
Robot itu memang berbeda dengan robot-robot pembunuh yang pernah ditemui Alex. Persamaan terbesar adalah kepala lonjong seperti telur itu. Bagian atas kepala si robot memiliki sejenis lingkaran kecil yang mengingatkan Alex pada alat pemanggang. Bagian punggungnya agak menonjol, menyembunyikan pendorong roket tunggal di sana. Robot itu punya dada bidang dan besar. Ukurannya nampak berbeda jauh dengan tangan dan kaki ramping. Setiap tangan memiliki lima jari layaknya manusia. ICPA memberikan perubahan pada robot mereka.
“Berani bertaruh kalian enggak membayar royalti pada pencipta aslinya,” celetuk Alex sembari bergerak perlahan.
Kepala si robot berputar mengikuti pergerakan Alex. Sepasang mata lonjongnya kadang berkilat hijau seakan mempelajari gerakan lawan. Tidak ada apa pun di wajah itu selain mata dengan sensor canggih. Polos tapi menyembunyikan hal yang tak ingin diungkap Alex.
Tiger tergelak. “Hahaha… Tidak ada yang tahu pencipta aslinya, bocah. Para peneliti menciptakan bagian per bagian. ICPA menggabungkannya jadi satu. Anggap saja begitu. Kami selalu dapat yang terbaik.”
Alex paham benar kalau Tiger puas sekali dengan robot milik ICPA tersebut. Tiger jarang sekali bicara. Tapi, begitu menemukan topik yang dia kuasai dan sesuatu yang ingin dia banggakan, Tiger akan bicara banyak.
“Mau bertaruh?” tanya Alex. “Kalau aku bisa mengalahkannya, belikan aku waffle cokelat. Aku enggak sempat beli sebelum ke sini.”
Tiger berpaling, berjalan ke arah pintu. Sebelum pintu ruangan tertutup, Tiger melambai. “Lebih baik kamu siapkan kopi juga karena kamu enggak akan menang melawannya, bocah.”
Alex tersenyum simpul. Dia suka tantangan. Dia lebih suka lagi membuktikan sesuatu pada orang dan membuat mereka kehabisan kata-kata. Sembari berjalan pelan mengitari ruangan, Alex telah mendapat bagian yang akan dia serang. Tanpa banyak bicara, Alex pun berlari pada lawannya.
Si robot bergeming. Ketika Alex melayangkan tinju, si robot menangkapnya dengan mudah jauh sebelum serangan tersebut mencapai kepala. Alex sudah membaca gerakan pertahanan itu. Justru saat tangannya tertangkap, Alex menggunakannya sebagai penyeimbang. Dia memutar tubuhnya. Lututnya menendang bagian paha robot. Terkena hentakan, si robot melepaskan tangan Alex dan terhuyung mundur.
__ADS_1
[Jangan merusak mainan baru, bocah.] Suara Tiger terdengar bergema di dalam ruangan.
“Kalian punya banyak, ‘kan?” Alex terkekeh. Tak ada jawaban dari Tiger. Namun, itu membuktikan pemikirannya benar. ICPA tidak hanya menciptakan satu robot saja. Bukan hal mengejutkan kalau mereka akan membuatnya secara masal.
Terdengar suara derak pelan dari si robot. Mata si robot yang tadi hijau kini berpendar merah. Biasanya warna merah tidak akan berarti baik. Sepertinya hal itu juga berlaku di sini. Robot itu berlari. Suara kakinya yang menghentak ke tanah terdengar samar. Dari suaranya, Alex menduga kalau robot itu lebih ringan dibandingkan buatan Nikola. Meski begitu, bukan berarti bahannya tidak lebih kokoh.
Si robot mulai melakukan serangan dan serangan. Alex dipaksa mundur. Anak itu tak percaya kalau robot di depannya bisa melakukan gerakan bela diri dengan cepat seakan petarung profesional. Tiger bahkan tak bisa menyerang secepat itu. Ditambah dengan tubuh besi dan komputer, robot itu sangat berbahaya.
