
Alex bergerak di dalam selimut hanya untuk menyadari kalau itu hari libur. Dirinya mendesah ketika pikiran tersebut terlintas dalam pikirannya. Sekolahnya sedang dapat kunjungan dari petinggi kota atau semacamnya. Alex tak memperhatikan ketika pengumuman itu disiarkan melalui pengeras suara Jumat lalu.
“Sial,” bisiknya pelan.
Tangannya bergerak keluar dari selimut, mengambil ponsel yang dia letakkan di atas nakas kayu tepat di bawah lampu dinding. Dia tak melihat satu pesan pribadi dari temannya, hanya beberapa pesan di grup. Beberapa teman sekelasnya saling pamer kegiatan pada hari libur itu.
Seandainya saja Alex bisa bercerita kegiatan apa saja yang bisa dia lakukan bersama ICPA, anak-anak itu dijamin super iri padanya. Sayang sekali, segala sesuatu yang berhubungan Zetta Sonic haruslah tetap rahasia. Alex setidaknya bisa menyebutkan sederet alasan dan Nadira bisa membuatkan daftar lengkapnya. Intinya, itu kebaikan bersama, apalagi mengingat kalau ayah Alex adalah petinggi di benua sebelah.
Alex mendesah lebih panjang seraya menarik dirinya bangun. Rover ikut menyalak dari ruangan sebelah, dari ruang santai di sebelah. Tak lama setelahnya, anjing itu masuk sambil membawa bola karet biru di mulutnya. Alex mengernyit. Dia tak ingat kalau si rottweiler punya mainan seperti itu.
Rover membawa bolanya ke samping ranjang. Dia menatap pada si majikan lekat-lekat lalu duduk tenang di sana. Alex mendengus geli. Diambilnya bola dari mulut Rover, lalu dilemparnya ke arah lemari. Tak ada barang yang bisa dirusak Rover di sana. Itu hanya satu sudut dinding yang tertutup deretan lemari besar dan sebuah pintu kamar mandi. Bola memantul setelah mengenai pintu. Rover menangkapnya dengan mudah.
Dalam perjalanannya menuju Alex kembali, si anjing mendadak kehilangan niatnya bermain. Bola tersebut dijatuhkannya ke tanah. Rover berlari ke arah jendela besar sambil menyalak garang.
Alex tahu penyebabnya. Dragon Blood dalam dirinya memberi tahu apa yang salah. Dari balik celah tirai pada jendela besar, Alex melihat tiga sosok berpakaian serba hitam sedang lewat. Mereka jelas bukan pekerja di sana. Di belakang deretan orang itu, Alex melihat siluet para anjing penjaga.
Separuh berlari, Alex menghampiri jendela. Dia menyibakkan tirai agar dapat melihat lebih baik. Tiga orang itu mengenakan pakaian serba hitam mulai dari sepatu, baju, hingga tudung kepala.
Alex pun mendesah. “Lagi?”
Ini sudah yang ketiga dalam bulan itu. Ketiga kalinya ada para perampok yang berusaha membobol rumahnya. Tak satu pun berhasil. Kali pertama berhasil digagalkan para satpam rumah. Kali kedua digagalkan para anjing penjaga dan para pelayan dengan senapan angin mereka. Kali ini, Alex cukup yakin Preston bisa membereskannya.
Memiliki ibu seorang aktris terkenal dan ayah seorang pengusaha memberi dirinya fasilitas berlimpah dan banyak kesempatan yang tak didapat orang lain. Sebut saja seperti manor mewah dan pendidikan terbaik. Sayangnya, ada banyak hal yang Alex ingin tukar seandainya dia punya pilihan.
__ADS_1
Apa artinya bisa makan makanan enak tanpa didampingi orang kesayangan?
Entah berapa lama dirinya terpaku menatap ke luar sana. Dia telah menyaksikan bagaimana salah seorang satpam berhasil menembak kaki seorang dari perampok itu. Mereka mendorongnya ke tanah. Dua rekan lainnya pun memilih menyerah.
