
Baru selesai menyalakan televisi, dokter Vanessa mendapat panggilan. Dia mendengar kalau Mark dan istrinya sedang kembali ke rumah sakit. Dokter Vanessa memberi Alex pelukan hangat sebelum pergi dengan hati enggan.
Dia tahu Alex berbohong. Alex tidak akan baik-baik saja.
Berita pagi itu masih dihiasi dengan tragedi yang terjadi di Wood Peak. Lebih dari tiga puluh orang tewas dalam teror tersebut. Semua pihak mengecam keadaan yang terjadi. Media menyorot kondisi ini dari berbagai sisi. Sedikit membahas mengenai sistem keamanan sekolah. Tentu saja lebih banyak media yang membahas mengenai para keluarga korban.
Di televisi, sekolah itu nampak berbeda. Alex merasa tak mengenalinya lagi. Bukan hanya karena gedungnya yang sudah tidak lagi utuh, melainkan karena banyak bunga serta lilin. Mereka mengitari setiap foto korban tewas. Semua dijajar pada tangga masuk sekolah yang sebagian hancur. Jumlah karangan bunga serta lilin itu tak bisa menampung semuanya. Ada cukup banyak meluber ke halaman sekolah.
Wajar saja. Masyarakat bukan hanya menuntut polisi untuk segera menemukan pelaku berikut motif, masyarakat juga menyatakan dukungan pada keluarga korban melalui cara tersebut. Pihak sekolah membiarkan pintu depan tetap terbuka
Pagi ini, wali kota datang ke lokasi Wood Peak. Stafnya telah mendirikan podium kecil di samping tangga sekolah. Para media berjajar untuk mendengarkan pidato. Isinya bisa ditebak. Wali kota juga mengecam kejadian tersebut dan berharap pelaku segera tertangkap. Polisi disebut telah mendapatkan dugaan pelaku.
Alex tahu itu hanya akal-akalan ICPA. Tidak banyak yang tahu kalau pelaku sesungguhnya memang sudah tertangkap. Baron telah mendekam di penjara ICPA. Dia harus membayar atas semua yang dia lakukan.
Perasaan Alex kini campur aduk. Bukan karena mendengarkan pidato, melainkan karena kameramen televisi mulai menyorot detail rangkaian bunga serta foto. Dadanya berdebar, napasnya terasa sesak, dan tahu-tahu dia sudah terbatuk lagi. Matanya basah ketika melihat foto Leta di sana.
Tangan Alex mengepal. Tak sadar ada apel di sana, Alex membuatnya jadi hancur berantakan. Tangannya tampak merah. Basah oleh apel juga air matanya. Lalu, dia terdiam. Termenung pada titik itu.
“Alex!”
Tanpa perlu menoleh, Alex sudah mengenali suara ibunya. Sang ibu berlari begitu membuka pintu kamar. Dia memeluk Alex erat-erat tanpa memedulikan piring apel di pangkuan serta tangan yang lengket tersebut.
“Kamu membuat kami semua cemas,” kata ibu lagi sambil menarik diri dari pelukan singkat. “Aku sudah bilang pada Preston untuk melayangkan surat keluhan pelanggan. Mungkin sosis yang kamu makan memang mengandung bahan yang sudah kadaluwarsa.”
“Kita belum tahu apa penyebab keracunannya,” sahut Mark.
__ADS_1
Alex memaksakan senyum tipis, tak tahu harus bicara apa. ICPA sudah mengaturnya. Selalu.
Ibunya, seperti biasa, selalu tampil cantik. Dia mengenakan gaun putih polos dengan sabuk kecil. Sambil menjinjing tas keluaran rumah mode, ibunya siap menghadapi para paparazzi. Dia akan selalu tampak sempurna di setiap foto. Ayah, sebaliknya, tampak berbeda. Tak ada jas, tak ada dasi. Dia memakai kaus berkerah biasa. Pakaiannya seperti hendak bermain golf.
“Dokter bilang kamu boleh pulang besok kalau pemeriksaan hari ini menunjukkan hasil yang bagus,” ujar ayah.
Alex tak tahu apakah dia ingin pulang. Sandiwara ayah dan ibunya masih melekat jelas. Kondisi kedua orang tuanya tidak sedang baik-baik saja. Dia tahu tahu.
Ibu mengambil remote televisi yang tergeletak di atas ranjang. “Jangan menonton berita itu,” katanya sambil mematikan siaran. “Tidak baik untuk kesehatanmu.”
