
Pesawat mereka akhirnya menjumpai kapal barang itu. Ombaknya sedang tak begitu tinggi. Beberapa kru kapal terlihat mondar mandir di atas geladak. Setiap dari mereka membawa senapan atau setidaknya belati besar. Ada yang bercengkrama satu sama lain, ada yang sedang merokok, ada pula yang menikmati samudra membentang tak berujung. Setidaknya, pemandangan itu lebih menarik daripada lorong kapal.
Tiger membawa pesawatnya mendekat tanpa kesulitan. Pada dasarnya, pesawat ini memang dibekali teknologi agar tidak bisa tertangkap radar. Ditambah dengan stealth mode, pesawat mereka seperti hantu. Sama seperti Zetta Sonic, mata telanjang tak akan mampu mendeteksi kehadirannya.
“Selesaikan ini dalam waktu satu jam. Kami menunggu kalian di sini” Jayden mengoper pistol laser. Satu pada Alex, satu lagi pada Gavin.
Pesawat mereka merendah hingga sejajar dengan kapal barang. Kini, mereka telah berada di titik temu. Titik temu yang mereka maksud ada di sisi kiri kapal. Ada ruang kosong di sana. Tiger telah membawa pesawat mereka sejajar dengan kapal. Untuk meminimalisir kontak dengan lawan, Gavin dan Alex akan menyusup lewat sana. Ada deretan kontainer yang agak menjorok keluar jadi pelindung sempurna.
Sebenarnya, Alex tak membutuhkannya. Dia bisa mengaktifkan stealth mode langsung. Namun, meningat durasi aktifnya yang pendek, Alex memilih menghematnya.
Setelah menurunkan keduanya, pesawat itu pun kembali naik tinggi. Sama seperti seragam tempur Alex, stealth mode itu pun tak bisa bertahan lama.
Kedua agen itu kini menyusuri deretan kontainer. Sesekali harus bersembunyi agar tidak kelihatan. Mereka dibantu Jayden yang mengawasi dari pesawat. Kali ini, si drone tidak akan ikut bersama mereka. Anginnya terlalu kencang. Bisa-bisa drone itu malah tenggelam alih-alih membantu.
Gavin memimpin di depan. Dia lebih berpengalaman dalam hal semacam itu. Tangannya memberikan isyarat kapan berhenti, kapan bergerak. Alex mengamatinya dengan seksama. Itu pelajaran baru sekaligus praktik langsung. Gavin merapatkan dirinya ke kontainer sambil mengawasi tangga menuju dek bawah. Begitu tak ada orang lagi, dia menghambur bersama Alex.
Lorong kelabu menyambut mereka di sana. Mereka berjalan lurus, melewati ruang mesin, bersembunyi di antara pipa-pipa besar. Di sana, udaranya terasa pengap. Suhunya cukup tinggi, begitu pula kelembabannya. Kadang ada asap tipis mengepul. Mereka membentuk kabut tipis. Aroma besi terasa tajam.
Alex tak suka berada di sana. Bukan hanya di ruang mesin. Dia tak suka berada di atas kapal itu. Dia pernah naik kapal dan sangat menikmatinya. Tapi, itu kapal pesiar sementara ini hanya kapal barang. Alex tak suka interiornya, guncangannya, dan terutama baunya. Hidungnya berulang kali protes. Alex hanya diam. Salah satu keuntungan memakai helm adalah tak seorang pun bisa membaca bagaimana reaksimu saat itu.
Mereka bergerak lurus hingga menemukan lorong yang lain. Lorong ini berwarna putih dengan lantai kelabu. Cat bagian dinding-dindingnya mengelupas. Beberapa baut pelindungnya lepas juga berkarat. Aromanya di sana tak lebih baik. Masih pengap meski lebih dingin.
Lorong ini memiliki deretan pintu di sisi kanan dan kiri. Semua sedang tertutup kecuali satu. Di pintu itu, mereka bisa melihat dua anggota kru sedang bermain bermain kartu.
“Biar aku saja,” ujar Gavin.
__ADS_1
Alex tak paham maksudnya. Dia menanti di luar sementara Gavin dengan santai melenggang masuk. Kedua orang di dalam menatapnya bingung. Detik berikutnya, mereka mengambil senjata. Tapi, Gavin lebih cepat. Dia memuntir tangan orang pertama, menjatuhkannya di atas meja. Di saat orang kedua hendak menodongkan senapan, Gavin sudah menempelkan pisau di lehernya. Alex mengerjap tak percaya. Seperti kata Tiger dan Jayden, dia agen yang bagus.
