
Acara telah dimulai bahkan sebelum Alex menyadarinya. Caitlin ikut berpamitan meninggalkan Viktor. Caitlin mencium pipi kekasihnya sebelum dia naik ke panggung. Di atas panggung, mereka masih sempat bertukar pandang. Baru ketika Baron masuk ke inti sambutannya, Caitlin beranjak pergi. Gadis itu berjalan lurus pada Alex seolah sudah tahu kalau telah dinanti.
Alex sendiri tak bisa menyembunyikan keterkejutannya sekalipun dia buru-buru menutupinya. Matanya sempat terbelalak dan mulutnya membentuk garis lurus. Caitlin menaikkan kedua alis, sebuah tanda kalau dia menangkap kecanggungan Alex.
Alex meninggalkan gelasnya pada pelayan lain yang lewat. Itu sudah gelas ketiganya malam ini. Semua tanpa alkohol, bercita rasa buah, dan mengandung soda. Manis dan menyegarkan. Sayang Alex tak bisa menikmatinya dengan lebih tenang lagi.
“Kenapa aku enggak kaget kamu ada di sini.” Caitlin menyapa lebih dulu sambil menyibakkan rambutnya yang terurai. Tangannya tersilang di depan dada, siap mendengar apa pun balasan anak laki-laki di depannya. “Dan, kenapa aku juga enggak terkejut kalau kamu mengikutiku? Rindu padaku?”
Alex mengernyit. “Pertama, nona Caitlin, aku tidak mengikutimu. Kedua, bisakah kita terus terang saja? Apakah kamu terlibat?”
“Terlibat soal apa?” Caitlin mendengus geli. “Kamu tahu kalau aku sudah mengundurkan diri secara terhormat. Apa pun yang kamu maksud itu, aku sangat yakin kalau jawabannya tidak. Aku tidak terlibat. Aku bahkan tidak tahu apa maksudmu.”
“Ini soal Jayden.”
Ada perubahan di wajah Caitlin. Dia berpaling sebentar pada Baron yang masih bicara di atas panggung lalu kembali pada Alex. “Kita punya beberapa menit. Ikuti aku.”
Caitlin melewati Alex tanpa membiarkannya merespon. Alex mengedarkan pandangan, memastikan kalau dia tidak sedang berjalan menuju jebakan apa pun. Dia mengikuti Caitlin tanpa bicara apa pun. Zet-Arm di tangannya, emblem baju pelindung terpasang di sabuk, kancing berkamera sedang menyala. Kalau Caitlin mau menjebaknya, gadis itu sebaiknya bersiap-siap.
Mereka melewati kerumunan yang masih terpukau pada Baron dan keluar lewat pintu samping. Di sana, suasananya jauh berbeda. Cahaya remang menerpa dari lampu sorot, menyerah dalam kegelapan malam. Udaranya dingin, anginnya lumayan kuat. Para tamu lebih memilih berada di dalam. Suasananya cenderung sepi dan monoton.
“Bicara!” pinta Caitlin.
“Wow! Sejak kapan kita bertukar posisi? Seharusnya aku yang memberi pertanyaan.” Giliran Alex menyilangkan tangan di depan dada. Zet-Arm terekspos di balik lengan panjang tuxedo, memancing lirikan tajam Caitlin.
__ADS_1
“Ini soal Jayden, ‘kan?”
“Jadi, kamu terlibat.” Alex lompat pada kesimpulan.
Caitlin mendesah panjang. “Aku mendengar kabar dari seorang rekan. Percayalah, aku sama terkejutnya dengan dirimu. Maksudku, dia selalu waspada. Setahuku, dia membawa semacam detektor untuk mendeteksi keberadaannya bila hal buruk terjadi. Belum lagi berapa banyak data yang akan terkunci otomatis tanpa akses darinya. Bagaimana itu bisa terjadi?”
“Aku seharusnya bertanya padamu.”
“Kamu pikir terlibat?”
“Ya, bahkan lebih dari itu. Kupikir kamu dalangnya.”
Caitlin membuka mulutnya tak percaya. “Kamu pikir aku apa?”
“Kamu mengundurkan diri bukan karena keinginanmu sendiri. Kamu pergi karena tidak puas dengan apa yang kamu dapatkan di sini. Kamu tahu identitas dan semua data kami. Sangat mudah kalau kamu mau merencanakan hal semacam ini.”
“Pelakunya tahu semua identitas kami.” Alex menghindari kata ‘kita’. “Pelakunya pasti orang dalam. Kamu pasti paham. Tidak semudah itu mendapatkan data yang dijaga oleh orang seperti Jayden.”
