Zetta Sonic

Zetta Sonic
Unknown Caller


__ADS_3

Mungkin kehidupan yang tenang tidak sepenuhnya cocok bagi Alex maupun Jayden. Jayden juga merasakan kecanggungan dalam ketenangan itu. Tidak ada panggilan misi. Semua terkendali di bawah pimpinan Fergus. Agen ICPA bisa mengatasinya. Mereka tidak perlu Zetta Sonic, setidaknya untuk sekarang. Tidak ada ancaman virus komputer mematikan atau pembajakan sistem. Semua terlalu tenang. Namun, itu hanya ketenangan sebelum badai. Jayden tahu. Dia telah mengalaminya berulang kali.


Jayden menarik dirinya maju lebih dekat ke layar komputer. Layar di hadapannya punya layar hologram besar yang ukurannya bisa diubah hanya dengan sentuhan tangan. Dia bisa menambah berapa pun layar yang dia butuhkan.


Ada layar yang menunjukkan perbaikan robot ICPA di sana. Fergus memperbaiki robotnya dan mulai memikirkan untuk memproduksi beberapa unit sekaligus. Mereka membuat cetak birunya berdasarkan robot pembunuh Nikola Shah. Robot milik ICPA punya kecerdasan buatan yang lebih rendah. Ini bertujuan memperkuat kontrol dari pusat. Juga berjaga-jaga bila ada orang yang berusaha mengambil alih sistemnya.


Ada pula layar yang menunjukkan berita-berita terbaru dunia. Dia bisa mengamati apa-apa saja yang terjadi di luar sana. Entah itu di Regis atau di benua lainnya. Kadang beritanya berganti soal pergolakan pasar saham. Para penjahat berkerah putih kadang memainkan permainannya secara digital.


“Terlalu tenang.” Emil mengucapkan kalimat itu akhirnya.


“Hei!” Tiger langsung protes. Pria besar itu sedang asyik bermain game dari ponsel pintarnya. Dia duduk santai di atas kursi empuk sementara kakinya berada di atas meja pertemuan. Meski Tiger berada di bagian yang lebih rendah, dia bisa mendengar keluhan Emil yang samar. “Jangan ucapkan itu, bocah!”


“Aku bukan bocah.” Seingat Emil, Tiger hanya memanggil Alex dengan sebutan ‘bocah’.


“Baiklah. Jangan ucapkan itu, bocah nomor dua! Biasanya hal buruk akan terjadi setelah seseorang mengatakan kata itu lagi. Beruntun. Itu seperti kata tabu di sini.”


“Yang mana? Tenang?” tebak Emil.


“Hei! Sudah kubilang, jangan ucapkan!” seru Tiger.


Jayden terkekeh. Mereka tidak perlu takut dengan mengucapkan kalimat tertentu. Mereka tidak sedang berusaha menantang dunia untuk memberikan masalah. Masalah itu akan datang dengan sendirinya. Itu hanya masalah waktu.


Baru selesai berpikir, muncul layar baru. Masalah.


Layar itu muncul di atas layar hologram lainnya. Itu merupakan panggilan telepon dari pihak luar. Jaringannya terenkripsi dan tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Masalahnya, orang yang mengetahui nomor Jayden juga pasti bukan sembarang orang.

__ADS_1


“Hei,” kata Jayden pada kedua rekannya. “Kita mendapatkan panggilan dari orang asing. Bagaimana kalau kuputar di pengeras suara?”


Sebelum Jayden melakukannya, dia terlebih dulu Jayden menampilkan panggilan tersebut pada layar besar. Isinya hanya nomor asing beserta lambang untuk menerima atau menolak panggilan. Suara dering memenuhi seluruh ruangan. Tinggal satu tombol saja dan mereka bisa mendengar siapa di balik panggilan tersebut.


“Siapa?” tanya Tiger. “Jangan bilang kalau kamu memberikan nomormu pada seorang gadis lalu dia meneleponmu di jam kerja seperti ini.”


“Itu bukan nomor pribadi. Itu nomor ICPA,” balas Emil. “Apa itu nomor telepon dari agen lain?”


Seperti anggota ICPA lainnya, anggota Special Force juga mendapat satu nomor khusus untuk digunakan berhubungan dengan misi. Penelepon mereka melakukan panggilan pada nomor ICPA milik Jayden. Untuk orang seperti Jayden yang paham bahaya dunia maya, dia jelas tidak akan memberikan nomornya begitu saja pada orang lain.


