
Tidak ada yang bicara soal kehadiran Zetta Sonic palsu lewat kaca dan menembakkan laser. Alex yang awalnya hanya ingin mengintip, kini langsung terbelalak. Dia melihat Melodiza di atasnya sedang menoleh pada kaca pecah di sudut sana. Sosok Zetta Sonic berdiri di sana. Tingginya, postur tubuhnya, seragamnya. Semua yang menempel pada sosok tersebut merupakan milik Alex.
“Aku enggak akan melakukannya kalau jadi kamu.” Sosok itu mengeluarkan suara milik Alex.
Melodiza membiarkan pistol di tangannya mengarah ke bawah. Lebih tepatnya, ke arah kepala Alex. Alex sendiri bisa melihat raut wanita itu sedikit berubah. Ekspresinya terjebak di antara rasa penasaran dan terkejut juga sedikit menahan tawa. Bingung. Semacam itu tapi dengan sedikit tambahan kekesalah.
“Siapa kamu?” Akhirnya Melodiza bisa bertanya.
Suara itu, kali ini, tidak memberikan efek apa pun pada Alex. Tidak ada keresahan atau suara yang berusaha menghanyutkannya. Suara itu sama seperti wajahnya. Bingung dan kesal di saat bersamaan.
Melodiza berpaling pada Alex yang telah kembali melanjutkan sandiwaranya. “Lelucon macam apa ini, Sonic?”
“Aku yakin kamu sedang bicara padaku.” Jawaban datang lagi dari sang Zetta Sonic palsu. Ketika Melodiza kembali menoleh padanya, dia pun kembali bicara. “Kamu sama sekali tidak paham apa yang terjadi, huh? Belum sadar kalau tertipu mentah-mentah, ya? Hahaha…”
Alex akan ingat untuk memprotes Emil. Dia tidak tertawa seperti itu. Tawanya lebih renyah. Tawa yang terdengar saat ini terdengar seperti rekaman sungguhan. Sedikit bagian dari Alex mulai waswas kalau Melodiza akan menyadarinya. Ternyata tidak. Wanita itu malah berdecak kesal.
Zetta Sonic melangkah maju. “Kamu berpikir kalau kami tidak tahu kamu berusaha mencari siapa diriku?” Perlahan, helm Zetta Sonic pun lenyap. Setiap kepingannya turun hingga ke leher. Wajah Alex palsu di baliknya terekspos. “Bagaimana, Melodiza? Wajah dan suaraku lumayan mirip, kan?”
Melodiza terbelalak sungguhan. Begitu pula Alex, namun dirinya cepat-cepat menutup mata lagi. Melodiza bergantian menoleh pada sosok itu dan Alex yang ada di bawahnya. Tak berapa lama, wanita itu mengangkat kakinya dan terburu-buru mundur. Alex segera tahu penyebabnya dari ucapan si Zetta Sonic.
“Coba lihat baik-baik sekelilingmu. Siapa masuk ke dalam jebakan siapa?”
Tubuh Melodiza segera saja dihujani titik-titik merah. Sumbernya jelas. Sekelompok orang berpakaian serba hitam berlarian masuk dari pintu kelas yang tengah terbuka. Tiger berada paling belakang. Mendapati kalau dirinya bukan hanya terkepung tapi sudah jadi sasaran tembak, wanita itu pun terpaksa mengangkat tangannya.
“Aku enggak mengira kalau kamu bisa masuk ke dalam jebakan semudah itu.” Helm Zetta Sonic kembali menutupi setiap jengkal wajah Alex palsu. “Aku akan segera dapat bonus setelah ini. Ternyata kamu tidak sehebat yang dibicarakan orang.”
__ADS_1
Melodiza berdecak kesal.
Alex sadar kalau dirinya angkuh. Dia juga menyadari kalau ucapan dari si Zetta Sonic cukup mencerminkan dirinya. Meski, kalau boleh jujur, Alex merasa cukup kesal. Perannya di sana saat itu hanyalah korban tertembak dan terinjak. Beruntung sekali karena dirinya mengenakan seragam tempur berselubung green screen.
Emil membuat modifikasi luar biasa di sana. Pakaian dan fitur baru Jason merupakan kombinasi ampuh untuk menipu mata manusia. Lapisan green screen menutupi tubuh Alex sementara Jason memancarkan gambar padanya dengan sempurna tanpa celah. Luka tembakan lengkap dengan darah bahkan bekas sepatu di atas dada. Teknologi ICPA selalu membuat Alex terpukau.