“Maaf tuan-tuan, waktuku enggak banyak. Tolong beritahu di mana gadis-gadis itu berada.” Gavin merendahkan suaranya, sebuah ancaman.
Tak perlu waktu lama, orang menunjuk ke depan. “Lurus saja.”
“Ada berapa orang?”
“Aku enggak tahu.” Orang itu buru-buru menambahkan ketika Gavin menekan pisaunya. “Aku benar-benar enggak tahu. Setahuku ada banyak. Mungkin sepuluh atau lebih. Mereka bergiliran setiap dua jam. Cuma itu yang kutahu.”
“Terima kasih.”
Gavin memutar pisaunya, menjauhkan sisi tajamnya dari leher si anggota kru. Sebagai hadiah, Gavin memberikan tinju keras pada rahang. Lawannya pingsan di lantai. Sementar orang satunya lagi dibuat pingsan dengan pukulan keras di leher.
Alex menelah ludah. Dia tak yakin bisa beraksi sama bersihnya. Meski begitu, tak ada niat sedikit pun baginya untuk memuji Gavin. “Kita sudah tahu kalau ada delapan orang penjaga yang bergilir setiap dua jam,” kata Alex menyusul Gavin yang masih ada di dalam ruangan.
“Apa yang ingin kamu pastikan?” Alex menyahut. “Tidak ada kamera pengawas di sini.”
“Aku tahu. Juga tidak ada kru yang berkeliaran di luar.”
“Terlalu tenang?” tebak Alex.
“Tentu saja. Banyak hal di lapangan yang berbeda dari teori. Juga banyak hal yang bisa terjadi di luar rencana. Seperti apa yang terjadi balai kota. Jangan tersinggung, tapi kamu masih perlu banyak belajar untuk jadi agen sungguhan.”
“Memakai insting, maksudmu?” Alex menelan semua sanggahannya, menggantinya dengan tebakan lain. Dia masih ingin tahu apa pikiran Gavin.
__ADS_1
“Bukan hanya insting. Banyak. Orang-orang itu tetap menjalankan rencana mereka dengan kapal ini. Mereka juga tidak mengganti penjagaan sekalipun data mereka jelas sudah bocor.” Gavin mangedikkan bahu. “Mereka seolah sangat percaya diri bisa mengatasi ini.”
“Aku sudah bilang kalau robot itu ada di sini.”
“Kamu paham, kan? Kita seperti berjalan lurus dalam jebakan.”
“Memang kita punya pilihan? Kamu juga mau menyelamatkan--”
“Tentu saja!” sahut Gavin. “Tapi, ada perbedaan antara nekat dan berani. Ruangan tempat mereka disekap hanya punya satu pintu masuk dan keluar. Artinya, mau tidak mau, kita pasti akan menemui para penjaga. Ruangan itu sendiri seperti penjara. Bertarung di sana tidak akan menguntungkan bagi kita.”
“Kita?” Alex mendengus geli. “Kamu tidak akan bertarung Gavin.”
“Hei, sekalipun bukan Zetta Sonic, aku bisa bertarung lebih baik darimu.”
Alex terkekeh mendengarnya. “Dengar, Gavin. Kamu sendiri yang bilang ada perbedaan antara nekat dan berani. Di depan kita ada jebakan besar. Mereka mengantisipasi kedatangan Zetta Sonic. Mereka tidak akan menyangka kalau aku tidak sendirian.”
“Tunggu, apa maksudmu?”
“Sederhana, kupancing mereka semua keluar. Akan kutumbangkan sebanyak mungkin orang. Tugasmu menyelamatkan gadis-gadis itu.”
“Itu nekat. Kalau robot biru itu keluar--”
“Justru di situ keunggulan kita.”
Gavin menyilangkan tangan di depan dada. “Robot itu sulit dihadapi. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang itu keunggulan kita?”
__ADS_1
“Berani taruhan, saat robot itu keluar, para penjaga akan kabur. Robot itu hanya bisa mengenali targetnya. Dia enggak bisa membedakan mana kawan, mana lawan. Justru kalau robot itu keluar, situasinya lebih mudah.”
Untuk sesaat, Gavin terdiam. Alex mungkin hanya agen pemula, tapi dia punya potensi. Tanpa sadar, dirinya tersenyum. “Baiklah, kamu bosnya. Saranku hanya satu. Jangan bertarung di dalam ruangan. Ada orang-orang enggak bersalah di sana.”