
Alex sempat berpikir kalau dia tidak akan terbangun lagi. Namun, menyadari kalau dia bisa memikirkan itu, Alex sadar kalau dia telah terbangun. Nyatanya, dia sedang menatap langit-langit kayu yang asing. Balok-balok kayu disusun tumpang tindih satu dengan yang lain dalam pola khas sebuah pondok.
Sambil menarik napas dalam-dalam, Alex meneliti kondisi sekelilingnya. Kalau melewati bagian di mana pondok itu memiliki dinding bata dengan cat gading serta lampu gantung, maka tempat itu akan persis seperti bayangannya. Sebuah pondok kayu di pedalaman hutan. Dengan sentuhan modern seperti ranjang tempatnya berada, Alex malah mendapat kesan dia sedang berada di cottage penginapan.
Pemandangan di luar jendela tak terlihat jelas. Ada kegelapan namun juga cahaya yang sesekali bergoyang.
Alex mengangkat tubuhnya. Tidak usah tanya bagaimana di mana saja dia merasakan sakit. Tidak usah juga repot-repot memeriksa bila ada memar di tubuhnya. Hanya satu yang membuatnya terkejut saat itu.
“Kenapa kamu enggak mengikatku!?” ujarnya separuh berteriak pada Gavin yang baru masuk.
Gavin mengernyit. Dia menutup pintu pelan-pelan. Pandangannya menyapu kondisi di luar jendela tepat di samping pintu. “Kamu membuat orang-orang desa kebingungan. Seperti aku. Itu pertanyaan pertamamu ketika bangun? Kamu enggak penasaran di mana kita?”
“Kupikir kamu menangkapku.”
“Tidak. Kamu berpikir aku mengkhianatimu.”
“Kamu menjualku,” kata Alex lagi. Ucapannya membuat Gavin menggelengkan kepala dan mendesah panjang. Laki-laki itu separuh melemparkan bungkusan kertas ke atas nakas. Alex pun menambahkan, “Setidaknya, kupikir begitu.”
“Aku membawamu ke sini untuk menyelamatkanmu dan orang-orang tak bersalah dari Zetta Sonic. Seperti katamu sendiri, bukan?”
Alex mengangguk. Setuju. “Kalau begitu, kenapa enggak mengikatku?”
Sekali lagi, Gavin mendesah. “Itu bukan wewenangku. Di sini, kewenangan tertinggi ada pada kepala suku. Kalau dia bilang kamu enggak perlu diborgol, aku enggak akan mendesaknya. Dia pikir bisa mengatasi kalau terjadi hal buruk. Lagipula, dia bilang untuk memperlakukan kita seperti tamu. Penasihat pribadinya yang menembakmu dengan peluru bius akan menyampaikan permohonan maafnya nanti.”
__ADS_1
“Nanti?”
“Dia mengundang kita makan malam. Untuk sekarang, pakai itu.”
Alex menoleh pada kantong kertas di atas nakas. Di dalamnya ada sebuah kalung dengan bandul batu bulat hijau. Alex melihat kalau Gavin mengenakan kalung yang sama persis di dadanya. Bandulnya terekspos di antara kemejanya yang terbuka hingga ke dada.
Gavin menambahkan. “Anggap saja itu semacam visitor pass. Pastikan kalau kalungmu terlihat. Kalau enggak, akan ada anggota suku yang menangkapmu.”
Alex menurut. Dia mengambil kalung tersebut di tangannya. Ketika bandul hijau itu menyentuh kulitnya, Alex tersentak. Dia mengira akan merasakan dingin pada kulitnya, sebaliknya justru rasa panas. Bandul itu terasa begitu panas di kulitnya. Refleks, kalungnya malah terlempar jatuh ke tanah.
“Apa yang kamu lakukan?” Gavin protes. Dia memungut kalung lalu memeriksanya. “Kalau ini pecah, aku harus meminta satu lagi buat—”
“Kamu enggak merasa panas?”
Alex mengatupkan bibir. Dia sudah pernah mendengar dan melihat hal yang memang tidak wajar. Alex menggeleng, mengusir itu semua dari benaknya. Bukan itu yang hendak dia bahas saat ini. Dia lebih ingin membahas soal bandul tersebut. “Bandul itu seperti membakar kulitku,” ujar Alex.
Gavin terdiam sebentar.