Tiger menghampiri Melodiza, memborgol tangan wanita tersebut ke belakang punggungnya.
“Bisakah kita bicarakan soal ini, pria kekar?” Melodiza berusaha bicara namun Tiger bergeming.
Tiger melakukan tugasnya dengan cepat. Di balik helm yang dia kenakan, Tiger jelas telah memakai sumpal telinga. Tiger pun menyeret wanita itu melewati Alex dan keluar dari ruang kelas. Di ambang pintu kelas, Emil mematung. Kelihatan aneh karena memakai helm seperti milik Tiger tapi tidak memakai rompi atau peluru. Emil memakai celana panjang dan jaket bertudung panjang warna kelabu. Tudungnya kini ikut terjebak di dalam helm.
Alex menanti. Menanti instruksi atau kalimat apa pun. Alex memilih berdiam di tempat hingga dirinya tersadar kalau semua teman-temannya masih mematung. Selain itu, pasukan berpakaian hitam yang tadi menodongkan senapan pada Melodiza lenyap. Begitu pula dengan seragam yang seharusnya dia kenakan.
“Itu semua ilusi?” Alex membiarkan protesnya meluncur ke luar. “Semuanya?”
“Melodiza tidak menyadarinya!?”
“Kamu juga,” jawab Emil datar.
“Kupikir hologram Jason hanya bisa dipakai di atas permukaan polos.”
“Enggak juga. Baju itu bertugas melindungimu. Mengulur waktu. Membuat Melodiza lengah.”
Emil mengatakan berbagai hal yang sebenarnya tidak saling terhubung. Namun, Emil benar. Dengan pakaian itu, Melodiza merasa telah berada di atas angin. Sandiwara Alex memberi Emil sedikit waktu demi menyusun robot palsu Zetta Sonic.
__ADS_1
“Sampai kapan mau berbaring di sana?” Emil bertanya. Dengan santai, dia menjatuhkan bola sepak baru. Bola tersebut menggelinding turun ke tengah serpihan kaca. Satu tangannya masih menggenggam tablet PC sementara tangan lainnya terulur ke atas, bersiap memberikan landasan bagi Jason si drone.
“Apa— Apa yang terjadi?”
“Jangan lupa tasmu.” Emil melirik tempat duduk Alex.
Alex bergegas berdiri. Dia meringis ketika menyadari ada rasa sakit tajam di pahanya. Lebih tepatnya, pada posisi bekas tembakan. Dia melirik untuk mendapati adanya darah mengalir sungguhan. Setetes darah segar mengalir dari dari pakaian yang berlubang. Untuk sesaat, Alex mengira dirinya tertembak.
“Pelurunya pecah. Ada bagian yang berhasil menembus seragam tempur. Akan kubereskan nanti,” sahut Emil.
Alex mengusap lukanya. Dia menyadari memang ada bagian yang terasa tajam di sana. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Obat-obatan ICPA akan segera menyembuhkannya.
Menuruti ucapan Emil, Alex bergegas menghampiri tempat duduknya. Dia melewati Willy yang bergeming dengan tatapan kosong. “Mereka masih di bawah pengaruh hipnosis,” ujar Alex seraya mengambil tasnya.
“Mereka akan baik-baik saja. Hipnotis Melodiza akan lenyap sendiri.”
“Apa itu akan makan waktu lama?” Alex menenteng tasnya, menghampiri Emil. Dirinya berhasil menahan rasa sakit dan berjalan normal.
“Kurang dari tiga puluh menit. Mereka akan baik-baik saja.” Emil mengulang ucapannya. Pemuda itu menunduk, sama sekali tidak berniat bicara dengan Alex. “Aku membuat surat izin untukmu. Keperluan mendadak. Seperti biasa. Saat teman-temanmu sadar, jam pelajaran sudah berganti. Guru baru masuk. Tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi.”
“Kamu merusak kaca kelasku!”
“Aku meletakkan bola sepak di sana.”
Alex sudah membuka mulut untuk menjawab, sayangnya dia tak tahu bagian mana yang bisa diprotes. Akhirnya, dia malah mengganti topik. “Robot apa itu tadi? Aku enggak tahu kalau ICPA punya robot dan teknologi hologram semacam itu.”
__ADS_1
Emil berhenti. Dia melepas helmnya. Mata sayunya menatap Alex yang kini ikut berhenti. “Itu karena kamu tidak mendengarkan.” Hanya itu yang diucapkan Emil sebelum kembali menyusuri lorong sekolah menuju mobil mereka.