Alex tahu manor tempatnya tinggal tidak akan pernah kebobolan perampok amatir seperti itu. Pekerjaan ayahnya sebagai pengusaha tak lebih dari sekadar kedok. Ayahnya adalah pimpinan ICPA cabang Regis. Hingga sekarang, dia belum dapat kesempatan untuk bertanya bagaimana bisa ayahnya bisa jadi pemimpin organisasi di benua lain. Tidakkah lebih praktis kalau dia jadi pemimpin ICPA di benua tempat dia tinggal?
Rover menyalak lagi, membuyarkan lamunan Alex. Di antara gongongan itu, dia mendengar suara ketukan pintu. Tak perlu menjawab, pintu itu terbuka. Hanya dua orang yang berani masuk ke sana tanpa jawaban. Satu, Preston, si kepala pelayan. Dua, Mrs. Bellsey, si pengawas. Karena ini masih pagi hari dan dia tidak sekolah, itu pasti Preston.
Catatan, Mrs. Bellsey tahu jadwal sekolah Alex lebih dari dirinya sendiri.
“Kerja bagus, Preston!” ujar Alex sembari berjalan menuju pintu.
“Kuasumsikan kamu bukan terbangun gara-gara keributan di luar.” Si kepala pelayan masuk sambil mengedarkan pandangan. Dia menjalankan tugasnya, memastikan Alex aman dari segala macam bahaya.
Dia sudah punya beragam pengalaman. Mulai berhadapan dengan anak buah rendahan, lari di antara tembakan peluru, melawan robot pembunuh, dan -- yang terbaru -- diburu tembakan bazooka. Kalau ada yang lebih seru selain menonton penangkapan perampok di luar jendela, maka itu adalah melakukannya sendiri.
“Makan pagi sudah disiapkan di ruang makan, Alex. Apa kamu mau dibawakan ke sini?”
“Mrs. Bellsey selalu mengomel kalau aku sarapan di kamar.”
“Dia tidak di sini. Kamu akan datang setelah makan siang. Kamu libur, ‘kan?”
Alex mengangguk. Semester baru telah datang dan Alex berhasil mengurangi segala macam kursusnya. Termasuk kursus piano. Bukannya dia tidak suka, dia hanya harus membagi waktu. Dia perlu banyak istirahat kalau semalaman berhadapan dengan penjahat. Entah kenapa orang-orang itu hampir selalu beraksi di malam hari bukannya jam kantor. Lagipula, Alex lebih memilih menghabiskan waktunya di markas ICPA daripada di rumah sekarang ini.
__ADS_1
Kecuali, kalau dia sedang ada janji dengan Leta.
Ponsel di tangannya bergetar. Alex melihat nama gadis itu terpampang. Dia baru saja mengunggah foto sarapan di samping kolam renang bersama kedua kakaknya. Alex tersenyum sendiri. Gadis itu tampak menawan meski dalam balutan mantel mandi bukan baju renang. Beberapa teman merespon, mengajak mereka renang bersama.
Alex suka ide itu. Sayangnya, itu akan mengekspos beberapa luka terbarunya. Tanpa sadar, dia meraba bagian perutnya. Luka itu dia dapat ketika melawan robot pembunuh demi menyelamatkan para korban penculikan. Sebagian besar luka sudah hilang, terima kasih kepada obat-obatan ICPA yang luar biasa ampuh. Untuk luka besar, Alex tetap harus mengandalkan waktu untuk menghapusnya.
“Apa perutmu sakit, Alex?” tanya Preston lagi.
“Ya,” jawab Alex, berbohong. “Kupikir aku akan ke kamar mandi dulu.”
“Kalau begitu, aku akan menantimu di bawah.”
“Ya, ya.”
Preston berbalik menuju pintu. Pria tua itu berhenti di sana, berbalik pada si majikan yang kembali terpaku pada ponselnya. “Ada satu hal lagi, Alex.”
“Apa itu?”
“Tuan menelepon.”
“Ayah? Dia bilang apa?”
“Dia ingin tahu apa kamu suka kuda atau tidak. Dia ingin kamu segera mengirimkan jawabannya lewat pesan, bukan telepon karena dia akan ada rapat setelah ini.”
__ADS_1
“Maaf. Apa? Kuda?”