
“Itu ruangan ICPA!” Tiger mengenali hal yang akan menarik perhatian para agen ICPA.
Mereka selalu menggelar rapat pada ruangan serupa. Ada lelucon tak lucu yang beredar pada para agen. Katanya, mereka tidak boleh menghabiskan waktu terlalu lama dalam ruangan tersebut. Kalau tidak, bisa-bisa ruangan itu jadi hal terakhir yang mereka lihat. Atau, dengan kata lain, mereka akan terbunuh di misi. Akibat lelucon tersebut, banyak agen tak suka dengan ruangan itu. Mereka tak berani berlama-lama di sana apalagi menghafalkan detail ruangan. Ironisnya, justru para agen malah ingat bagaimana kondisi ruangan itu.
Sebenarnya, ada alasan lebih logis di baliknya. Semakin lama mereka menghabiskan waktu di sana, berarti misi yang akan dihadapi juga lebih rumit. Wajar saja kalau risiko seorang agen terbunuh jadi berlipat ganda.
Tiger termasuk yang tidak suka dengan ruang rapat itu. Dia bilang kalau memang tidak suka rapat. Jayden bisa menebak alasan di baliknya. Hal tersebut cukup normal ditakuti bagi para agen lapangan. Sementara bagi agen di balik layar seperti Jayden dan Emil, hal tersebut sama sekali tidak menakutkan. Meresahkan pun tidak.
“Dia ada di markas ICPA?” Alex langsung teringat apa yang diucapkan oleh Damon. Jayden berada dekat. Alex hanya tak pernah menyangka kalau dia sungguhan berada di markas ICPA. Itu benar-benar persembunyian di depan mata. Tidak akan ada yang menyangka kalau seorang agen ICPA diculik dan disekap di markasnya sendiri.
“Aku sangsi.” Emil mengedikkan bahu. “Terlalu jelas. Ini bisa saja jebakan.”
Tiger mengangkat bahu. “Menurutku, itu jelas jebakan. Ini terlalu mudah.”
[Tentu saja! Itu jelas jebakan!] Suara Nadira menggelegar di dalam ruang komando. [Lihat baik-baik! Wanita itu pasti pengirim videonya! Dia beberapa kali mengedarkan pandangannya. Termasuk ke kamera ini. Jayden tidak ada di markas ICPA! Dan, wanita itu, dia si penculik. Dia mengirim pada kita untuk menjebak Alex!]
“Aku setuju. Juga tidak.”
Nadira mendesah pendek mendengar ucapan Emil. [Jelaskan!]
“Aku setuju kalau wanita itu pengirimnya. Aku tidak setuju kalau dia ada di pihak musuh.”
Nadira mendesah lagi. Kali ini lebih berat dan pendek. Perintah yang sama datang dengan tekanan berbeda. [Jelaskan!]
“Dia salah satu dari kita.”
Ucapan Emil spontan membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya.
Emil melanjutkan. “Cindy Amore Ellaria. Nama favorit aliasnya, Camellia. Salah seorang agen ICPA. Maksudku, mantan. Tugasnya sangat spesifik. Mengumpulkan info. Menyusup. Mata-mata,” ujar Emil sambil melirik Alex, memberi informasi tambahan padanya. “Pergerakannya yang terakhir adalah tahun lalu. Kita sudah kehilangan kontak lebih dari sepuluh bulan. Dia dinyatakan tewas. Dalam misi.”
Nadira mencibir lagi untuk kesekian kalinya dalam hari itu. [Menurutmu, wanita itu si Camellia?]
“Tidak ada mayat. Ada kemungkinan dia masih hidup.”
[Dia sama sekali tidak memberi informasi sejak hari itu pada atasannya. Wajar kalau kita mengasumsikan dia sudah tewas. Untuk orang-orang seperti Camellia, penyamaran adalah hal mudah. Bukan tidak mungkin kalau mereka memalsukan kematian mereka sendiri.]
“Aku melakukan beberapa pencocokan.”
[Kamu yakin itu dia?]
__ADS_1
“Tujuh puluh persen lebih.”
Video itu berhenti ketika Camellia menoleh pada kamera. Wajah gadis itu pun diperbesar secara digital. Sekalipun tidak begitu tajam, tapi wajahnya bisa dikenali cukup jelas. Kecantikannya terpancar alami. Tubuhnya lebih ideal sebagai model daripada agen. Pada video yang tengah berhenti itu, sebuah persegi muncul membingkai wajah Camellia. Garis-garis hijau lain turun berulang kali dalam kotak. Tak lama setelahnya, muncul angka tujuh puluh tiga persen serta nama asli Camellia.
[Oke. Anggaplah dia benar Camellia, menurutmu, dia ada di pihak siapa?]