“Apa itu karena aku memiliki Dragon Blood dalam diriku?” Alex bertanya lirih. Dia tak percaya hal-hal semacam sihir dan sebagainya. Namun, sejak berurusan dengan ICPA dan melawan monster, agaknya Alex harus mulai menerima keberadaan hal-hal semacam itu.
Gavin menggeleng. “Aku tidak tahu soal itu. Tapi, setidaknya, ikatkan ini di bajumu atau entah bagaimana. Pastikan kalungnya terlihat.”
Alex kini mengenakan jaket kelabu sebagai tambahan. Dia menemukan jaket itu dalam lemari yang ada. Kepala suku bukan hanya menerima mereka sebagai tamu tapi telah menyiapkan berbagai hal di sana. Misalnya saja ada dua ranjang, sebuah lemari berisi pakaian, meja dengan keranjang buah dan air, sebuah buku bacaan dalam bahasa mereka, juga kamar mandi dalam. Alex mengikatkan kalung dengan hati-hati pada tali di tudung jaket. Dia tak ingin menyentuh bandulnya lagi. Baru setelah itu, dia dan Gavin keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
Alex berhenti sejenak di depan pintu. Dia tak percaya yang dilihatnya.
Tidak ada pondok kayu, hanya rumah-rumah dari bata. Mereka dicat beraneka warna. Beberapa di antaranya bahkan memiliki lukisan pada dindingnya. Setiap rumah dihubungkan oleh jalan setapak yang disusun dari batu. Ada lampu-lampu obor berderet di jalan tersebut. Itu bukan obor sungguhan melainkan obor dari listrik. Cahaya kuning yang menerangi jalan itu sesekali bergoyang. Ada pula deretan tanaman rimbun yang bergemerisik setiap angin dingin menyapa. Kunang-kunang terbang mendekat dan menjauh, membuat butiran-butiran cahaya menari-nari.
Gavin menoleh pada anak yang masih mematung itu. “Cantik, bukan?”
Alex menangguk. Dia tak mendapati dirinya berada di sebuah suku pedalaman. Dia mendapati dirinya seolah berada di resort tropis. Dia rindu liburan. Sayangnya, ini bukan liburan yang dia kehendaki. Saat itu, barulah Alex bertanya seperti keinginan Gavin. “Di mana kita?”
Gavin tak menjawab. Dia tersenyum simpul dan berjalan. Alex pun terpaksa mengikuti dalam diam. Mereka pun menyusuri jalan setapak yang kian lama melebar. Ada cahaya terang dari kejauhan disertai suara riuh rendah serta tabuhan gendang. Alex menemukannya tanpa waktu lama.
Ada sebuah tanah lapang di tengah desa. Di sana, ada orang-orang suku yang berdiri mengelilingi sebuah kobaran api besar. Mereka berpakaian layaknya orang-orang di kota. Tidak ada baju dari dedaunan, tidak ada muka yang dilukis, tidak ada aksesoris dari gigi hewan buas. Kecuali, tentu saja, para penari.
Orang-orang suku yang melihat kehadiran Alex dan Gavin menunduk. Beberapa di antaranya bergeser agar mereka bisa melihat lebih jelas. Setidaknya ada sepuluh orang sedang menari mengelilingi api besar. Para penari mengenakan pakaian dari daun juga hiasan kepala dari bulu, badan mereka dilukis dengan cat putih dan merah, leher mereka dihiasi oleh kalung dari gigi hewan buas. Di sisi lain, para pemain gendang berderet rapi dan memainkan musik tanpa henti.
Gavin berhenti cukup jauh dari para penari. Alex berdiri di sampingnya. Hawa panas dari api besar terasa dari posisi tersebut. Setidaknya, mereka punya sedikit ruang untuk leluasa bergerak. Tak ada orang suku yang ingin berada dekat dengan keduanya.
Alex mengedarkan pandangan dan baru menyadari adanya bangunan besar di balik api besar tersebut. Bangunannya dibuat dari kayu. Tingginya hampir lima kali lipat dari rumah-rumah di sekitar. Hiasan-hiasan bulu menyembul dari setiap pilarnya. Meski bentuk bangunannya tak terlihat jelas, ukurannya cukup mengintimidasi.
“Itu dia,” bisik Gavin.
“Siapa?” Alex memicingkan mata. Dia melihat ada orang yang tengah menuruni tangga di depan bangunan besar tersebut. Seorang dalam balutan jubah putih dan mengenakan hiasan besar dari bulu unggas.
“Si kepala suku. Tesiana.”
__ADS_1