Ketika sebuah tinju melayang ke kepalanya, Alex menghindar ke kiri. Dari ujung matanya, dia mendapati kaki si robot ikut bergerak. Robot itu melakukan gerakan sama sepertinya. Selagi tinjunya gagal, tendangan pun masuk. Refleks, tangan Alex melindungi dadanya. Namun, dibandingkan kekuatan robot, pertahanannya tak berarti. Tendangan keras itu menjatuhkannya ke lantai.
Alex menjerit, protes. Dia dijatuhkan sungguhan dengan kekuatan penuh. Punggungnya terasa sakit dan dingin. Kepalanya ikut terbentur. Entah mana bagian mana yang lebih sakit. Belum sempat bergerak, si robot sudah berdiri di sampingnya. Robot itu mengulurkan tangannya pada Alex. Ada bulatan hijau di tengah telapak tangan tersebut. Perlahan, bulatan tersebut berpendar makin terang.
Jawaban Emil pun terdengar. [Yup.]
“Tolong katakan kalau ini hanya ancaman,” tambah Alex.
[Seharusnya.]
__ADS_1
Alex tak suka jawaban Emil. Latihan ICPA tidak seharusnya membunuhnya. Bahkan senjata yang ditanam pada dinding ruang training hanya bertujuan sebagai latihan. Mereka memiliki protokol keamanan terbaik. Sejauh ini, dia hanya keluar dari ruangan itu babak belur bukan berlubang.
Sayangnya, Emil tak bisa memberi kepastian mengenai alat latihan terbaru mereka. Emil tidak menjamin apakah senjata di depannya asli atau tidak. Si robot tak memiliki raut wajah yang bisa dibaca. Mata itu masih berkilau merah selagi lingkaran telapak tangan mengeluarkan hawa luar biasa panas.
Itu terlalu nyata untuk sekadar ancaman.
Alex menangkap denging tinggi dan teriakan Tiger untuk lari. Dia juga bisa melihat cahaya yang dimuntahkan dari lubang tersebut. Alex terlambat bereaksi tetapi badannya tetap bergerak. Saat itulah, Alex sadar penuh. Sesuatu dalam dirinya telah mengambil alih. Bukan refleks. Dia mengenalnya dengan nama Dragon Blood.
Tubuhnya berguling tepat ketika sinar laser tersebut meluncur. Lantai yang disambarnya hangus seketika. Alex tak percaya dirinya bisa menghindar tepat waktu. Kalau bukan karena kekuatan dalam dirinya, pasti dialah yang hangus saat ini.
Si robot menyadari kalau sasarannya telah menghilang. Kepalanya berputar, mendapati Alex masih cukup dekat dengannya. Dia pun berputar. Tangan itu terarah lagi pada sasaran. Meski begitu, dia membutuhkan sedikit tambahan waktu untuk bisa menembakkan laser seperti tadi. Sebaliknya, Alex telah bersiap menyerang.
Mata Alex berkilat hijau. Dalam pemandangan Alex sendiri, semuanya seolah disinari lampu hijau neon. Biasanya pemandangan itu tidak sepekat ini, kali ini memang berbeda. Pikirannya bekerja normal namun tubuhnya bergerak jauh lebih cepat. Keduanya tak terkoordinasi. Di saat pikirannya menyuruh lari, tubuhnya justru bergeming. Alex merasa dirinya sedang berada di balik layar tokoh utama sebuah film.
Dia hanya penonton.
Tangan Alex telah terulur ke depan. Ada asap meliuk dari setiap pori-porinya. Hal yang tidak wajar. Namun, dengan Dragon Blood dalam dirinya, semua hal jadi terasa lebih masuk akal. Asap hijau itu menyatu, memancarkan hawa panas, memadat, memelesat tanpa bisa dihentikan.
__ADS_1
Alex memaksa memejamkan mata. Dia tak ingin melihat bagaimana kelanjutannya. Dia tak ingin melihat bagaimana kekuatannya meluluhlantakkan robot terbaru ICPA. Dia tak ingin melihat kekuatannya jadi senjata perusak. Lebih dari itu semua, dia tak ingin mendengar teriakan panik Tiger dan Emil.
Selang beberapa detik, semuanya mendadak hening. Alex membuka mata hanya untuk menyadari kegelapan datang di sekelilingnya.