Zetta Sonic

Zetta Sonic
S6 - (Winter) Locked Boxes


__ADS_3

Jayden melihat tumpukan kotak putih di bagasi pesawat Kara. Kotak-kotak tersebut layaknya kotak perkakas. Ukurannya tidak lebih dari setengah meter dengan tinggi dan lebar setengahnya. Tidak terlihat adanya gembok pengaman, hanya pegangan di bagian samping.


Ketiga laki-laki itu memindahkan kotak-kotak tersebut di atas kain terpal lebar. Nantinya keempat ujung kain akan tersebut akan dikaitkan pada sepasang drone. Bukan Jason. Drone tersebut akan menerbangkan muatan tersebut. Dengan begitu, mereka tidak perlu mengangkutnya naik ke tanah yang lebih atas di mana pesawat mereka berada. Pada skenario di dalam kepala Emil, dia berpikir akan membawa tandu berisi jenazah sang pilot.


“Cepat, cepat!” Kara memerintah seperti kapten pada kru kapal.


Pilot yang mereka kira laki-laki dan sudah tewas, ternyata seorang perempuan muda. Dia sangat hidup untuk memerintah mereka sambil duduk di atas batu. Dokter Vanessa sedang mengobati luka-lukanya. Gadis itu menerbangkan pesawatnya solo. Pesawatnya mengalami masalah, terjebak badai, lalu jatuh, dan dia hanya menderita lecet. Kara menceritakannya kronologinya dengan lancar.


Tiger melempar pandangannya pada Emil. “Mungkin aku lebih suka kalau dia sudah tewas. Tidak ada bentakan.”


Emil masih penasaran. “Apa isi kotak ini?”


“Makanan dan Obat!” Kara menyahut dari jauh. “Memang apa lagi yang perlu dikirimkan ke laboratorium terpencil seperti ini?!”


Emil berbisik. “Mereka tidak perlu merahasiakannya. Kalau itu benar. Dari kita.”


Tiger setuju walaupun tak memberikan tanggapan.


Jayden mengangkat kotak terakhir pada barisan pertama. Masih ada banyak barisan yang lain. Dia melihat kotak-kotak serupa tersusun dengan rapi, diamankan dengan tali. Bahan makanan dan obat tak perlu perlakuan khusus seperti itu. Penasaran, Jayden berusaha membuka kotaknya. Anehnya, kotak tersebut bergeming.


Tangannya menyusuri kotak. Matanya mengamati setiap sudutnya. Dia tak menemukan pengait atau tombol untuk membuka. Satu-satunya hal janggal yang ada pada kotak itu hanya panel kelabu kecil di bagian atas kotak. Kalau tidak berada di ICPA, dia tidak akan pernah menebak kalau kotak tersebut merupakan pengunci sidik jari. Berlebihan? Tentu saja.


Dengan bantuan flipad dan pemindai internal di dalamnya, Jayden berhasil mengetahui kalau sidik jari terdaftar adalah milik peneliti di laboratorium. Tidak sampai lima menit, Jayden berhasil meretasnya. Kotak pun terbuka. Emil buru-buru mendekatinya bersama Tiger. Mereka melihat kotak tersebut berisi potongan daging ikan beku. Baunya luar biasa amis. Tiger mendengus, buru-buru mundur. Emil mencubit hidungnya sendiri. Jayden langsung menutupnya kembali.


Kara berteriak. “Hei! Bau apa itu!?”


“Baunya mengerikan,” imbuh dokter Vanessa.

__ADS_1


Jayden melirik ke arah Kara dan dokter mereka. Dokter Vanessa sedang membereskan barang-barangnya. Sementara Kara masih memasang tampang cemberut. Gadis itu kelihatan tangguh dan ringkih di saat bersamaan. Tangguh karena bisa selamat dari kecelakaan pesawat hanya dengan cedera ringan. Ringkih karena dia sama sekali tak tahu bahaya dari misi penerbangannya.


Jayden pun menghampiri Kara. “Kamu enggak pernah sekalipun membuka kotaknya.”


“Untuk apa? Aku punya daftarnya.” Kara berdiri sembari melipat tangannya di depan dada. Sekalipun dia lebih pendek dari Jayden, tatapan mata tajamnya seolah peringatan agar Jayden tak menganggapnya rendah.


“Boleh kulihat?” Jayden mengulurkan tangan.


Kara diam sebentar. Ada jeda sebentar sampai akhirnya dia memberikan tablet PC mungil yang disimpan dalam jaket tebalnya. “Sayangnya tablet ini tak bisa menghubungi markas. Kalau bisa, aku akan memanggil tim penyelamat yang tidak secerewet dirimu. Kamu di sini untuk menyelamatkan pilot dan muatannya bukan melakukan interogasi.”


