Zetta Sonic

Zetta Sonic
Quite Morning


__ADS_3

Pagi yang cerah, seperti biasa. Itu pikiran Alex sampai dia menyadari kalau hari itu salah. Sangat salah.


Beberapa jam yang lalu, Alex masih berada di dalam kamar. Dia menikmati teh dari Preston, makan sarapan bersama kedua orang tuanya dalam keadaan canggung, lalu naik mobil menuju ke sekolahnya.


Setibanya di sekolah, dia melihat Leta. Mereka bertukar pandang dan senyum. Zet-Arm mulai berulah. Gelang hitam itu berkelip. Dia mengeluarkan suara ganjil dan mengganggu seperti alarm jam, hanya saja lebih pelan. Alex tak begitu paham. Dia berjalan lagi memasuki gedung.


Dia melihat pula Willy. Mereka berjalan ke kelas sambil membicarakan gala dinner kemarin malam. Alex melompati bagian di mana ada orang asing yang mencoba mengutak atik makanannya. Zet-Arm berulah lagi. 


“Apa itu?” Willy berjalan di sampingnya. “Kanapa dengan jam tanganmu?”


Alex mengernyit. Dia tidak pernah melihat Zet-Arm seperti itu. Ada kelip merah beserta sebuah peringatan di sana. “Mungkin macet.”


“Kamu lupa mematikan alarm?” Willy terkekeh.


Alex memaksakan tawa kecil. “Mungkin. Maksudku, seharusnya tidak. Ini enggak biasa terjadi.” 


Alex berjalan sambil berusaha mengutak atik Zet-Arm. Ini sudah kesekian kalinya Zet-Arm berkedip lagi. Bunyinya mulai menarik perhatian para siswa di sekelilingnya juga. Mata mereka mengikuti Alex. Alex sendiri sudah membaca seksama peringatannya. Cukup sederhana. Isinya: Memasuki area berbahaya. Cuma itu.


“Mungkin konslet,” ujar Willy lagi.


“Sepertinya begitu, aku harus menghubungi service center sepulang sekolah. Ini cukup mengganggu.” Alex mengambil ponsel. Dia bergegas mengirim pesan pada Jayden. Kalau Zet-Arm berulah, dia harus segera membawanya pada Jayden.


“Masih garansi?”

__ADS_1


“Sepertinya tidak.” Alex selesai mengirim pesan. Dia menggoyang pergelangan tangan kirinya. Zet-Arm sedang diam saat itu. Namun, Alex tetap tidak suka dengan peringatan-peringatan tadi. 


Peringatannya memang tidak terus menerus. Kadang peringatannya hilang, kadang muncul lagi. Kali ini, suaranya makin kencang dan tak kunjung padam. Semakin dalam dia berjalan ke dalam sekolah, semakin mengganggu pula gelang itu. Kelip merah itu berkedip lebih cepat cepat beserta beberapa peringatan di sana. Hal yang tidak wajar. Alex mulai resah. Dia berhenti di lorong, membuat Willy bertanya-tanya. 


“Sekarang apa?” tanya Willy sambil mengernyit. Suara itu membuat kupingnya sakit.


Alex tak percaya notifikasi yang muncul di Zet-Arm saat itu. Sama seperti sebelumnya. Sebuah notifikasi sederhana. Isinya: Mengaktifkan seragam tempur. Meski tak paham apa yang terjadi, namun Alex tahu itu tidak beres.


“Lari!” seru Alex.


Para siswa di lorong melihatnya dengan bingung.


Willy yang berada persis di sisinya lebih lagi. “Apa? Apa yang kamu bicarakan?” Kebingungannya berganti jadi terkejut ketika dia melihat kepingan hitam memenuhi tubuh temannya. Dia hanya bisa melongo, “Hei, apa yang sebenarnya—“


Willy tak sempat melanjutkan pertanyaannya. Alex juga tak sempat menjawab. Para siswa lain di lorong juga tidak sempat berlari. Mereka tidak sempat melakukan apa pun. Sebelum seragam tempurnya aktif sempurna, Alex menangkap titik-titik merah yang mendadak muncul di berbagai tempat. Di taman luar, dekat bingkai jendela, bagian bawah dinding dekat pilar sekolah, di langit-langit, juga banyak tempat lain. Sebuah kancing mungil berpendar merah sebelum akhirnya meledak.


Alex tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mendengar ledakan yang kuat dari berbagai sisi. Refleks, dia mendorong Willy ke tanah, melindungi sahabatnya itu dari berbagai imbas ledakan yang ada.


