
Di markas, lebih tepatnya di ruang komando, wajah Nadira sudah terpampang di layar besar. Henrietta mondar-mandir di belakangnya. Wanita berwajah tirus itu membuat wajah merengut yang berbeda. Bukan wajah kesal atau marah, melainkan cemas. Nadira sendiri berdecak kesal dengan mulut cemberut. Kerutan pada wajahnya terlihat lebih jelas. Lenyapnya Jayden jelas bukan hal baik mereka semua.
Selain Nadira, di sana sudah ada profesor Otto. Tidak ada banyak perubahan pada wajahnya. Matanya menatap ke layar, hanya ketika Alex masuk, dirinya menoleh sebentar. Alex tak suka berada di dekat si profesor. Dia memilih duduk cukup jauh dari profesor meski itu artinya dia harus memutari meja besar.
[Siapa yang punya ide ke universitas?] Nadira mendesah kasar. Namun, itu bukan berarti dirinya siap memulai permainan saling menyalahkan. Selanjutnya, Nadira berkata lagi. [Aku sudah minta para operator mencari keberadaan Jayden. Sayangnya, mereka berhasil meretas kamera keamanan di jalan-jalan.]
Dari belakang, Henrietta menyahut. [Lawanku kita sepertinya sudah merencanakan ini semua. Mereka membunuh semua tersangka penembakan.]
“Tunggu! Mereka saling berkaitan?” tanya Alex.
Nadira berdecak kesal. [Tentu saja. Mereka membuatnya seperti dua kejadian berbeda, padahal dalang di baliknya sama. Pertama, mereka membayar orang untuk membuat penembakan massal. Kedua, dia menyiapkan tim berpakaian polisi dan tim medis untuk menyelamatkan Jayden sekaligus menghabisi para penembak.]
Alex terhenyak. Dia tak percaya yang dia dengar. Tentu saja, semua itu masuk akal. Dia sendiri tahu ada yang salah ketika melihat tim medis hanya menolong Jayden. Dirinya merasa kesal pada diri sendiri. Bisa-bisanya dia tidak menyadari lebih cepat.
“Apa yang mereka mau sebenarnya?” Alex bertanya lirih.
“Seperti yang sudah kubilang, teknologi ICPA.” Tiger memberi jawab sembari mengambil posisi di sampingnya.
“Kalau begitu, tidak akan ada negosiasi,” katanya lagi.
Nadira mendesah panjang. [Aku sudah menghubungi para negosiator terbaik untuk jaga-jaga. Siapa tahu mereka berubah pikiran dan menghubungi kita.]
“Kalau tidak, lalu apa?” Alex bertanya penuh keraguan.
[Sederhana, Alex. Kita tamat. Termasuk kamu. Ayahmu. Teman-temanmu. Kalau teknologi kita sampai jatuh ke tangan musuh, lebih baik kita tidak membayangkannya.]
“Jayden tidak akan bicara apa pun.” Emil meletakkan drone yang rusak di atas meja rapat. “Dia… Aku percaya dia tidak akan mengkhianati kita. Dia… terlalu bagus untuk berkhianat pada Alex.” Emil melempar pandangannya pada Alex.
Tiger ikut menoleh. “Aku enggak mau mengakuinya, tapi kupikir itu benar.”
[Kalau begitu, tidak ada gunanya dia hidup.]
Ucapan Nadira membuat Alex melongo sekarang. “Maksudmu, mereka akan…”
Ketika Alex membiarkan kata-katanya menggantung, Tiger pun menggelengkan kepala. “Tidak ada gunanya mempertahankan sandera yang tidak mau bicara, Alex. Mereka akan membunuhnya cepat atau lambat.”
__ADS_1
Tanpa sadar, tangan Alex mengepal erat.
[Jangan langsung lompat pada kesimpulan, Tiger. Kalau itu benar, berarti aku tidak salah memilihnya sebagai anggota Special Force sekalipun pada akhirnya dia tewas. Kalau pun itu tidak benar, kita yang akan memburunya sebagai pengkhianat. Jalan yang mana pun, dia tetap akan tewas pada akhirnya.]
Alex akhirnya menggunakan kata ‘kita’ di sana. “Lalu, apa yang akan kita lakukan?”
[Menunggu, Alex. Menunggu.]
“Jayden bisa tewas kapan pun. Dia tertembak.”
[Mereka akan menyelamatkannya kalau memang menginginkan isi kepalanya.]
“Tapi, bagaimana kalau dia tewas sebelum menyelamatkannya?”
[Kamu enggak bisa berpikir? Mereka melakukan sejauh ini hanya untuk mendapatkan Jayden. Aksi sebesar itu untuk menculik seseorang. Lalu, sekarang kamu pikir mereka akan membiarkannya tewas begitu saja?]
