
Seharusnya mereka masih bisa mundur. Namun, Tiger tidak melakukannya. Dia mengambil senapannya sendiri. Bukan pistol tangan, melainkan sebuah senapan panjang milik ICPA. Tiger jelas tak berniat lari kali ini.
“Kamu mau turun?” bisik Emil.
“Kita lihat apa maunya,” jawab Tiger. Dia telah membuka kunci mobil. Sebelum membuka pintu, dia menoleh pada Alex. “Kamu bisa menyetir lebih baik dari Emil.”
Alex menyeringai. “Aku enggak menerima perintah darimu.” Seringai itu makin lebar ketika mendapati Tiger memelototinya. Itu reaksi yang jauh lebih baik dari bayangannya. “Kamu bukan satu-satunya yang hafal mobil itu.”
“Masuk akal. Kamu pernah naik.”
“Kupikir dia mau bicara padaku.”
“Dia bisa pakai cara yang lebih baik.” Tiger menyiapkan senjatanya, hendak bergerak turun. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, dia sadar kalau pintu belakang mobil sudah terbuka lebih dulu. “Hei! Bocah!”
Protes Tiger tak lagi terdengar karena Alex telah turun.
Melihat kehadiran Alex di sana, supir si mobil biru pun turun. Seorang laki-laki muda kurus, mengenakan jaket kulit hitam, rambut ikal, serta kacamata hitam yang menyamarkan wajahnya. Tak ada pistol, tak ada teriakan. Gavin River muncul dengan aura yang sama seperti ingatan Alex.
Di dalam mobil ICPA, Emil pun melongo. “Kamu tahu itu Gavin River?”
Tiger yang tak jadi turun dari mobil hanya mengangkat kedua alisnya. Dia tak perlu menjawab pertanyaan tersebut. Tiger ingat mobil yang pernah masuk ke dalam markas Special Force. Gavin pernah menyelamatkan Alex sekali. Mari berharap kalau dia berniat melakukan hal yang sama kali ini.
Pada posisinya yang jauh dari mobil, Alex mengetuk Zet-Arm. Dia ingin memastikan kalau Emil dan Tiger bisa mendengar percakapannya dengan Gavin.
“Kamu seharusnya bisa mengontakku lewat email atau nomor telepon.” Alex merentangkan tangannya ke udara. “Kalau ini sesuatu yang lebih penting dari final pertandingan bola, aku memaafkanmu. Kalau tidak, tolong segera singkirkan mobilmu dari jalan. Aku mau pulang dan menonton.”
__ADS_1
Sebuah sapaan tak ramah dan kebohongan lain dari Alex. Dia bukan orang yang akan menghabiskan semalaman begadang untuk menonton pertandingan bola di benua lain. Dia lebih rela begadang untuk melakukan hacking. Tentu saja, dia memilih untuk tidur bila disodorkan pilihan tersebut.
Gavin tak sekalipun melepas kacamatanya. “Kita bicara di mobilku.”
Alex mendengus geli. “Apa yang membuatmu berpikir aku mau naik ke sana?”
“Kalau kamu enggak mau orang di rumahmu terlibat, ikut aku.”
“Kamu berbohong.”
“Tidak perlu percaya padaku. Kamu punya banyak cara untuk mengetahuinya sendiri.” Gavin berbalik, kembali dalam mobilnya. Agen itu memang benar. Alex bisa memeriksa sendiri keadaan rumahnya.
Perasaan gelisah merambati Alex. Dirinya tak tahu harus bicara apa. Siapa mereka? Kenapa orang rumahnya bisa terlibat? Mungkinkah orang-orang itu sudah menantinya di rumah? Bagaimana Gavin bisa ada di sana? Tahu-tahu, Alex telah melangkah menuju mobil Gavin.
“Sabuk pengaman.” Gavin bicara tepat ketika Alex telah duduk.
Alex tak membalas. Dia mengenakan sabuk pengaman dan segera saja Gavin menancap gas.
Alex langsung mengutak atik ponselnya. Dia bisa melihat sistem keamanan rumahnya berikut jalan di sekitarnya. Ada beberapa mobil asing di sana. Setidaknya ada dua mobil box, satu van hitam, dan sebuah jip beratap terbuka — persis seperti yang mengejarnya tadi. Alex bisa melihat mereka memegang senjata yang sama persis.
“Percaya padaku?” tanya Gavin.
Alex tak langsung membalas pula. Dia memperhatikan ekspresi Gavin. Mata laki-laki itu tersembunyi di balik kacamata. Dari samping, Alex hanya tahu kalau Gavin berkonsentrasi menyetir tanpa repot-repot menoleh padanya.
Masih menolak menjawab, Alex membiarkan pandangannya menyusuri setiap sisi mobil. Hal paling menonjol di dalam sana adalah layar persegi di bagian tengah dashboard. Ada lampu biru neon yang bergerak mengelilingi layar hitam tersebut. Sekali lihat, Alex bisa menebak kalau mobil ini dilengkapi artificial intelligence yang cukup canggih. Sebuah mobil dengan teknologi yang dibanggakan ICPA.
__ADS_1
Alex akhirnya memulai dengan pertanyaan sederhana. “Apa yang kamu lakukan di sini? Membalas budi?”
“Apakah kamu akan percaya kalau kujawab ‘ya’?” Jawaban Gavin terkesan dingin.
“Mungkin.” Alex tak mau kalah. Dia tak ingin Gavin mengiranya percaya. Dengan jawaban ambigu seperti itu, Alex ingin menguji agen itu. Kalau boleh jujur, Alex sesungguhnya memang tidak percaya. Dia tidak percaya Gavin berangkat dari benua Regis ke Sinde hanya untuk membalas budi.
“Kalau begitu, percayalah. Masih ada banyak orang baik di dunia ini.”
Alex mengernyit pada respon Gavin. Pria itu tak terlihat baik di matanya. Meski demikian, dia memang harus mengakui. “Baiklah. Kamu lebih baik dari orang-orang bersenjata itu. Mungkin.” Alex memberi penekanan pada akhir kalimatnya.
Gavin menoleh. Hanya sebentar. Namun, jelas ada senyum tipis di sana.
Alex pun balik bertanya. “Siapa mereka?”
“Kelompok pembunuh yang kubiarkan lolos pergi dari Regis. Kamu pasti enggak percaya berapa nilai kepala Zetta Sonic di situs pembunuh bayaran.”
“Aku bisa menebak.” Alex menghela napas pendek. Dia tahu Zetta Sonic telah menjadi musuh banyak kriminal. Pertanyaannya bukan di sana melainkan mengenai identitas diri pribadinya. “Tidak ada yang tahu siapa Zetta Sonic kecuali—”
“Special Force? Aku?” tebak Gavin.
“Kamu membocorkan pada mereka?”
Gavin langsung tergelak. “Kalau aku di pihak mereka, aku sudah membunuhmu sekarang. Untuk apa repot-repot memberitahumu untuk ikut saat ini?”
“Kalau begitu, bagaimana mereka bisa tahu?”
__ADS_1
Gavin berdecak kesal. “Aku juga tidak tahu soal itu. Saat ini, hanya ada dua kemungkinan. Satu, mereka tahu identitas Zetta Sonic. Dua… Ini soal ICPA yang lain.” Gavin tidak melanjutkan lagi.