Siapa yang bilang hari cerah pertanda hari yang baik. Pagi cerah itu memberinya pengalaman yang tidak normal. Itu pertama kalinya. Rasa pertama yang muncul adalah rasa takut. Kupingnya berdengung hebat, badannya terasa dipukul dari berbagai sisi, jantungnya berdegup begitu kencang seolah akan keluar dari tubuhnya. Dia takut. Alex meringkuk di atas tubuh sahabatnya dengan tangan menutupi kepala.


Itu detik-detik terlama dalam hidupnya. Alex mengerjap. Matanya berair dan wajahnya basah. Seluruh tubuhnya gemetaran. Dia bisa melihat layar pada helm tempur itu begitu berkabut. Informasi yang diberikan terlihat jelas. Segitiga dengan tanda seru merah. Peringatan dan peringatan.


“J… J…” Alex tak bisa bicara banyak. Suaranya bergetar hebat. Dia menahan tangis. Bisikannya tak mendapat respon dari markas Special Force.

__ADS_1


Alex memejamkan mata. Dia membiarkan sistem seragam tempur itu bekerja. Perlahan, penglihatannya membaik. Layar pada helm itu membantu melihatnya lebih jelas. Dia melihat debu dan api juga reruntuhan dan serpihan. Lorong yang selalu dia lewati di sekolah tidak pernah tampak seperti itu. Kabel-kabel menjuntai dengan ujung percikan api. Ada serpihan dinding dalam banyak ukuran juga pecahan kaca yang sudah tak terhitung banyaknya. Tidak ada lampu yang menyala, hanya ada api membara. Aromanya kacau. Alex tak bisa membedakan mana aroma hangus, mana aroma busuk.


Alex melihat Willy. Anak itu ada di sampingnya. Willy tak bergerak, matanya terpejam, dadanya naik turun. Wajahnya kotor oleh debu dan keringat. Alex tak tahu berapa lama telah terlewat saat dia meringkuk ketakutan.


“Willy! Willy, bangun! Kumohon!” Alex mengguncang pelan tubuh sahabatnya. Willy bergeming. “Ayo, bangunlah. Kumohon.” Alex mengguncangkannya lagi. “Ayolah…” Willy masih tak bereaksi.


Alex akhirnya menarik tubuhnya sendiri untuk duduk. Dia mendapat penglihatan lebih jelas. Sebuah pemandangan yang tak pernah dia bayangkan kini jadi pemandangan yang tidak akan pernah dia lupakan. Para siswa lain Wood Peak bergelimpangan di atas lantai. Terluka, berdarah, mengalami luka bakar, bahkan ada yang tertutup di bawah potongan dinding besar.


Air mata Alex mengalir. Dia tak sanggup bergerak. Rasa takut itu membekukan dirinya. Sekolahnya porak poranda. Jendelanya berubah jadi lubang-lubang besar. Teralisnya putus, kacanya tak berbentuk. Lorong panjang itu terhalang oleh api, bongkahan dinding, vas yang terguling dan remuk, bahkan potongan daun pintu.


Untuk sejenak, Alex lupa siapa dirinya. Dragon Blood tak berkutik dalam Zetta Sonic. Rasa takut melumpuhkannya. Dia hanya bisa duduk, memandangi segala kekacauan yang tersaji.


[Alex! Alex! Kamu bisa dengar aku?] Suara Jayden akhirnya muncul. [Aku tidak bisa membaca tanda-tanda vitalmu dari sini. Sesuatu merusak sistemnya. Alex, kalau kamu dengar aku, kumohon jawab.]


Alex bergeming. Dia menoleh pada Willy, menoleh lagi pada teman-temannya. Air matanya masih terus mengalir. Bibirnya kelu tak bisa menjawab.


[Alex! Alex, apa kamu ada di sana?]


“…Iya.” Alex akhirnya bisa menjawab.


Jayden menghela napas berat. [Ya Tuhan! Syukurlah! Bagaimana kondisimu? Aku masih berusaha membetulkan sistem di sini. Aku belum bisa melihat apa yang kamu lihat. Bagaimana kondisi di sana?]


Alex masih tak mampu menjawab.

__ADS_1


[Alex? Alex, apa kamu terluka? Alex?] Jayden menunggu sebentar. Ketika tak ada jawaban dari Alex, dia tahu kalau kondisinya buruk. [Alex, kalau kamu dengar aku, bertahanlah! Bantuan sedang dalam perjalanan. Bertahanlah!]


Alex tak mampu merespon banyak. Dia hanya bisa berbisik. “Tolong…”


__ADS_2