
Jayden melihat bagaimana Alex menghabiskan waktu ngobrol dengan sang dokter. Dia sendiri harus mengakui kalau dokter Vanessa seperti ibu sekaligus teman bagi mereka semua. Dia siap mendengarkan berbagai keluh kesah mereka setiap waktu. Jayden tak menyangkal kalau juga suka ngobrol dengannya.
Setelah satu jam berlalu, dokter Vanessa akhirnya berpamitan. Tiger kini ikut terlelap. Tinggallah Jayden dan Alex. Jayden pun memutuskan menjumpai anak itu di meja tinggi. Alih-alih duduk di seberangnya, Jayden duduk di samping. Sementara Jason diletakkannya di atas meja setelah menyingkirkan piring-piring untuk memberi ruang.
“Jadi,” kata Jayden membuka percakapan, “aku penasaran alasan apa yang kamu bilang pada pengawasmu.”
“Maksudmu, apa yang kubilang pada Mrs Bellsey dan Preston supaya bisa menginap di sini?” tebak Alex. “Sebenarnya, aku enggak bilang apa pun. Mrs. Bellsey mengambil cuti. Dia sedang pulang ke kampung halamannya. Preston pergi menemui putrinya di rumah sakit. Aku enggak perlu cari alasan apapun kali ini.”
“Bagaimana dengan ibu dan ayahmu.”
“Well, kamu tahu mereka--”
Percakapan mereka terhenti karena ponsel Alex berbunyi. Alex tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya yang terbelalak membuat Jayden langsung mengintip layar ponselnya. Muncul foto laki-laki berambut hitam dengan uban dengan nama kontak yang sangat pendek: Ayah.
Alex melempar pandangannya pada Jayden.
Seolah memahami kalau Alex takut hubungan tersebut disadap, Jayden mengangguk. “Tidak apa-apa. Angkat saja. Tempat ini aman. Hal yang perlu kamu cemaskan mungkin hanya dengkuran Tiger.”
Tiger tidak sedang mendengkur.Bersebelahan dengan Emil, keduanya terlelap tanpa suara. Tapi, itu bukan berarti kalau mereka akan tetap senyap dalam beberapa menit ke depan. Jayden dan Alex sama-sama paham itu.
Jari Alex tak lantas mengusap layar untuk menerima panggilan. Dia perlu beberapa detik hingga akhirnya menerima panggilan tersebut. Saat ponsel itu sudah berada di telinganya, Alex pun menyapa setelah menarik napas dalam-dalam. “Halo, Ayah?”
[Alex, aku baru menerima kabar dari ibumu. Preston mengambil cuti.]
“Ya. Putrinya sakit. Dia pergi untuk mengunjunginya.”
[Kamu membelikannya tiket?]
Untuk sesaat, Alex mendapat kesan kalau ayahnya paham apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana dia membelikan tiket lalu meyakinkan Preston untuk menemani putrinya. Kemudian, dia menepis pikirannya sendiri. “Preston tidak biasa membeli tiket online. Jadi, aku membelikannya. Itu lebih cepat.”
[Dia pergi malam ini?]
“Ya.” Alex selalu mendapati pembicaraannya seperti interogasi. Ayahnya memberi pertanyaan, dia menjawab. Biasanya Mark Hill lebih sering bertukar pesan daripada menelepon. Sering yang dimaksud bukan setiap hari, bukan pula setiap minggu. Sedangkan telepon dari ayahnya benar-benar bisa dihitung dengan jari.
[Dia akan kembali pada awal Januari?]
“Rencananya begitu.”
[Baik. Aku juga sibuk dalam minggu ini. Tapi, aku yakin bisa pulang pada tanggal 26 atau 27. Akan kucoba berada di rumah sampai Preston kembali.]
__ADS_1
Mendengar itu, mulut Alex terbuka lebar. Jayden di seberangnya menyipitkan mata, penasaran pada pembicaraan mereka. Alex menggelengkan kepala, pulih dari kebingungannya. “Ku-- Kupikir--- Maksudku, Ayah sibuk-- Bu-- Bukannya seperti itu?” Alex mendapati dirinya gelagapan. Perasaan senang bercampur bingung memenuhi benaknya.
[Memang. Karena itu, aku bilang akan kucoba berada di rumah sampai Preston kembali. Semoga saja tidak ada rapat… pemegang saham di antara tanggal tersebut.]
Alex menyadari ada jeda ketika ayahnya bicara soal rapat. Ayahnya bukan pembohong sebaik dirinya. Mungkin, itu hal yang baik. Dia sadar kalau telah memulas senyuman tipis di sana. Sebuah ekspresi spontan tanpa terencana.
[Halo? Alex, kamu masih di sana?]
“Ya, ya. Aku bisa mendengarmu.”
[Oke. Akan kuhubungi lagi kalau penerbanganku sudah pasti. Jaga kesehatanmu.]
“Tentu. Ayah juga.”
