Zetta Sonic

Zetta Sonic
Morning Flight


__ADS_3

Alex terbangun seperti biasa. Rover menyalak ketika pintu kamar diketuk. Preston masuk membawa baki berisi teh panas. Dia memastikan beberapa jadwal Alex. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Alex bisa berhenti dari kursus yang tidak dia suka. Sebagai gantinya, Alex berjanji menggunakan waktunya untuk belajar hal lain.


Ayah sama sekali tidak masalah soal itu. Ibunya dan Mrs. Bellsey cerita lain. Keduanya bersikeras agar Alex setidaknya mengambil kursus daring atau sejenisnya. Namun, pada akhirnya kedua wanita itu menyerah.


Mengingat perdebatan yang sempat terjadi di telepon selalu membuat Alex tersenyum tanpa sadar. Preston mengenali betul ekspresi tersebut.


“Mengingat sesuatu yang lucu, Alex? Apa ini soal sekolah?” Preston bertanya. Dia berdiri di samping Alex yang menikmati teh di atas sofa sembari memeriksa jadwal hari itu di tablet PC.


“Banyak hal lucu terjadi belakangan ini.” Alex masih tersenyum.


“Apa ini soal kuda di halaman?”


Alex tergelak karenanya. Itu memang lucu. Ayahnya membeli robot kuda untuknya dan dia sendiri meminta ICPA mempersenjatai mainan barunya. Cukup lucu melihat beberapa perampok dibuat ketakutan karenanya.


“Kuharap kamu tidak melakukan hal-hal lucu itu lagi. Setidaknya dalam minggu ini,” lanjut Preston. “Ibumu sedang sensitif belakangan ini.”


Tawa Alex lenyap. “Aku tahu.”


Dia membereskan cangkir majikannya, menatanya dalam baki, dan bersiap keluar ruangan. “Kalau begitu, segeralah bergegas. Ibumu sudah menunggu untuk makan pagi bersama.”


“Apa yang kamu bicarakan?”


Langkah Preston berhenti di depan pintu. Dia mengerjap bingung pada Alex. “Aku yakin ibumu sudah mengirim pesan.”


Bola mata Alex bergulir ke bawah. Dia berpikir. Ya, dia memang menerima pesan itu dan sempat membalasnya pula. Hanya saja, setelah mengetahui kalau ibu lebih banyak menyembunyikan berbagai hal — selain berbohong, Alex sulit membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Termasuk hari ini. Alex tak yakin kalau ibunya akan datang hari itu dengan penerbangan pagi.


“Kupikir dia belum tiba, penerbangan internasional kadang terlambat,” ucap Alex asal. “Dan, dia mau sarapan? Seingatku ibu enggak biasa sarapan.”


“Mungkin dia hanya rindu padamu.”


Alex tertawa kecil. “Mungkin. Baiklah, aku akan segera turun.”


Preston Mengangguk, meninggalkan Alex. Begitu pintu tertutup, Alex merosot di sofa warna labu itu sambil mendesah panjang. Dia tak menyangka ibunya benar-benar akan datang lebih awal. Parahnya lagi, ibunya meminta dia sarapan bersama. Biasanya, itu tidak akan berpengaruh. Kali ini, dia tidak siap.

__ADS_1


Rover menyalak, meminta perhatian.


“Jangan sekarang!” sahut Alex. “Aku enggak mau bermain.”


Rover menyalak lagi lalu meletakkan kepala beserta satu kaki depannya di atas lutut Alex. Itu biasa terjadi. Kadang si rottweiler hitam itu seolah paham. Ini hanya salah satu caranya untuk berusaha menghibur Alex.


Tangan Alex mengusap kepala si anjing. Beberapa menit penuh ketenangan itu cukup baginya. Alex pun bangun. Dia bersiap dan akhirnya keluar untuk sarapan bersama ibunya. Pikiran itu sempat terlintas di benaknya. Sepertinya makan paginya akan jadi perlombaan berbohong yang menarik.


“Hai, sayang!” Ibu menghampiri Alex, memberi kecupan manis di setiap pipinya.


Ibunya mengubah gaya rambut lagi. Rambut ikal panjangnya kini berwarna merah menyala. Wangi parfum lembutnya menjumpai Alex. Parfum yang sama. Ibunya memang menggeluti dunia seni peran dan fashion. Dia suka bergonta ganti gaya kecuali aroma parfum. Sepertinya ibu bahkan lebih setia pada parfumnya daripada ayahnya.


“Kamu bukan hanya semakin tampan, sekarang kamu makin tinggi. Oh, sepertinya aku melihat calon model di wajahmu.” Ibu melepas pelukan. Dia membelai lembut pipi putranya.