“Sayangnya, aku bukan tim penyelamat.” Jayden sibuk mengutak atik tablet PC tersebut. Seperti kata Kara, daftar barang bawaan pesawat tertera dengan lengkap di sana. Semua yang tertulis memang makanan dan obat. Kemudian, senyum simpul terkembang di wajahnya. “Sebenarnya, kamu harus bersyukur karena kami datang tepat waktu. Kalau beruang yang datang lebih dulu, mungkin kamu enggak bisa berdiri sekarang.”


Kara langsung berkacak pinggang. “Aku punya senapan, pisau, dan beberapa bom kecil. Semua aman di bawah kursi pilot.”


“Tepat. Kamu lihat?”


Jayden masih tersenyum. “Kamu sama sekali tidak punya ide kenapa pilot pesawat perbekalan sepertimu sampai dilengkapi dengan senjata, ‘kan? Kamu memang sangat beruntung bisa selamat dari kecelakaan semacam itu, bahkan bom di kursimu tidak meledak.” Jayden bisa melihat kebingungan di wajah Kara. Dia pun melanjutkan, “ICPA pasti bisa memperkirakan hal semacam ini terjadi.”


“Maksudmu, kecelakaan pesawat? Memang ada pesawat yang bisa menjamin tidak akan jatuh?” balas Kara.


“Bukan. Maksudku, serangan beruang.”


Ucapan Jayden membuat kerutan di dahi Kara makin menjadi. “Tidak masuk akal!”


“Sebaliknya. Itu sangat masuk akal. Kamu pasti tidak menyadari kalau semua barang bawaanmu bukan bahan makanan para peneliti melainkan bahan penelitian.”


“Itu sangat konyol, tuan pintar. Aku tidak tahu namamu. Semoga kamu tidak keberatan aku panggil seperti itu.”

__ADS_1


“Dengar, semua barang bawaanmu adalah bahan penelitian untuk ramuan pengendali beruang. Kujamin kamu pasti belum pernah dengar. Jangan khawatir, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses data penelitian ICPA.” Jayden melemparkan pandangannya kembali ke tumpukan kotak. “Bahan makanan tidak perlu dimasukkan dalam kotak-kotak seperti itu. Alasan mereka dimasukkan di dalam kotak adalah menjaganya dalam kondisi tertentu. Kondisi yang paling menarik bagi para beruang.”


Kara hanya bisa melongo. Ekspresi galaknya lenyap digantikan wajah gadis polos.


Jayden pun terkikik. “Para peneliti membutuhkan bahan-bahan terbaik untuk membuat ramuan yang bisa mengendalikan beruang. Sebut saja, seperti feromon untuk beruang. Hal yang paling menarik bagi mereka, tentu saja, makanan. Ya, terserah padamu saja mau percaya atau tidak.”


Kara masih melongo.


“Memang. Karena itu, laboratoriumnya dibangyn di sini. Dekat tempat tinggal beruang liar. Lain kali, kusarankan kamu minta rekan. Co-pilot atau door gunner.”


Mulut Kara yang terbuka akhirnya bisa membentuk kata-kata. “Itu luar biasa.”


“Ngomong-ngomong, apa aku keberatan? Tentu saja. Panggil aku Jayden.”


Kara pulih dari kebingungan. Dia mendengus pelan. “Kamu punya nama yang terlalu bagus, tuan pintar--”


KRAKK!


Suara keras terdengar dari dekat pesawat. Jayden bahkan tak perlu melihatnya. Dia tahu apa itu. Seekor beruang. Mungkin bau amis tadi begitu menarik bagi si beruang.


DOR! DOR! DOR!


Jayden bisa menebak kelanjutannya. Tiger sudah sigap. Sedari tadi, dia sama sekali tidak meletakkan senapannya. Jadi, begitu beruangnya muncul, dia bisa menembak dengan cepat. Anggota lama mereka, Caitlin yang terkenal jago menembak, pasti bisa menghabisinya dalam sekali tembakan. Tiger butuh tiga kali.


Kegaduhan tersebut memancing keheningan sesaat. Kara bergeming. Jayden bergerak lebih dulu. Dia mengalihkan tatapannya dari area samping pesawat pada gadis di depannya. Jayden langsung terbelalak. Dia melihat sosok besar di belakang Kara sedang berlari dengan cepat. Jayden mendorong gadis itu ke tanah sebelum cakar besar beruang mencabiknya.


Kara terjatuh. Tanah landai membuatnya berguling menjauh. Begitu bisa terbangun, dirinya spontan protes. “Hei! Apa yang--”

__ADS_1


Kalimatnya tercekat. Dia melihat sosok beruang besar pada posisinya berdiri tadi. Di bawah si beruang, dia melihat Jayden tergeletak di atas tanah bersalju yang kini tak putih lagi. Ada noda merah di sana. Kara tak mau menebak apa itu.


__ADS_2