Henrietta mendatangi Nadira. Dia membisikkan sesuatu. Awalnya Nadira terbelalak, kemudian dia menggelengkan kepala sembari memijit pelipisnya. Tak mau menyembunyikan apa pun dari Special Force, Nadira pun memberitahukan penemuan terbarunya.
[Dengar, ada yang melihat mobil para penembak itu di dermaga.]
Nadira menggeleng. [Aku tidak yakin. Menurutku, ini justru jebakan. Mereka menghilang begitu saja tanpa jejak. Setelah semua kamera keamanan pulih, masih tidak ada tanda-tanda. Lalu, tiba-tiba saja, mobil ini datang ke dermaga. Coba lihat rekamannya baik-baik.]
Layar di hadapan mereka berubah menjadi sebuah pemutar video. Di sana, mereka melihat sebuah mobil ambulans putih. Sopirnya turun, mengenakan pakaian serba hitam. Topi menutupi wajahnya dari kamera pengawas, meski begitu, sosoknya terlihat sebagai pria berbadan kecil dengan kulit hitam. Pria ini melenggang santai keluar dari pemandangan.
[Ambulans ini ambulans yang sama dengan ambulans pengangkut Jayden tadi. Sopirnya pun sama.]
Suara Nadira kembali terdengar seiring kemunculan dua gambar di atas rekaman yang telah berhenti. Satu gambar menunjukkan gambar ambulans di tepi jalan. Satu lagi menunjukkan ketika si sopir membukakan pintu bagi petugas medis. Alex merasa hatinya dipilin melihat sosok Jayden berada di atas tandu medis tersebut.
Kali ini, sosok Nadira kembali menggantikan video tersebut. [Kalian paham?]
“Itu jebakan,” jawab Tiger.
[Alasannya?]
“Mudah saja. Jayden sudah tidak ada di dalam ambulans.”
__ADS_1
[Tepat, Tiger. Jadi, sekarang kita hanya perlu menunggu lagi.]
Alex menggeleng. Dia tahu pemikiran Tiger benar. Namun, dia tidak mau berdiam diri saja sembari Jayden di luar sana tanpa jejak. “Kita perlu memeriksa tempat itu. Kita harus menemui sopir tadi. Dia— Dia pasti tahu sesuatu.”
Tiger mencibir. “Mau taruhan? Dia tidak akan tahu apa pun. Kebanyakan dalang kejahatan selalu memutus rantai. Bawahan hanya tahu sebatas tugas dan upahnya saja. Tidak lebih. Tidak kurang.”
Alex bersikeras. “Tapi—”
[Kita akan menunggu sampai ada respon dari para penculik. Aku juga sudah menyiapkan tim gabungan untuk mencari keberadaan Jayden—]
“Apa? Kenapa bukan kami?”
[Zetta Sonic harus siap menghadapi masalah kriminal tingkat tinggi yang bisa terjadi kapan pun. Tidak semua agen bisa melawan robot pembunuh dan tetap hidup. Kamu diam di sini kalau ada kasus lain terjadi. Mengerti?]
“Aku enggak mungkin diam saja. Lagipula, Jayden bertanggung jawab sebagai operator—”
[Emil bisa menggantikan posisi Jayden.]
“Tidak!” Alex terkejut ketika sanggahannya keluar dengan nada tinggi dan suara keras. Meski demikian, dia tetap melanjutkan. “Jayden… Dia… Aku sudah terbiasa bekerja sama dengannya. Kita harus menyelamatkannya.”
[Kita akan menyelamatkannya.]
“Kamu menyuruh kita menunggu padahal kita sudah punya petunjuk. Kenapa kamu takut menyuruh kami ke sana?”
[Ada perbedaan besar antara berani dan gegabah, Alex. Sekarang, duduk!]
“Tidak!” teriak Alex. “Aku akan menyelamatkannya Jayden!” Tanpa banyak bicara lagi, Alex menghambur keluar. Sepintas, tatapannya bertemu dengan Emil. Pemuda itu membuat ekspresi yang tak pernah dilihat Alex sebelumnya. Namun, dia tidak membuang waktu untuk bertanya.
Setelah pintu ruang komando tertutup, Tiger jadi orang pertama yang memecahkan keheningan. “Haruskah kami menyeret dia kembali?”
Nadira menggeleng. [Kadang kita harus membiarkannya belajar. Meski itu akan menyakitkan buatnya.]
“Kepergian kami ke universitas itu hanya acara spontan,” sahut Emil. “Bagaimana mereka bisa tahu kalau kita akan berada di sana?”
Nadira benci mengakuinya. [Hanya ada dua alasan. Mereka mungkin sudah menantikan hal ini atau ada kebocoran di dalam Special Force.]
__ADS_1