Kebohongan apa itu? Alex ingin menertawakan pujian ibunya. Di matanya sendiri, dia sama sekali tidak cocok menjadi seorang model. Jayden mungkin lain ceritanya. Dia tinggi, punya sorot mata tajam memesona, tubuh tegap dan ideal, meski senyumnya cukup menyebalkan.


Sementara dirinya punya sorot mata pembunuh yang menakutkan. Dia menyadari hal ini ketika lebih sering menggunakan Dragon Blood. Kadang dia sendiri takut pada dirinya sendiri. Lalu, bagaimana dengan luka-luka di tubuhnya? Luka-luka itu bisa pulih dengan baik berkat teknologi ICPA. Tapi, seorang model tidak seharusnya punya tubuh penuh luka seperti itu.


Ibu melangkah ke kursi makan. Preston menarik kursi itu untuk majikannya. Ibu mengangguk pelan. Preston pun mulai mempersiapkan sarapan bagi keduanya.


“Gadis-gadis akan menyukaimu. Apa kamu punya gadis pujaan hati saat ini?” Ibu bertanya namun tak memberikan putranya kesempatan menjawab. “Kamu akan dapat banyak pilihan saat jadi model.”


Alex menggeleng. “Itu menarik dan menakutkan.”


Alex tak paham kenapa ibunya bisa berkata semudah itu. Pilihan apa yang dia maksud? Dia adalah milik ayahnya. Dia adalah milik keluarganya. Alex tak habis pikir apakah selama ini ibunya memang seperti itu atau dia yang baru menyadarinya.


“Bagaimana sekolah?” Ibu mengganti topik ketika sarapan telah siap dan Preston meninggalkan mereka.


“Membosankan. Seperti biasa. Banyak masalah.”


“Nilaimu menurun. Ada yang mengganggu pikiranmu?”


“Tentu saja. Aku berpikir kenapa nilaiku menurun.” Alex terkekeh. Ibunya hanya tersenyum.

__ADS_1


“Aku tahu nilai bukan segalanya, tapi—“


“Aku akan mengejar nilai-nilaiku lagi. Ibu enggak perlu khawatir.” Alex memotong ucapan ibunya. “Bagaimana dengan ibu? Ada hal menarik selama beberapa minggu ini?”


“Banyak masalah. Kamu tahu, orang-orang di sekelilingku selalu berusaha mencari berita. Mereka mengawasi dua puluh empat jam, berharap aku membuat kesalahan. Mereka menginginkan berita viral atau semacamnya.” Ibunya ikut tertawa kecil.


“Termasuk berita yang sempat jadi headline—“


“Astaga! Itu jebakan!” Gantian ibu memotong ucapan Alex. “Kami tidak menginap di kamar yang sama. Aku hanya kebetulan ke sana untuk mengambil sampel produk.”


“Kosmetik?” tebak Alex.


“Perhiasan. Dia ingin aku melakukan beberapa sesi foto. Jangan khawatir. Aku akan mengatasi kesalahpahaman ini dengan ayahmu.”


“Dia menelepon?” tanya Alex.


Ibunya terdiam, mencari kata-kata. “Kami berkomunikasi setiap hari,” ujarnya.


Berkomunikasi. Bahasa yang kaku. Alex cukup yakin kalau ayah tidak menghubungi ibu setiap hari. Hubungan mereka berjarak akibat bisnis dan kriminalitas internasional. Alex tak bisa menyalahkan siapa pun. Dia juga terlibat di dalamnya. Hubungan renggang itu terasa normal kalau sekelilingmu juga demikian.


“Alex… Alex… Sayang?” Ibu menyentuh tangan putranya, menyadarkannya dari lamunan. “Maaf, kalau ibu membuatmu khawatir. Percayalah, semuanya akan beres nanti.”


“Aku tahu.” Alex melempar senyum palsunya sembari menarik tangannya dari jemari halus sang ibu. “Aku hanya sedang memikirkan yang lain. Sabtu ini kami akan bersenang-senang.”


“Coba ceritakan pada ibu. Ada apa Sabtu ini?”


“Pool party. Berenang dengan teman-teman sekelas. Semoga cuacanya cerah.”


“Itu sepertinya menyenangkan. Kamu akan memukau teman-temanmu dengan gaya renangmu.”


Alex tersenyum lagi. Ibunya berlebihan. Tidak ada seorang pun akan terpukau dengan cara berenangnya yang biasa-biasa saja. Lagipula, ibu tidak tahu kalau dia pernah tenggelam. Alex terdiam sejenak ketika kenangan itu kembali. Semoga saja Sabtu esok bukan hanya cerah tapi tenang. Alex tidak membutuhkan kasus lagi apalagi yang melibatkan teman-teman sekolahnya.


Kecuali, Cody.

__ADS_1


__ADS_2