Spontan, Alex kesal. Dia merebut remote tersebut dan menyalakannya kembali. “Aku baik-baik saja. Dan, berita itu… Aku hanya penasaran bagaimana Wood Peak sekarang.”
Televisi kembali menyala. Suaranya menyela pembicaraan mereka. Untuk sesaat, ibunya bergeming dengan kedua bola mata terbelalak melihat pemberontakan anaknya. Alex tak lari dari tatapan tersebut. Dia malah berbalik menatap ibunya seolah menantang.
Mark Hill berdehem. “Kamu tidak perlu cemas soal itu.” Entah kepada siapa ucapan itu ditujukan, sang istri, sang putra, atau dirinya sendiri. “Semua sedang dalam penyelidikan. Pelakunya akan tertangkap.”
Alicia pulih dari segala keterkejutannya. “Mark, bukan itu poinnya. Entah apa yang membuatmu begitu santai. Alex terluka gara-gara insiden ini. Temannya bahkan ada yang tewas gara-gara ini. Bagaimana kamu bisa begitu saja membiarkan Alex melihat tontonan ulang yang membuatnya jadi korban?”
“Itu hanya berita—“
“—dengan Alex sebagai salah satu aktornya,” potong Alicia. “Dia korbannya.” Alicia mendesah pendek. “Aku butuh kafein tambahan.” Tanpa berpaling lagi pada Alex atau Mark, wanita itu melangkah cepat meninggalkan ruangan.
Kepergian Alicia membuat Mark terpaku pada pintu geser yang ditutup dengan terlalu tergesa-gesa. Suaranya mengganggu ketenangan hatinya. Dia tahu jelas meski Alex tak berkomentar, hati anaknya lebih kacau darinya.
“Maaf.” Kata-kata langka itu keluar dari Mark Hill. “Ibumu sedikit uring-uringan karena… ya, kamu sudah tahu persoalannya.”
__ADS_1
Alex memilih tak membahas masalah tersebut. Dia justru menanyakan hal lain. Si pelaku. “Mereka mendapatkannya?” tanya Alex dengan mata masih menonton televisi.
“Ya. Berkat Sonic dan Bug.” Mark sedikit ragu menyebutkan nama di bagian akhir. Dia tidak yakin apakah nama itu tepat atau tidak. “Dia menyerahkan diri berkat taktik kalian. Caitlin tidak bisa lagi melindungi perbuatan suaminya. Kamu dengar? Caitlin mengandung anaknya. Kupikir kenyataan itu lebih menyakitkan daripada penjara seumur hidup.”
“Dia berhak mendapatkannya.”
“Tim sedang menyelidiki semua operasinya di seluruh dunia. Dia punya lebih banyak kartu dari yang dibayangkan. Anak buah, sumber daya, jaringan, pabrik, banyak sekali. Menutup semuanya akan makan waktu.”
“Seluruh… dunia…” Alex mengulangi ucapan itu seraya berpaling kepada ayahnya. “Dia sudah merencanakan ini sejak awal bahkan mungkin sebelum bertemu dengan Caitlin.”
“Bisa jadi. Mungkin dia adalah sosok haus kasih sayang. Siapapun yang akan jadi kekasihnya akan mendapatkan perlindungan penuh darinya. Semua harus berjalan sesuai dalam kontrolnya. Daripada kekasih, Caitlin mungkin lebih cocok dibilang sebagai korban juga. Gadis itu sama sekali tidak sadar kalau suaminya berusaha membuat dunia jadi panggung boneka?”
“Apa yang akan terjadi padanya?”
“Maksudmu Caitlin? Sama dengan Baron. Mereka berdua akan diadili dan mendapatkan hukuman yang pantas.”
Alex mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, ini belum berakhir.”
“Mereka berdua sudah ditangkap.”
“Di mana mereka?” tanya Alex cepat-cepat.
“Tempat yang berbeda. Baron berada dalam pengamanan khusus dan Caitlin dibawa ke bendungan. Penjagaan sudah ditingkatkan berkali lipat. Mereka tidak akan bisa lolos begitu saja.”
“Kamu mengatakannya sendiri, ayah. Baron tidak akan membiarkan Caitlin celaka. Dia enggak akan membiarkan Caitlin apalagi beserta bayinya dihukum.” Alex bisa merasakan kengerian merayapi punggungnya seraya kenangan video yang pernah dia tonton itu kembali. “Baron sudah menyiapkan rencana agar dirinya bisa lolos.”
__ADS_1
“Bagaimana?”
“Menyandera penduduk sipil. Racun di saluran air.”