“Jayden punya data nomor semua agen yang ada di Regis. Kalau itu nomor ICPA, sistemnya pasti tahu. Bukan begitu?” Tiger bertanya sambil melirik Jayden. “Aku berani bertaruh kalau itu dari musuh lama Zetta Sonic.” Tiger mengganti tebakan.


“Untuk apa dia menghubungi? Memberi ancaman?”


“Mungkin. Misalnya dia ingin menyebar teror. Oh, atau mungkin dia menculik seseorang dan berusaha menekan Jayden?” Tiger dan teori konyolnya sukses membuat kedua orang lainnya mengernyit.


“Tidak, kita tidak membajaknya. Maksudku, robot itu bahkan sejak awal tidak didaftarkan sebagai merek dagang begitu, ‘kan. Itu alat pembunuh.”


“Kita mencontoh desainnya.”


“Kita tidak mencontoh tujuan pembuatannya. Kita membuat robot yang bisa melawan mereka. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kita melakukan hal seperti itu.”


“Justru itu. Itu alasan mereka. Melakukan panggilan ke sini. Mungkin panggilannya berisi virus. Atau, mungkin suara hipnotis. Atau, mungkin gelombang perusak otak.”


Tiger terdiam sejenak lalu berputar menghadap Jayden yang ada di belakang. “Gelombang apa? Apa itu mungkin?“ tanya Tiger. Jayden tak menjawab, hanya mengangkat bahu. “Kalau begitu, jangan putar itu di pengeras suara,” tambahnya.

__ADS_1


Jayden tertawa kecil mendengar perdebatan kedua rekannya. Siapa yang mau berdebat mengenai rahasia cetak biru dan pemegang merk robot pembunuh? ICPA telah lama berusaha membuat robot seperti itu. Ketika mereka menyita robot Nikola, mereka menyelesaikan robot jauh lebih cepat dari jadwal.


“Baiklah,” kata Jayden. “Mari kita dengarkan.”


Jayden mengangkat panggilan tersebut dan suara di seberang sana pun terdengar. Suara wanita dengan latar belakang riuh rendah. [Hai! Sara. Aku baru saja mendarat. Bagaimana kalau kita belanja tas yang kamu ceritakan tempo hari?]


“Caitlin?” tanya Tiger. Dia mengenali suara gadis itu. “Kupikir kamu salah nomor.”


[Iya, tas limited edition itu. Kamu bilang kamu akan belanja denganku, ingat? Tapi, sampai sekarang kamu belum memberi tahu di mana tokonya. Bagaimana kalau kita sekalian saja minum kopi bersama sebelum belanja.]


“Kamu salah sambung,” ujar Tiger lagi.


Namun, seolah tak menghiraukan ucapan Tiger, Caitlin terus saja bicara. [Ah, aku tahu. Bagaimana kalau kita ke Hummingbird Cafe? Jaraknya lumayan dekat dari sini. Mungkin aku bisa sampai sana pukul sebelas. Aku rindu cream puff mereka. Atau kamu punya usul tempat lain yang juga nyaman untuk ngobrol?]


Tiger mendengus kesal. “Dia sama sekali tidak mendengarkan.”


“Tidak,” sahut Jayden. “Kupikir dia sedang berusaha mengatakan sesuatu pada kita. Cait, apa Baron bersamamu? Kalau iya, katakan soal baju.”


[Sempurna. Kalau begitu, aku akan memakai jaket kulit cokelat muda. Kamu bisa pakai yang senada dan kita bisa foto bersama.]


Ketiga laki-laki di dalam ruangan saling melempar pandang satu sama lain. Ada yang tidak beres dalam panggilan itu. Caitlin tak ingin Baron mengetahui dirinya sedang menelepon ICPA. Dia menyamarkan panggilannya.


“Cait, apa kamu berada dalam bahaya?” tanya Jayden lagi.


[Sampai ketemu di Hummingbird, Sara. Jangan terlambat, ya!] Panggilan pun terputus.

__ADS_1


Emil dan Tiger spontan menoleh ke arah Jayden.


“Baik, itu lumayan aneh. Dan, jam sebelas itu tidak sampai tiga puluh menit lagi,” kata Jayden. “Emil, hubungi Nadira. Tiger, pergi ke Hummingbird Cafe tapi jaga jarakmu dan jangan masuk sampai kupastikan ini bukan jebakan. Jangan lupa bawa senjata. Aku akan menghubungi Alex.”


__ADS_2