex mungkin juga ingin melihatnya. Tapi, saat ini dia hanya ingin memastikan kalau semua mimpi buruk tadi hanyalah mimpi.


Vanessa menekan sesuatu pada panel di samping peti kaca. Pintu kaca peti tersebut pun terbuka. Kemudian, si dokter mulai mengutak-atik sesuatu pada tangan Alex.


“Kamu yakin, dokter?” tanya Tiger dengan pelan. Meski demikian, Alex bisa mendengarnya dengan jelas.


Vanessa memelototi Tiger lalu segera saja melempar tatapan lembutnya pada Alex. Setelah tersenyum pada Alex, Vanessa kembali menatap Tiger. “Alex kelihatan baik-baik saja. Dia bukan tawanan, dia pasienku. Benar, ‘kan?”


“Tentu saja, dok.”


Segera setelah pengikat pada tangannya lepas dan Alex bisa bergerak lagi, dia pun mencoba duduk. Di luar dugaannya, tubuhnya bergerak seperti biasa. Tidak ada kelemahan terasa, tidak ada rasa pusing, tidak ada rasa mual, hanya sedikit lapar. “Apa yang terjadi?”


“Kamu kelelahan dan pingsan.” Dokter Vanessa berusaha menenangkan.


Bukan itu jawaban yang ingin didengar Alex. “Apa saja yang kuhancurkan?”


Dokter Vanessa membuka mulutnya untuk menjawab. Tak lama setelahnya, dia mengatupkannya lagi. Dia sadar semua yang akan dia ucapkan tidak akan selengkap keinginan Alex. Jadi dia pun melemparkan tatapannya pada Tiger, membiarkan pria itu menjabarkan semuanya. Dengan dramatis.


Alex mengernyit dan dokter Vanessa langsung melotot.


“Hampir,” tambah Tiger cepat-cepat. “Maksudku, itu hampir terjadi. Kalau pelindung ruangan training belum ditambah, itu akan terjadi. Serangan Dragon Aura tadi menembus si robot, mengenai dinding, membuat hangus semau yang dilintasinya.”


“Aku melakukan itu semua?” Alex bertanya begitu lirih, tak yakin ingin mendengar jawabannya.


Tiger mengangkat bahunya. “Sedikit sulit dipercaya, memang. Ada rekamannya kalau kamu mau lihat. Rekamannya terpotong setelah kamu melelehkan kameranya. Untuk sesaat, aku mengira melihat monster versi Zetta Sonic.”


Alex menelan ludah. Itu persis seperti yang dia takutkan. Itu juga serupa dengan mimpi buruk yang baru saja dia lewati. Sosok lain di dalam mimpi buruknya mungkin jelmaan ketakutannya tersebut. Ketakutan akan lepas kendali. Ketakutan akan menyakiti orang tak bersalah. Ketakutan akan kehilangan diri sendiri.

__ADS_1


“Hei,” panggil dokter Vanessa sembari menepuk bahu Alex. “Jangan cemaskan itu. Saat ini yang terpenting adalah memulihkan dirimu. Tekanan darahmu cukup rendah, itu yang membuatmu pingsan tadi. Akan kusiapkan resep yang bisa kamu minum di rumah.”


Alex tak menjawab.


Dokter Vanessa sekali lagi tersenyum padanya. “Jangan terlalu mencemaskan soal itu, oke?” Dokter Vanessa menatap Alex lekat sampai mendapat anggukan pelan. Setelahnya, si dokter pun beranjak untuk menyiapkan obat.


Alex menoleh pada Tiger di sisinya. “Itu buruk, ‘kan?”


“Sangat.”


“Apa kata Nadira?”


“Dia ketakutan?” Jawaban Tiger terdengar seperti pertanyaaan.


“Aku tahu,” sahut Alex. “Apa yang dia katakan? Kalau dia ketakutan, dia akan melakukan sesuatu. Apa yang akan dia lakukan padaku?”


Tiger terdiam sesaat. Jawaban telah melintas dalam benaknya, namun sebenarnya itu rahasia. Begitu rahasia sampai hanya dirinya dan Emil yang diberitahu oleh Nadira. Tiger menghela napas pendek. “Tidak ada,” katanya. “Tidak secara langsung.”


“Dia akan mengawasiku?” tebak Alex. “Kamu akan mengawasiku?”


Tiger spontan melotot. “Darimana kamu tahu?” ujarnya dengan nada tinggi namun pelan. Dia berpaling ke arah pintu, memastikan dokter Vanessa tak ada di sana. “Nadira memerintahkan tim khusus untuk memantau kondisimu sampai stabil.”


“Itu pilihan terbaik.”


“Oke. Kenapa aku merasa kalau kamu memang ingin diawasi?”


“Sederhana. Aku enggak mengenal diriku sendiri.” Alex mengalihkan tatapannya pada kedua tangan di pangkuan. Dia mengeluarkan kekuatannya tanpa diperintah. Kalau Dragon Blood bisa mengambil alih Damon, bukan berarti Dragon Blood tidak bisa melakukan pada dirinya juga. “Kalau hal buruk terjadi dan Nadira sampai memerintahkan untuk membunuhku…”

__ADS_1


“Nadira tidak akan melakukannya—”


“Dia akan melakukannya, Tiger. Kalau sampai itu benar terjadi, lakukan saja.”


__ADS_2