“Kamu pikir aku keluar lalu melakukan ini untuk membalas kalian? Jangan konyol!” Caitlin menunjuk dada Alex. Nadanya masih tinggi. Meskipun dia berusaha pelan tapi suaranya terdengar penuh amarah. “Dengar, bocah sok tahu! Aku sama sekali tidak terlibat. Aku bukan seorang penjahat! Lagipula, kalau benar aku ingin memberi kalian pelajaran, aku seharusnya menculik temanmu atau keluargamu atau anjingmu atau entah siapa yang ada di dekatmu. Satu-satunya orang yang jadi sumber masalah ini adalah kamu! Menculik Jayden tidak akan membuat sakit hati ini lenyap! Bahkan, kalau dia tewas sekalipun!”
Alex terdiam. Dia tidak berpikir kalau Caitlin malah akan memarahinya seperti itu. Alex tak membiarkan dirinya terpojok. “Tidak akan ada pencuri yang mau mengaku. Kamu hanya bicara begitu agar tak dicurigai.”
“Jayden seharusnya jadi operatorku. Tiger seharusnya jadi rekanku di lapangan. Dokter Vanessa seharusnya fokus padaku. Profesor dan Nadira akan bangga padaku kalau seandainya kamu enggak mengacaukan semuanya. Kamu belum paham? Aku tidak punya motif untuk menculik Jayden! Aku bahagia sekarang.”
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana kamu bisa tahu soal Jayden? Siapa rekanmu? Diam-diam kamu mengikuti gerakan kamu, ‘kan?”
Ucapan Alex membuat Caitlin langsung terdiam. Dia menarik dirinya menjauh dan bergeming. Tangannya terkepal dan matanya tak berani lagi menatap Alex.
Tanpa balasan dari Caitlin, emosi Alex ikut mereda. Dia bisa melihat bagaimana Caitlin seolah berada di ujung kesedihan. Sedikit dorongan lagi dan mungkin gadis itu akan menangis. Namun, gadis itu berhasil mengendalikan dirinya.
Caitlin kembali bicara. Ketenangannya kembali dalam suara yang teduh. “Aku enggak akan menyalahkanmu kalau curiga padaku. Kewaspadaan selalu diperlukan dalam pekerjaanmu. Tapi, percayalah. Aku tidak melakukan apa pun. Aku tidak menculik Jayden. Aku tidak berniat membalas kalian. Sama sekali tidak.” Caitlin membasahi bibirnya yang dipulas merah cherry. “Aku memang masih berhubungan dengan beberapa rekan. Mereka tidak bicara mengenai misi rahasia. Mereka hanya cerita padaku karena tahu aku mengenal Jayden. Cuma itu. Sungguh. Mereka bekerja secara profesional, menyimpan rahasia hanya bagi orang-orang tertentu. Aku sangat paham hal ini. Aku enggak mungkin minta mereka membocorkan hal-hal rahasia padaku.”
Alex menarik napasnya dalam-dalam. Dia bisa membayangkan bagaimana Tiger akan menatapnya dengan mata sayu. Alex, entah bagaimana, bisa menangkap kejujuran dalam ucapan Caitlin. Meski begitu, bukan berarti dia telah percaya sepenuhnya. “Bagaimana dengannya? Dia punya motif.”
“Siapa?”
“Kekasihmu. Baron.”
“Apa kamu bercanda?”
“Dia terlihat seperti seorang pria yang akan menghabisi siapa pun yang menyakiti kekasihnya. Dalam hal ini, kamu.”
“Aku tidak tahu apa yang merasuki dan Jayden. Kenapa kalian selalu saja curiga padanya?” Caitlin menggelengkan kepala. “Aku mungkin tidak seharusnya membocorkan ini, tapi untuk membersihkan nama Baron, kupikir kamu harus tahu. Ini soal saudara kembarnya.”
“Saudara kembar?”
“Baron punya saudara kembar yang terpisah sejak kecil. Kedua orang tuanya percaya kalau dia sudah tewas. Tapi, Baron yakin kalau saudaranya masih hidup dan berambisi menguasai dunia. Aku melakukan beberapa pemeriksaan saat masih aktif dan menemukan kalau nama saudaranya ternyata berulang kali disebut dalam dunia kriminal. Jadi, menurutku, dia memang masih hidup. Dia lebih punya motif untuk menculik Jayden.”
__ADS_1
“Siapa namanya?”
“Roban.”