Zetta Sonic

Zetta Sonic
Navy Envelope


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Alex sedang bersantai di kursi komputernya. Seperti biasa, Rover meringkuk tenang dekat kursinya. Entah sudah berapa lama dia tidak memainkan game seperti yang biasa dia lakukan. Tangannya lebih sering memegang senjata daripada controller game sekarang. Hidupnya berubah, begitu pula jadwalnya.


Alex berhenti sejenak setelah memenangkan beberapa pertarungan di game. Sambil memijit pelipis, dia menarik dirinya untuk bersandar. Ketika matanya terpejam, Alex bisa melihat potongan-potongan ingatannya dengan jelas. Mulai dari penyusupannya ke markas Special Force, pertemuannya dengan Jayden, para robot pembunuh, agen dari Regis, penculikan Jayden hingga pertarungannya dengan Damon.


Ketika terdengar ketukan di pintu, Alex tak perlu menjawab. Dia tahu siapa yang datang. Dia hanya perlu berbalik. Seperti dugaannya, Preston datang dengan nampan di tangannya. Ada jus buah di sana beserta selembar amplop putih.


“Kamu perlu banyak buah dan istirahat,” kata Preston menirukan dokter pribadi keluarga Hill. “Sebenarnya, aku cukup yakin kalau istirahat yang dimaksud adalah berbaring di ranjang bukan bermain.”


Alex melempar senyum simpul. “Aku juga percaya hati yang gembira akan membawa pemulihan lebih cepat. Mrs. Bellsey sudah cukup tertekan karena aku harus beristirahat selama seminggu penuh. Dia ingin aku kembali ke sekolah secepatnya agar tidak tertinggal. Percayalah Preston, aku juga merindukan sekolah.”


“Oh, aku percaya padamu.” Preston menyodorkan nampannya pada Alex dan anak itu mengambil jusnya. “Ada surat ditujukan padamu pagi ini. Pengirimnya dari Universitas Greynia. Anehnya, nama penerimanya adalah kamu. Padahal biasanya mereka mengirim undangan pada ayahmu bukan kamu.”


“Mungkin mereka tak tertarik lagi pada ayah.” Alex menjawab santai, mulai menikmati jus jeruknya.


“Jadi ada hal menarik dari kunjungan terakhirmu ke sana?”


Alex yakin bulu kudunya berdiri ketika melihat ekspresi Preston saat bertanya. Matanya penuh selidik dan bibirnya terkatup rapat. Pria tua itu seolah tahu apa yang terjadi. Berusaha mengabaikan tekanan yang ada, Alex malah mengangkat bahu. “Entahlah. Seingatku kunjunganku ke sana tidak menyenangkan. Aku beruntung bisa pulang hidup-hidup.”


“Kamu bicara soal penembakan masal?” tebak Preston.


Alex menyesap jusnya. Tangan lainnya mengambil amplop putih di atas nampan. Dia melihat ada namanya di bagian depan sudut bawah. Sementara di sudut atas, ada lambang universitas tersebut. “Ya. Itu pengalaman tidak menyenangkan.”


“Berita itu jadi tajuk utama berhari-hari.”

__ADS_1


Alex mengangguk, setuju. “Polisi tidak punya petunjuk soal siapa dalangnya—”


“Atau mereka sudah tahu tapi ada pihak lain yang menyembunyikannya,” sahut Preston. “Para penembak itu bersenjata lengkap dan terkoordinasi dengan baik. Kalau mereka bertujuan menyebarkan ketakutan, itu berhasil. Untungnya, situasi cepat terkendali.”


“Benar. Justru karena itu, aku menawarkan bantuan donasi kepada mereka.”


“Donasi? Murah hati sekali, Alex. Apa itu alasan kenapa mereka mengundangmu untuk pembukaan gedung yang baru selesai direnovasi?”


“Bisa jadi. Kamu juga dengar itu dari berita?”


“Saat suatu hal besar terjadi, perhatian publik akan beralih ke sana. Entah karena sekadar penasaran bagaimana kelanjutannya atau mereka memang peduli. Seperti dirimu. Mereka pasti senang ada anak muda yang peduli sepertimu.”


