Zetta Sonic

Zetta Sonic
No Weapon


__ADS_3

Masih di dalam ruangan yang sama, Jayden sudah berganti pakaian. Dirinya mengenakan mantel hitam tebal dan sarung tangan. Dia duduk di ranjang dengan tangan terbelenggu. Matanya terpaku pada layar yang jaraknya cukup jauh. Di sana, dia bisa melihat kapal selam ICPA di depan pintu bawah laut yang dia buka.


“Benar-benar kerja yang mengesankan.” Suara serta wajah Roban muncul dari layar lain. “Aku tahu kamu bisa membantuku.”


“Kamu tidak akan lolos dari ini!” Jayden membalas dalam kegeraman.


“Coba kita ingat ulang. Kamu yang meretas sistem Debura. Kamu yang mematikan aliran listrik dan merusak jaringan keamanan rudal. Kalau pun tertangkap, kamu yang tidak akan lolos dari semua ini.” Roban pun terkekeh dengan suara kasar yang mengerikan.


“Kamu yang memaksaku melakukannya!”


“Dan, aku sudah melepaskan para sandera. Pertukaran yang adil. Orang-orang itu pasti bahagia bisa pulang dari Debura. Siapa yang sangka kalau tepi perairan mereka dihuni oleh Koolasuchus. Yang satu ini, benar-benar masterpiece dari ilmuwan kalian.”


“Kamu sama gilanya dengan Otto!” Jayden mendengus kesal.


Video yang beberapa waktu lalu ditunjukkan Camellia padanya memang mengerikan. Dia melihat sekumpulan orang berada dalam laut. Mereka berada dalam semacam kotak kaca raksasa dalam jeruji besi. Kotak ini punya rantai yang tampaknya terhubung ke permukaan. Seekor monster raksasa bergerak mengelilingi. Sesekali si monster berusaha menerjang, menggigit kotaknya tapi kesulitan oleh kerasnya jeruji besi tersebut. Jayden tahu hanya masalah waktu sampai si monster bisa menghancurkan semuanya.


Lucunya, dia menemukan tulisan pada video tersebut. Tulisan instruksi yang cukup besar. Tulisan ini dibuat transparan dan menindih keseluruhan video. Saat itu, Jayden cukup kebingungan dengan apa yang terjadi. Namun, dia memilih menuruti instruksi dalam video. Mengirim video rekaman ketika dirinya sedang berbincang dengan Camilla. Entah bagaimana video tersebut bisa tersimpan dalam komputernya. Sayangnya, video tersebut hanya merekam gambar tanpa suara.


Pertama kali melihat Camilla, Jayden mendapat firasat kalau gadis itu akan membantunya. Dia cukup senang karena benar. Meski demikian, sebagian hatinya menahan diri untuk lega. Selama belum meninggalkan tempat itu, Jayden tak akan bisa merasa lega.


Roban mengulas senyum, membuat garis-garis lain di wajahnya yang keriput. “Aku dan Otto. Kami punya ketertarikan yang sama.”


“Menguasai dunia?”

__ADS_1


“Bukan. Zetta Sonic.”


Jayden sesungguhnya telah menduga hal itu. “Biar kuluruskan. Rudal itu bukan untuk menghancurkan dunia. Tapi, untuk menghancurkan Zetta Sonic, ‘kan?” Ada penyesalan besar juga kesedihan terpendam dalam kegeraman Jayden. Dia pernah berbuat kesalahan fatal yang membuat adiknya terbunuh. Kali ini, dia membantu penjahat untuk mengalahkan Zetta Sonic.


Roban menggeleng. “Aku melakukan ini untuk Zetta Sonic. Itu benar. Tapi, itu bukan untuk menghancurkannya.”


“Kupikir itu hanya masalah waktu.” Jayden memberikan sindirannya.


“Tidak. Kamu tidak mengerti. Aku bukan ingin menghancurkan Zetta Sonic. Aku justru ingin dia mencapai kapasitas maksimalnya. Menggunakan seluruh kekuatan Dragon Blood. Menjadi senjata biologis terhebat umat—”


“Zetta Sonic bukan senjata biologis!” Jayden berteriak. Ketika dirinya sontak berdiri, kedua penjaga dalam ruangannya pun menoleh. Meski begitu, keduanya bergeming di tempat. Mereka tahu kalau Jayden tidak bisa melakukan apa pun. Tidak dalam kondisi terborgol dan Roban di dalam layar.


“Jayden, oh Jayden. Di mana letak perbedaannya?” Roban terkekeh lagi.


Jayden tak menjawab.


