Zetta Sonic

Zetta Sonic
What’s Left


__ADS_3

Alex tak membiarkan dirinya terlelap terlalu lama. Dia berusaha keras membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Di sana, sinar bulan membantunya melihat lebih jelas. Dia melihat dua laki-laki lain tengah menembakkan semacam gas beraroma aneh. Gas itu berhasil mencegah kumpulan lebah terbang lebih jauh. Sebaliknya, kumpulan itu malah terbang kembali ke dalam hutan.


Salah satu pria itu berlari padanya. Alex mengerjap tak percaya. Dia melihat ayahnya sendiri. Kalau itu lelucon lain dari ICPA — maksudnya, Tiger — maka Alex siap menghajarnya. Namun, kali ini berbeda. Dia mengenali suara ayahnya. Dia juga mengenali perubahan raut itu. Terutama, dia mengenali rasa rindu yang kuat ketika ayah memeluknya erat-erat.


“Mi— Mimpi macam apa ini?” Alex bertanya nyaris tanpa suara. Setiap katanya bergetar, mendorong air matanya keluar.


“Ini bukan mimpi. Aku di sini, Alex. Kamu aman sekarang.” Mark Hill menarik diri dari putranya. Dia mengamati bagaimana Alex mengalami luka di setiap bagian tubuhnya. Memar dan berdarah. Alex tersenyum padanya dan dia pun ikut tersenyum. “Kamu menemukan jalanmu.”


“Tidak. Aku gagal,” bisik Alex. Matanya terasa berat.


Mark mulai berteriak. “Alex! Alex, buka matamu! Alex!” Melihat tidak ada respon, Mark berpaling pada rekannya. “Dominic!”


“Enggak perlu teriak.” Profesor Dominic sudah berlutut di sampingnya. “Baringkan dia, aku perlu memeriksa lukanya.”


Alex masih bisa mendengar percakapan samar ayahnya dengan si profesor. Lama kelamaan, suara itu mulai pudar hingga lenyap sepenuhnya. Ketika kegelapan kembali mendatanginya, Alex berpikir akan melihat sosok Alex yang lain. Ternyata kali ini berbeda, Alex melihat kegelapan sebagai teman yang membantunya terlelap dalam tenang.


 


 


 


 


Alex terbangun dalam kondisi yang lebih terang. Bulan tak lagi nampak. Langit mulai berubah warna. Matahari akan segera terbit dan kondisinya akan lebih hangat. Alex sudah merasa hangat lebih dulu oleh selimut tebal yang menutupi badan dan kompres hangat pada dahinya.


Wajah profesor Dominic tercengang dibuatnya. “Wow. Itu cepat. Mengejutkan.” Kemudian, dia menoleh pada Mark. “Aku akan ke sana sebentar, merokok. Tunggu, itu bukan alasan yang tepat. Aku akan ke sana agar kalian bisa ngobrol.”


Melihat profesor mulai beranjak jauh, Alex bergerak untuk bangun. Namun, tangan Mark menghentikannya. Mark tak perlu menekan badan putranya, hanya cukup meletakkan tangannya di atas dada Alex untuk mencegah. Alex tak punya tenaga untuk melawan. Dia lelah dan ingin beristirahat.

__ADS_1


“Ini mimpi paling aneh yang pernah kualami,” ujar Alex, lirih.


“Ini bukan mimpi,” kata ayahnya lagi.


“Apa yang terjadi?” Alex mengganti pertanyaan. “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”


Mark terdiam sebentar. Dia melemparkan pandangannya pada desa Kloster. Tempat itu terlihat indah, persis seperti resort mewah yang dilindungi senjata dan rahasia. Mark menghela napas pendek. “Banyak yang telah terjadi. Kita tahu itu,” jawabnya tanpa menoleh pada Alex.


“Kamu tahu siapa aku. Gavin mengatakannya?” Alex menatap lekat-lekat ayahnya.


Mark berpaling. “Dia tidak bilang apa pun. Aku tahu. Aku hanya… tahu.”


“Begitu saja? Bagaimana? Sejak kapan?”


“Pabrik pengalengan ikan.”


“Kamu berbohong.”


“Tapi, bagaimana bisa?”


“Aku tahu. Aku melihatmu lewat kamera. Berulang kali. Setiap kali kamu pulang ke rumah atau pergi bersama teman-temanmu, aku melihatnya dari kamera pengawas. Kami meninggalkanmu di rumah sendirian. Aku tahu Preston dan Bellsey akan menjagamu, tapi…” Mark berhenti lagi. Dia mengalihkan pandangannya lalu menarik napas dalam-dalam sebelum kembali pada Alex. “Kami seharusnya ada di sana, ibumu dan aku. Kami seharusnya di sana untuk memastikan kamu tidak terlibat masalah.”