“Aku hanya melakukan apa yang kubisa.” Alex menegak jusnya sampai habis lalu meninggalkan gelas kosongnya di nampan. Amplop putih telah berpindah ke tangan Alex. Preston pun keluar dari ruangan tanpa banyak bertanya lagi.


Alex menanti hingga Preston lenyap di balik pintu. Setelah itu, barulah dia membawa amplop itu ke kursi komputernya untuk diperiksa. Dia tahu benar kalau isinya bukan undangan untuk datang ke pembukaan gedung yang telah direnovasi. Alex tidak pernah memberikan donasi untuk renovasi gedung melainkan untuk penelitian. Itu bukan surat dari universitas, melainkan surat dari salah satu mahasiswa di sana.


Awalnya, Alex tak berniat memberitahu Jayden soal ini. Saat Jayden diculik, Alex sadar kalau dia tidak akan bisa menyelesaikan keinginannya seorang diri. Dia membutuhkan Jayden dan kepandaiannya. Dia akan memberitahu Jayden begitu kondisinya membaik.


Di dalam amplop putih tersebut, Alex menemukan sebuah amplop lain dari bahan karton tebal berwarna biru tua dengan aksen emas. Lagi-lagi, ada logo universitas di sana. Alex menduga itu seharusnya undangan untuk peresmian gedung. Namun, isinya jelas berbeda. Alih-alih undangan, Alex menarik sebuah lempengan tipis. Sebuah chip dengan guratan rumit. Tidak ada surat apa pun, hanya chip.


Chip itu datang di saat yang tepat.


Alex mengambil kotak dari salah satu laci tertutup. Dari kotak tersebut, dia mengeluarkan ponsel sederhana dan mengetikkan nomor yang telah dia hafalkan. Nomor ponsel pribadi Jayden yang baru. Alex menunggu hingga nada sambung itu lenyap digantikan suara Jayden.

__ADS_1


“Hai, selamat siang. Kami menawarkan beberapa produk yang mungkin akan Anda sukai, tuan Garnet.” Alex menyambut.


[Sangat lucu, Alex. Kamu pikir berapa orang yang tahu nomor ini?] Setelah penculikannya, Jayden mengganti ponsel dengan nomor baru. Dia tidak membuang ponsel lama dan nomor lamanya, berjaga-jaga kalau dia bisa memanfaatkan mereka untuk mencari si pelaku.


Alex tergelak. “Bagaimana kabarmu? Sudah membiasakan diri dengan makanan rumah sakit?”


[Aku seharusnya bisa keluar dari sini lebih cepat. Tapi, Nadira berpikir lebih baik menempatkanku di rumah sakit untuk sementara waktu sambil menungguku pulih. Itu lelucon konyol. Aku sudah siap berada di balik meja.]


“Para peneliti sudah menyelesaikan tameng yang kamu rancang.”


[Aku bisa membuat rancangan yang lain.]


“Bagus, itu yang kutunggu.”


Ada jeda sesaat sebelum suara Jayden terdengar lagi. [Sekarang aku merasa telah masuk dalam perangkapmu. Apa yang kamu pikirkan? Apa ini masih soal robot kuda di halaman belakangmu? Aku belum sempat mempersenjatainya sebagai lapisan tambahan keamanan. Aku baru saja diculik, kamu ingat?]


“Aku punya yang lebih baik.”


[Kamu menggunakan nomor asing untuk meneleponku. Biar kutebak, ini akan jadi proyek rahasia di antara kita.]


“Kelihatannya seru, ‘kan?”


[Yakin tidak mau ICPA terlibat? Nadira akan menggantung kita berdua kalau dia sampai tahu. Rahasia di dalam rahasia. Itu tidak pernah berakhir dengan baik.]

__ADS_1


“Kita tidak perlu berbohong padanya, cukup tidak bercerita padanya. Seandainya pun kita cerita, aku yakin Nadira tidak akan tertarik. Ini hanya penelitian sederhana. Dia tidak akan berminat dengannya.”


[Oke. Jadi, penelitian apa yang sedang kamu bicarakan?] Jayden bertanya, tapi tak mendapat jawaban. [Alex? Halo? Alex? Kamu di sana?] Masih tak ada jawaban. Jayden mendengar suara berdebum pelan sebelum sambungan mereka terputus.


__ADS_2