“Kita.”
[Kenapa?]
“Video ini bukan dari kamera pengaman. Umumnya. Seorang penculik akan melihat langsung dari kamera pengaman. Tidak ada gunanya meletakkan kamera lain. Di posisi tersembunyi. Umumnya. Seorang yang diculik tidak berdaya.”
[Kecuali kamu menculik seorang Jayden. Dia bisa mengutak atik apa pun yang ada dalam ruangan itu asalkan mengalirkan listrik.] Kelihatan sekali kalau Nadira menahan diri agar tak tersenyum. Meski kesal, dia tampak bangga pada agen pilihannya.
“Kecuali Jayden.” Emil mengulang ucapan tersebut.
Tiger dan Alex hanya bertukar pandang selagi Nadira dan Emil bicara.
[Jadi, Emil, menurutmu Camellia yang meletakkan kamera di sana.]
“Supaya tidak ketahuan si bos. Dalang penculik.”
“Semacam itu.”
[Bagaimana dia mengirim video itu pada kita? Tempat ini seperti benteng. Aku sudah menyuruh Jayden menambah keamanannya.] Kebanggaan di mata Nadira kini lenyap sepenuhnya digantikan kekesalan.
“Jayden mengirimnya.”
[Kamu membuatku pusing! Jelaskan! Kali ini lebih sederhana! Pakai bahasa manusia!]
Meski Nadira yang mengomel kalau pusing akan semua penjelasan Emil, justru Tiger yang memasang tampang pusing. Pria besar itu sudah duduk di samping Alex. Dia menopang kepalanya dengan satu tangan. Matanya beralih dari setiap orang yang bicara. Mulutnya terkatup rapat, membentuk garis lurus.
Emil menambahkan. “Jayden mengirim virus ke komputer Alex baru-baru ini. Dia memanfaatkan komputer Alex. Untuk mengirim video pada kita.”
“Apa!?” Mendengar namanya disebut, Alex pun bereaksi. “Tunggu sebentar! Maksudmu, Jayden mengirim virus padaku bukan untuk memberi tahu kalau dirinya masih hidup tapi untuk mengambil alih komputerku?”
“Itu juga. Tapi, itu bukan satu-satunya alasan,” ujar Emil.
“Dia… jenius!” Pertama kalinya Alex mengatakan hal tersebut untuk Jayden. Sayang sekali, Jayden tak ada di tempat untuk mendengarnya langsung.
__ADS_1
“Terlalu jenius. Sayangnya. Kejeniusannya membuat adiknya terbunuh. Jason malang.” Emil berkata lirih.
“Jason adalah nama adiknya?” ulang Alex.
Sama sekali tidak merasa keceplosan bicara, Emil hanya tersenyum tipis. “Kupikir, Jayden dapat adik baru di sini. Orang yang perlu dia bimbing. Mungkin, untuk dilindungi juga.”
“Adik baru? Drone? Kupikir Jason itu kependekan Jayden’s Drone.”
Emil tersenyum geli. “Jayden menciptakan drone untuk Zetta Sonic.”
Alex bergeming. Dia tidak pernah menyadari betapa dekat hubungan para anggota Special Force sampai menghubungi dokter Vanessa dan mendengar ucapan Emil barusan. Jayden menciptakan Jason untuk melindungi Alex. Pemuda itu ingin melindunginya sebagai ganti adiknya sendiri.
Keheningan datang menghampiri lagi hingga Nadira sadar akan hal yang salah.
[Tunggu, anak muda! Dari mana kamu dapat semua informasi ini?] Nadira membentak. Kemarahannya ditujukan pada Emil.
“Dari komputer.” Emil malah santai.
Jawaban tersebut membuat Nadira lebih geram sampai Henrietta mendekat, khawatir Nadira akan memecahkan pembuluh darahnya. [Kamu enggak seharusnya punya akses informasi sedetail itu! Keberadaan mata-mata ICPA dirahasiakan. Mereka tidak mengenal satu sama lain kecuali atasan mereka. Itu pun sangat, sangat, sangat rahasia! Sama rahasianya dengan keberadaan Special Force ketika kuciptakan. Bagaimana kamu mencuri semua data itu?]
“Aku tidak mencurinya. Aku melihatnya dari—”
[Jayden!” Nadira menebak dengan tepat. “Dasar pembuat masalah! Dia mencuri dataku dan sekarang berada di tangan musuh?]
“Kurang lebih.”
Nadira menggebrak meja yang ada di depannya. Suaranya ikut menggelegar ke ruang komando. [Dengarkan aku, Special Force Zetta Sonic! Ini perintah langsung dari atasan kalian! Bawa pulang Jayden hidup-hidup supaya aku bisa menghajarnya sendiri!]
__ADS_1