“Kamu mengenaliku dalam seragam—”


“Ya. Aku tahu sekalipun kamu dalam wujud Zetta Sonic. Aku selalu mengawasimu dari jauh, Alex. Aku ayahmu.”


Alex tak tahu apa yang merasukinya. Air matanya mengalir tanpa henti. Dia mengangkat tubuhnya dan Mark tidak berusaha menghentikannya kali ini. Alex mendapat pelukan yang selalu dia inginkan dari orang yang dia rindukan. Tidak perlu ada kata-kata untuk diucapkan. Pelukan itu cukup. Alex mendapatkannya sampai dia puas dan sampai tak ada air mata lagi di sana.


Mark tersenyum lagi. Tangannya mengacak-acak rambut putranya. “Kamu tumbuh terlalu cepat sampai aku takut tidak mengenalimu lagi.”

__ADS_1


“Kenapa kamu enggak bilang apa pun?”


“Bagaimana denganmu?” Kali ini, Mark mendengus geli. “Kamu bisa saja bicara padaku. Tidak perlu meretas sistem ICPA seperti itu. Kamu membuat dirimu terjebak dalam masalah besar. Aku takut kehilanganmu.”


“Kamu takut Nadira akan membawaku pergi?”


“Tidak. Aku takut kamu pergi, Alex. Aku tahu banyak hal yang bisa kamu lakukan. Aku yang memberikan semua fasilitas itu, ingat?”


Dari belakang, professor Dominic terkekeh. “Benar sekali. Dia mempersiapkannya semuanya untukmu agar kamu bisa bergabung dengan ICPA.”


“Kamu menyiapkanku untuk jadi agen ICPA?” Alex terbelalak.


“Tepat sekali, Hill Junior! Ayahmu selalu bilang kamu anak yang luar biasa. Dia bilang ICPA dan dunia akan membutuhkanmu. Jadi, dia memberikan berbagai fasilitas untukmu. Dan, mungkin mengarahkanmu untuk mengambil berbagai kursus di internet?”


“Tunggu! Ayah tahu soal itu? Semua?”


Komentar Dominic membuat Mark melirik tajam. Dominic buru-buru menjaga jarak lagi setelah mengambil botol stainless dari ranselnya. “Maaf, hanya mau mengambil ini. Silahkan lanjutkan obrolan kalian.”


Mark mendesah pendek lalu melanjutkan. “Ya dan tidak. Aku tahu kamu anak yang pintar. ICPA hanya merekrut orang-orang terbaik. Jadi, kupikir kamu bisa ambil bagian di dalamnya. Maksudku, kamu bisa jadi operator di balik layar. Aku sama sekali tidak menyangka kamu akan… jadi… hmmm, agen fenomenal seperti sekarang ini. Para pemimpin ICPA di berbagai negara memuji Zetta Sonic. Nadira bilang kemunculanmu tepat. Dunia membutuhkanmu.”


Giliran Alex terdiam sekarang. Dia menggeleng pelan. “Tidak, ayah. Dunia tidak membutuhkanku. Sudah terlalu banyak ancaman di dunia ini. Mereka tidak butuh monster tambahan seperti aku.”


“Hei! Putraku bukan monster! Tidak ada yang menyebutmu seperti itu, tidak juga denganmu. Paham?” sahut Mark cepat.


“Tapi, aku— aku— aku membunuh Damon— lalu—”


“Menjadi agen ICPA menempatkanmu dalam banyak posisi sulit. Kadang keputusan semacam itu memang harus dibuat. Kamu bukan monster. Kamu melakukan hal yang benar. Kamu melakukan tugasmu. Kamu melindungi dunia—”


“Tidak!” Alex berteriak. Tenggorokan dan dadanya terasa sakit. Dia tidak mau mengingat kenangan itu lagi. Lidahnya selalu terasa pahit setiap kali membicarakannya. Dia tahu tangannya mulai gemetar. “Ayah sama sekali enggak paham! Kekuatan ini… Rasa haus darah ini… Aku membunuh dengan tangan ini. Aku bukan manusia lagi, ayah. Aku monster. Aku… Aku…” Kata-katanya tak bisa keluar lagi. Alex memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Dengarkan aku, Alex,” katanya lembut. Mark mendekap lengan Alex, berusaha melihat wajah putranya. “Itu sebabnya kami di sini. Menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Juga memperbaiki kesalahan yang pernah kami buat di masa lalu.”


__ADS_2