Entah kenapa Jayden tak terkejut lagi bila lawannya mengetahui identitas di balik Zetta Sonic. Mengingat kalau lawannya bahkan bisa menculiknya ketika bersama Alex, Jayden yakin si Mr. X punya koneksi dengan orang dalam.


Roban melanjutkan lagi selagi Jayden diam. “Sekarang mereka tak punya pilihan selain memaksa Zetta Sonic turun dari kapal selam. Kalau tidak, aku akan mengirim semua rudal itu untuk menghancurkan kapalnya. Dia bisa keluar sendiri atau dengan sedikit paksaan. Kamu tahu, aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan.”


Jayden mencibir. “Ngomong-ngomong, kamu pasti sudah tahu berapa banyak kasus yang sudah kami selesaikan. Mayoritas penjahat yang kami hadapi hanya punya dua tujuan. Satu, uang. Dua, kekuasaan. Menguasai dunia adalah gabungan keduanya. Kujamin, kamu akan segera bergabung dengan mereka, Mr. X.”


“Mr. X? Namaku Roban,” jawab si pria tua.

__ADS_1


Jayden menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara pada dalang di balik dirimu. Entah siapa pun dia.”


Roban terkekeh lagi. “Kamu tidak tahu siapa yang kamu hadapi, eh?”


“Aku tahu. Orang gila.”


“Orang gila ini berhasil membawamu ke sini, Jayden. Orang gila ini pula berhasil memojokkan Zetta Sonic.”


Jayden terbelalak melihat apa yang terjadi di layar. Dia bisa melihat si monster besar menerjang Zetta Sonic. Untungnya Sonic berhasil menghindar dengan dorongan dari kaki. Jayden menelan ludah. Dia paham benar kalau itu hanya robot. Robot buatannya yang belum sempurna. Emil memaksakannya beraksi di dalam laut melawan monster besar.


Roban, sebaliknya, tidak memahami hal tersebut. “Lihat bagaimana payahnya dia bertarung. Koolasuchus itu akan menghancurkannya kalau dia tidak segera menggunakan kekuatan Dragon Blood dengan benar. Aku kasihan ICPA harus terjebak dengan bocah ini.”


Jayden memilih tak menjawab. Tontonan itu membuat dirinya terpaku. Si monster menerjang berulang kali tapi Zetta Sonic hanya menghindar dan menghindar. Tentu saja, robot itu tidak dilengkapi dengan senjata. Maksudnya, belum. Robot itu bisa saja membawa senapan laser. Namun, Jayden belum meminta izinnya pada Nadira. Menyuruh si robot menghadapi monster raksasa bawah laut sama saja seperti melemparkan kaleng pada mesin penghancur mobil.


“Sungguh memalukan. Dia hanya berlari dan berlari.” Roban sendiri mulai bosan. “Oh, coba lihat itu. Teman-temannya mulai meninggalkan dirinya.”


Muncul video lain. Video ini ukurannya seperempat layar dan berada di pojok bawah. Bagi Jayden, video itu lebih menarik perhatiannya daripada pertarungan robot dan si monster. Dia bisa menebak apa yang terjadi. Alex, si Zetta Sonic yang asli, masih berada dalam kapal. Saat ini, mereka berusaha kabur dengan mengalihkan perhatian.


Sesungguhnya, itu berhasil. Roban belum memahami kalau monsternya melawan robot. Sialnya, itu masalah waktu. Si robot tak bisa bertahan lebih lama. Ekor monster raksasa itu berhasil mengenai bagian kakinya. Si robot kehilangan separuh pendorong. Akhirnya, dia tak bisa lagi menghindar saat ada terjangan. Monster itu membuka mulutnya lebar-lebar, menghancurkan robot dengan gigi-giginya yang tajam.


“Cuma itu?” Roban bertanya. Kemudian, rasa penasarannya lenyap digantikan kegeraman. “Tunggu! Itu cuma tipuan. Itu robot!”


Dalam video, tampak potongan kaki robot melayang dalam air. Tidak ada darah, hanya kabel yang terpotong tak rata.

__ADS_1


“Baiklah,” kata Roban lagi, “mungkin aku terlalu lembut padanya. Juga padamu. Anak-anak, saatnya membawa tuan Jayden kita pergi.”


Seketika itu juga, Jayden mendapati kedua penjaga datang padanya. Dia melihat salah satu dari mereka mengangkat senapan panjangnya. Tapi, bukan untuk menembak. Tangkai senapan itu menjumpainya dengan rasa sakit pada bagian kepala atau lehernya. Dia tak bisa bisa membedakannya lagi ketika dunianya berputar hingga akhirnya digantikan kegelapan.


__ADS_2