Pembicaraan tersebut berakhir di sana. Alex tak bisa menahan senyum yang makin melebar di wajahnya.
Jayden meneliti wajahnya dan membuat pengakuan, “Dari raut wajahmu, aku sama sekali enggak bisa menebak apa telepon tadi berakhir atau enggak. Dahimu sempat berkerut, tapi kamu juga tersenyum tadi. Jadi?”
“Ayah akan pulang?”
“Maksudmu, Macus Anthony Hill, pimpinan ICPA Regis?”
“Itu berita baik, ‘kan?” Jayden tersenyum, memastikan pendapatnya.
Alex menangguk beberapa kali. “Ini berita yang sangat baik, seperti…”
Jayden menanti Alex mengucapkan kalimat lanjutannya, tapi anak itu tak kunjung bicara. Dia pun melanjutkannya untuk Alex. “Seperti hadiah natal?”
Alex tersenyum. Kepalanya menunduk. Tatapannya terarah pada ponsel di pangkuan.
“Selama ayahmu di rumah, kupikir akan sulit buatmu keluar masuk ke sini,” lanjut Jayden. “Tapi, aku yakin bukan itu yang ada di pikiranmu sekarang. Ada apa, Alex?”
Alex menelan ludah, memastikan suaranya tidak akan bergetar ketika bicara. “Hadiah natal yang selalu kuinginkan adalah mereka. Keluargaku sangat kecil. Hanya ada ayah, ibu, dan aku. Dari dulu, aku selalu bertanya kenapa sulit sekali membuat kami bertiga bersama. Kalaupun kami semua di rumah, kami biasanya sibuk dengan acara masing-masing. Aku melihat mereka sebagai sosok yang sangat jauh.”
Jayden diam, menanti Alex melanjutkan.
Setelah beberapa tarikan napas, Alex tersenyum. “Setidaknya, sekarang aku tahu apa yang dilakukan ayahku. Di ICPA. Dan… Telepon barusan... Entah kenapa, aku merasa sangat senang. Seperti anak kecil.”
“Sebentar, apa dia pulang ke rumah setelah tahu kalau Preston tidak ada di rumah?”
__ADS_1
“Kurang lebih seperti itu.”
Jayden tertawa kecil. “Kupikir aku tahu alasannya. “Selama ini, kamu pikir dia sudah tidak peduli padamu. Jadi, wajar saja kalau kamu begitu senang setelah mendengar kepulangannya, ‘kan?”
Alex tertegun beberapa saat, baru ikut tersenyum. “Ya, itu terasa tepat.”
Jayden memberikan anak itu waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Hal yang perlu dikhawatirkan selama Mark Hill berada di rumah hanyalah pergeseran jadwal latihan. Jayden tidak keberatan sama sekali bila harus menyusun ulang jadwal tersebut untuk Alex. Menurutnya, setiap orang berhak menikmati waktu bersama keluarganya. Mari berharap agar tidak ada penjahat super yang berulah selama masa-masa liburan.
“Hei, J.” Alex memecahkan kesunyian. “Bagaimana dengan kalian? Kalian bertiga akan tetap di sini selama liburan?”
“Yup. Rumah Emil dekat. Dia bisa mengunjungi orang tuanya kapan pun dia mau. Tiger juga akan mengunjungi rumah adiknya. Setauku, kedua orang tuanya sudah tiada. Mereka berdua memilih tetap menginap di sini. Menurutku, itu soal kebebasan.”
“Bagaimana keluargamu? Kamu enggak pernah cerita apapun soal itu.”
Itu bukan topik yang ingin dibahas Jayden. “Jangan khawatirkan soal aku, Alex. Keluargaku ada di sini. Kamu, Emil, Tiger, dokter Vanessa. Sekalipun aku juga sering bertengkar dengan kalian. Tapi… Aku enggak bisa mengharapkan yang lebih baik dari kalian.” Jayden menambahkan, “Jangan hitung profesor Otto.”
“Ya, ya. Aku bisa lihat kamu enggak cocok dengannya.”
“Dia menyembunyikan sesuatu. Aku enggak suka itu.”
“Bagaimana dengan Jason?” Alex melempar pertanyaan disertai senyum usil.
Pertanyaan itu membuat Jayden membuat ekspresi yang tak pernah dilihat Alex sebelumnya. Dia menghindari tatapan Alex meski hanya sepersekian detik. Kemudian, Jayden membuat senyum yang hanya melibatkan bibirnya. Tangannya menyentuh drone di atas meja. Benda itu terasa dingin pada sentuhannya.
“Kupikir dia anggota keluarga yang terbaik.”
Alex tak perlu bertanya lagi, dia tahu jelas Jayden menyembunyikan sesuatu darinya. Tak berniat mengorek informasi lebih lanjut, Alex membiarkan lantunan lagu menutup malam tersebut.
Later on, we'll conspire
As we dream by the fire
To face unafraid
The plans that we've made
__ADS_1
Walking in a winter wonderland